Flying to Japan with Monbukagakusho

17
4168
means, Welcome to Japan!

From: Stella (from Japan with love)

しょうがくきん
I. 奨学金 (Beasiswa)

Tidak dapat dipungkiri, banyak anak-anak dari negeri kita, Indonesia, yang cerdas, rajin dan memiliki cita-cita yang tinggi. Banyak di antara mereka yang berangan-angan untuk bisa menimba ilmu yang lebih tinggi di negeri orang. Selain menambah pengalaman, pelajar yang berkesempatan belajar di negeri orang akan menjadi lebih mandiri dan wawasannya akan terbuka lebih luas. Namun, bagaimana caranya sekolah ke luar negeri? Bagaimana pula mendapatkan beasiswa atau bantuan ekonomi lainnya? Sejauh ini Indonesia Mengglobal sudah banyak membantu menyuguhkan informasi tentang program studi, terutama ke AS. Untuk memperkaya informasi, saya ingin menambahkan 1 negara lain yang menurut saya layak untuk dipertimbangkan, Jepang.

Program Monbukagakusho/ MEXT Scholarship (文部科学省の奨学金). Program ini menawarkan beasiswa untuk S-2, S-3 (research students), S-1 (undergraduate), D-3 (college of technology), D-2 (professional training college), teacher training dan Japanese studies. Informasi lengkap mengenai program ini, seperti jangka waktu belajar di Jepang, jumlah uang beasiswa, waktu aplikasi, dsb, bisa langsung dilihat di website berikut ini. http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

Hal paling menarik dari program ini adalah tidak adanya ikatan dinas (bond). Jepang, dengan niatnya yang tulus, ingin sekali membantu negara-negara lain untuk berkembang dan maju. Mungkin karena alasan itu, maka tidak ada ikatan dinas atau apapun yang mengikat kita untuk “mengabdi” kepada Jepang. Ini adalah salah satu alasan yang membuat saya pribadi mengagumi negara ini. Cukup wajar rasanya bila penerima beasiswa (100% gratis), harus berjuang untuk mendapatkannya. Sekedar gambaran, untuk program S-1, dari ribuan orang yang mengirimkan aplikasi, sekitar 600 orang terpanggil untuk tes tertulis. Hasilnya, hanya 25 orang yang lolos untuk menjalani tes wawancara akhir dan 3-7 orang saja yang mendapatkan beasiswa setiap tahunnya.

Jangka waktu sejak langkah pertama (pengiriman dokumen) hingga terakhir (pengumuman penerimaan) adalah sekitar 6 bulan. Waktu yang cukup panjang, cukup untuk membuat sebagian peserta bahkan lupa bahwa mereka sedang dalam masa penantian. Ditambah lagi, pihak penyelenggara tidak memberi tahu secara pasti kapan langkah berikutnya akan dilaksanakan. Jadi yang bisa dilakukan benar-benar hanya menunggu telepon berdering, menyatakan keberhasilan peserta melewati satu tahapan. Proses menunggu dalam ketidakpastian ini merupakan pengalaman yang cukup “mengesankan”, layak untuk dicoba.

Ada perubahan jadwal dari tahun ke tahun, namun sebagai acuan, berikut adalah jadwal langkah-langkah yang saya lalui. *beasiswa untuk keberangkatan tahun 2014 sudah dibuka dan akan ditutup pada 14 Juni 2013

April: pengambilan formulir dan pengiriman dokumen ke Kedutaan Besar /Kedubes
May: pengumuman lulus seleksi dokumen
Juni: tes tertulis (Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar)
Agustus: pengumuman lulus tes tertulis
September (tengah): wawancara di Kedubes Jakarta
September (tengah): pengumuman lolos tes wawancara
Desember (awal): pengumuman penerimaan (melalui telepon)
Januari-April: briefing dan upacara penerimaan di Kedubes Jepang
April (awal): keberangkatan ke Jepang

りゅうがくせいのせいかつ
II. 留学生の生活 (kehidupan sebagai pelajar asing)

Kehidupan di Jepang (menurut sebagian besar teman dan kakak kelas) mempunyai kesenangan tersendiri. Ya, setidaknya cukup untuk membuat hampir semua penerima beasiswa bertahan selama setidaknya 5 tahun di negeri sakura ini. Mulai dari berbagai festival, makanan (yang asli Jepang 10x lebih enak), sampai budaya anak-anak Jepang (misalnya karaoke =)) adalah contoh kegiatan yang menarik. Selain itu, berbagai pengalaman lain pun dapat diperoleh. Misalnya merasakan kehidupan asrama, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, juga melatih kemandirian.

Tetapi semua itu juga tidak terlepas dari satu kata: belajar. Dalam satu tahun anak-anak penerima beasiswa ini dituntut untuk tidak hanya menguasai bahasa Jepang untuk kehidupan sehari-hari (日常生活・にちじょうせいかつ) tetapi juga kemampuan berbahasa untuk dapat memahami kuliah dalam bahasa Jepang.

So, at the end of the day, in the midst of studying, you should try to enjoy yourself as much as possible, thus making the whole experience a worthwhile one.

ひとこと
III. 一言 (sepatah kata)

Susah pasti, tapi dengan perjuangan dan tekad yang kuat, apa pun yang kita inginkan mungkin bisa terwujud. Kendala bahasa, mungkin merupakan salah satu faktor yang menyurutkan tekad. Tetapi dengan ketekunan, 1 tahun diberi pembekalan materi bahasa Jepang di sekolah bahasa, membuat diri ini seolah tidak percaya, kita benar-benar mampu untuk masuk kuliah dengan pengantar bahasa Jepang! Ajaib…

Mengenai “Culture shock”, tidak perlu kuatir. Budaya mereka sama dengan budaya kita yang menjunjung tinggi nilai sopan santun.

So anyway, it requires you to work, maybe twice as hard, but the rewards you get are doubled as well. I am very grateful to be able to experience all of these, so I sincerely hope that you all can too.

Photo Credit: The image used in this article comes from the author.

 


SHARE
Previous articleEkstraksi Diversitas Ilmu di Groningen
Next articleDaftar Sekarang untuk Program Mentorship Indonesia Mengglobal!
Stella is an ordinary Indonesian, currently a master student in Wageningen University & Research majoring in Organic Agriculture. Before coming to the Netherlands under the StuNed scholarship, she pursued education in Singapore for 4 years under the ASEAN scholarship. Then in Japan, she pursued 5 years (language course + undergraduate course) under the Monbukagakusho scholarship. Living almost her whole life on scholarship, being granted all the opportunities and privileges, she feels like experiencing miracles again and again. Always giving her best and keeping her faith: 「信を前持って、よく頑張れば、きっとできる!」,she believes that “one day your rainbow will come smiling through”. She wishes you all the best and ガンバレ!

17 COMMENTS

  1. Miss, Saya mau tanya, Kalo pengalaman seperti kedisiplinan, tugas, dan materi yang berat apakah ada? karena jepang kan negara yang terkenal keras dan ada kabar tentang beratnya bersekolah disana (Materi, Tugas, dll) ? dan pada tahun ke dua (atau keberapa) siswa diharuskan untuk bekerja paruh waktu, saking tak terjangkau nya disana, apakah benar?

  2. to Azhar Kusnomiharjo,
    terima kasih untuk komentarnya. Memang benar bahwa kedisiplinan dan ketepatan waktu sangat dijunjung tinggi oleh mereka. Materi pelajaran kah? Saya belum tahu pasti, karena saya baru melewati 1 bulan menjalani kuliah yang sesungguhnya. Sejauh ini, yang memberatkan hanyalah masalah bahasa. Tapi dengan usaha, semuanya pasti dapat dilalui dengan baik. 🙂
    Bagi kebanyakan orang, uang yang didapat dari beasiswa ini lebih dari cukup untuk hidup normal. Kerja paruh waktu (arubaito) umum dilakukan oleh kami, untuk pengalaman atau sekadar untuk menambah uang jajan.
    Semoga membantu! よろしくお願いします!

  3. Artikel ini membantu sekali ^^
    Terimakasih kak.. Saya mau tanya, untuk bisa lolos seleksi apa sih yang mereka lihat dari peserta?

    Apakah tujuannya setelah lulus kuliah nanti atau kemampuan berbahasa inggrisnya?

    Saya mau ikut Program S1 Monbusho tapi harus menunggu hasil nilai UN tahun ini.

    • To Uehara Uty,
      Terima kasih komentarnya. 🙂

      Pertanyaannya agak susah ya. Saya sendiri pun tidak tahu pasti, apa yang mereka lihat. Tapi seharusnya, seperti dalam tes pada umumnya, mereka melihat dari semua aspek yang diujikan.

      Selain itu, kemampuan berbahasa Jepang merupakan satu nilai tambah. Pengalaman bersekolah di luar negeri, atau setidaknya berpisah dari keluarga mungkin juga masuk dalam pertimbangan mereka.

      Semoga ini bisa membantu. All the best ya! 🙂

  4. halo kak, terima kasih atas artikel nya sangat membantu ^^
    saya sudah cek website nya, tetapi disitu tercantum untuk pendaftar jenjang S1, diwajibkan nilai UN nya rata2 8,4, sedangkan nilai saya kurang dari itu. Tahun ini saya memulai tahun pertama kuliah di Universitas Swasta di Bandung, apakah memungkinkan untuk mendapatkan beasiswa ASEAN di Singapura untuk tahun 2014?? maksudnya, apakah setelah saya kuliah di universitas di Indo, nanti pada saat seleksi nilai UN juga dilihat? terima kasih atas infonya dan mohon bantuannya karena saya sudah bercita2 untuk mendapatkan beasiswa di Singapura sejak SD ^^

  5. makasih infonya kak… oh iya, kan abis tes tulis dan sebagainya itu yang terakhir, pesertanya diwawancara, boleh tau nggak proses wawancaranya kayak gimana? Dan satu lagi, boleh minta e-mail kakak? saya pengen nanya banyak soalnya…

  6. salam kenal kak, saya Tia Hanifah, skrg kls XI IPA, mau tanya sedikit boleh kk?
    nilai rapot diperhitungkan gak kak?
    kalo kita minatnya ke arah kimia, jurusan apa aja yang bisa dipilih?
    sekarang kakak menempuh pendidikan di univ mana?
    trus yang katanya sebelum test, kita harus deketin profesor yang ada di jepang? benerkah?

    • Maaf baru balas, untuk program S1, setiap tahunnya berubah2. mungkin antara 5~30 orang.
      Dicoba aja, regardless how many people pass, you might be one of them 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here