Mencari Cerita di India: Pengalaman Study Abroad Selama Satu Semester

2
2120

Ketika saya hendak mengakhiri tahun kedua studi S1 saya di Carleton College, yang terletak di negara bagian Minnesota, dosen pembimbing saya bertanya, “apa kamu sudah terpikir untuk mengambil program study abroad?” Kebetulan major yang saya pilih, yaitu sosiologi dan antropologi, cukup terbuka dan membolehkan mata kuliah yang terdiri dari studi independen, saya sudah memikirkan apa ada baiknya belajar di Negara lain setelah hampir dua tahun di Amerika Serikat. Karena memang senang travelling dan cukup punya rasa percaya diri untuk belajar bahasa asing, saya putuskan untuk belajar selama satu semester di Pune, kota pelajar di India, melalui program Associated Colleges of the Midwest (ACM).

Tentu pertanyaannya adalah, mengapa ke luar negeri lagi kalau sudah jauh-jauh sampai ke Amerika? Yang saya lihat adalah, selain menjadi pusat riset berkaliber tinggi, banyak universitas di A.S. memiliki program-program studi yang mengkaji negara-negara lain di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Setelah buka puasa bersama bulan Ramadhan di Pune, India

Clifford Geertz, antropolog ternama abad ke-20, adalah salah satu ilmuwan pertama yang mendalami kehidupan umat Islam di Jawa. Geertz mempopulerkan kategori santri dan abangan, dua aliran yang terus hidup bersama dengan damai, sebagai contoh keberagaman umat beragama di nusantara. Meskipun masih di tingkat S1, banyak pertanyaan muncul di pikiran saya: apa hanya ilmuwan dari negara maju yang bisa berkelana ke negara-negara berkembang untuk penelitian? Bisakah saya mencari kesempatan untuk belajar sekaligus memperkaya wawasan dunia di luar cerita-cerita kehidupan di negara maju yang sudah sering kali didengar di tanah air? Apa saya mampu menanggapi kehidupan di negara berkembang lain ketika pengetahuan saya tentang tempat-tempat itu terbatas pada pengalaman menulis esai?

Saat memasuki pesawat pun saya masih belum yakin akan kemampuan saya menjawab keraguan-keraguan tersebut. Namun niat saya untuk terus menjajaki jalan yang jarang ditempuh tidak padam. Maka, sebagai topik paper studi independen, saya putuskan untuk mendalami epik Mahabharata dan Ramayana di India sebagai manifestasi pluralitas agama di Asia Selatan. Memang, sudah ada beberapa kerabat dan teman-teman yang meragukan tujuan saya mempelajari ilmu sosial dan ilmu humaniora di negara berkembang, panas dan berdebu, antara lain, akan tetapi toh seluruh penjuru dunia sedang menghadapi tantangan kelompok-kelompok yang tidak inklusif dan tidak mampu menangani beragamnya keyakinan. Kapan lagi ada kesempatan untuk berada di negara lain untuk waktu yang cukup lama untuk benar-benar memahami budaya setempat?

Workshop seni teater dengan guru-guru SD di Pune, India

Negeri India ini ternyata memiliki banyak cerita yang dekat dengan nusantara. Ketika memasuki salah satu perpustakaan di Pune, ada seorang dosen senior, sudah berumur meskipun tampak giat dengan aneka buku tulis dan buku acuan di mejanya, yang menanyakan negara asal saya. Saya menjawab bahwa saya orang Indonesia, lalu sang professor tersebut tersenyum, “Garuda itu nama maskapai Indonesia, kan? Bahasamu banyak bersilangan dengan bahasa Sansekerta.”

Ada suatu hari yang saya lewatkan di pemukiman padat di tengah kota, yang ternyata dihuni oleh mayoritas umat Muslim, dan ternyata merekalah yang seringkali termarjinalkan di tengah derap industri teknologi informasi di India. Tidak banyak yang bisa saya obrolkan dengan anak-anak kecil yang berlarian ke sana kemari, karena bahasa Marathi saya memang masih terbatas, tetapi kata-kata kecil yang terselip di berbagai tempat membolehkan saya bermain bola dengan mereka.

Bahkan saat membaca kembali cerita-cerita pewayangan Indonesia yang juga menampilkan lakon-lakon Mahabharata dan Ramayana, saya melihat banyak jembatan-jembatan yang menghubungi kedua negara demokrasi plural ini, baik agama, maupun budaya. Ada suatu kali seorang guru, yang sedang sibuk membuat topeng-topeng kertas dari cerita-cerita pahlawan untuk kelas tiga sekolah dasar, menanyakan kepada saya: “Kamu tentu kenal dengan cerita Gatotkaca?”

Acara perpisahan program semester Associated Colleges of the Midwest di Pune, India

Kembali di Amerika Serikat, saya rasakan mengalami kehidupan di negara lain, yang juga masih menaiki tangga-tangga industrialisasi, membuat saya lebih mengerti bahwa di dunia tidak hanya ada negara maju yang memberi dan negara berkembang yang menunggu kesempatan mengejar. Kisah sejarah yang melewati batas-batas negara di Asia ini ternyata memberikan saya kesempatan untuk melihat bahwa cerita-cerita yang mengglobal, mampu menyeberangi bahasa, tempat, dan waktu, bukanlah kejadian baru sama sekali.

Photos taken by the author himself.

2 COMMENTS

  1. Kak..

    Saya ingin tanya, kebetulan saya mahasiswa sosiologi dan saya ingin punya kesempatan mendapatkan beasiswa s2 di luar negeri. Kira kira program beasiswa mana yang bisa saya dapatkan (saat ini saya masih semester akhir) dan bagaimana perbandingan gaya sosiologi di eropa, amerika, dan australia?

  2. Syahayunuair yang baik (tidak usah panggil kak ya, kita semua egaliter 🙂 ), gaya Sosiologi di setiap negara tersebut sangat bervariasi, jadi lebih baik kalau kita melihat website masing-masing universitas dan membaca bidang-bidang yang didalami dosen di jurusan sosiologi masing-masing universitas tersebut. Silahkan mulai diskusi di forum Indonesia Mengglobal agar bisa mendapat informasi yang lebih mendetil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here