Petualangan Berburu Calon Kampus S2: Mendengarkan Panggilan Hati

0
754
Sumur tua dengan cat merah bertuliskan quote inspirasional tentang petualangan.
Keluar dari zona nyaman bisa menjadi hal yang menakutkan, namun itu juga bisa menjadi hal yang menggairahkan dan membuat kita lebih kuat dan bijaksana.

Memilih kampus untuk studi S2 bukanlah hal yang mudah. Perlu pertimbangan yang matang sebelum menentukan di mana kita akan menginvestasikan waktu kita untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Terkadang, kita mengalami kesulitan karena terbatasnya pilihan yang kita miliki. Namun, memiliki banyak pilihan juga menimbulkan dilema yang tidak mudah untuk dipecahkan. Itulah setidaknya yang dialami Inef, kolumnis Indonesia Mengglobal, saat Ia “berpetualang” mencari kampus yang paling sesuai dengan panggilan hatinya.

Sambunglah penggalan kalimat berikut!

“Mau dibawa ke mana….?”

Jika kalian suka musik mellow seperti saya, mungkin kalian langsung menyanyikan lagu Mau Dibawa Ke Mana Hubungan Kita dari band Armada yang pernah terkenal pada masanya. Tapi hari ini saya tidak akan bercerita tentang hubungan yang menggantung tanpa kejelasan. Tidak sama sekali! Saya hendak menceritakan bagaimana saya menemukan diri tercebur di danau bernama pencarian panggilan hati. Danau ini konon sangatlah dalam dan saya masih mengira-ngira bagaimana agar tidak tenggelam diseret arus di saat saya pun masih baru belajar memakai pelampung. Danau di sini adalah Amerika Serikat yang luas dan pelampung adalah support system saya yang selalu setia hadir namun terkadang saya lupakan keberadaannya.

“Mau dibawa ke mana hidup ini?” adalah pertanyaan yang akhir-akhir ini sering saya utarakan pada pasangan dan keluarga, terutama adik-adik saya di Jakarta. Sebagai anak tertua yang tinggal jauh dari rumah, saya merasa harus memberikan teladan dengan menjadi sosok yang sukses berkarya di luar negeri. Saya tentu saja bukan orang gagal, namun setelah berkecimpung sekitar dua setengah tahun di dunia terjemahan dan kenyang menerjemahkan banyak hal untuk beragam klien, mulai dari surat kontrak kerja di perusahaan multinasional sampai akte kelahiran, saya merasa hampa. Ada yang kurang dalam hidup saya. Ada kekosongan yang minta saya isi.

Setelah berjam-jam sesi curhat dengan pasangan dan juga Bapak, saya sampai pada kesimpulan bahwa saya membutuhkan wadah menyalurkan kreatifitas. Jika kalian perhatikan tulisan-tulisan saya sejauh ini, mungkin kalian faham saya sangat senang menulis, bercerita, dan membagikan pengalaman. Saya merasa paling bahagia saat bisa mengolah kata-kata yang nantinya punya kekuatan membantu orang lain. Bisa jadi, saya memang ditakdirkan untuk menjadi penulis.

Terdengar sederhana, bukan? Inef suka menulis, maka Inef sudah seharusnya ambil S2 di bidang yang berkaitan. Tunggu dulu, masalah baru saja dimulai! “Menulis” atau juga disebut Creative Writing memang sebuah jurusan yang benar ada di Amerika Serikat dan banyak kampus ternama yang menawarkan program kepenulisan sebagai bagian dari departemen kesenian dan humaniora mereka, namun pada kenyataannya seorang penulis di Negeri Bendera Berbintang Lima Puluh (star-spangled banner) punya lebih banyak pilihan sebetulnya. Fakta tadi dibuat lebih rumit dengan praktik di lapangan yang memperbolehkan seseorang seperti saya, pemegang gelar sarjana Hubungan Internasional, untuk terjun ke industri yang tidak langsung bersentuhan dengan ilmu sosial atau budaya dan politik.

Nasihat soal S2: jangan tergesa-gesa
Email dari salah satu sahabat dekat Inef yang sudah lebih dulu lanjut S2. Email ini adalah nasihat bagi Inef untuk tidak terburu-buru membuat keputusan perihal jurusan S2 yang dimaui.

Dirangkum dari nasihat dan masukan yang saya terima seusai mengontak para dosen pembimbing dan para senior, saya punya beberapa jalan yang bisa ditempuh: mengambil jalur pelatihan menjadi pustakawati (librarian) lewat Master’s of Science in Library and Information System/MLIS, mengambil penjurusan Sastra Inggris dengan spesialisasi atau ketertarikan di jalur Retorika, mengeksplorasi keahlian khusus di bidang Sosiologi Pembangunan, atau bahkan mengambil sertifikat kepemimpinan (certificate in leadership training) di universitas yang menyediakan program Master’s of Human Resources dan/atau Master’s of Public Relations.

Lihat ‘kan sekarang betapa masa depan saya sangat bercabang dan saya kewalahan sendiri memilih satu jalur untuk saya bisa berkomitmen penuh? Sudah demikian saya menyandang status sebagai pemegang green card, atau kartu izin tinggal tetap, yang berarti saya berhak mengajukan permohonan financial aid atau beasiswa dan grants ke pemerintah AS seperti lazimnya warga negara AS. Green card juga membuat saya leluasa mendaftar ke kampus mana pun di negara empat musim ini.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa syukur, saya ingin jujur dan mengakui kebebasan yang saya peroleh malah membuat saya terkena sindrom paralysis by analysis, di mana saya menjadi kebingungan ketika dihadapkan pada begitu banyak kemungkinan yang dapat dipilih. Setelah menenangkan diri beberapa minggu dan baru mempelajari kembali pilihan-pilihan saya setelah menjernihkan pikiran, saya sampai pada niat untuk jalani saja dulu prosesnya dan tidak usah terlalu stres dengan hasilnya. Berikut ini adalah ringkasan dari setiap jalur yang bisa saya ambil.

Lanjut kuliah? Sudah tahu mau jurusan apa dan kenapa?
Email untuk Inef dari salah satu dosen yang sempat mengajarnya saat S1. Dosen ini meminta Inef mempertimbangkan apakah benar dia ingin menjadi penulis penuh waktu (full time) atau hanya part-time.

Master’s of Science in Library and Information System

Ini adalah program studi yang berhubungan dengan pengelolaan data, baik digital maupun dokumen tercetak seperti arsip pemerintahan dan naskah-naskah berharga negara, dan perawatan buku dan berkas-berkas tertulis lainnya. Lulusan program studi ini biasanya bekerja di perpustakaan, baik perpustakaan umum maupun perpustakaan milik suatu universitas, namun tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi peneliti di bidang cyber security dan bidang lain yang masih erat kaitannya dengan keterampilan mengelola dan mengorganisir data.Ada banyak kampus di Amerika Serikat yang menyediakan program studi ini, misalnya Syracuse University, University of Denver, dan University of North Carolina Greensboro.

Master’s of Arts in English Language and Literature–Rhetoric and Composition

Program studi yang satu ini diperuntukkan bagi mereka yang sangat suka membaca dan menganalisis karya sastra serta punya kemampuan yang mumpuni dalam berpikir kritis soal bagaimana pengarang menggunakan karangan mereka sebagai komentar sosial atas perilaku masyarakat di masa ketika karya mereka ditulis. Jika kalian mengambil spesialisasi lebih lanjut di sub-kategori Retorika dan Komposisi, kalian tidak hanya akan mempelajari keterkaitan antara kondisi sosiopsikologi atau sosioekonomi dan kesusastraan tapi juga bagaimana gaya bahasa dan teknik penulisan yang dipakai pengarang mempengaruhi persepsi pembaca dan penikmat sastra dari satu era ke era berikutnya.

Master’s of Fine Arts in Creative Writing

Ini adalah program studi untuk calon penulis, baik mereka yang ingin menulis novel dan cerpen maupun mereka yang ingin menulis puisi, esai, dan biografi atau memoir. Selama jenis tulisan yang ingin ditulis mahasiswa yang bersangkutan adalah tulisan yang membutuhkan kepekaan berbahasa dan ketajaman berpikir soal interaksi antara karakter/tokoh, setting, plot/alur cerita, dan unsur-unsur yang mendukung terciptanya sebuah naratif, program ini dapat dijadikan salah satu pilihan studi. Mahasiswa di program ini biasanya adalah mereka yang memiliki imajinasi tinggi, jiwa seni, atau semangat untuk berbagi pengalaman hidup lewat bakat menulis mereka.

Master’s in Sociology

Program studi sosiologi strata dua ini bukan hanya untuk calon sosiologis tapi juga cocok untuk mereka yang punya rasa penasaran tinggi terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi di masyarakat tempat mereka tinggal dan/atau ingin mendalami berbagai teori yang dapat diterapkan dalam meningkatkan kesejahteraan suatu komunitas dan kalangan yang mempunyai masalah semacam kemiskinan turun-temurun, perkawinan anak usia dini, atau gizi buruk. Lulusan dari program studi ini bisa saja melanjutkan pendidikan ke program doktoral untuk menjadi pekerja sosial atau bergabung dengan yayasan dan lembaga non-profit yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup komunitas-komunitas yang termarjinalkan.

Terakhir tapi bukan yang paling akhir, berikut ini tips dan trik saya untuk mempermudah proses memilih jurusan atau program kuliah jenjang strata dua:

1) Bertanya dan berdiskusi dengan teman, sahabat, guru, atau mentor figure yang kalian percayai

Supportive professor
Jawaban dosen pembimbing S1 dan dukungan beliau pada Inef.

Sebelum memfinalisasi universitas-universitas yang saya incar, saya melakukan banyak sesi brainstorming dan berbincang dengan orang-orang terdekat saya dan juga mereka yang saya anggap lebih dewasa dan bijaksana. Lewat percakapan intensif tersebut, lambat laun saya akhirnya berhasil mengerucutkan pilihan dari hampir sepuluh universitas ke hanya lima universitas yang saya rasa akan cocok dengan aspirasi, visi, dan misi saya.

Email pribadi calon mahasiswa S2 dan dosen pembimbing S1
Email yang Inef tulis ke dosen pembimbing S1 untuk meminta restu lanjut S2

2) Hadiri undangan Virtual Info Session atau kalau memungkinkan datang ke acara Online Open House dan minta izin sit-in sebagai observer atau auditor di beberapa kelas

Situasi di mana Coronavirus terus bermutasi dengan segala variannya membuat kunjungan tatap muka (in-person/offline) ke kampus-kampus yang saya idamkan sebagian besar dibatalkan, namun saya masih beruntung beberapa kampus memperbolehkan calon mahasiswa dan pendaftar program kuliah untuk “mengunjungi” kampus secara jarak jauh (virtual visit). Kunjungan berbasis internet ini adalah kesempatan emas untuk berpartisipasi dalam sesi tanya-jawab dan juga mengenal program studi/prodi lebih dekat lagi. Jika kampus incaran kalian juga menyediakan opsi seperti ini, saya sarankan kalian ikut saja untuk menambah pengetahuan seputar kampus yang bersangkutan dan menggali lebih dalam tentang kecocokan budaya kampus (campus’ academic culture) dengan nilai-nilai yang kalian anut atau filosofi yang kalian pegang berkaitan dengan etos kerja, kurikulum, hubungan antara pengajar dan mahasiswa, dan lain-lain.

Undangan virtual open house
Inef berkesempatan menghadiri kelas-kelas musim dingin di Warren Wilson College bulan Januari mendatang sebelum dia mendaftar S2.

3) Buat daftar pros dan cons

Setiap kampus pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tidak ada salahnya mendata apa saja keunggulan dari kampus yang kalian sukai dan apa saja hal-hal yang kalian rasa belum bisa kalian dapatkan di sana yang mungkin akan kalian dapatkan di kampus saingan.

4) Bandingkan graduation rate, retention rate, dan transfer-out rate

Graduation rate adalah persentase mahasiswa tingkat akhir yang lulus tepat waktu, sementara retention rate adalah persentase mahasiswa tingkat pertama yang meneruskan studi mereka ke tingkat berikutnya. Dua hal ini cukup penting karena jika suatu kampus tidak memiliki persentase yang baik berhubungan dengan kelulusan mahasiswa tingkat akhir dalam waktu yang sudah disepakati dan/atau keberlanjutan dan berkesinambungannya studi mahasiswa tingkat pertama, maka patut dipertanyakan di mana peran para dosen pembimbing dalam mendukung dan membantu para mahasiswa mencapai tujuan mereka (walau tak bisa dipungkiri memang ada beberapa faktor dari para mahasiswa sendiri, misalnya mereka memang punya masalah pribadi yang mengakibatkan mereka sulit lulus). Persentase selanjutnya yang harus dicermati adalah transfer-out rate atau seberapa banyak mahasiswa yang memutuskan pindah ke universitas atau program studi lain di tengah jalan. Jika banyak sekali mahasiswa dari prodi idaman kalian pindah ke prodi lain atau bahkan ke universitas yang berbeda, kalian berhak curiga tentang akreditasi prodi tersebut (walaupun, sekali lagi, bisa jadi ada faktor internal dan eksternal juga) dan tentang kepuasan atau ketidakpuasan (satisfaction or dissatisfaction) mahasiswa yang belajar di sana.

Daftar kelas percobaan S2
Beberapa kelas singkat/semester pendek dari Warren Wilson College yang Inef kebetulan berkesempatan mencoba gratis sebelum mendaftar.

5) Berkomunikasi dengan instructors dan/atau current students

Jika kalian beruntung mendapatkan admission officers yang murah hati dan terbuka untuk menolong kalian mengetahui seluk beluk kehidupan di kampus idaman kalian, berbahagialah! Officers yang macam demikian biasanya akan dengan senang hati menghubungkan kalian ke mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di prodi yang sama dengan prodi incaran kalian. Kesempatan berharga untuk menjalin relasi dengan mahasiswa yang sudah memasuki prodi yang kalian taksir tentunya sayang jika disia-siakan, jadi jika kalian berkesempatan untuk mengobrol langsung dengan para mahasiswa di kampus tujuan kalian, jangan ditolak!

Penutup

Mendaftar ke program-program S2 adalah keputusan yang mengubah hidup saya dari lumayan membosankan menjadi sangat berwarna dan menantang. Tentu saja keputusan tersebut bukanlah keputusan yang saya buat dengan tergesa-gesa dan ada banyak rasa takut, rendah diri, dan cemas yang saya hadapi. Saya sangat tahu keputusan besar semacam ini harus direnungkan dan dimusyawarahkan dengan keluarga dan orang-orang terkasih yang peduli pada saya dan harapan saya adalah kalian dapat sedikit terbantu dengan membaca kisah saya.

Jika kalian sedang ada di persimpangan jalan (at a crossroad) dan juga bimbang memutuskan ke mana hendak membawa pergi hidup kalian, jangan putus asa. Jalan yang bisa kalian telusuri memang bercabang, namun kalian bukanlah orang pertama yang harus menyusuri jalan yang terhampar di hadapan kalian. Tanyailah sesama pejalan tentang opini mereka dan, jika memungkinkan, tanyai pula orang-orang yang sudah kembali dengan selamat dari jalan yang hendak kalian susuri. Semoga keberhasilan menyertai kalian!

Teks WhatsApp tentang lanjut kuliah
Dalam perjalanannya memutuskan hendak mendaftar ke kampus mana dan mengapa, Inef curhat ke teman-temannya seputar keinginannya kuliah S2.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi Nefertiti Karismaida

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here