Beyond The Research Lab: Memaksimalkan Potensi dan Pengalaman sebagai Mahasiswa PhD

0
1102
Ade Dwi Utami menyelesaikan studi PhD in Early Childhood Education di Monash University Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Ade Dwi Utami menyelesaikan studi PhD in Early Childhood Education di Monash University Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Banyak orang mungkin mengira bahwa mahasiswa PhD itu hanya berkutat dengan riset, lab, atau hal akademik lainnya. Namun demikian, Ade Dwi Utami, lulusan PhD in Education di Monash University, membuktikan hal yang lain. Dalam hal ini, ia membagikan pengalamannya dalam memaksimalkan potensi dan pengalaman selama studi PhD bukan hanya dalam segi akademik tetapi juga non akademik. Simak kisahnya di artikel berikut ini.” 

***

Beginning the quest for the PhD

Melanjutkan sekolah ke luar negeri adalah salah satu cita-cita saya, yang pada akhirnya terwujud pada jenjang pendidikan doktoral. Sebelum melanjutkan studi doktoral di Monash University, Australia, saya bekerja sebagai dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta, tepatnya sejak 2008. Sebelumnya, saya mencoba menjadi seorang guru TK, salah satu profesi yang sesuai bidang ilmu yang saya tekuni, Pendidikan Anak Usia Dini. Namun, saya merasa belum puas dan memutuskan menerima tawaran pekerjaan di kampus untuk lebih bisa mengembangkan diri, salah satunya untuk mewujudkan cita-cita saya melanjutkan studi di luar negeri. 

Selain sudah menjadi cita-cita dari kecil, melanjutkan studi S3 ke luar negeri yang saya rencanakan dan jalani juga sesuai dengan tuntutan pekerjaan saya sebagai dosen di perguruan tinggi. Sebenarnya rencana ini sudah saya jalankan sejak 2012 ketika mengikuti program persiapan S3 DIKTI, namun saya harus menunda keberangkatan terkait dengan beberapa hal pribadi yang saya putuskan untuk lebih saya utamakan kala itu. Hingga pada akhirnya, di tahun 2016 saya bisa fokus kembali berusaha mewujudkan rencana studi dan memulainya pada tahun 2017 di Monash University, Australia.

The life of a PhD that people (don’t) know

Menurut saya, melanjutkan studi S3 membutuhkan tujuan yang jelas terkait apa yang melandasi rencana studi kita dan mau apa setelah lulus nanti. Kedua hal ini akan memengaruhi bagaimana kita menjaga motivasi dan komitmen kita selama menjalankan studi selama kurang lebih 4 tahun. Perjalanan 4 tahun tersebut akan diisi dengan banyak kejadian tidak terduga yang sangat mungkin menjadi kendala dalam penyelesaian studi. Tidak banyak orang tahu, bahwa tekanan dan tuntutan mahasiswa PhD sangat tinggi, misalnya menghasilkan target tulisan baik untuk penelitian dan publikasi, serta menjalankan rencana penelitian tepat waktu yang terkadang bergantung pada hal-hal yang tidak bisa dikontrol oleh kita selaku mahasiswa PhD. Menjaga kesehatan mental selama studi sering kali terlupakan yang secara tidak langsung memengaruhi proses penyelesaian studi itu sendiri.

Ade Dwi Utami beserta para mahasiswa PhD dan dosen saat peluncuran PlayLab Monash. Sumber: Dokumentasi pribadi

Studi ke luar negeri tentunya akan membuka banyak peluang yang mungkin akan sangat jarang kita dapatkan jika kita melanjutkan studi di dalam negeri. Kita dapat mengaktualisasikan berbagai potensi diri yang mungkin tidak dapat terfasilitasi dengan pengalaman studi di dalam negeri, misalnya kemampuan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Kemampuan ini tentunya membantu kita dalam melakukan berbagai hal baru, seperti menulis buku internasional. Namun, pengelolaan diri terkait waktu dan beban kerja sangat dibutuhkan agar kegiatan studi atau akademik dan hal lain di luar studi dan akademik dapat dimanfaatkan dengan optimal. Misalnya, bersosialisasi dalam berbagai kegiatan di kampus ataupun kegiatan kampus lain untuk membangun jejaring. Keseimbangan kehidupan akademik dan non akademik ini memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berbeda yang secara langsung dan tidak langsung mendukung keberhasilan perjalanan studi saya.

Ade Dwi Utami merayakan ulang tahunnya beserta rekan-rekan mahasiswa PhD di Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi
Ade Dwi Utami merayakan ulang tahunnya beserta rekan-rekan mahasiswa PhD di Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi

Memaksimalkan potensi dan pengalaman selama PhD a la Ami

Saya mengupayakan untuk terlibat dalam berbagai forum dan kegiatan baik akademik dan non akademik selama studi saya, misalnya bergabung dengan Monash Graduate Association, sebuah organisasi mahasiswa pascasarjana yang banyak mengembangkan kegiatan akademik dan non akademik. Selain itu, saya juga bergabung dalam berbagai komunitas menulis, misalnya Monash Education Research Community (MERC), sebuah komunitas mahasiwa PhD yang aktif mendukung perjalanan studi saya melalui berbagai macam pelaksanaan workshop dan kegiatan lain yang mendukung keterampilan meneliti dan menulis akademik, KungFu writing group dan Matheson Library writing group yang merupakan kelompok belajar yang ditemani oleh satu mentor pada masing-masing group di mana kita bisa saling belajar menulis akademik dengan cara sharing tulisan dan diskusi.

Saya juga mendapatkan kesempatan bergabung dengan PlayLab untuk pengembangan expertise saya dalam bidang pendidikan anak usia dini, sebuah laboratorium penelitian Pendidikan Anak Usia Dini yang dikembangkan oleh Laureate Professor Marilyn Fleer, yang juga merupakan supervisor saya untuk studi doktoral saya. Komunitas-komunitas itu tidak hanya berdampak pada pengembangan diri saya secara akademik, namun juga pengembangan diri saya secara personal.

Ikut dalam berbagai kompetisi juga saya lakukan untuk mendapatkan pengalaman berbeda. Misalnya Three Minutes Thesis, sebuah kompetisi untuk mempresentasikan penelitian yang dilakukan oleh masing-masing mahasiswa PhD dalam waktu 3 menit. Dalam hal ini, saya bisa mewakili Faculty of Education dan menjadi finalis di Monash University. Selain itu, saya juga berkompetisi di Pitch It Clever yang diselenggarakan Australia National University, di mana saya menempati posisi kedua dan Visualise Your Thesis, kompetisi serupa yang menuntut mahasiswa PhD untuk membuat video yang menggambarkan project penelitian yang dijalankan, dimana video penelitian saya menjadi salah satu dokumentasi penelitian pada portal Monash University. Pengalaman tersebut memberikan banyak ide untuk melakukan berbagai kegiatan pengembangan untuk mahasiswa di Indonesia sesaat saya bertugas di kampus asal saya kembali.

Selain itu, saya pun berusaha tetap aktif mengikuti berbagai konferensi ilmiah di bidang yang saya tekuni, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini. Kesempatan ini pun memberikan saya banyak ilmu untuk mengembangkan keahlian saya di bidang ini sekaligus membuka kesempatan berprestasi di kegiatan internasional tersebut. Salah satunya adalah ketika saya mendapatkan Outstanding Presentation Award di ISCAR, Quebec, Canada.

Ade Dwi Utami mendapatkan Outstanding Presentation Award di ISCAR Conference, Quebec, Canada. Sumber: Dokumentasi pribadi

Kegiatan konferensi tersebut juga membuka kesempatan bagi saya untuk melakukan kolaborasi dengan akademisi-akademisi ternama dari berbagai negara di dunia baik dalam melakukan sesi presentasi bersama ataupun kolaborasi penulisan buku. Secara tidak langsung, kegiatan-kegiatan tersebut juga mengasah keterampilan saya dalam meneliti dan menulis ilmiah yang sangat bermanfaat dalam penulisan tesis saya sehingga saya mendapatkan Postgraduate Publication Award dari Monash University dan menghasilkan beberapa artikel ilmiah pada jurnal bereputasi.

Di luar kegiatan-kegiatan akademik tersebut, saya juga senantiasa menyeimbangkan kehidupan studi PhD dengan berbagai kegiatan non akademik, misalnya bergabung di komunitas Orkes Jawi Waton Muni (OJWM), sebuah komunitas musik tradisional Indonesia yang aktif melakukan pertunjukan di berbagai event di kota Melbourne. Bersama komunitas tersebut, saya belajar bermusik dan berbagi cerita tentang hidup di Australia dengan orang-orang Indonesia yang sudah menetap dan bekerja di Melbourne dan juga dengan sesama mahasiswa.

Pentas OJWM di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne. Sumber: Dokumentasi pribadi

Grup Pengajian Do’a Dzikir Melbourne juga saya ikuti sebagai salah satu komunitas keagamaan yang membantu saya untuk terus belajar agama Islam. Selain itu, bergabung di Monash International Parents Club juga memberikan dukungan bagi saya yang seorang ibu selama menjalankan studi doktoral. Bagaimanapun juga, menjalani studi doktoral sebagai orang tua memiliki kondisi yang berbeda di mana kita membutuhkan tempat berbagi yang memahami kondisi tersebut. Cerita saya lebih jauh tentang menjalankan studi sebagai PhD mama ini saya ramu dalam tulisan saya yang berjudul “Walking a tightrope: Juggling Competing Demands as a PhD student and a Mother” yang menjadi bagian dari buku Wellbeing in doctoral education: Insight and guidance from the student experience yang diterbitkan secara internasional.

Grup Pengajian Doa Dzikir Melbourne. Sumber: Dokumentasi pribadi

Tips untuk calon mahasiswa PhD di masa depan

Mempersiapkan diri menjadi bagian yang penting untuk melanjutkan studi ke luar negeri, baik secara akademik, mental dan finansial. Komitmen dan konsistensi sangat dibutuhkan dalam melakukan persiapan tersebut juga ke depannya dalam proses studi. Kemampuan mengelola diri juga berperan penting, termasuk dalam memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada dalam proses studi. Pengelolaan diri yang baik akan menentukan keberhasilan kita dalam menghadapi berbagai situasi yang ada baik positif maupun negatif.

***

Editor: Yogi Saputra Mahmud


SHARE
Previous articleYuk, Berkenalan dengan Jönköping University, Swedia!
Next articleThe Ups-and-Downs of Master’s Degree Journey: Failures Make Me Stronger
Ade Dwi Utami, Ph.D is a lecturer in the early childhood department, Faculty of Education, Universitas Negeri Jakarta in Indonesia since 2010. Graduated from the Faculty of Education at Monash University, her doctoral research takes a cultural-historical perspective to investigate play-based learning practices for children’s development in Indonesia. She also researches in the areas of curriculum, assessment and teacher education. Besides working with undergraduate, postgraduate, and graduate research students in the university, she is involved in Indonesian Ministry of Education projects for developing early childhood education programs and works as an assessor in Early Childhood Education National Accreditation Board. She also created EduPlay, Early Childhood Learning and Research Centre to initiate movement in order to contribute in Early Childhood Education development in Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here