Cerita Perjalananku dari Ujung Sumatera ke Formosa

2
590
Teman Sekelas Belajar Bahasa Mandarin yang Berasal dari Berbagai Negara
Teman Sekelas Belajar Bahasa Mandarin yang Berasal dari Berbagai Negara. Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Berasal dari salah satu daerah terluar, membuat Putri awalnya tidak pernah membayangkan untuk merasakan duduk di bangku perkuliahan di luar negeri. Namun keberaniannya untuk mendaftar beasiswa Huayu Enrichment Scholarship hingga diterima untuk belajar Bahasa Mandarin di Taiwan, akhirnya membuatnya berani untuk bermimpi melampaui batas. Kisah Putri ketika belajar dan tinggal di Taiwan merupakan bukti nyata bahwa untuk belajar di luar negeri dana bukan lagi menjadi hambatan karena yang dibutuhkan adalah kemauan, usaha dan doa.”

***

Perkenalkan namaku Putri Dahniar Rossi, terlahir dari keluarga sederhana yang lahir dan besar di ujung Pulau Sumatera, Meulaboh, Aceh Barat. Aku merupakan lulusan S-1 Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Padang, yang kini masih aktif bekerja sebagai guru Sekolah Menengah Kejurusan (SMK) di salah satu SMK di Aceh Barat. Menekuni bisnis kecil kecilan bersama teman dan berjalan jalan jika ada kesempatan merupakan hobi yang selalu aku jalani. Menjadi salah satu penduduk di daerah terluar membuat impianku tak setinggi orang orang. Bahkan untuk bermimpi keluar negeri saja tak terfikirkan. Namun kini aku bisa dengan percaya diri menggantungkan mimpi setinggi bintang di langit. Uang bukan lagi menjadi kendala karena yang dibutuhkan hanya kemauan, usaha dan doa. Tentunya tidak lupa doa dari orang tua.

Awal mendengar info sekilas tentang beasiswa yang aku ikuti sekarang membuat aku menggebu-gebu ingin mendaftar namun setelah aku baca mendetail seperti “ahh persyaratannya susah”, ribet dan segala macam pikiran untuk tidak jadi mendaftar terlintas. Berhubung banyak teman temanku yang juga mendaftar menguatkanku untuk mendaftar dan aku mulai dengan membuat study plan. Beasiswa yang aku ikuti adalah HES (Huayu Enrichment Scholarship), beasiswa belajar Bahasa Mandarin selama enam bulan di Taiwan, negara yang juga dikenal dengan sebutan ‘Formosa’.

Kenapa Bahasa Mandarin? Kenapa Taiwan ?

Seperti yang kita tahu bahasa asing adalah penghubung, dan bahasa mandarin menjadi bahasa dengan penutur terbanyak dan pertumbuhan bahasanya tercepat di dunia. Taiwan merupakan salah satu negara yang menyediakan beasiswa untuk belajar bahasanya dan termasuk negara yang ramah pendatang asing, termasuk pendatang muslim. Karena itulah aku melabuhkan hati di Taiwan.

Pengumuman HES

Beberapa bulan setelah pendaftaran tibalah pengumuman via email dengan diawali “Congratulations”. Alhamdulillah lolos dalam hatiku yang sedari tadi tidak berharap banyak. Namun di sinilah awal drama dimulai. Sejak dinyatakan diterima sebagai salah satu penerima HES tentunya aku mempersiapkan diri, salah satunya persiapan finansial. Di tengah-tengah pandemi yang tentunya tidak mudah untuk masuk ke negara lain, memikirkan tentang ini dan itu cukup membuat lelah jiwa raga. Belum lagi berita yang aku terima menjelang keberangkatan yang simpang siur.

Satu minggu menjelang keberangakatan, berita tak mengenakkan pun datang. Dari yang awalnya kebijakan 21 hari karantina ketika datang pertama kali ditanggung pemerintah Taiwan berubah menjadi 14 hari karantina namun ditanggung oleh masing masing penerima beasiswa karena Indonesia dinyatakan bukan lagi high risk country for Covid-19. Kabar ini cukup membuat dilema dan aku hampir tidak jadi berangkat mengingat biaya yang harus dipersiapkan sangat banyak. Padahal mulai dari paspor, visa, dan tiket sudah ada ditangan. Aku mulai cemas dan hanya bisa berdiskusi dengan orangtua dan berdoa semoga Allah mudahkan. Alhamdulillah atas dukungan ayah dan mamak aku bisa berangkat. Hal yang harus diingat adalah jika Allah memberi kesempatan maka Allah akan memberikan rezeki-Nya pula untuk menggapai kesempatan tersebut.

Keberangkatan dan Karantina

Pada tanggal 19 November 2021 kutinggalkan orangtua serta keluarga untuk mencari ilmu ke negeri orang. Alhamdulillah aku berangkat dengan restu, doa dan air mata. Berangkat dari kampungku Meulaboh menuju kota Banda Aceh dan langsung menuju ibu kota Jakarta. Di bandara pun aku hampir ditipu oleh orang yang katanya ketinggalan pesawat. Lagi lagi Allah melindungi dan Allah jauhkan aku dari bahaya.

Esok harinya, tanggal 20 November 2021, aku pun tiba dengan selamat di bandara Taoyuan, Taiwan, dengan segala prosedur yang sudah aku patuhi, dan langsung masuk karantina selama 14 hari. Hal tersulit adalah makanannya, karena rasa makanan Taiwan kurang cocok dengan lidah Indonesiaku. Namun aku tetap makan sambil menunggu kapan karantina selesai, mengandai andai kapan bisa jalan jalan dan merasakan dinginnya winter di Taiwan. Kemudian 14 hari pun berlalu dan aku dinyatakan negatif dari hasil tes PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk Covid-19. Aku pun bebas bisa merasakan langsung dinginnya Taiwan. Bahagianya MasyaAllah.

Nikmatnya Makan Hot Pot di Tengah Dinginnya Musim Dingin Taiwan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kelas Mandarin

Sejak tanggal 15 Desember 2021, aku mulai belajar Bahasa Mandarin. Aku memilih NTNU (National Taiwan Normal University) sebagai tempat belajar Mandarin. Aku yang masih awam dan tidak pernah mengenal Bahasa Mandarin ditempatkan dikelas untuk pemula, benar benar start from zero dan dibantu dengan tenaga pengajar yang handal. Awalnya aku kesulitan beradaptasi dikarenakan cuaca yang sangat dingin, belum berani menyapa teman teman baru, dan masih buta akan hal-hal berbau Mandarin. Namun lambat laun aku mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar dan teman teman yang datang dari seluruh penjuru dunia. Suasana belajar menyenangkan kecuali waktu ujian karena semuanya serius mode on. Score yang awal mulanya cukup menjadi baik, dan kian membaik. Setelah kelas utama selesai disambung dengan kelas besar dimana kita seperti mengikuti mata kuliah umum dan jika diperlukan kita bisa belajar di perpustakaan. Senang sekali rasanya bisa merasakan kesempatan luar biasa ini. Kapan lagi bisa belajar namun dibayar?!

Kegiatan di luar kelas yang aku ikuti tidak banyak mengingat banyaknya waktu yang aku habiskan di kampus untuk belajar, seperti volunteer untuk new student yang baru baru ini aku ikuti.

Makan-Makan Bersama Guru dan Teman Sekelas di Akhir Semester. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pengalaman Tinggal di Taiwan

Tinggal di Taiwan menyenangkan, lebih mudah, dan nyaman. Mudah karena pergi kemana-mana dapat dijangkau dengan transportasi umum, bersih, fasilitas untuk disabilitas ada, dan aman. Jika kita merasa tidak nyaman atau ada tindakan sexual harassment dari penumpang lainnya tinggal pencet tombol khusus yang disediakan oleh pihak transportasi. Budaya di Taiwan juga sangat kental seperti perayaan tahun baru China, imlek dll.

Menikmati Keindahan Hualien, Taiwan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Hal yang paling menyenangkan menurutku adalah ke pasar. Semenjak tinggal di Taiwan senang sekali rasanya jika ke pasar. Selain bisa belanja dan lihat benda benda unik, bisa juga  mempraktikan apa yang sudah dipelajari di kelas untuk melatih kemampuan bahasa. Taiwan juga terkenal dengan night market-nya! Dimana-mana ada night market. Bisa nyobain makanan unik, minuman boba, dan benda benda unik nan lucu. Eh iya, jangan lupa nyobain chou tofu (stinky tofu), kalau ke Taiwan gak nyobain chou tofu belum sah rasanya.

Sekian ceritaku seputar kehidupan dan belajar bahasa di Taiwan. Semoga bermanfaat dan menjadi penyemangat untuk kalian ya.

 ***

Editor: Aditya Parama Setiaboedi

2 COMMENTS

  1. Hai..salam kenal. Dari pengalamanku, 25000 NTD adalah jumlah beasiswa perbulan, jika beasiswa meng cover 6 bulan study artinya 25000 x 6 bulan. Jika dihitung hitung dan jika kamu termasuk orang hemat dan pandai mengatur keuangan InsyaAllah tercover.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here