3 Pelajaran sebagai Bekal untuk Menjadi Pengajar

0
243
Mengamati Sistem Pengajaran di Luar Negeri untuk Diadaptasi Setelah Selesai Studi
Mengamati Sistem Pengajaran di Luar Negeri untuk Diadaptasi Setelah Selesai Studi. Sumber: Dokumenttasi Pribadi

“Pengalaman tinggal dan belajar di luar negeri dapat memperkaya bekal, baik hard skill maupun soft skills, bagi kehidupan. Bagi yang ingin meniti karir di bidang pendidikan, metode pengajaran yang dipelajari dari profesor selama mengikuti kelas apabila baik dapat diadopsi ke dalam gaya pengajaran kita nantinya. Adit, membagian tiga kebiasaan yang dipelajarinya dari sistem pembelajaran ketika belajar di Hong Kong yang dapat diterapkan agar pembelajaran di kelas lebih efektif.”

***

 “Kalo udah lulus rencananya mau ngapain?”. “Mau pulang ke Indonesia terus daftar jadi dosen.”.

Berdasarkan pengalaman mencicipi bangku kuliah di Jepang, Hong Kong, dan Taiwan, cukup banyak pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri dan ingin menjadi akademisi setelah menyelesaikan studinya. Untuk jenjang pendidikan S3, beberapa orang yang saya temui merupakan dosen yang sedang dalam tugas belajar.

Pengalaman berkuliah di luar negeri tentunya memberikan banyak insight. Mulai dari pengalaman tinggal di negara yang musimnya berbeda, berinteraksi dengan kolega kampus yang berasal dari beragam kebudayaan dan latar belakang yang berbeda, melakukan peneletian dengan topik atau peralatan terkiini yang tidak ada di Indonesia, hingga menyimak pelajaran dari profesor di kelas, selalu ada pembelajaran berharga yang dapat dipetik. Apabila punya rencana untuk mengajar, alangkah baiknya dapat mengambil contoh yang baik dari pengalaman selama mengikuti pelajar agar bisa diterapkan kembali.

Sebagai pelajar yang memperoleh gelar S1 dari kampus di Indonesia, berikut tiga key takeaways dari sistem pengajaran para dosen yang saya peroleh di Hong Kong Baptist University ketika menempuh pendidikan master’s degree di sana.

Office Hours for Consultation

Para dosen mendedikasikan waktu khusus di luar jam pelajaran untuk berdiskusi dengan peserta kelas mata kuliah yang diampunya. Waktu yang dikenal dengan sebutan office hours ini biasanya berkisar antara satu sampai dua jam dalam sepekan. Misalnya pada mata kuliah ECON7930 Analytics for Spatial, Textual and Social Network Data, Prof Ting Chen, sang pengampu mata kuliah, menyediakan waktu hari Senin dari pukul 15:30 – 17:00. Pada jam tersebut mahasiwa yang mengambil kelas tersebut dapat langsung datang ke kantornya jika ingin menanyakan perihal tugas, materi yang belum dipahami, atau diskusi tentang tema lainnya yang masih relevan.

Bagian Gerbang Depan Kampus. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Salah satu kendala yang sering saya temui di kampus Indonesia adalah dosen yang sulit ditemui. Ada dosen yang jarang di kampus, jika dihubungi responnya lambat, atau bahkan sering mengubah jadwal pertemuan secara mendadak. Dengan mengatur jam kerja khusus seperti ini, mahasiswa akan menjadi lebih mudah jika ingin bertemu dengan dosennya. Bagi dosen, dengan memiliki jam khusus ini juga dapat membantunya dalam mengatur agenda pekannya jika ada agenda lain. Pandemi pun tidak menjadi alasan untuk tidak membuka office hours ini karena tetap dapat menyedikan virtual room melalui aplikasi web conference.

Jam Pelajaran yang Efektif

Kelas-kelas yang saya ikuti, menggunakan waktu perkuliahan tatap muka dengan efektif dan sesuai dengan tujuannya. Pelaksanaan perkuliahan juga mempertimbangkan tingkat atensi dari mahasiswa. Kami punya istirahat setiap selesai sati jam pelajaran untuk rehat tubuh dan pikiran sejenak.

Berdasarkan Pemendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, alokasi waktu jam tatap muka pembelajaran untuk satuan pendidikan Sekolah Dasar adalah selama 35 menit per jam pelajaran, SMP selama 40 menit, dan SMA selama 45 menit. Untuk jenjang sarjana, banyak kampus yang menerapkan bobot 1 SKS (Satuan Kredit Semester) meliputi 50 menit kegiatan interaksi akademik terjadwal dengan staff pelajaran seminggu. Penentuan waktu ini berdasarkan rentang perhatian (attention span) rata-rata dari siswa dan mahasiwa. Jika lebih dari waktu tersebut kemungkinan peserta kelas hilang fokus dan penyerapan materi lebih sulit menjadi lebih besar.

Idealnya setelah setiap jam pelajaran tersebut ada rehat sejenak untuk mengembalikan fokus. Ketika S1 dulu, kuliah dengan bobot 2 SKS, yang jam tatap mukanya selama 100 menit per minggu, biasanya pelaksanannya digabung menjadi 1 jam 40 menit. Bahkan mata kuliah yang bebannya 3 SKS seringkali pertemuannya disekaliguskan dalam sehari menjadi 2 jam 30 menit tanpa jeda. Di satu sisi cara ini dapat membuat pelaksaan perkuliahan lebih cepat selesai, di sisi lain mahasiswa kurang memiliki waktu rehat dan mengembalikan atensinya untuk tetap fokus selama pelajaran berlangsung.

Pemandangan Kampus dari Jendela Kelas. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Di Hong Kong, satu credit juga sama-sama memiliki jam perkuliahan selama 50 menit. Tapi bedanya setiap selesai satu jam perkuliahan, kami mendapatkan break selama 10 menit. Mahasiswa dapa memanfaatkan waktu ini untuk kegiatan pribadi atau bertanya kepada dosen. Ketika berada di posisi mahasiswa saya merasakan setelah rehat, pikiran dapat lebih fokus. Selain itu waktu istirahat ini dapat dimanfaatkan untuk berbincang-bincang santai dengan teman sekelas. Selain membicarakan pelajaran, biasanya pertukaran berdaya terjadi ketika obrolan ringan inii.

Jika mengisi kelas atau menyampaikan materi di kampus di Bandung, saya mencoba menerapkan sistem pelaksanaan perkuliahan 50 menit kelas dan 10 menit istirahat. Bagi pengampu materi, jeda ini juga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal, mulai dari melakukan kebutuhan pribadi seperti minum dan ke toilet, hingga mempersiapkan perkuliahan untuk bagian berikutnya seperti mengecek slide PowerPoint materi atau mulai membuka room Kahoot untuk kuis.

Feedback Personal

Kebanyakan mata kuliah memiliki tugas individu maupun kelompok, kuis, serta proyek. Saya baru mengalami mendapatkan feedback personal dari setiap assignment yang dikumpulkan dari beberapa mata kuliah yang saya pilih. Kami mengunggah tugas melalui platform Moodle, yang juga memiliki fitur bagi dosen untuk memberikan tanggapan terhadap file yang dikumpulkan. Ada beberapa dosen yang memberikan masukan dengan detil terhadap laporan-laporan yang saya kirim. Mereka menuliskan hal baik apa yang sudah ada pada tugasnya dan bagian mana yang dapat diperbaiki lagi. Hal tersebut sangat diapresasi karena dapat membantu saya berkembang dari kekurangan yang masih ada.

National Library di Dekat Asrama. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kontras dengan yang dirasakan ketika jenjang S1, saya belum ada mata kuliah yang mendapatkan masukan detil dan spesifik untuk masing-masing mahasiswa. Biasanya komentar hanya general, atau bahkan tidak dapat sama sekali. Sebagai asisten mata kuliah, dalam memeriksa tugas saya jarang memberikan komentar mendetil untuk tugas-tugas yang dikumpulkan mahasiswa. Terkadang hanya mengumpulkan hasil penilaian kepada dosen pengampu.

Padahal dengan memberikan masukan mendetil pada tugas-tugas yang dikumpulkan memiliki manfaat untuk kedua belah pihak. Bagi mahasiswa, masukan-masukan tersebut dapat membuat mereka menyadari hal yang mungkin sebelumnya tidak disadari serta meningkatkan kemampuan dengan belajar dari kekurangan. Bagi pengampu, dengan membaca tugas-tugas yang dikumpulkan secara cermat, dapat menjadi bahan evaluasi mengenai apakah materi dapat ditangkap dan dipahami dengan baik oleh mahasiswa. Hal lain yang menjadi manfaat adalah bisa menemukan bahan materi menarik yang dapat memperkaya materi untuk perkuliahan pada semester berikutnya.

Ketika belajar di luar negeri, akan banyak sekali hal dapat dipelajari dan di bawa pulang untuk diterapkan dalam hidup. Dalam berkarir sebagai akademisi, selain menerapkan ilmu yang dipelajari untuk penelitian, seperti etos riset yang tinggi, manajemen laboratorium, atau langkah-langkah publikasi penelitian pada jurnal, dapat juga mempelajari bagai para profesor di universitas luar negeri menyelenggarakan rangkaian perkuliahannya. Bagian-bagian yang baik bisa diadopsi dan bagian yang belum baik dapat menjadi bahan refleksi diri agar menhindari melakukan hal tersebut.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here