Every Cloud has a Silver Lining: The uncertainties of PhD journey

0
1101

Perjalanan studi PhD kadang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian pada setiap tahapannya. Namun itulah yang menjadi pengalaman untuk dikenang dan dibagikan saat gelar doktoral akhirnya layak dimenangkan. Simak kisah jatuh bangun Desmaizayatri (Phd in Education, Monash University, Australia) dalam menjalani studi doktoralnya hingga lulus penuh bahagia!

***

Hari pertama bertemu dengan supervisor merupakan langkah awal perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan. Hal ini juga terjadu di tanggal yang cantik 1602 2016 (16 Februari 2016), walaupun bukan tanggal palindrom. Tadinya saya sempat tidak ‘ngeh’ dan baru sadar ketika sang supervisor bilang “Well, it’s nice to have you back on this nice day” (sambil melingkari tanggal pertemuan kami di supervision notes beliau). 

Saya bersyukur karena beliau bersedia untuk kembali menjadi supervisor saya ketika saya berencana melanjutkan studi S3 di Monash University. Kampus yang sama saat saya menempuh S2 beberapa waktu lalu. Beliau adalah salah satu saksi dari perjuangan saya menyelesaikan studi magister dengan segala dramanya. Sebab dengan terpaksa saya harus melanjutkan studi S2 dengan biaya sendiri.

Cerita yang sangat panjang yang harus saya persingkat. Alhamdulillah setelah drama air mata akhirnya saya bisa menyelesaikan studi S2 tepat waktu. Kemudian, persis satu tahun setelah lulus S2, saya melenggang mulus melanjutkan studi S3. Benar adanya jika kesulitan itu diapit oleh dua kemudahan. Alhamdulillah semua atas kuasa Allah.

Desmaizayatri saat mengikuti kegiatan di kampus. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Di bulan pertama candidature saya, yang kata orang adalah masa honeymoon PhD, saya benar-benar seperti merasakan saat bulan madu! Semua begitu indah, kembali ke kota yang memberikan banyak pelajaran hidup ditambah dengan beasiswa dari LPDP yang melimpah ruah yang sangat berbeda jauh dibandingkan ketika saya harus menguras waktu, tenaga, bahkan air mata untuk bisa bertahan hidup sambil kuliah S2. 

Saat itu supervisor tidak banyak menuntut, saya diminta untuk terus membaca dan membaca. Namun masa itu harus berakhir, riak-riak gelombang mulai datang, dimulai dari ketidakhadiran associate supervisor di beberapa pertemuan. Saya masih merasa sedikit aman, karena toh saya masih punya main supervisor yang sudah sangat paham dengan riset saya.

Topik riset yang saya kerjakan berkenaan dengan Teachers agency and identity yang focus pada dinamika pembelajaran Bahasa Inggris yang memasukkan unsur-unsur kearifan local, terutama nilai-nilai budaya Minangkabau dengan filosofi, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah

Namun, akhirnya kabar itu datang. Ternyata setelah menderita sakit yang cukup lama, sang associate supervisor harus menyerah melawan sakitnya. Beliau meninggal di bulan ke-8 candidature saya.

Berita itu akhirnya membuat saya semakin cemas. Main supervisor saya mengatakan bahwa dia sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk, dengan menawari koleganya untuk menjadi pengganti associate supervisor saya. Lagi-lagi saya mulai kembali merasa aman, dan saya senang saja ketika bertemu dengan associate supervisor yang dipilihkan untuk saya. Beliau juga orang Asia dan menurut saya itu akan memberikan suatu hal yang positif untuk riset saya.

Desmaizayatri di ruang kerjanya sebelum memulai mengerjakan thesisnya. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Namun semua ketenangan itu serta merta sirna, ketika draft yang akan saya sampaikan di ujian proposal yang dilakukan di tahun pertama dikomentari habis-habisan. Saya diminta merevisi kembali tulisan saya. Di satu sisi saya sangat suka dengan feedback yang sangat detail, tapi di sisi lain saya sudah tidak punya banyak waktu. 

Apalagi saya juga sempat dibanding-bandingkan dengan anak bimbingannya yang juga dari Indonesia, saya menjadi insecure. Saya tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Di satu sisi mungkin beliau punya maksud baik ingin memotivasi saya agar lebih giat lagi, tapi di sisi lain saya menjadi sangat khawatir. Tiba-tiba impostor syndrome yang saya dengar dari beberapa seminar di kampus mulai menyergap dan menjadi mimpi buruk.

Saya merasa saya tidak pantas menjadi PhD student dengan kompetensi seperti ini, saya merasa analisa saya sangat dangkal, dan perasaan-perasaan lain yang membuat saya berpikir yang tidak-tidak. Terbayang beberapa orang teman yang harus pulang tanpa gelar karena gagal melewati milestone program PhD.

Saya berusaha untuk mengontrol perasaan saya dan sebagai seorang Muslim mendekatkan diri dan menyerahkan segalanya pada Yang Kuasa adalah satu-satunya solusi. Setelah segala daya dan upaya dikerahkan. Alhamdulillah saya bisa melewati badai pertama itu walau dengan sedikit babak belur. Namun, sepertinya saya tidak dibiarkan tenang barang sesaat.

Desmaizayatri saat menghadiri pernikahan salah satu teman sesama orang Minang di Melbourne. Sumber: dokumentasi pribadi.

Setelah proses confirmation selesai, kedua supervisor saya meminta untuk bertemu. Di pertemuan itu, saya harus mengikhlaskan main supervisor saya yang memutuskan tidak bisa membimbing saya lagi. Hal ini karena beliau telah memasuki masa pensiun. Beliau hanya akan menjadi supervisor bagi anak bimbingannya yang hampir selesai alias di tahun keempat.

Sementara saya baru memasuki tahun kedua. Bagaikan seorang anak yang ditinggal orang tua, saya menahan rasa sesak di dada. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika orang yang memahami riset saya tidak lagi membimbing dan saya harus bertemu dengan supervisor baru yang saya tidak tahu entah bagaimana orangnya.

Pada pertemuan dengan associate supervisor saya yang baru (associate supervisor yang lama naik pangkat jadi main supervisor), saya merasa agak lega, karena beliau ternyata sangat baik dan begitu keibuan, dan saya juga mendengar track record beliau yang bagus dari teman-teman. Phuuih…

Desmaizayatri Bersama teman teman mahasiswa dan warga negara Indonesia yang menetap di Melbourne saat merayakan Idhul Fitri. Sumber:Dokumentasi Pribadi

Di awal tahun kedua, ternyata saya hamil. Perasaan saya campur aduk, antara senang dan khawatir. Dengan segala keterbatasan sebagai ibu hamil dan PhD student yang telah disibukkan dengan proses pengambilan data dan persiapan ujian milestone kedua (mid-candidature/ progress review), saya semakin tertatih karena main supervisor saya sakit.

Menurut info yang saya terima, sakit beliau cukup serius, sementara associate supervisor yang baru masih berusaha menyesuaikan diri dengan riset saya. Namun, Alhamdulillah dengan segala keterbatasan itu saya masih diberikan kemudahan untuk menjalani ujian mid-candidature dan tiga hari setelah ujian saya melahirkan seorang putri cantik. Alhamdulillah… satu tangga berhasil dinaiki walau dengan separuh nafas.

Desmaizayatri Bersama keluarganya saat picnic disela-sela pengerjaan thesisnya. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Tahun ketiga dan keempat bukan tanpa perjuangan, dan rasanya setiap milestone yang saya jalani punya ceritanya masing-masing. Saya sempat iri dengan teman saya yang mulai dari tahun pertama sampai tahun ketiga, semua berjalan lancar, mendapatkan supervisor yang sangat helpful dan mendapatkan perhatian penuh dari mereka, setidaknya menurut saya begitu.

Namun tanpa diduga dan dinyana, teman saya juga mengalami nasib yang sama dan menurut saya menjadi lebih parah karena beliau berganti supervisor di tahun akhir. Suatu hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. 

Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tidak ada yang ‘benar-benar aman’ selama menjadi kandidat doktor. Namun cerita dan proses naik turun itu yang akan selalu menjadi cerita manis setelah gelar Doktor itu disandang. Cerita yang bisa dibagi pada siapa saja, dan semoga cerita sederhana saya ini bisa menginspirasi. 

Desmaizayatri merayakan kelulusan PhD (resmi menyandang gelar doctor) bersama suaminya. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Ada begitu banyak orang yang memiliki peran dalam menghantarkan saya meraih gelar doktor ini, dan hanya Allah saja yang bisa membalas kebaikan mereka. Lika-liku perjalanan dalam menimba ilmu di jenjang pendidikan ini akan sama halnya dalam perjalanan menimba ilmu di kampus kehidupan. Dan saya sangat meyakini bahwa di dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Every cloud has a silver lining. Keyakinan ini yang terus saya pupuk karena kita tidak pernah tahu berapa episode kehidupan lagi yang harus kita perankan.

PROFIL

Desmaizayatri yang akrab disapa Tili adalah alumni Monash University, Australia dan penerima beasiswa LPDP program Doktoral bidang Pendidikan (2016-2020). Saat ini senang meghabiskan waktu dengan keluarga di samping kesibukan mengembangkan Lembaga Pelatihan Bahasa dan Pusat Konsultasi Pendidikan di kota Padang, TIME Language Centre. Di samping itu juga menjadi co-founder Lembaga non-profit Rang Mudo Palito Pendidikan yang bergerak dibidang pendidikan dan pemberdayaan pemuda terutama di panti asuhan di kota Padang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here