Menjadi Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) di University of Michigan Sebelum dan Awal Pandemi Covid-19

0
200
UMich
University of Michigan, Ann Arbor. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Di artikel minggu ini, Lidya Pawestri membagikan kisahnya menjadi asisten pengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing. Tugas yang ia emban tidak mudah lantaran ia harus melakukannya tepat ketika pandemi dimulai. Walau sempat mengalami kesulitan, Lidya menikmati masa tersebut dan bahkan terlibat di berbagai kegiatan di luar kesibukannya mengajar. Cerita Lidya dapat kita jadikan pengingat untuk tetap tenang dan optimis di saat terbentur masalah.

***

Setelah menyelesaikan studi S2 di University College London tahun 2016, saya kembali mengajar di Politeknik Negeri Jakarta. Namun, selain mengajar mata kuliah bahasa Inggris, saya juga mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) bagi mahasiswa asing dari program Darmasiswa Kemdikbud. 

Sekitar tahun 2018, saya mendapat informasi mengenai beasiswa non-degree Foreign Language Teaching Assistant, Fulbright. Beasiswa ini diperuntukkan bagi pengajar bahasa Inggris atau BIPA awal karir di Indonesia untuk mengajar bahasa Indonesia di kampus-kampus ternama Amerika Serikat selama satu tahun akademik (9 bulan). 

Setelah melalui serangkaian proses mulai dari seleksi administrasi, wawancara, hingga tes TOEFL iBT, akhirnya saya mendapat pengumuman bahwa saya akan mengajar di University of Michigan di kota Ann Arbor. Saya berangkat tanggal 13 Agustus 2019, tanpa membayangkan bahwa di sana saya akan menghadapi pandemi Covid-19. Namun, saya tidak langsung sampai di Ann Arbor karena menjalani Summer Orientation di University of Arkansas selama beberapa hari dengan FLTAs dari negara lain.

Lidya dan rekan-rekannya berkunjug ke KBRI Washington DC, Desember 2019. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Kelas Bahasa Indonesia di University of Michigan

University of Michigan (UMich) di kota Ann Arbor adalah salah satu universitas publik terbesar di Amerika Serikat yang menyediakan kelas bahasa Indonesia. Kelas bahasa Indonesia berada di bawah Southeast Asian Language Program (SEALP). SEALP sendiri berada di departemen Asian Languages and Cultures (ALC), College of Literature, Science, and the Arts Universitas Michigan. Terdapat tiga tingkat kelas bahasa Indonesia, yaitu tingkat pemula (1st Year Indonesian), tingkat madya (2nd Year Indonesian), dan tingkat mahir (Advanced Indonesian).

Hampir setiap tahun, kelas bahasa Indonesia di UMich menerima Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA). Di UMich sendiri terdapat dosen utama bahasa Indonesia, tidak seperti di beberapa kampus lain. Jika tidak ada dosen utama di kampus tersebut, maka FLTA menjadi pengajar utama. Tugas Fulbright FLTA di UMich adalah untuk membantu dosen bahasa Indonesia dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan mengadakan tutoring, language table, cooking class, movie class, dan mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia baik di dalam maupun di luar kampus. Namun, sebagai seorang teaching assistant, saya juga mendapat kesempatan untuk mengajar kelas untuk tingkat pemula dan madya sendirian. 

Acara terkait Indonesia lainnya di UMich adalah Indonesian Cultural Night yang rutin diadakan setahun sekali dan pertunjukan gamelan dari kelas gamelan UMich. 

Kelas yang Diikuti di University of Michigan

Lidya ikut serta meramaikan Asian Language Fair di University of Michigan sekitar bulan Februari 2020. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Selain menjadi asisten pengajar, para FLTA juga diminta untuk mengambil dua kelas audit (tugas dan ujian yang dikerjakan tidak dinilai oleh dosen) per semester. Di semester pertama, saya mengambil kelas Film Noir dan Reading as A Writer yang pengajarnya adalah seorang novelis ternama. Saya mengambil mata kuliah ini karena saya juga sangat tertarik dengan dunia kepenulisan fiksi. Saya beruntung bisa berdiskusi dengan dosen yang salah satu karyanya masuk daftar panjang bergengsi Man Booker Prize

Di semester kedua, saya mengambil dua mata kuliah yaitu Language and Discrimination dan kelas Marriage, Histories, and Culture yang diajar oleh salah seorang antropolog budaya ternama di Amerika Serikat. Selain itu, ada satu mata kuliah yang sangat ingin saya ikuti yaitu Gender Based Violence: From Theory to Action. Sebenarnya, mengambil tiga mata kuliah selama satu semester kurang dianjurkan, tetapi setelah berdiskusi dengan pengajar utama dan pengajar mata kuliah tersebut, akhirnya saya diperbolehkan mengambil tiga mata kuliah di semester kedua.

Namun, hal yang tidak disangka terjadi yaitu pandemi Covid-19. Pada bulan Maret 2020, setelah adanya konfirmasi ada warga Michigan yang terinfeksi Covid-19 pada tanggal 10 Maret 2020, seluruh kelas diubah menjadi online dan kegiatan belajar mengajar yang tadinya banyak berisi diskusi dalam kelas kini hanya berupa materi inti saja selama masa transisi. 

Kegiatan-kegiatan seperti Indonesian Cultural Night yang diadakan di semester kedua juga dibatalkan, termasuk potluck yang diadakan tiap bulan oleh masyarakat Indonesia di UMich. Namun, kegiatan Asian Language Fair berhasil diadakan di bulan Februari 2020. 

Masa-masa ini merupakan masa-masa yang cukup membingungkan dan cukup membuat stres. Saya juga tidak tahu apakah bisa pulang tepat waktu di bulan Mei karena saya dan pasangan sudah merencanakan menikah di bulan Juni 2020. Apalagi, persiapan pernikahan sudah berlangsung sejak sebelum saya ke Amerika. Syukurlah saya dan seorang kawan FLTA Indonesia bisa pulang tepat waktu di awal bulan Mei 2020.

Selain Mengajar dan Belajar 

Lidya berfoto di depan Capitol Building Washington DC sekitar Desember 2019. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Sebagai pengajar FLTA, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti Fulbright FLTA mid-year conference yang diadakan di Washington DC bulan Desember 2019. Kami bertemu dengan sekitar 400 FLTAs dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman kami selama satu semester menjadi teaching assistant di kampus masing-masing. FLTA Indonesia pun turut mengisi acara kesenian di malam terakhir konferensi. Seusai konferensi dan untuk mengisi liburan musim dingin, FLTA Indonesia melakukan perjalanan ke kampus tempat FLTA lain mengajar di East Coast yaitu University of Pennsylvania, Harvard University, Yale University, dan Columbia University yang terletak di kota-kota yang berbeda. Kami juga diundang oleh KBRI Washington DC untuk berbagi pengalaman mengajar BIPA di kampus-kampus Amerika.

Salah satu kegiatan yang saya ikuti di luar mengajar adalah menjadi sukarelawan penerjemah di Translate-a-thon UMich. Kegiatan dilakukan selama dua hari, yang juga masih satu rangkaian acara dengan kuliah umum mengenai translation studies yang diisi oleh editor salah satu jurnal di bidang penerjemahan dari Warwick University, UK. Karena saya berniat untuk melanjutkan S3 di bidang penerjemahan, saya pun melakukan pendekatan dengan profesor tersebut dan salah seorang dosen penerjemahan di UMich. Dari mereka, saya mendapatkan informasi mengenai kampus-kampus Australia di bidang penerjemahan. 

Satu bulan terakhir di Amerika, saya menyiapkan proposal dan CV untuk melamar S3 dan saya mengirim ke beberapa kampus di Australia. Ada dua calon supervisor yang merespon baik, yaitu Monash University dan University of Western Australia (UWA). Setelah beberapa pertimbangan, saya meneruskan lamaran saya di UWA. 

Malam terakhir di Ann Arbor, ketika makan malam dengan kawan saya dari Vietnam dan Filipina, saya mendapat email bahwa saya lolos untuk mendaftar secara resmi di UWA. Setelah proses deferral beberapa kali karena proses pencarian beasiswa dan juga kehamilan, saya akan melanjutkan S3 di bulan Februari 2023. 

Penutup

Menjadi FLTA di UMich tidak hanya membuka kesempatan untuk mengajar dan belajar di salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat. Banyak sekali kesempatan yang bisa diambil di luar kelas seperti mengikuti kuliah umum, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan sukarela. Apalagi dengan luasnya akses perpustakaan kampus dan perpustakaan kota yang bisa kita manfaatkan. Ujung perjalanan saya sebagai FLTA di UMich mengantarkan saya ke perjalanan selanjutnya di benua berikutnya.  

Lidya dan kawan-kawan sesama penerima beasiswa FLTA berfoto saat acara mid-year conference, Desember 2019. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Disclaimer: 

Ini BUKAN website resmi U.S. Department of State. Opini dan informasi yang dimuat di atas adalah pandangan penulis sendiri dan tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan Fulbright Program atau the U.S. Department of State.

Profil penulis:

Lidya Pawestri Ayuningtyas adalah pengajar Bahasa Inggris dan juga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Politeknik Negeri Jakarta. Pada tahun 2016 ia lulus dari  MA TESOL Pre-service, UCL Institute of Education dengan predikat Distinction sebagai mahasiswi yang disponsori oleh Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP). Pada tahun 2019 ia menjadi salah satu penerima beasiswa FLTA dan berperan sebagai asisten pengajar Bahasa Indonesia di University of Michigan hingga tahun 2020. Lidya akan menjalani pendidikan PhD di University of Western Australia dan kembali disponsori oleh LPDP. Di luar urusan akademik, ia telah menerbitkan cerita-cerita pendek di berbagai media online dan cetak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here