Dari Pandemi Menjadi Potensi: Inspirasi Lanjut Studi PhD

0
566
Yogi di depan Winthrop Hall, The University of Western Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Pandemi COVID-19 telah banyak menyebabkan perubahan cara hidup secara tak terduga. Bekerja dengan metode daring menjadi salah satu perubahan yang menantang dan membingungkan, dikarenakan kurangnya interaksi secara langsung di ruang kelas. Alih-alih untuk tetap menganggap pandemi sebagai tantangan, Yogi Saputra Mahmud, Editor in Chief Indonesia Mengglobal memilih untuk melanjutkan studi PhD dengan misi untuk memberdayakan guru-guru pemula di masa recovery pasca pandemi COVID-19 ini. Simak kisah Yogi di artikel berikut ini.

Pandemi dan “Patah Hati”

Pandemi COVID-19 di awal tahun 2020 menjadi sorotan utama (highlight) perjalanan karier saya pasca lulus studi S2 dari Monash University, Australia. Bayangkan saja, saya yang baru saja diterima sebagai dosen Bahasa Inggris di President University, Bekasi, pada tanggal 2 Januari 2020, harus mengalami dampak luar biasa akibat pandemi. 

Selang dua bulan semenjak saya diterima sebagai dosen di kampus tersebut, pembelajaran terpaksa dialihkan ke mode daring (online) guna memutus rantai penyebaran virus COVID-19. Padahal, saat itu saya sedang di masa “bulan madu,” menikmati perjalanan awal karier sebagai teacher educator.

Meskipun tidak memiliki kendala teknis berarti akibat peralihan mode mengajar tersebut, saya malah merasakan “patah hati” yang luar biasa akibat merasa “direnggut” kenikmatan berinteraksi dan berdiskusi dengan para calon guru secara langsung. Padahal saya telah berangan-angan untuk menciptakan suasana kelas yang suportif untuk para mahasiswa. Sayangnya, semua hal tersebut harus sirna.

Memang, platform seperti Zoom dan Google Meet sangat menunjang dalam teknis pengajaran. Akan tetapi, pengajaran itu bukan hanya soal transfer knowledge, melainkan character building, mengajarkan keteladanan, dan aspek psikososial lainnya yang sangat terhambat akibat pembelajaran daring.

Di televisi dan kanal informasi lainnya, saya pun mendapati bahwa perasaan yang saya miliki juga dialami oleh banyak peniti karier pemula lainnya, salah satunya guru-guru sekolah. Terlebih lagi untuk guru-guru Bahasa Inggris, mereka mengalami dilema karena harus memaksimalkan interaksi dengan para siswa di tengah waktu yang penuh batas ini (bounded times).

Bayangkan saja, mereka dituntut agar dapat memaksimalkan potensi siswa guna menguasai dan berkomunikasi dalam bahasa asing, sementara situasi menghambat mereka untuk mengajar dengan efektif akibat pandemi. 

Situasi yang penuh batas ini justru berhasil menjadi inspirasi bagi saya untuk memaksimalkan peluang lanjut studi PhD guna memahami lebih dalam tentang dinamika yang dialami oleh guru-guru pemula.

Yogi di samping Reid Library, perpustakaan utama di The University of Western Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi di samping Reid Library, perpustakaan utama di The University of Western Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Menata Diri di tengah Kesulitan

Sedari awal, saya selalu menganggap pandemi ini bukan semata-mata musibah tetapi juga peluang untuk meningkatkan kualitas diri. Banyak sekali contoh mahasiswa, periset, budayawan, atau pelaku lainnya asal Indonesia yang berhasil memaksimalkan kesempatan di tengah kesulitan. 

Misalnya, Indra Rudiansyah yang terlibat sebagai tim peneliti vaksin di University of Oxford. Saya pun ingin ambil bagian di bidang pendidikan.

Seperti yang saya sempat bagikan di siniar (podcast) Mengglobal Talks, tujuan hidup saya adalah menjadi “gurunya calon guru” atau teacher educator. Di tengah masa sulit ini, saya ingin ambil bagian dengan memahami lebih lanjut tentang dinamika guru pemula saat pandemi dengan cara lanjut studi PhD.

Tepat di ulang tahun saya tanggal 16 Desember 2020, saya mulai merancang resolusi untuk tujuan lanjut studi PhD, salah satunya dengan membaca artikel Indonesia Mengglobal tentang penulisan proposal riset, menghubungi potential supervisors, mencari kampus, strategi beasiswa, strategi tes IELTS, dan lainnya.

Di tengah kesibukan karier, saya sisihkan waktu satu jam dalam sehari untuk mencicil persiapan tes IELTS, penulisan proposal riset, dan pencarian beasiswa. Akibat pandemi, saya pun harus mengikuti tes Computer-Based IELTS di Jakarta dengan protokol kesehatan yang ketat. Hal baru yang belum pernah saya alami sebelumnya. Pengalaman mengikuti tes IELTS ini pernah saya ulas pula di artikel berikut ini.

Di saat yang bersamaan, saya pun mencoba berkomunikasi dengan mahasiswa PhD yang sedang atau telah menyelesaikan studinya dalam merancang proposal riset. Alhasil proposal riset pun dapat diselesaikan berbarengan dengan rilisnya hasil tes IELTS di bulan Maret 2021.

Yogi di depan Graduate School of Education. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi di depan Graduate School of Education. Sumber: Dokumentasi pribadi

Mencari Kampus Studi di tengah Pandemi

Saya pun mulai memberanikan diri untuk menghubungi potential supervisors dari berbagai kampus dunia. Fokus utama saya ditujukan ke benua Australia karena kedekatan emosional yang sempat saya bina saat S2, serta jumlah experts yang sangat memahami situasi pendidikan di Indonesia dan situasi saat pandemi.

Proses pencarian kampus dan supervisors ini bukanlah proses yang mulus, karena melibatkan beberapa penolakan dari beberapa supervisors akibat daya tampung bimbingan (supervisory load) mereka yang sudah penuh atau karena alasan pensiun.

Setelah mengalami proses berbulan-bulan, akhirnya terdapat tiga supervisors dari dua kampus berbeda yang sangat tertarik akan proposal riset saya, yaitu dari The University of New South Wales (UNSW) dan The University of Western Australia (UWA)

Graduate School of Education, The University of Western Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Setelah saya mengirim aplikasi resmi ke dua kampus tersebut, masing-masing supervisor dan graduate school coordinator dari dua kampus tersebut meminta saya untuk bertemu secara daring. Sangat disayangkan bahwa beasiswa yang ditawarkan UNSW hanya mencakup biaya untuk single student saja, sementara saya berencana membawa pasangan juga ke Australia.

Di saat yang bersamaan, UWA menawarkan saya untuk mengajukan beasiswa Australian Government Research Training Program (RTP) yang dibiayai secara co-funded oleh kampus dan Pemerintah Australia. Ditambah lagi, beasiswa tersebut mencakup pembiayaan untuk pasangan dan bahkan anak. 

Selain karena aspek beasiswa, saya pun jatuh hati kepada UWA karena keramahan supervisors saya saat kali pertama bertemu secara daring. Bahkan, principal supervisor saya sangat berniat untuk memahami cara berpikir dan menulis saya hingga ia mencetak tesis S2 saya seluruhnya! Alhasil saya mantapkan hati untuk ke Australia Barat! 

Dari Bekasi Barat ke Australia Barat

Hingga artikel ini diterbitkan, saya telah berada di Australia Barat selama satu pekan. Saya pun senantiasa merefleksikan kembali bagaimana situasi yang sulit akibat pandemi malah menjadi inspirasi untuk melanjutkan studi PhD, bahkan dengan beasiswa. 

Ketika bertemu dengan graduate school coordinator di sini, ternyata saya pun mendapatkan tambahan beasiswa travel and research grants dari The University Club of Western Australia karena berhasil menjadi kandidat penerima beasiswa RTP dengan skor tertinggi di antara seluruh kandidat S2 dan S3 di kampus.

Yogi mendapatkan tambahan beasiswa research and travel dari The University Club of Western Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi mendapatkan tambahan beasiswa research and travel dari The University Club of Western Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Saat merefleksikan kembali pengalaman ini, saya pun teringat akan anniversary theme satu dekade Indonesia Mengglobal yang berjudul “Boundless Possibilities amid Bounded Times.” Bagaimana ternyata masa-masa yang dianggap “penuh batas” ini malah menjadi momen untuk meraih peluang-peluang baru.

Dari Bekasi Barat, saya pun bertekad untuk menyelesaikan riset dan studi di Australia Barat dengan satu tujuan yang tetap sama, yaitu untuk empower guru-guru pemula di masa recovery pasca pandemi COVID-19 ini. 

Saya meyakini bahwa banyak dari para pembaca yang dapat menemukan makna tersembunyi dari pandemi ini guna memaksimalkan potensi diri untuk melanjutkan studi, meningkatkan karier, atau memperluas dampak. Mudah-mudahan, semangat satu dekade Indonesia Mengglobal dalam tema “Boundless Possibilities amid Bounded Times” ini dapat menularkan energi positif untuk Anda semua.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here