Interkulturasi Budaya: Merangkul Nusa Tenggara Timur dan Amerika Serikat

0
481
Wanita di depan sebuah kampus Amerikat Serikat
Maria berfoto di depan gedung universitasnya. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Maria Regina Jaga adalah seorang perempuan asal NTT yang menerima beasiswa LPDP untuk menempuh pendidikan Master’s in Early Childhood Education di Auburn University, Alabama. Lewat artikel ini, Maria menjelaskan bagaimana pemahaman lintas budaya dan benua dapat dijadikan alat menjembatani perbedaan antara dua negara. Mari kita baca cerita lengkapnya.

***

Menjadi salah satu penerima beasiswa Indonesia Timur menjadi satu hal yang tidak dapat tergambarkan hanya dengan kata. Dipercayai sebagai wakil Indonesia di benua baru dan asing adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mudah bagi saya. Berlatar belakang budaya ketimuran (yang kadang agak sedikit bertolak belakang dengan budaya luar), saya tidak dapat memungkiri betapa saya tergoncang saat pertama kali, di tahun 2019, harus beradaptasi dengan budaya dan berbagai hal baru lain yang saya temukan di Amerika Serikat. Dalam beberapa bulan awal perkuliahan di Auburn University, rindu rumah dan makanan menjadi beban tersendiri. Hal tersebut perlahan saya atasi ketika saya mendapat kesempatan menjadi student’s ambassador untuk International Cultural Center (ICC) at Auburn University. Tanggung jawab itu memperkaya saya dengan kemampuan beradaptasi dan juga memungkinkan saya menemukan tempat baru untuk mengasah keterampilan komunikasi. Ketika saya semakin melebur dalam ranah komunitas berlatar belakang budaya dengan corak yang beragam di ICC, perkara makanan tidak jadi kendala lagi. Pihak ICC selalu bergilir menyajikan makanan dari beragam benua, sehingga saya berhasil menaklukkan perkara makanan dan menemukan bahwa banyak cita rasa lain yang dapat saya temukan di luar cita rasa Indonesia.

Bahasa menjadi tantangan kedua bagi saya. Acap kali orang berpikir bahwa jika latar belakang pendidikanmu mensyaratkan penggunaan Bahasa Inggris sebagai medium of instruction seharusnya tidak ada masalah ketika terlempar studi di luar negeri. Faktanya, apapun latar belakang pendidikanmu, kamu tetap akan merasakan kesulitan penyesuaian bahasa akibat ritme, tone, intonasi, dan aksen di mana kamu melanjutkan studi. Saya merasa sering terkecoh dengan aksen southern. Saya membutuhkan ekstra effort untuk dapat menangkap inti pembicaraan. Sering kali saya terpaksa meminta lawan bicara mengulangi pernyataan atau pertanyaan yang mereka ucap dan juga terkadang   menjawab “yes” atau “no” semata demi menunjukkan bahwa saya sedang turut serta dalam pembicaraan itu tanpa mengurangi rasa hormat saya pada mereka. Tetapi benar kata orang, “ala bisa karena biasa”, saya menjadi lebih cakap memprediksi makna dan konteks pembicaraan karena dibantu oleh supir-supir bus yang sangat ramah dan sering membuka pembicaraan ringan agar para mahasiswa internasional dapat lebih natural terlibat dalam percakapan. Selain itu, teman- teman sekelas juga ikut membantu dalam diskusi lepas, kerja kelompok, maupun dalam class project di mana semua mahasiswa berlatar belakang bahasa berbeda, termasuk saya, harus berpendapat dan memberi kontribusi ide dalam prosesnya.

Wanita melakukan presentasi
Pada beberapa kesempatan, Maria dipercayai memberikan presentasi seputar budaya Indonesia. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Ada satu moment penting yang turut andil dalam proses menaklukkan ketakutan saya terkait Bahasa Inggris, yaitu Elevator Pitch Competition. Event tersebut adalah acara yang diselenggarakan salah satu lembaga universitas saya untuk para mahasiswa di Fakultas Pendidikan. Saat itu, 25 perwakilan mahasiswa, yang juga berasal dari 15 negara yang berbeda, ikut serta berpartisipasi. Berbekal keberanian dan tekad, saya menjadi salah satu pesertanya. Saya menghabiskan waktu persiapan mencoba berlatih di berbagai tempat, merekam performance saya untuk saya dengarkan berkali-kali, dan juga banyak berdoa. Saya ingin tampil baik untuk saya dan untuk Indonesia karena saya tahu bahwa ketika saya dipanggil untuk tampil, akan pula terucap “Berasal dari Indonesia”. Nomen  est omen, sebuah pernyataan dalam Bahasa Latin yang bermakna “nama adalah tanda” menjadi semboyan yang saya pegang. Perjuangan saya di ajang ini menjadi tanda bahwa Indonesia juga bisa dan bahwa nama Indonesia akhirnya tercatat di Auburn University sebagai salah satu peserta kompetisi pidato. Rasa haru sekaligus bangga saya rasakan ketika saya mendengar pengumumam seminggu setelah acara bahwa saya menjadi juara satu lomba tersebut. Kekurangan saya menjadi alasan saya untuk berjuang lebih dengan hasil yang sangat menggembirakan saya, perempuan timur Indonesia, bahwa ternyata saya telah tumbuh dan berproses menjadi saya yang sekarang, seorang pemenang.

Saya sadar bahwa kemenangan sehari itu belum cukup membuat Indonesia dipahami dan dikenali di universitas saya.  Saya perlu wadah untuk bisa membuat para pengajar dan mahasiswa mendengar dan melihat keberagaman Indonesia dari ufuk timur ke pantai baratnya, melihat kekayaan bahasa, kultur, serta kebhinekaan Indonesia yang terjalin justru dari perbedaan. Harapan saya lagi-lagi terwujud. Selamat dua tahun berturut- turut, saya dipercaya oleh International Cultural Center Auburn University untuk menjadi pembicara yang mempromosikan Indonesia dalam tajuk World Heritage Indonesia dan tentu saja saya mempromosikan Indonesia bagian timur. Saya menjadi pembicara di  Osher Lifelong Learning Institute (OLLI) yang adalah tempat bagi para professor  Auburn University yang dalam masa persiapan pensiun, dan juga orang- orang dalam ruang lingkup Auburn University yang berusia 50 tahun ke atas, untuk bisa tetap belajar, berkumpul, dan berdiskusi  serta mengenal cultural diversity dari seluruh dunia dalam setiap minggu pertemuan mereka. 

Di tahun berikutnya, saya dipercayai oleh Dream Mentorship Foundation untuk berbicara tentang Indonesia dan berfokus pada budaya timur yang kental dari 5 provinsi (Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat) bersama  4 orang perwakilan Indonesia lainnya.  Berbicara tentang rumah, tentang budaya yang membentuk kami, serasa terbang pulang dengan roh yang gempita ke langit Indonesia. Dengan penuh haru, cerita tentang ubi kayu, tentang jagung, tentang ritual dan tradisi NTT, tentang kayanya tenun-tenun bercorak indah berbalut makna simbolis, terucap dari bibir.  Ada juga papeda, bakar batu, mumi, cengkeh, tradisi pela gandong, serta berbagai bahasa daerah kami lantang bagikan pada telinga- telinga asing yang tampak terkesima mendengar betapa kaya Indonesia timur sesungguhnya. Kami adalah “anak-anak pulau” yang tiba di negara adi kuasa. Kami punya sejuta mimpi untuk diraih tapi kami juga tahu budaya Amerika Serikat tidak akan mengikis kecintaan kami pada Nusantara. Pancasila menjadikan kami menghargai budaya barat yang kami temui tanpa perlu meruntuhkan atau melunturkan budaya timur kami yang mengakar dalam nadi. 

Wanita dengan bendera merah putih
Maria berfoto bersama dengan bendera Indonesia saat presentasi budaya. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Setelah  dua moment besar itu banyak pertanyaan muncul tentang kami, tentang Indonesia, tentang budaya dan adat istiadat kami, yang telah kami jawab dengan representasi dari kami yang dengan bangga memakai pakaian adat kami, dalam upaya penyelarasan kedua budaya yang kami alami dalam pembauran yang berbeda tapi tetap satu. Jiwa kami adalah jiwa Indonesia. Di penghujung dua  pengalaman itu saya akhirnya paham bahwa saya diterima, didengar, dan dimengerti di Amerika Serikat walau saya datang dari negeri yang jauh. Saya belajar bahwa saya dapat menggunakan kedua budaya ini untuk saya adopsi dan saya pakai untuk memperkaya diri saya sebagai perempuan asal  NTT yang telah belajar dengan sistem pendidikan barat. Saya menghargai budaya barat sambil tetap melestarikan budaya timur. Saya tidak menganaktirikan salah satu dari budaya tersebut. Saya telah berhasil membaur dan memahami bahwa kedua budaya tersebut dapat saya rangkul dalam sendi-sendi hidup saya.

Saya mengadopsi budaya barat ketika saya mendisiplinkan diri dalam kebiasaan deep reading, scheduling things, on time, dan kolaborasi antar mahasiswa.  Saya melihat hal- hal tersebut membentuk saya menjadi lebih kritis dalam berpendapat, meraih target-target penyelesaian tugas yang baik, disiplin waktu, serta memahami konsep kerja sama di mana tak perlu ada yang merasa paling dominan karena semua ide dari siapapun dalam grup sama berharga. Saya juga belajar bersaing yang kompetitif tanpa saling menjatuhkan. Hal- hal tersebut membuat saya merasa dapat mengikuti ritme belajar anak- anak Amerika Serikat serta dapat mengerjakan semua project perkuliahan sesuai arahan para dosen.  Selain itu, dalam rangka menjaga tradisi ketimuran yang saya anut, saya selalu berupaya mempertahankan unsur tolong-menolong, tetap beribadah sesuai ajaran agama saya, jujur, berani, dan ramah. Saya juga selalu memakai pakaian dan aksesoris bercorak Nusa Tenggara Timur seperti tas, selendang, anting-anting, dan pakaian bermotif khusus.

Ketika saya diwisuda dengan predikat magna cum laude, saya bahkan memakai pakaian adat lengkap perempuan Manggarai. Saya mencintai Indonesia dan budayanya hidup dalam diri saya namun saya juga menghargai kesempatan belajar di Amerika Serikat yang diberikan Indonesia kepada saya.  Sebagai wujud nyata kecintaan dan terima kasih saya untuk Indonesia, saya akhirnya pulang. Indonesia adalah rumah saya. Saya telah kembali untuk membangun Indonesia dengan semua ilmu yang saya dapat. Terima kasih juga Auburn University telah menjadikan saya semakin baik untuk Indonesia. Mata saya terbuka melihat dunia namun Indonesia tetap di hati. Terima kasih!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here