Mendobrak Batasan di Tengah Keterbatasan: Semua Tentang Mindset

0
568
Agus di Mt. Buller, Victoria, Australia. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Pandemi COVID-19 telah memberikan banyak tantangan bagi banyak pihak. Berbagai macam penyesuaian diperlukan untuk beradaptasi di era yang tidak terduga ini. Begitu juga Agus Sri Giyanti (Agus), penyandang disabilitas netra sekaligus mahasiswi Monash University dengan jurusan Master of Strategic Communications Management yang harus menunggu selama dua tahun sebelum akhirnya berangkat ke Australia untuk memulai studinya.”

Di masa dua tahun tersebut, Agus tidak hanya berdiam diri. Agus dan suami merintis suatu yayasan untuk memberdayakan para disabilitas netra dengan memberikan pelatihan terkait dunia digital. Simak kisah Agus dalam untuk tetap terus maju mendobrak batasan di masa pandemi yang tak terduga ini.

***

Sosok Agus Sri Giyanti

Perkenalkan, saya Agus Sri Giyanti. Saya lahir di Wonogiri tahun 1990. Saya menjadi disabilitas netra sejak tahun 2008 ketika saya lulus SMK, setelah sebelumnya saya mengalami ablasio retina (gangguan mata yang terjadi ketika retina terlepas dari bagian belakang mata – red).

Setelah lulus SMK, saya sempat bergabung menjadi kontributor di salah satu media online. Pengalaman tersebut merupakan pengalaman yang menyenangkan dikarenakan selain saya bisa mendapatkan uang saku untuk biaya hidup sehari-hari saya ketika kuliah, saya bisa mendengarkan pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu berjuang dan para aktivis kemanusiaan yang luar biasa.

Saya baru memulai S1 saya di tahun 2014, setelah mendapatkan beasiswa di Universitas Dian Nuswantoro, dan saya menyelesaikan S1 saya di tahun 2018, setelah 3,5 tahun berkuliah. Di tahun yang sama pula, saya berkesempatan untuk mengikuti workshop dari US Embassy yaitu YSEALI Women’s Leadership Academy.

Saya sangat bersyukur untuk mengikuti workshop tersebut dikarenakan walaupun saya belum menjadi orang hebat, namun saya seperti diberitahu oleh Tuhan bahwa saya bisa belajar dari 40 wanita hebat ASEAN yang berpengaruh. Di workshop tersebut, saya membawa pengalaman saya di mana saya terlibat aktif di komunitas pemberdaya disabilitas. 

Di tahun 2018 pula, saya mengikuti program English Language Training Assistance (ELTA). Di program tersebut saya mengenal dan tertarik akan Australia Awards Scholarship (AAS). Awalnya saya tidak percaya diri untuk melamar beasiswa bergengsi tersebut. Namun saya mendapatkan dukungan untuk mempersiapkan aplikasi beasiswa tersebut, sampai akhirnya saya diterima untuk melanjutkan S2 saya di Monash University, Australia. 

Merayakan Idul Adha bersama AAS Awardees. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saya menyelesaikan program Pre-Departure Training AAS tepat ketika pandemi COVID-19 mulai merebak di bulan Maret 2020, sehingga keberangkatan saya sempat tertunda selama dua tahun. Di masa dua tahun yang tidak pasti dan serba terbatas tersebut saya memutuskan untuk menikah dan merintis usaha kecil dengan suami saya. Kami membangun usaha pijat yang memberdayakan penyandang disabilitas netra. Namun kami tidak hanya asal rekrut, tapi juga kami ingin agar pegawai kami kenal dunia digital untuk dapat mengembangkan usahanya sendiri.

Di usaha tersebut, alhamdulillah kami bisa mengajak rekan-rekan disabilitas netra yang masih muda untuk juga belajar menggunakan teknologi. Kami bercita-cita untuk punya tempat untuk belajar komputer bicara, hanya rumahnya belum bisa dilebarkan. Semoga suatu saat nanti kami dapat melebarkan tempatnya, sehingga bisa mengundang lebih banyak rekan-rekan untuk bergabung. 

Kisah perjalanan hidup Agus. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Tekad Agus Sri Giyanti dalam Melanjutkan Studi

Saya masuk ke balai rehabilitasi disabilitas netra di tahun 2011. Hidup di balai rehabilitasi membuat saya sadar bahwa saya sangat beruntung dikarenakan saya mendapatkan dukungan dari keluarga serta orang-orang di sekitar saya.

Sementara saya perhatikan teman-teman saya yang berasal dari berbagai macam daerah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan seperti dibuang atau diasingkan. Ada juga teman saya yang tidak diajak bicara sampai dewasa, sehingga kosa katanya tidak banyak. 

Pengalaman tersebut membuat saya tergerak untuk terus maju dan menambah kapasitas saya, sehingga saya dapat membantu memberdayakan para disabilitas netra. Apalagi setelah saya belajar di Widadi Skill Centre, Surakarta. Di bawah bimbingan Pak Widadi yang sangat tulus mengabdi serta membagikan ilmu, saya belajar banyak hal.

Saya tidak hanya dikenalkan dengan komputer bicara, tetapi saya juga belajar untuk membangun dan kembali ke komunitas. Saya melihat peluang bahwa dengan menguasai komputer dan smartphone dengan pembaca layar tersebut, maka peluang disabilitas netra untuk maju terbuka lebar.

Selesai menjalani rehabilitasi, saya mencari kesempatan untuk kuliah. Saya mendapatkan informasi mengenai beasiswa di Universitas Dian Nuswantoro. Saya kemudian mendaftar, dan alhamdulillah kemudian diterima. Beasiswa di tahun pertama tidak termasuk biaya hidup, sehingga saya harus mencari biaya hidup sendiri.

Saya melakukan berbagai macam pekerjaan seperti pijat, menulis artikel, dan menitipkan makanan di kantin. Saya juga mengikuti berbagai macam lomba menulis yang hadiahnya saya gunakan untuk biaya hidup. Di tahun kedua, saya direkomendasikan kampus untuk mendapatkan Beasiswa Bidik Misi, di mana saya mendapatkan bantuan untuk biaya hidup juga. 

Mendobrak Batas untuk Meraih Australia Awards Scholarship

Saya berasal dari keluarga menengah ke bawah dan biaya IELTS tidak terjangkau oleh saya. Oleh karena itu, program ELTA sangatlah membantu saya untuk mewujudkan mimpi saya. Selama tiga bulan pelatihan di Bali, selain meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya, saya didorong oleh teman-teman serta tutor saya untuk mendaftar beasiswa AAS.

Saya mempelajari cara isi aplikasi serta mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Pada supporting statement , saya menceritakan pengalaman saya selama berada di pusat rehabilitasi disabilitas netra, serta apa aspirasi saya di masa depan.

Perjalanan untuk meraih beasiswa AAS saya dapat dibilang cukup berliku. Selesai ELTA, saya sempat bekerja sebagai personal assistant di sebuah travel agent. Saya bekerja sambil menyiapkan tahap wawancara AAS. Perjuangan ketika wawancara pun sangat mengesankan.

Saya berangkat ke Jakarta dengan menggunakan pesawat untuk mengejar waktu, dan pulang ke Solo dengan menggunakan kereta. Untuk menghemat biaya, saya joinan dengan teman dari Kalimantan untuk sewa kontrakan minimalis di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, dengan kasur tipis dan kamar mandi yang kurang layak. 

Alhamdulilah perjuangan tersebut tidak sia-sia. Saya meraih beasiswa AAS di tahun 2019, kemudian saya mengikuti program PDT di bulan Oktober 2019 sampai dengan Maret 2020 di Bali. Namun karena COVID-19, kuliah saya tertunda sampai dengan 2022. 

Agus dan rekan-rekan penerima beasiswa AAS dari berbagai macam negara. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Mungkin bagi teman-teman non disabilitas netra, akan terasa lebih mudah untuk mengisi aplikasi, mengikuti tes IELTS, serta bepergian ke luar kota untuk interview. Bagi saya, hal tersebut cukup menantang, ditambah tabungan yang terbatas. Apalagi tes IELTS yang saya ambil berbeda karena saya harus menggunakan pembaca layar, dan listening yang cukup takes time. Namun bila diingat sekarang, pengalaman tersebut sangatlah manis dan membuat saya menjadi pribadi yang semakin tangguh. 

Master of Strategic Communication Management di Monash University

Di Monash University, saya mengambil Master of Strategic Communications Management. Saya memiliki tiga alasan mengapa saya mengambil jurusan tersebut.

Agus bersama dengan teman sekelas di Monash University. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Pertama, pengalaman saya yang berkesempatan untuk mempelajari komputer bicara membuat saya menyadari pentingnya teknologi bagi para disabilitas netra, agar dapat setara dengan rekan-rekan non-netra. Dalam hal ini, sangat penting bagi para disabilitas netra untuk mengembangkan kemampuan digital agar mereka dapat melanjutkan pendidikan serta melakoni karir lainnya seperti telemarketing, penulis, public speaker, content creator, dan lain-lain.

Kedua, saya ingin belajar bagaimana melakukan komunikasi yang tepat ke para pemangku kepentingan agar mereka bisa mendengarkan aspirasi kita. Saat ini, banyak pemangku kepentingan yang tidak percaya untuk melibatkan para disabilitas netra ke suatu pekerjaan. Apabila saya terus belajar dan memiliki pendidikan, saya akan mempunyai kesempatan lebih untuk didengar. Saya ingin menyuarakan pentingnya menciptakan lingkungan inklusif di mana para disabilitas netra memiliki kesempatan yang setara dengan non-netra. 

Ketiga, saya berharap untuk memperluas jaringan saya. Dengan berjejaring, saya berharap akan lebih banyak lagi orang-orang yang tergerak hatinya untuk melakukan perubahan, baik di bidang pendidikan, pekerjaan maupun lingkungan yang inklusif.

Kehidupan Agus Sri Giyanti di Australia

Saya menerapkan prinsip study hard, play harder. Kalau terlalu keras belajar, ada kemungkinan kita akan stres dikarenakan Bahasa Inggris bukan bahasa utama kita. Oleh karena itu, manajemen waktu sangatlah penting. Di waktu luang, saya biasanya jalan-jalan dengan teman-teman dan explore sekitar Melbourne, sekaligus mencicipi beberapa kuliner selain makanan Indonesia. 

Selain itu, saya juga tengah mengamati bagaimana masyarakat disabilitas di Melbourne ini diperlakukan. Sebagai contoh, apa saja pembangunan infrastruktur dan layanan yang diberikan serta peraturan yang diberlakukan untuk melindungi disabilitas di Australia. Ada beberapa hal yang membuat saya masih merasa bahwa Indonesia tidak seburuk yang pernah saya pikirkan.

Agus merayakan Idul Fitri 2022 di Springvale City Hall, Australia. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Aspirasi Agus di Masa Depan

Untuk jangka panjang, saya ingin membuat satu yayasan dengan suami saya, di mana saya dapat mengajarkan ilmu teknologi dan informasi kepada rekan-rekan disabilitas netra, agar mereka dapat memaksimalkan kemampuan komunikasi dan teknologi untuk mampu menghidupi diri mereka secara mandiri. Misal, dengan membuka usaha online dan juga mengenal investasi berupa saham dan semacamnya.

Kemudian apabila memungkinkan, saya ingin menampung teman-teman disabilitas netra yang terbuang. Pengalaman saya waktu di pusat rehabilitasi netra, saya merasa teman-teman saya banyak yang tidak diperlakukan secara manusiawi, keluarga mereka malu sehingga mereka dikurung dan tidak mengenal dunia luar.

Selain itu, saya juga ingin menambah networking dengan berbagai pihak seperti pelaku industri kreatif atau entrepreneur agar mau membuka lebih banyak lapangan kerja bagi para disabilitas netra.

Agus bersama housemates di Caulfield, Victoria, Australia. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Memaksimalkan Segala Kemungkinan di Tengah Keterbatasan a la Agus

Perlu ditanamkan di dalam diri, bahwa sebenarnya ‘terbatas’ itu ada dari diri kita sendiri.  Tapi kita sendiri juga lah yang bisa mendobrak keterbatasan tersebut. Apabila kita berpikir bahwa kita bisa, maka pasti bisa. Yakini dalam diri, if there is a will, there is a way. Kalau ada kemauan, jalan itu pasti menyusul. Terkait dengan pandemi, saya yakin semua orang terdampak, siapa pun itu.

Saya kemarin juga sempat stres karena saya harus menjalani Introductory Academic Program (IAP) online sebelum masuk Monash. Program tersebut terasa menantang dikarenakan saya jarang ikut perkuliahan melalui Zoom sebelumnya dan teman-teman saya berasal dari berbagai macam negara. Tapi saya jadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran untuk bisa naik tingkat. 

Tantangan adalah pembelajaran baru untuk naik tingkat.

Agus Sri Giyanti

Saya juga memanfaatkan masa pandemi kemarin dengan membuka usaha baru. Saya merasa kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi. Dengan modal yang seadanya, saya memberanikan diri untuk sewa rumah dan memulai usaha dengan teman-teman disabilitas netra.

Menariknya, ada salah satu partner kerja saya yang asalnya tidak mau lanjut kuliah. Namun setelah melihat saya, rekan saya tersebut menjadi lebih semangat untuk melanjutkan studinya untuk menjadi guru. Sekarang kami sudah mulai berkembang dan alhamdulilah pandemi memberikan saya banyak pembelajaran. Salah satunya adalah mengatur perekonomian dan merencanakan masa yang akan datang.  

Menurut saya, yang paling utama perlu di tata adalah pemikiran kita, terlepas dari kita adalah seseorang dengan disabilitas maupun tidak. Sangat penting untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif. Kita perlu untuk terus melangkah dan mencari kesempatan, baik melalui media online dan juga dengan berjejaring secara langsung untuk menambah perspective baru. Bagi saya, hidup tanpa mimpi artinya hidup tanpa tujuan. Bulatkan tekad dan teruslah ciptakan mimpi-mimpi untuk maju agar mempunyai masa depan yang lebih baik.

PROFIL

Agus Sri Giyanti (Agus) adalah mahasiswi di Monash University, Australia, dengan jurusan Master of Strategic Communications Management. Peraih beasiswa Australia Awards Scholarship ini lahir di Wonogiri pada tahun 1990. Di tahun 2018, Agus berkesempatan untuk mengikuti progam YSEALI Women’s Leadership Academy. Sebagai disabilitas netra, Agus memiliki semangat yang tinggi untuk terus mengembangkan kapasitas diri agar dapat membantu rekan-rekan disabilitas netra untuk terus maju dan mandiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here