Perjuangan Ketiga: Melawan Pembunuh Masa Depan selama Studi

0
974

Hidup kita pastilah penuh dengan berbagai hal yang sedang kita perjuangkan. Di tengah perjuangan itu, apakah kita sudah pernah berhenti sejenak dan merenungkan faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat menjadikan usaha kita sia-sia? Djodi Hardi, kolumnis Indonesia Mengglobal untuk wilayah Amerika Utara dan Latin, membagikan pendapatnya seputar arti berjuang, tidak hanya dalam hal akademis atau urusan personal tetapi juga sesuatu yang lebih besar lagi, sesuatu yang krusial namun kerap terlupakan.

***

Perjuangan Pertama

Kebanyakan orang akan fokus pada perjuangan pertama dan, beberapa sebagian, kedua. Perjuangan pertama adalah perjuangan karier yang mencakup studi, pekerjaan, dan pencapaian akademis maupun profesional. Ya, memang benar, para mahasiswa Indonesia yang terbang jauh ke luar negeri untuk menuntut ilmu, sedikit banyak pasti dilandasi oleh motivasi mengembangkan karier. Apalagi di Amerika Serikat, terlebih di wilayah pesisir timur (East Coast), yang diwarnai oleh kehidupan yang serba cepat dan kompetitif. Perjuangan utamaku dan segenap mahasiswa Indonesia lain di sini adalah menuntut ilmu setinggi-tingginya supaya dapat dipakai dan diterapkan di kehidupan profesional kita sehingga meningkatkan karier kita. Tugas demi tugas, lembar demi lembar bacaan kami lahap demi mendapatkan sesuatu yang baru dan lulus dari sistem pendidikan yang sudah diberlakukan kepada kita sebagai bagian dari masyarakatnya. Perjuangan ini sangat serius karena kita perlu berpikir keras memproses informasi baru yang dipelajari serta memilah apa yang akan kita pelajari ke depannya agar efektif dan efisien serta aplikatif. Terutama bagi para penerima beasiswa negara, kita senantiasa berpikir bagaimana agar ilmu yang didapat dapat berguna dan diterapkan di karier kita sehingga berkontribusi pada pembangunan bangsa. 

Bagaimanapun, belajar adalah tujuan dan alasan utamaku berada di Amerika Serikat. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Perjuangan Kedua

Perjuangan kedua, yang tidak kalah menyita perhatian dan energi, yaitu perjuangan personal, baik interpersonal maupun intrapersonal. Bagi yang sudah pernah mengenyam pengalaman studi lanjut ke negara lain dengan segenap drama kehidupannya, pasti dapat merasakan bahwa kehidupan mahasiswa Indonesia di luar negeri tidak hanya dipenuhi perjuangan belajar dan begadang. Ada bumbu-bumbu kehidupan seperti lika-liku hubungan kita dengan teman-teman sekitar, konflik dalam pertemanan, drama LDR, keringat mencari tambahan sesuap nasi, sampai masa-masa kelam bergelut dengan mental health: rasa kesepian, rindu, bosan, bahkan minder serta khawatir berlebih akan masa depan. Untuk beberapa orang di beberapa waktu tertentu, bahkan kerasnya perjuangan kedua ini kadarnya dapat melebihi perjuangan pertama. Aku jadi teringat salah satu temanku mahasiswa Indonesia di sini yang sempat bertemu secara tidak sengaja beberapa kali seminggu terakhir ini. Ia terlihat cukup sibuk dalam bekerja paruh waktu di kampus demi membantu keuangan pribadinya selama studi. Pastinya tidak mudah menanggung beban finansial tersebut, belum lagi tekanan mental yang mungkin senantiasa dirasakannya. Aku salut dengan dirinya dan berdoa semoga setelah lulus nanti ia bisa memiliki karier yang bagus dan bermakna. 

Perjuangan keduaku akan terasa jauh lebih berat tanpa support system dari keluarga Penn Indonesia di Philly. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Perjuangan Ketiga

Perjuangan ketiga adalah perjuangan yang kita semua, terutama mahasiswa yang tinggal sendiri di luar negeri, perlu usahakan. Perjuangan ketiga ini perlu mendapat perhatian juga karena imbasnya yang akan berdampak besar di masa depan jika tidak diatur dengan baik. Iya, itu adalah menjaga kesehatan dan pola hidup yang baik selama studi. Hidup sendirian adalah sebuah kebebasan dan sekaligus tantangan bagiku. Kita selalu mempunyai pilihan, apakah harus bangun untuk lari pagi atau bertahan di tempat tidur, apakah membeli es krim ataukah buah untuk cemilan, apakah tidur lebih awal ataukah begadang; dan masih banyak keputusan-keputusan sehari-hari lain yang lama kelamaan akan membentuk kebiasaan kita selama hidup sendiri tersebut. 

Penting atau Mendesak?

Dalam The Eisenhower Matrix, atau populernya dikenal sebagai matriks urgent-important, kesehatan masuk kuadran important-not urgent. Artinya, kesehatan dan pola hidup positif itu tidak mendesak, bisa ditunda, namun amat penting dan krusial. Hal-hal yang masuk kuadran penting tapi tidak mendesak yaitu olahraga, membaca buku, tidur lebih awal, meluangkan waktu untuk anak, journaling, hingga berkenalan dengan orang baru.

The Eisenhower Decision Matrix yang dikembangkan oleh Presiden AS Dwight Eisenhower. Sumber gambar: Choi, 2014

Kebanyakan orang berpikir untuk mengerjakan hal yang mendesak terlebih dahulu, dan menggunakan hal-hal mendesak ini sebagai dalih untuk tidak mengerjakan hal penting yang tidak mendesak. Misalnya, tidak membaca buku karena “tidak ada waktu”, mengurungkan niat ke networking session karena ingin mengerjakan tugas kuliah yang sebetulnya bisa dikerjakan jauh hari dan di waktu lain.

Tapi, masalahnya, kalau kita selalu mengerjakan hal yang mendesak, kita tidak akan pernah bisa mengerjakan hal yang penting. Hal mendesak itu selalu datang, tidak pernah berkesudahan.

Demikian halnya dengan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Terkadang kita memilih membeli makanan cepat saji atau makanan ringan yang sesungguhnya tidak baik untuk tubuh kita hanya karena tidak ada waktu untuk memasak, tidak olahraga karena beralasan sibuk dengan tugas, begadang karena mengejar deadline. Aku sangat memahami dan bisa merasakan betapa sulitnya memilih sesuatu yang awalnya tidak mengenakkan untuk kita dan mengubah kebiasaan. Terkadang, membeli snack lebih menggiurkan daripada buah karena memakan snack itu mudah dan enak: tinggal buka, langsung bisa dimakan, memberikan efek senang dan enak ketika dimakan, dan cocok jadi teman mengerjakan tugas. Terkadang, olahraga juga tidak terlalu memberikan efek yang kelihatan, dan mungkin kita berpikir waktunya bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas. 

Tapi jangan salah. Masalahnya, kalau tidak dilakukan, hal penting tidak mendesak itu bisa berubah menjadi penting dan mendesak–dan ini bisa menjadi gawat.

Hal-hal remeh dan “nanti saja” seperti olahraga rutin, minum banyak air putih, baca buku setiap hari, menemani anak bermain yang terkesan sepele bisa berdampak signifikan di kemudian hari. Bayangkan kalau kita tunda-tunda: ketika sakit datang, ketika hidup begitu-begitu saja di usia 30, 40-an, anak sudah dewasa dan tidak peduli pada kita, dsb. 

Bahan bacaan mingguan mungkin mendesak, tapi aku berusaha menikmatinya sebagai hal yang penting. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Belum selesai sampai situ. Hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting itu kalau tidak segera kita tinggalkan, bisa berubah menjadi mendesak-tidak penting, dan ini sama gawatnya bagi diri dan hidup kita.

Coba lihat hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak: scrolling Instagram dan menonton YouTube atau Netflix berjam-jam, mengonsumsi junkfood dan fastfood, begadang, dsb. Kalau kita terus memenuhi hasrat kita, memupuk kebiasaan ini terus menerus, perlahan semua akan terkesan mendesak: tangan dan mata tidak bisa lepas dari smartphone, belum senang kalau belum makan yang tidak sehat, merasa FOMO jika tidak menonton seri terbaru, pekerjaan tidak selesai jika belum begadang, dsb. 

Di sinilah letak perjuangannya. Perjuangan ketiga. Kita diuji dengan sesuatu yang tidak langsung kelihatan hasilnya, tapi akan kita raup nikmatnya bertahun-tahun kemudian. Terutama ketika seorang mahasiswa internasional hidup sendiri, tidak akan ada orang yang mengatur maupun menuntun orang tersebut dalam mengambil keputusan. Apa yang kita beli, apa yang kita lakukan, apa yang kita masukkan ke dalam tubuh, semua ada di tangan kita. Studi di kelas memang penting, namun apa yang kita lakukan di luar kelas akan berdampak besar pada hidup kita. Setahun, dua tahun waktu studi adalah waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan baru yang kuat. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya: apakah menciptakan kebiasaan baik ataukah buruk. Satu hal yang perlu diingat. Ketika masalah kesehatan merenggut hidup kita, kita tidak akan dapat meraih manfaat maksimal dari perjuangan pertama dan kedua.

Para pemimpin dan profesional kelas dunia dalam berbagai bidang selalu menyempatkan diri untuk melakukan perjuangan ketiga ini. Mereka keluar dari kesibukan mendesak untuk melakukan hal yang penting. Para atlet dunia berusaha rutin berlari dan pemanasan kecil setiap hari. Para pengusaha sukses, yang notabene memiliki banyak urusan, berusaha membaca buku beberapa halaman setiap hari. Semua itu tidak mendesak, tapi toh tetap mereka prioritaskan setiap harinya. Mereka berinvestasi di hal-hal kecil yang membantu mencapai tujuan jangka panjang mereka.

Kita adalah apa yang kita makan. Hidup juga membutuhkan makanan, yaitu perjuangan. Hidup adalah apa yang kita perjuangkan. Teruslah berjuang, karena barangsiapa yang berjuang, akan meraih hidup yang didambakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here