Percakapan dengan Dokter Kampus yang Mengubah Hidup

0
695
Percakapan yang mengubh hidup
Berkunjung rutin ke pusat kesehatan dan berkonsultasi tentang kebiasaan sehat dapat mengubah hidupmu. Photo by: Etienne Boulanger

Saat kita asyik menjalani hidup sebagai mahasiswa atau membangun karier, terkadang kita lupa atau kurang memperhatikan kesehatan diri sendiri. Pola makan yang tidak teratur dengan gizi yang tidak seimbang atau waktu untuk olahraga yang tidak cukup pada akhirnya dapat merusak badan kita. Dalam artikel kali ini, Djodi, kolumnis Amerika Utara dan Latin, membagikan refleksi tentang manfaat menjaga kesehatan dan cara-cara yang ia lakukan untuk tetap bisa sehat di tengah setumpuk kegiatannya.

***

Dua bulan lalu aku mengunjungi pusat kesehatan mahasiswa, Student Health Services (SHS), University of Pennsylvania untuk melakukan general health screening. Selain karena ingin mengetahui kondisi kesehatan secara umum dan mendeteksi gejala awal penyakit, alasan awalku hanyalah untuk memaksimalkan fasilitas kampus. Untuk melakukan pengecekan medis menyeluruh di Jakarta, aku perlu merogoh kocek yang tidak sedikit. Sedangkan di pusat kesehatan mahasiswa di kampus, aku tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun berkat asuransi mahasiswa. Sebelumnya aku sudah sering mengunjungi SHS untuk mendapatkan beragam dosis vaksin secara gratis. Namun, baru kali ini aku melakukan pengecekan menyeluruh.

Hospital of the University of Pennsylvania, yang membuatku tersesat saking luasnya (Sumber: Philly Voice)

Sebelum pengambilan darah dan urin, ada sesi mengobrol dengan seorang dokter bernama Dongho Baag, MD. Sosok Dokter Baag sangat ramah dan lembut buatku, seperti seorang ayah sekaligus psikolog yang tertarik dengan kisah kita. Dokter Baag memintaku menceritakan kondisi kesehatanku secara garis besar selama ini, riwayat kesehatan keluarga, kebiasaan olahraga dan makanku, hingga menanyakan apakah aku memiliki kekhawatiran pribadi menyangkut kesehatanku. Yang paling aku ingat adalah ketika beliau menanyakan apakah aku rutin berolahraga setiap minggu, aku jawab “I walk around campus, a lot”. Ia hanya tersenyum, kemudian setelah melihat hasil tes BMI-ku, ia bilang “Baiklah. Kamu masih muda, tapi tidak terlalu muda, masih ada waktu. Yang perlu kamu lakukan adalah dua: menurunkan berat badan dan membentuk massa otot. Kenapa harus menurunkan berat badan? Karena berat badanmu melebihi indek BMI pria Asia, dan itu akan rentan terhadap penyakit lain seperti diabetes, jantung, dan hipertensi. Cara menurunkannya bisa berpuasa dan harus rutin latihan kardio. Kenapa massa otot? Karena dari usia 30 tahunan, massa otot kamu akan hilang kurang lebih 1% setiap tahun. Kalau kamu ingin bisa beraktifitas dengan nyaman di usia senja, latih otot kamu selagi muda”.

Makanan yang biasa disajikan di acara-acara di AS memiliki porsi besar dengan kalori tinggi (Sumber: dokumentasi pribadi).

Percakapan singkat dengan Dr. Baag cukup membukakan pikiranku dan mengubah kebiasaanku sedikit. Aku berpikir, semua prestasi, beasiswa, pencapaian, serta perjuangan yang aku lakukan saat ini akan sia-sia kalau aku sakit. Aku tidak akan bisa berkontribusi kepada masyarakat dan menikmati kerja kerasku kalau kebiasaan kecilku yang tidak bijak saat ini merenggutnya kelak. Sejak saat itu, bukan hanya aku rutin bertemu Dr. Baag untuk cek kesehatan, tetapi aku juga makin disiplin dalam menjaga pola hidup yang sehat. Aku rekomendasikan untuk teman-teman mahasiswa agar dapat memanfaatkan fasilitas kampus dengan baik, salah satunya layanan kesehatan yang tersedia. Perjuangan ketiga ini akan senantiasa berlanjut, bahkan hingga aku lulus studi di sini. Tapi aku optimis, pada saat itu, aku sudah menginternalisasi kebiasaan baru menjadi gaya hidup sehingga tidak memerlukan usaha lagi untuk mengerjakannya. Yang paling penting, kita hari ini lebih baik daripada kita yang kemarin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here