Kontribusi dalam Membangun Desa yang Berkompetensi Global dan Berpemahaman Akar Rumput – Bagian Pertama

0
819
HKU Class of 2018
HKU Class of 2018

Hardika Dwi Hermawan, seorang awardee beasiswa LPDP untuk menempuh study S-2 di bidang pendidikan di Hong Kong University. Pemuda yang akrab disapa dengan Mas Dika ini juga mendapatkan penghargaan Mata Garuda Prize tahun 2020 di bidang pengabdian atas kontribusinya di bidang pendidikan dengan membangun organisasi non-profit Desamind. Selain itu, pada tahun 2021 salah satu binis dampingannya juga memperoleh penghargaan Mata Garuda Prize di bidang bisnis dan ekonomi. Mas Dika dinobatkan sebagai Ten Outstanding Young Person in Indonesia tahun 2022 pada kategori Kepemimpinan Kemanusiaan & Kesukarelawanan dari Junior Chamber International (JCI) dan Pemuda Berprestasi Tingkat Internasional tahun 2022 dari Kemenpora RI. Pada artikel ini, Mas Dika berbagi perjalanannya belajar di luar negeri dan kembali untuk memberikan kontribusi dari bidang pendidikan di Indonesia.

Q: Boleh perkenalan singkat tentang diri Mas Dika dulu?

A: Aktivitas saya sekarang mengajar di jurusan Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarya (UMS) dan diamanahi di perpustakaan dan pusat layanan digital sebagai Kepala Bagian Pengelolaan dan Layanan Digital. Selain kegiatan di kampus, saya aktif di Desamind Indonesia Foundation, yang fokus untuk pergerakan dari grass root, terutama masyarakat desa, untuk membangun sektor pendidikan dan sosial yang melingkupi aspek dari 3BP (Triple Bottomline of Sustainability: people, profit, and the planet). 

Selain itu, kegiatan lainnya fokus ke pelatihan di Biro UMS computational thinking untuk guru TIK di Indonesia, serta pendampingan SMKPK (Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan) yang pendidikannya di bidang TI (Teknologi Informasi) atupun transformasi di bidang digital. Dulu saya menamatkan pendidikan S-1 di Teknik Informatika di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), lalus ambil S-2 di Hong Kong University di jurusan Information Technology in Education dengan beasiswa LPDP.

Q: Kalau dirunut ke belakang, gimana awal kisah Mas Dika tertarik di bidang pendidikan?

A: Bapak saya guru Sekolah Dasar. Sejak kecil saya sering diajak ke sekolah, kemudian sering dibawa ke kebun dan lain sebagainya. Kok kayaknya senang ya jadi guru. Makanya ketika SD kelas 3 dan 4 saya rutin membuat rangkuman dan latihan soal untuk teman-teman ketika akan ulangan. Kami memanfaatkan rumah yang kosong untuk belajar bersama. 

Ketika itu saya belum kenal konsep perpustakaan karena di SD yang yang di desa tidak ada perpustakaan. Kemudian SMP saya lanjut ke kota kabupaten yang jaraknya cukup jauh di Purbalingga. Lokasi pertama yang saya cari tahu adalah apakah sekolah tersebut punya perpustakaan atau tidak.

Saya yang berasal dari desa, ketika awal masuk enggak punya teman. Padahal orang yang lain sudah pada kenal dengan teman sekelas lainnya. Kok saya masih sendiri saja? Perpustakaan di sana jadi teman baik saya. Di sana saya tertarik karena bisa membaca banyak buku, kemudian ada juga kartu perpustakaannya. Saya jadi berpikir mending buat perpustakaan di rumah.  

Pada SMP kelas 1, saat pulang sekolah saya bilang ke Bapak, “Pak, pingin bikin perpustakaan, pngin belajar.  Nanti anak-anak juga bisa belajarnya di sini”. Alhamdulillah Bapak saya mendukung. Kebetulan kami punya kebun yang banyak pohon bambunya.  Dari pohon bambu itu kami buat perpustakaan. Koleksi-koleksinya dibeli pakai tabungan saya, dan didukung orang tua untuk beli koleksi buku bekas.

Dari sejak SD, banyak tetangga-tetangga yang sudah belajar kepada saya. Ketika SMP pun sama. Akhirnya teman-teman dari SD pada datang ke perpustakaan. Kalau pulang sekolah pasti saya mainnya langsung ke perpustakaan di rumah. Sudah kayak pustakawan. Di sana ada kartu perpustakaan dan ada stempelnya. Bahkan sampai sekarang stempelnya masih ada. Namanya Pusataba (Pusat Taman Bacaan). Di bagian belakang buku bukunya juga ada kartu peminjaman, yang berisi tulisan kapan tanggal pinjam, dan lain sebagainya. Masing-masing peminjam dibuatkan kartu anggota perpustakaan. Isinya saya copy paste sehingga sama persis dengan apa yang ada di perpustakaan SMP pada waktu itu.

Kalau pulang sekolah anak-anak itu langsung ke tempat saya mengerjakan PR dan tugas. Habis ashar kami main kasti, petak umpet, dan lain sebagainya. Nanti menjelang maghrib kami ngaji.  Jadi selesai ngaji sudah mengerjakan PR dan sudah main juga. Rasanya senang sekali. Hal-hal ini lah yang membuat saya tertarik di bidang pendidikan.

Ketika kecil rasanya mau berbuat sesuatu tidak susah dan tinggal menjalankan saya. Tapi sekarang kok jika ingin mulai sesuatu terasa susah. Padahal dulu ketika mau buat perpustakaan tinggal buat saja. Hal ini jadi refleksi saya mungkin kadang untuk memulai sesuatu kita perlu menjadi “anak kecil” lagi, asal mulai saja dulu. 

Q: Bagaimana ceritanya Mas Dika akhirnya memutuskan untuk S2 di Hong Kong University walaupun sudah di terima di lebih dari delapan universitas lainnya?

A: Prinsip saya dalam memilih kampus dan jurusan itu yang penting best fit dengan apa yang ingin dipelajari. Sebenarnya saya sudah diterima di beberapa kampus seperti Mahidol University di Thailand untuk jurusan Technology Education dan Monash University di Australia untuk bidang Digital Learning. Kampus-kampus tersebut punya beberapa projek yang pengembangannya itu ke arah AR (Augmented Reality) dan VR (Virtual Reality). Saya juga mendapatkan beberapa referensi kampus lain dari teman. 

Saya fokus untuk mencari kampus terbaik di bidang pendidikan. Selain itu saya juga tertarik di bidang IT (Information Technology). Bagi saya yang dari kecil berkecimpung di dunia pendidikan, saya tertarik saat menemukan jurusan IT in Education di Hong Kong University (HKU). Kampus ini sebelumnya tidak pernah saya tahu keberadaannya dan belum paham juga kalau ini kampus yang bagus. Ternyata kampus HKU menduduki peringkat ke-5 dunia untuk bidang pendidikan. Course, pola pembelajaran, laboratorium, dan arah risetnya cocok dengan bidang yang ingin saya pelajari. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar ke IT in Education di HKU.

Apabila di kampus lain setelah mendaftar saya langsung dinyatakan lolos, ketika pertama kali mencoba untuk mendaftar ke HKU aplikasinya dinyatakan gagal. Setelah ditanya, HKU membutuhkan legalisasi transkrip nilai yang waktu itu ternyata belum saya kirimkan. Kalau di universitas lain biasanya soft file cukup, di Hong Kong perlu mengirimkan hard file dokumennya.

Bersama Teman dari Berbagai Negara. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Q: Bagaimana cerita Mas Dika dari persiapan keberangkatan hingga adaptasi saat datang di Hong Kong?

A: Hal pertama yang membuat saya kaget itu di Hong Kong ketika dapat LOA (Letter of Acceptance) harus bayar deposit dulu. Deposit awal itu sebesar biaya kuliah untuk satu semester, jumlahnya sekitar Rp140 juta. Berat sekali bagi saya ketika itu, apalagi belum kontrak dengan beasiswa LPDP. Hingga akhirnya saya meminta kampus defer pertama kali dua minggu, kemudian minta jangka waktu dua minggu lagi. Setelah penundaan sebulan, ternyata saya belum bisa bayar. Saya pun meminta paling lambat penundaan selama dua bulan untuk bayar. Pihak admission kampus mau, tetapi dengan syarat saya harus memberikan bukti. Bukti yang saya berikan berupa LoG (Letter of Guarantee) dan LoS (Letter of Scholarship), yang kemudian disetujui oleh bagian penerimaan kampus. Akhirnya dua bulan setelahnya deposit tersebut dibayarkan oleh LPDP. 

Kedua ada masalah kekurangan LA (Living Allowance) dari beasiswa LPDP. Awalnya saya pikir LPDP sudah cukup meng-cover biaya hidup ketika tinggal di Hong Kong. Ternyata ketika mencari akomodasi, saya tidak menemukan tempat tinggal yang pantas dengan LA yang ditetapkan LPDP. Ketika bertanya ke salah satu mantan awardee LPDP yang pernah kuliah di Hong Kong, katanya uang bulanan dari LPDP tidak cukup, jadi siapkan saja tabungan.

Saya memutuskan untuk pergi ke kantor LPDP di sana. Sebelumnya saya sudah mengirimkan e-mail dan menelepon LPDP untuk mengajukan kendala LA yang kurang. Namun setelah di-follow up saya memutuskan harus bicara langsung ke pihak LPDP. Sesampainya di sana, saya hanya bertemu dengan CS (Customer Service) yang mengatakan bahwa hal ini jadi bahan masukan kami. Di sana juga saya bertemu dengan Junjungan, orang yang akan menjadi teman baik di Hong Kong. 

Berangkatlah saya tanpa punya menginapan. Saya berpikir ya sudahlah, yang penting sampai dulu. Enggak tahu nanti mau tinggal di mana. Penginapan bisa di cari di sana. 

Ketika datang di Hong Kong, saya dijemput Mas Tommy, mahasiswa yang sedang studi S3 di Politeknik Hongkong. Awalnya saya tinggal di hostel dulu. Waktu itu tinggal di hostel seadanya, seperti untuk backpacker, yang sekamar berdelapan. Ketika ospek kampus pun saya masih tinggal di situ. Kemudian saya kenal sama Mas Zamzami, mahasiswa HKU juga, yang pertama mengenalkan saya dengan hunian yang cukup terjangkau bernama Apple Dorm. 

Biaya kontrak di Apple Dorm dulu itu sekitar 3.500 atau 3.700 HKD, kalau dirupiahkan menjadi sekitar Rp5,5 atau 6 juta. Saya kaget mengetahui luas kamar sebesar 2×1 meter untuk harga sewa semahal itu. Dengan LA per bulan itu sekitar Rp10,5 atau 11 juta, belum lagi kebutuhan makan yang memang mahal dan kebutuhan lainnya, membuat tunjangan hidup yang diberikan tidak cukup. Namun saya pikir enggak apa apa lah untuk sementara tinggal di sini.

Tantangan yang paling terasa saat tinggal di kamar yang sempet ini adalah solatnya harus duduk karena tiak cukup untuk berdiri. Mungkin hal ini enggak didapatkan oleh teman-teman yang lain. Awal-awal saya sering menghabiskan waktu akhirnya di learning common HKU untuk belajar, atau di pustakaan untuk menulis dan mengerjakan tugas. Ini malah jadi produktif. Ngapain kalau pulang ke Apple Dorm bingung, mending di kampus yang fasilitasnya luar biasa lengkap. Akhirnya ke kamar hanya malam hari. Pagi sudah banyak aktivitas lagi di kampus. Alhamdulillah akhirnya LA dari LPDP naik tiga bulan sebelum saya lulus. 

Salah Satu Fasilitas untuk Belajar di Kampus. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bagian ke-2 pada artikel ini akan menceritakan kisah perjuangan Mas Dika dalam perkuliahan, prestasi yang ditorehkan selama belajar (salah satunya menghasilkan tujuh publikasi selama satu tahun kuliah), hingga pulang ke tanah air dengan membawa bekal ilmu dan kemudian merintis Desa Mind, komunitas pemberdayaan desa yang tersebar di banyak daerah di Indonesia.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here