Mempersiapkan Studi di Tengah Kesibukan Karier: Terima Kasih Indonesia Mengglobal!

0
1406
Ratih sits on a tree trunk surrounded by sunlight. Source: Personal documentation
Ratih in the woods located on the campus grounds of UC Berkeley. Source: Personal documentation

Ratih, salah satu anggota divisi Digital Communications Indonesia Mengglobal untuk tahun kepengurusan 2021/2022, membagikan pandangannya seputar manfaat yang telah ia peroleh selama bergabung dengan manajemen IM. Ia berharap akan semakin banyak pemuda-pemudi Indonesia yang berani bermimpi besar dan mewujudkan niat mereka untuk berkontribusi bagi nusa dan bangsa setelah menempuh pendidikan di negeri orang. Apa saja harapan-harapan lainnya yang Ratih punya? Simak kisahnya di bawah ini.

***

Nama saya Ratih, seorang dosen pendidikan matematika yang bertugas mengajar calon guru. Saat ini saya sedang dalam masa tugas belajar untuk menyelesaikan studi Ph.D. di Graduate School of Education, University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Selain bekerja dan belajar, saya terlibat di Divisi Digital Communications, Indonesia Mengglobal, sejak kepengurusan 2018. Tahun 2022/2023 ini saya bertugas sebagai advisor untuk tim yang sama. Ini cerita saya ketika mempersiapkan studi Ph.D. di tengah-tengah jadwal pekerjaan sebagai dosen yang hampir mustahil diselingi dengan kegiatan lain. Tentu tak mudah, jika saya tidak menemukan Indonesia Mengglobal sebelumnya.

Saya langsung lanjut master setelah menyelesaikan program sarjana. Dengan kata lain, ketika mempersiapkan beasiswa dan pendaftaran studi S2 saya tidak sedang terikat dalam tanggung jawab pekerjaan profesional. Sekembalinya dari menyelesaikan program master, saya pulang ke Indonesia. Dengan berbekal gelar dan ilmu pengetahuan di negeri orang, saya memberanikan diri untuk mengabdikan diri sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Singaraja-Bali, yang juga adalah almamater saya- sebelum akhirnya lulus CPNS di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Tugas saya berat, saya mengajar untuk calon guru: pengalaman yang mereka terima di ruang kelas akan mempengaruhi bagaimana mereka memperlakukan siswa. Saya harus ekstra hati-hati dan mempersiapkan materi ajar dan gaya komunikasi serta interaksi dengan baik. Saya juga ingin membantu mahasiswa mengembangkan diri sesuai potensi masing-masing. Untuk itu saya meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan lomba dan gambaran umum karir kedepannya.

Ada perbedaan besar antara menjadi mahasiswa dan menjadi dosen walaupun di tempat yang sama. Dosen-dosen yang dulunya adalah guru saya kini adalah rekan kerja dan atasan. Sebagai alumni yang dikenal baik, tugas yang diberikan pun menyesuaikan – dipercaya dalam banyak hal karena dinilai akan mampu menyelesaikannya. Alhasil tidak ada hari libur, tidak ada akhir pekan yang tenang. Dari satu kegiatan beralih ke kegiatan lainnya, tak jarang merangkap tugas. Saya berlari setiap hari, berjibaku antara tugas dan fungsi pokok sebagai dosen dan peran administratif serta organisasi sebagai bagian dari institusi.

Meskipun sangat menikmati peran dan pembelajaran yang saya tempuh selama menjadi dosen muda, saya sadar jenjang pendidikan master tidak cukup. Saya harus mulai bersiap untuk mengejar doktoral. Pengalaman studi di luar negeri memang saya miliki. Tapi tidak cukup. Selain kesibukan saya ketika mendaftar S2 dan S3 berbeda, program beasiswa S2 saya memiliki jalur berbeda dengan kebanyakan beasiswa: kampus tujuan sudah ditetapkan, sehingga pelamar ‘hanya’ perlu lulus ragam tes yang ditentukan, tidak perlu melamar secara mandiri ke kampus tujuan. Selain itu karena jenjang master, saya juga tidak perlu menghubungi profesor yang kira-kira akan tertarik untuk menjadi pembimbing saya.

Tapi, realita menampar keras. Jadwal bekerja sangat padat. Selain itu, sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan sekaligus memberi pengalaman kepada mahasiswa, saya juga memimpin program sukarelawan pendidikan. Saya suka menjalani semua aktivitas, saya tidak bermaksud mengeluh. Hanya satu, saya tidak tahu bagaimana saya bisa meluangkan waktu khusus untuk mempersiapkan studi saya. 

Apakah Sahabat Indonesia Mengglobal familiar dengan perasaan yang coba saya tuangkan ini?

Beruntung saya menemukan (dan ditemukan) oleh Indonesia Mengglobal. Satu semester setelah berkarir sebagai dosen, saya bergabung bersama management team Indonesia Mengglobal – sebagai sukarelawan. Saya tidak tahu apa yang saya pikirkan waktu itu mengingat jadwal saya luar biasa padat – tapi saya ingat saya menemukan website Indonesia Mengglobal dan merasa cerita-cerita ini sangat bermanfaat bagi generasi muda Indonesia. Saya ingin bisa bergabung menjadi salah satu anggota tim dan membantu Indonesia Mengglobal bercerita pada khalayak luas. Saya memutuskan untuk melamar posisi sosial media. Sosial media Indonesia Mengglobal saat itu masih terbatas dan saya ingin membantu membuatnya menjadi lebih mudah diakses dan dipahami oleh pemuda-pemudi Indonesia.

Sayangnya, saya tidak berhasil bergabung di kesempatan pertama. Meskipun tidak terpilih sebagai anggota tim, saya tetap mengikuti tulisan-tulisan di Indonesia Mengglobal dan menjadikannya penyemangat untuk tetap ingat dengan mimpi saya melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun berikutnya, Indonesia Mengglobal kembali mengadakan seleksi. Kali kedua mencoba, saya akhirnya diterima bergabung bersama Indonesia Mengglobal.

Bertemu dengan Beberapa Anggota Indonesia Mengglobal Pada Pertengahan Tahun 2021

Tidak butuh waktu yang lama untuk saya menyadari nilai-nilai yang dijunjung Indonesia Mengglobal, baik yang diterapkan secara internal maupun yang diperluas ke luar. Meskipun berbasis kegiatan sukarela, saya melihat keseriusan teman-teman saya. Selain itu, dukungan dari Sahabat Indonesia Mengglobal yang memeriahkan sosial media kami membuat saya termotivasi untuk turut serta menghadirkan konten-konten yang semakin bermanfaat.

Keinginan saya untuk menyebarkan informasi seputar belajar dan berkarya di luar negeri melalui sosial media Indonesia Mengglobal membawa pengalaman yang tidak terduga. Alih-alih memeras tenaga untuk ‘bekerja’ bagi orang lain, saya justru mendapat ruang belajar yang lebih luas dari apa yang saya pernah dapati sebelumnya. Artikel ini ditulis sebagai bentuk apresiasi saya pada organisasi yang saya ikuti dengan harapan Sahabat Indonesia Mengglobal bisa mengambil sari penting pembelajaran yang saya temukan dan menerapkannya pada situasi dan kondisi masing-masing jika dirasa sesuai.

Ratih dan beberapa anggota manajemen IM lintas tahun bertemu in-person
Ratih (gaun merah) dan para anggota IM lintas generasi. Sumber: Dokumentasi pribadi

Meluangkan waktu untuk pengembangan diri

Kembali ke rutinitas sebagai profesional muda, sering kali kita merasa tidak cukup waktu untuk melakukan kegiatan pengembangan diri. Seluruh tenaga, pikiran, dan emosi sering kali habis terkuras untuk memenuhi tuntutan dunia kerja. Bersama Indonesia Mengglobal, saya ‘dipaksa’ untuk meluangkan waktu bagi diri sendiri. Informasi yang saya baca membantu saya merefleksikan apa yang saya butuhkan dan dengan jalan apa bisa saya capai.

Belajar dari kisah orang lain

Guru terbaik adalah pengalaman. Tapi bagi saya, tidak semua pengalaman perlu kita alami sendiri untuk bisa dipelajari. Membaca artikel-artikel yang masuk ke Indonesia Mengglobal lalu menuangkannya dalam publikasi sosial media membuat saya menyelami dunia yang membantu saya bangkit dan berjuang. Tak jarang, saya menemukan artikel dengan topik yang memang sedang saya butuhkan. Misalnya ketika merasa ada rencana yang tak berjalan baik, saya menemukan artikel resiliensi dari kontributor Indonesia Mengglobal.

Mengenal istilah atau konsep yang awalnya asing

Saya menyelesaikan studi S2 di Belanda sehingga saya akrab dengan pendidikan tinggi di sana. Tapi, bekal tersebut ternyata tidak cukup untuk saya merasa percaya diri dalam mempersiapkan studi Ph.D. Pertama, walaupun pernah studi di luar negeri, jenjang Ph.D. membutuhkan skor kemampuan berbahasa yang relatif lebih tinggi. Kedua, saya baru tahu kalau jenjang S3 di berbagai penjuru dunia bisa sangat beragam, mulai dari skema, masa studi, nama jurusan, dan pembiayaan. Termasuk teknis dan jadwal pendaftaran, serta syarat-syaratnya. Ketika suatu hari saya jatuh cinta pada UC Berkeley yang pada akhirnya menjadi universitas tempat saya studi saat ini; saya sempat terbengong-bengong membaca persyaratan untuk melampirkan GRE dan TOEFL IBT. Beruntung, saya ingat saya pernah lihat judul itu di salah satu artikel Indonesia Mengglobal. Saya buka kembali halaman website Indonesia Mengglobal, mengetikkan kata kunci, dan tersenyum lega. Kontributor IM bahkan pernah menuliskan tips untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, benar-benar sangat saya butuhkan.

Selangkah lebih dekat dengan negeri yang jauh

Melalui konten-konten yang disebarluaskan oleh Indonesia Mengglobal, saya merasa mengenal tempat-tempat yang belum pernah saya datangi. Salah satunya, sebelum saya memulai semester di UC Berkeley, saya menemukan artikel dari seorang siswa program sarjana di sana. Tulisan itu sudah dimuat sejak beberapa tahun lalu, kalau tidak salah 2012. Akan tetapi, gambaran detail yang diberikan baik dari lingkungan fisik dan sosialnya masih relevan dan terkonfirmasi ketika saya memulai semester. Artikel tersebut membantu saya membayangkan tempat seperti apa yang akan saya datangi dari sudut pandang orang pertama yang bercerita, bukan deskripsi tentang universitas yang ditulis dalam website kampus ataupun review kampus.

Koneksi pertemanan di seluruh dunia

Indonesia Mengglobal memperkenalkan saya dengan pergaulan yang lebih luas. Tidak hanya antar tim manajemen, tapi juga kontributor, dan pembicara undangan. Salah satu yang berkesan adalah tugas saya sebagai host untuk sesi instagram live Indonesia Mengglobal yang mempertemukan saya dengan alumni UC Berkeley. Ia kemudian memperkenalkan saya pada teman satu rumahnya yang kemudian banyak membantu saya untuk mempersiapkan kepindahan dari Indonesia ke Bay Area. Lingkar pergaulan yang luas ini memudahkan saya untuk bertanya jika membutuhkan informasi dari ‘warga lokal’ sebelum melakukan perjalanan.

Lingkungan yang suportif dan membangun

Memiliki lingkar pergaulan yang memiliki mimpi global membantu saya untuk memulai langkah dalam mempersiapkan studi. Ada banyak alasan untuk merasa sangat sibuk dan tidak sempat untuk belajar, tapi teman-teman yang bersemangat mengejar mimpi membuat saya termotivasi. Ketika lelah datang, kami saling memberi ruang untuk beristirahat. Ketika kami siap untuk kembali berjuang, your team will welcome you. Saya juga sangat senang jika anggota divisi saya melamar beasiswa ataupun kampus impiannya; dan Indonesia Mengglobal membuka ruang untuk membantu termasuk menuliskan surat rekomendasi jika dibutuhkan. Saya dan teman-teman, khususnya yang bekerja di divisi yang sama, sering bertukar essay untuk memperoleh masukan-masukan yang membangun. Ketika jenuh melanda, divisi kami akan menyelenggarakan rapat dadakan dengan agenda bertukar keluh kesah untuk mencari solusi bersama. Walaupun bentuk komunikasinya mungkin berbeda, saya yakin divisi lain juga saling merangkul satu sama lain. Tak heran, setiap beberapa waktu, grup WhatsApp kepengurusan akan mengabarkan perjalanan salah satu anggota yang selangkah lebih dekat dengan mimpinya: lulus kuliah, baru akan memulai kuliah, memulai profesi baru, dan lainnya.

Tim digital communications 2021/22 tersebar di berbagai belahan dunia
Divisi Digital Communications 2021/2022 tersebar di empat zona waktu berbeda. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Sahabat Indonesia Mengglobal yang mengikuti postingan-postingan sosial media kami pastinya menyadari betul ada pesan mendalam yang ingin kami bagikan. Tidak hanya tentang pergi ke luar negeri dan membagikan foto kesuksesan, kami ingin membantu generasi muda Indonesia untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri dan mengambil peran di masyarakat. Kami ingin menyampaikan bahwa perjuangan dan perjalanan itu tidak selamanya mudah dan menyenangkan, tapi sangat layak untuk dicoba. Kami ingin menyampaikan bahwa mencintai bangsa dan negara bisa dilakukan dalam banyak cara, pun kontribusi bisa dilakukan dalam bentuk apapun yang kita mampu hari ini – tidak harus menunggu sampai datang suatu kesempatan tertentu.

Maka, tak heran jika sekali waktu kami mengangkat topik-topik perjuangan di sosial media Indonesia Mengglobal. Kami ingin menjadikannya sebagai suatu kejadian yang normal sehingga kita tidak harus kehilangan arah hidup ketika mengalaminya. Di kesempatan lain kami membahas berbagai rintangan dalam hidup dan bagaimana kita bisa membalikkan keadaan untuk menjadi ‘pemenang’-nya. Tak lupa dalam berbagai kesempatan kami selipkan afirmasi, tips dan trik, serta pengetahuan umum yang kami rasa baik untuk mulai kita ketahui bersama. Banyak pesan dan komentar masuk menyampaikan terima kasih karena telah membantu mereka untuk menemukan tujuan hidup ataupun meraih cita-cita.

Tulisan ini pun adalah salah satu bentuk terima kasih saya. Sengaja ditulis untuk memberikan alternatif persiapan studi dengan biaya minimal dan waktu terbatas bagi teman-teman yang mengalami kondisi serupa. Bahkan jika tidak berkesempatan terlibat sebagai tim IM, gunakan berbagai kegiatan yang kami siapkan untuk memperlancar jalan: belajar dari cerita orang lain dan mengadaptasinya sesuai kebutuhan.

***

Editor: Nefertiti Karismaida


SHARE
Previous articlePersonal Statement vs Diversity Statement: Apa Perbedaannya?
Next articleAchieving Your Study Abroad Dream with IELTS: Laras’ Experience
Ratih Ayu Apsari merupakan dosen Pendidikan Matematika di Universitas Mataram. Ia menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2012 dan S2 Pendidikan Matematika di Utrecht University – Universitas Sriwijaya dalam program beasiswa International Master Program on Mathematics Education (IMPoME) dengan beasiswa STUNED-DIKTI pada tahun 2015. Selain aktif mengajar dalam institusi formal di perguruan tinggi, Ratih juga aktif terlibat dalam upaya memberikan akses pendidikan yang lebih luas dan terbuka. Salah satunya melalui kelas belajar sukarela Taman Cerdas Ganesha yang dinisiasinya pada tahun 2017 ketika menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha (2015-2019). Ratih juga terlibat aktif dalam organisasi pro-bono Indonesia Mengglobal yang bertujuan untuk menginspirasi & memberdayakan generasi muda Indonesia untuk melanjutkan studi & berkarya di kancah global. Kecintaannya pada dunia pendidikan, keinginannya untuk berkontribusi lebih pada lembaga pendidikan guru, dan perhatiannya pada optimalisasi tumbuh kembang anak khususnya dalam bidang matematika memotivasinya untuk melanjutkan program doktoral di Graduate School of Education, University of California at Berkeley dengan beasiswa LPDP. Ratih bisa dihubungi melalui kanal sosial media instagram @aayuratiih atau surel ra.apsari@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here