Personal Statement vs Diversity Statement: Apa Perbedaannya?

0
548

Salah satu dokumen yang mungkin kita temui saat melakukan pendaftaran S2, khususnya di kampus Amerika Serikat, adalah Diversity Essay. Meski terkesan abstrak, ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menulis essay ini dengan baik. Kolumnis Indonesia Mengglobal, Inef, membagikan pengalamannya menulis diversity essay untuk pendaftaran studi S2 di negeri Paman Sam.

Pada artikel bulan lalu, saya sempat menceritakan perjalanan saya mencari universitas yang memiliki program S2 yang cocok dengan panggilan hati saya. Sekarang, setelah saya menemukan beberapa universitas yang sepertinya pas dengan apa yang saya mau, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Proses pendaftaran S2 untuk universitas di Amerika Serikat memang ada miripnya dengan proses pendaftaran S1 di negara yang sama, namun yang membuat rumit adalah jenis-jenis esai yang diminta.

Saat mendaftar S1, esai yang saya kirimkan ke kantor pendaftaran atau penerimaan mahasiswa baru adalah sejenis tulisan eksploratif di mana ada pertanyaan tertentu yang bisa kandidat jawab, misalnya pertanyaan tentang cita-cita masa depan atau soal tokoh idola. Ketika mendaftar S2, tidak semua universitas menyediakan pertanyaan demikian. Saya lebih sering menemukan universitas yang membebaskan para calon pendaftar menulis apa pun yang mereka rasa baik untuk dibagikan dengan anggota fakultas dan/atau departemen yang akan mengajar program studi nantinya.

Terlihat lebih menyenangkan karena kandidat bisa memilih apa yang akan ditulis, bukan?

Tunggu dulu, tulisan tersebut bukan tanpa syarat dan peraturan. Dengan maksud membuat calon mahasiswa tetap fokus pada tujuan melamar masuk universitas, karya tulis mereka biasanya dibatasi sekitar kurang lebih 500 sampai 1000 kata saja. Malahan, ada universitas yang berpatokan pada jumlah halaman (biasanya dengan spasi dobel) dan bukan jumlah kata atau karakter.

Dengan kebebasan memilih topik bahasan sendiri, mahasiswa memang diberikan keleluasaan untuk bercerita tentang lika-liku perjalanan hidupnya hingga memutuskan meneruskan kuliah, namun tidak urung juga akan timbul satu atau dua keraguan seputar apa yang sebenarnya dicari oleh pihak universitas. Sebagai orang yang baru pertama kali mendaftar S2, tentunya kebimbangan macam itu awalnya menghantui saya. Untungnya, akses internet menyelamatkan saya dari ketidaktahuan. Lewat video YouTube yang saya tonton, saya belajar mengenai dua jenis esai yang lazim dipersyaratkan: personal statement dan diversity statement.

Jenis esai pertama sudah lebih familiar di telinga saya karena teman-teman saya pernah mengisahkan bagaimana mereka menulis esai yang mengangkat alasan mereka melanjutkan studi atau mengapa mereka ingin bekerja sama dengan profesor ternama di suatu bidang yang banyak diminati. Jenis esai kedua, sayangnya, masih terdengar asing bukan hanya buat saya tapi juga buat keluarga saya. Lagi-lagi, internet kembali membantu.

Saya mendapatkan informasi bahwa diversity statement, tidak jauh-jauh dari sebutannya, merupakan esai yang menguraikan bagaimana seorang calon mahasiswa memahami keragaman budaya, bahasa, agama, dan latar belakang kalangan masyarakat tempat mereka tinggal. Dalam konteks Amerika Serikat, keberagaman dapat dimaknai sebagai keberagaman ras dan asal etnis walau pada praktiknya keberagaman kondisi sosio-ekonomi dan hal-hal semacam keterbatasan fisik atau mental juga diterima sebagai bentuk keberagaman.

Berangkat dari pemahaman itu, saya pun menggali lebih dalam: apa sebabnya universitas mengharuskan calon mahasiswa peduli pada keberagaman?

Kita semua tentunya sering mendengar ungkapan “berbeda itu indah” atau “berbeda-beda namun tetap satu”. Ternyata, ungkapan itu tidak hanya berlaku di Indonesia. “Bhineka tunggal ika” versi Amerika Serikat tentu ada juga mengingat sejarah negara adidaya itu sebagai negara di mana para pendatang dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Para pendatang baru membawa nilai-nilai yang berbeda dan, meskipun akhirnya mereka harus berasimilasi dengan kultur setempat, cara hidup mereka diapresiasi oleh lingkungan sekitar dan menjadi sumber kebanggaan komunitas mereka.

Universitas di Amerika Serikat menghargai fakta ini dan pastinya ingin membangun kampus-kampus mereka dengan sedemikian rupa agar mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman dari para mahasiswa yang mereka terima.

Selain alasan politik, ada alasan kemanusiaan dan etika pula di sini. Belakangan ini, isu-isu menegangkan seperti hubungan antar ras dan konflik antar golongan kerap menghiasi layar kaca dan menjadi berita utama. Menghangatnya isu-isu yang mengungkit ras dan pentingnya sensitivitas terhadap cara-cara yang tepat untuk memperbincangkan ras tidak luput dari perhatian pihak universitas.

Demi memastikan calon mahasiswa yang tersaring sudah menyadari kondisi yang ada, diversity statement dijadikan salah satu alat untuk mengetahui seberapa jauh para calon mahasiswa punya kesadaran terhadap isu-isu yang menyangkut suku, warna kulit, atau identitas pembeda lainnya. 

Jika personal statement umumnya berisi keterangan dan anekdot soal “siapa dirimu dan apa yang menjadikanmu menarik” atau “apa aspirasi yang memotivasi kamu untuk melakukan riset di universitas pilihanmu”, diversity statement sama sekali tidak memberikan kita ruang untuk membeberkan ambisi kita. Alih-alih menerangkan rencana masa depan kita atau bakat dan talenta yang membuat kita siap untuk lanjut kuliah, dalam diversity statement kita diharapkan bisa menjabarkan pengalaman kita hidup di tengah keberagaman.

Dalam lima sampai enam paragraf yang panjangnya menyesuaikan permintaan universitas idaman kita, idealnya kita memaparkan interaksi dengan keberagaman semacam apa yang pernah kita alami dan bagaimana interaksi tersebut membantu kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan berempati.

Misalnya, jika kalian lahir dan besar di Jawa dan berpengalaman menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di desa atau daerah terpencil di suatu pulau di bagian timur Indonesia, boleh diceritakan selengkap-lengkapnya. Hanya saja, apa yang kalian sorot dalam cerita tersebut bukan cuma pengalaman mengajar sukarela itu sendiri, namun juga apa saja yang kalian pelajari dari bergaul dengan orang yang berbeda budaya dengan kalian. Selain itu, bagaimana kalian menghadapi tantangan yang mungkin muncul, entah itu tantangan berkomunikasi atau kesalahpahaman atau pertikaian yang sifatnya berbau ras, juga menjadi penting untuk diceritakan. Pihak penerimaan mahasiswa ingin tahu tingkat kedewasaan, kebijaksanaan, dan kemandirian kalian dalam menyelesaikan masalah interpersonal. 

Dalam diversity statement yang sedang saya kerjakan, saya mengangkat kisah saya sebagai wanita Asia penyandang gangguan pendengaran yang sekaligus anak pertama di keluarga saya yang akan menempuh studi S2 di jalur Ilmu Sosial (keluarga besar saya turun-temurun belajar Ilmu Alam/Eksakta, Seni, dan Hukum). Tiga identitas yang saling tumpang tindih itu saya soroti bukan untuk meraih rasa kasihan dan simpati pihak universitas, tapi untuk memberi mereka gambaran bagaimana sedari kecil saya sudah bergelut dengan kesenjangan sosial dan ketidaksetaraan akses pendidikan antara orang tanpa disabilitas dan orang dengan disabilitas.

Selain itu, saya ingin menggambarkan kesulitan yang saya hadapi saat kuliah S1 ketika saya diwajibkan membaur di antara teman-teman sekelas yang tindak-tanduk, kebiasaan, dan adat-istiadatnya bagai langit dan bumi dibandingkan dengan apa yang saya kenal di rumah. Inti dari diversity statement saya bukanlah untuk mengeluhkan rintangan yang saya lalui, tetapi untuk merefleksikan bagaimana masa kecil saya dan juga tahun-tahun pertama saya di luar negeri telah menyadarkan saya pada pentingnya merangkul kaum yang tidak jarang terpinggirkan dan terlupakan. 

Pada akhirnya, diversity statement bukanlah sekadar selembar kertas di mana kita merinci satu per satu pencapaian dan prestasi yang telah kita raih namun juga merupakan kesempatan untuk kita bisa mengevaluasi kehidupan kita. Sudahkah kita memikirkan mereka yang kadang termarjinalkan? Sudahkah kita sadar bahwa kita tidak hidup sendirian? Sudahkah kita berpikir bagaimana caranya bisa bahu-membahu dan bekerja berdampingan dengan orang-orang yang berbeda pemikiran, baik karena asal usul geografis atau kepercayaan yang dianut?

Perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah belah, apa lagi di era di mana kita dituntut untuk bisa berkolaborasi dan mengglobal, bukan hanya bersaing dan menomorsatukan kepentingan pribadi tetapi juga memperhatikan kemaslahatan bersama. Sama halnya dengan NKRI tercinta dengan semboyan persatuan, Amerika Serikat dan universitas-universitasnya menjunjung tinggi nilai luhur keberagaman. Seperti Indonesia yang bersatu dari Sabang sampai Merauke, Amerika Serikat pun ingin semua yang datang ke daratannya hidup damai, seperti dalam lirik lagu America the Beautiful: God shed His grace on thee, from sea to shining sea.

Sumber foto: Tim Mossholder, Etienne Girardet, Hannah Busing, Matteo Paganelli, Karla Hernandez, Greg Rosenke

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here