Kilau Ramadhan di Jantung Bumi Eropa: Merayakan Keislaman di Polandia

0
330
Viddy saat berbuka puasa bersama teman-teman sekelas dari berbagai negara. Sumber: Dokumentasi pribadi

Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di Eropa seringkali memberikan tantangan tersendiri bagi mahasiswa Indonesia di sana. Tidak hanya tentang perbedaan  lama waktu berpuasa, akan tetapi dengan suasana Ramadhan yang sangat berbeda dengan di Indonesia.

Viddy Ranawijaya, seorang mahasiswa Indonesia di Krakow, Polandia, menceritakan pengalamannya menjalankan puasa di negara beribukota Warsawa tersebut. Kondisi Polandia yang pernah menjadi negara tertutup, sehingga tidak banyak ditemui imigran dari negara Muslim sebanyak negara di sekelilingnya, tentunya berpengaruh terhadap kemudahan dalam melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan.

Akan tetapi, hal itu tidak membuat Viddy menyerah. Ia justru semakin bersyukur dan terdorong untuk merayakan identitas yang ia punya sebagai seorang Muslim. Bagaimana ceritanya? Simak artikel di bawah ini! 

***

Perjalanan Viddy sebagai mahasiswa Indonesia di Polandia

Februari 2021, kaki saya melangkah keluar dari kereta api yang membawa saya dari kota Berlin ke negara kedua dalam perjalanan mobilitas saya menempuh program Master Erasmus Mundus bidang Masyarakat, Politik dan Budaya Eropa. Negara itu adalah Polandia, tepatnya di kota Kraków, tempat yang sangat asing bagi saya.

Memasuki tram yang akan membawa saya ke tempat akomodasi, terlihat beberapa pasang mata memerhatikan saya dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang nanar dan membuat saya merasa kurang nyaman. Ternyata rasa asing bukan hanya dirasakan oleh saya, tapi juga bagi masyarakat lokal yang melihat pria dengan kulit sawo matang dan bermata sipit seperti saya.

Salah satu sudut kota Krakow. Sumber: Dokumentasi pribadi

Saya memulai semester kedua studi saya di Uniwersytet Jagielloński w Krakowie yang merupakan universitas tertua di Polandia dan berdiri sejak tahun 1364. Saya belajar di Centre for European Studies, di mana saya belajar tentang budaya dan masyarakat dari negara-negara di Eropa Tengah, salah satunya Polandia, yang sering disebut sebagai Younger Europe. Sebutan itu bukan tanpa alasan, melainkan disematkan karena demokratisasi di negara-negara tersebut baru dilakukan setelah runtuhnya pengaruh komunisme Uni Soviet dan bergabungnya mereka ke Uni Eropa dan Blok Barat.

Pembelajaran tersebut membantu menjelaskan pengalaman saya di dalam tram pada saat tiba. Bagi orang yang pernah hidup di masa komunis Polandia yang cukup tertutup pada dunia luar, bisa saja saya merupakan orang Indonesia pertama yang mereka lihat dan temui.

Menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa Muslim

Kehidupan saya sebagai Muslim bisa dibilang serba terbatas di Kota Kraków. Di mana hanya terdapat satu Masjid kecil yang lokasinya lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Kota ini hanya memiliki satu toko daging halal.

Serta walaupun restoran halal banyak tersedia, sering kali logo halal tidak mereka tampilkan secara jelas dan membuat saya harus bertanya pada penjualnya tentang kehalalan makanan yang mereka jual. Seperti di Jerman dan beberapa negara Eropa lain, di Polandia logo halal kadang tidak ditampilkan karena stigma negatif yang disematkan masyarakat kepada cara pemotongan daging halal.

Namun dibalik itu semua, kemudahan dalam ber-Islam dapat saya rasakan di lingkungan kampus. Di mana mushalla kecil tersedia di beberapa fakultas dan universitas. Dalam pengajaran, budaya terbuka terhadap semua pendapat dan latar belakang mendorong saya untuk berpendapat dan memposisikan saya sebagai seorang Muslim. Contohnya, saya pernah menulis makalah yang berisi kritik saya terhadap Presiden Prancis yang menyampaikan diskursus ambigu mengenai Islam dan Islamisme. 

Lingkungan kampus Uniwersytet Jagielloński w Krakowie, tempat Viddy menuntut ilmu. Sumber: Dokumentasi pribadi

Ramadhan pertama di jantung bumi Eropa 

Ketika Ramadhan tiba, pemandangan dan aroma khas yang biasa saya lihat dan rasakan di kampung halaman terasa absen dan hanya tersimpan di ingatan. Tidak ada sajian kolak pisang dan berbagai macam ta’jil di pinggir jalan maupun pemandangan jamaah yang berbondong-bondong menuju masjid saat waktu tarawih. Semua tampak biasa saja seolah hari-hari pada umumnya.

Tahun ini waktu berpuasa masih lebih panjang dari Indonesia, yaitu 14 hingga 15 jam dalam sehari. Durasi puasa ini masih terbilang lebih mudah dari tahun lalu saat bulan Ramadhan jatuh lebih dekat menuju musim panas, di mana waktu berpuasa berdurasi hingga 16 jam. Selain waktu puasa yang berbeda, shalat tarawih baru bisa saya lakukan setelah pukul 20:30 malam. Lokasi masjid yang jauh membuat saya melakukannya di rumah.

Tentunya, suasana Ramadhan tak akan hadir tanpa kita sendiri yang membuatnya. Oleh karena itu, untuk mengobati kerinduan, saya sering mengadakan acara buka puasa bersama teman-teman mahasiswa dari Asia Tenggara. Berbagai penganan khas Ramadhan seperti Kolak Pisang & Candil serta Bala-Bala dengan cocolan Sambal Kacang saya sajikan untuk berbuka sekaligus memperkenalkan latar belakang saya sebagai pemuda dari tanah Sunda.

Tak jarang saya hadir di Masjid untuk menghadiri buka puasa bersama komunitas Muslim di Kraków yang diadakan pada akhir pekan. Di Masjid Kraków seringnya makanan disediakan oleh donatur dan restoran-restoran halal lokal.

Berbuka puasa di Islamskie Centrum Kultury w Krakowie (Pusat Budaya Islam di Krakow). Source: personal documentation.

Teman-teman lokal dari Polandia dan negara Eropa lain juga acap kali saya undang untuk merasakan ifthar di rumah saya. Bagi masyarakat Polandia yang mayoritas penganut Katolik, berpuasa bukan merupakan hal asing dan biasa mereka lakukan menjelang paskah, walaupun dengan tradisi dan cara yang berbeda. Suasana khas berbuka bersama yang ‘guyub’ saya coba bawa ke tengah mereka untuk memperkenalkan hangatnya Ramadhan.

Bersyukur dan merayakan Keislaman di Eropa

Melakukan puasa Ramadhan di Polandia membuat saya bersyukur telah terlahir di Indonesia. Negara di mana ber-Islam terasa lebih mudah dan betapa Ramadhan merupakan periode yang paling dirindukan dan dirayakan. Namun, segala keterbatasan yang saya rasakan di sini tidak serta merta membuat Ramadhan tidak spesial.

Merayakannya dengan teman-teman dekat dengan berbuka puasa bersama serta memperkenalkan sajian khas Indonesia kepada masyarakat lokal sangat mengobati kerinduan saya akan Ramadhan di kampung halaman.

Berbuka puasa dengan teman-teman dari Asia Tenggara. Source: personal documentation

Sebagai satu dari sedikit masyarakat muslim di negara Eropa tengah ini juga tidak berhenti membuat saya merayakan ke-Islaman. Hal ini juga seolah membuat saya memiliki tanggung jawab lebih untuk memperkenalkan Islam di depan masyarakat lokal yang mungkin tidak pernah mengenal Islam dan bertemu dengan seorang Muslim.

Hal ini membuat saya bertekad, jika saya seorang Muslim Indonesia pertama yang mereka temui, saya ingin menciptakan kesan bahwa Muslim Indonesia merupakan masyarakat yang ramah, santun, serta terbuka dan berwawasan luas. Bukankah dunia yang penuh keragaman ini akan menjadi lebih indah jika kita saling terbuka dan mencoba mengerti satu sama lain?

***

Editor: Rizkiya Ayu Maulida


SHARE
Previous articleOn Building Trust and Rapport: My Academic Advising Highs and Lows
Next articleHow Tenacity and Strong Will Helped Me in Getting Scholarships and Job Offers
Viddy Ranawijaya merupakan mahasiswa asal Bandung yang menempuh studi di program Erasmus Mundus Joint-Master’s Euroculture di tiga universitas Eropa, tepatnya di Université de Strasbourg, Prancis; Uniwersytet Jagielloński w Krakowie, Polandia; dan Rijksuniversiteit Groningen, Belanda. Studinya didanai oleh beasiswa Erasmus+ dari Komisi Uni Eropa. Ia memiliki fokus riset pada topik regionalisasi dan internasionalisasi pendidikan tinggi serta kebijakan pendidikan inklusif di wilayah Eropa dan Asia Tenggara. Ia percaya bahwa pendidikan tak bergaris batas dan siapa pun berhak memiliki akses ke negara dan sekolah mana pun yang diinginkan untuk belajar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here