Membalas Surat Kartini

0
1287
Penulis berpose dengan gaun putih
Ratih percaya perempuan yang hebat adalah perempuan yang mengetahui nilai-nilai dirinya dan sanggup memikul tanggung jawab atas pilihan hidupnya. Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Seratus delapan belas tahun setelah Kartini berpulang, apa yang sudah kita lakukan untuk meneladani semangat juang beliau? Ratih Ayu Apsari, mahasiswi PhD tahun pertama di UC Berkeley, membagikan pemikirannya mengenai peran perempuan di masa kini. Perempuan yang ‘modern’ bukan hanya bisa memilih jalan hidupnya tapi juga bertanggung jawab penuh atas pilihan yang telah dibuatnya. Bagaimana agar kita dan anak-anak perempuan kita kelak bisa menjadi pribadi yang tangguh? Simak opini Ratih berikut ini.

***

Dikisahkan pada rentang tahun 1899 hingga 1904, seorang putri keluarga ningrat yang dikemudian hari harum namanya sebagai salah satu tokoh pejuang emansipasi, menuliskan gugatan dan cita-citanya dalam surat-surat yang dikirimkannya pada teman-teman Eropa-nya. Status ‘bangsawan’ membuat Ibu memiliki akses untuk belajar membaca, menulis, dan bergaul dengan orang-orang Belanda – meski dalam situasi yang serba terbatas. Surat terakhir yang ditulis 10 hari sebelum kepulangan dalam keabadian, empat hari setelah melahirkan putra pertama. Saya mengenal nama Ibu: Raden Adjeng Kartini – saat ini akrab sebagai Ibu Kartini atau R.A. Kartini. Hari kelahiran Ibu, 21 April, ditasbihkan sebagai Hari Kartini – wujud semangat pemberdayaan dan dukungan bagi perempuan Indonesia. Tulisan-tulisan Ibu dikumpulkan dan disunting oleh Dr. J.H. Abendanon – mantan Menteri Pendidikan dan Industri untuk Netherland-India yang juga adalah teman lama Ibu, dalam sebuah buku yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat ini diterjemahkan dalam Bahasa Inggris pada The Project Gutenberg untuk dapat dibaca lebih banyak khalayak. Pernahkah Ibu membayangkannya ketika pertama kali memberanikan menulisnya bahwa tulisan itu abadi dalam waktu yang lama dan dibaca oleh banyak orang?

Tahun 2022 ini adalah perayaan hari lahir Ibu yang ke-143 dan sekaligus menandai 118 tahun kepulangan Ibu menghadap Sang Pencipta. Dari apa yang saya baca, salah satu mimpi besar Ibu adalah melihat perempuan Indonesia ‘modern’ yang didefinisikan sebagai perempuan yang bangga akan dirinya, yang mandiri, bahagia, tahu nilai dirinya, bisa memilih masa depannya, antusias, dan hangat, serta bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk kebaikan universal – bagi kemanusiaan. Ibu marah ketika harus dipingit, resah karena semua orang memilihkan jalan hidup yang Ibu lakoni: bukan pergi ke sekolah, tapi harus menikah. Saya tahu betapa susahnya masa itu dan terlepas dari apa yang bisa dan tidak Ibu lakukan, saya melihat Ibu berusaha melawan kebiasaan yang tak sesuai dengan apa yang diyakini.

Sebagai hadiah ulang tahun, saya ingin memberikan beberapa kabar dari masa kini. Saya bukanlah ‘teman’ kepada siapa surat Ibu ditujukan seratus tahun yang lalu. Saya adalah salah satu contoh perempuan Indonesia yang berterimakasih karena dibukakan jalan untuk hidup merdeka. Apakah Ibu penasaran apa yang terjadi pada perempuan-perempuan Indonesia sepeninggalan Ibu? Bisakah kami membaca dan menulis? Bisakah kami terlibat dalam pembangunan bangsa dan menjadi representasi tanah air di panggung-panggung global? Apakah betul ‘barat’ akan menggerogoti habis adab ‘timur’ perempuan Indonesia? – sebuah alasan yang didengungkan untuk tidak mengizinkan perempuan menjadi ‘modern’, merujuk pada terminologi yang Ibu pilih.

Saya pergi ke Belanda di tahun 2014-2015 dan menempuh program Master saya di Utrecht University. Bukankah Ibu dulu sempat berkeinginan untuk sekolah di sana? Bergaul sama tinggi dengan perempuan Eropa? Ibu benar. Ternyata, jika memperoleh kesempatan, perempuan Indonesia memang unggul dan kompetitif. Tidak hanya Eropa, tapi di berbagai belahan dunia. Saya kembali meninggalkan Indonesia di tahun 2021 dan saat ini sedang menempuh studi Ph.D. di University of California, Berkeley – Amerika Serikat. Tempat yang jauh, tapi tidak memutus cinta saya pada Indonesia. Tidak juga membuat saya lupa pada tanah air saya.

Satu yang menggelitik, saya pernah bertemu profesor perempuan berusia 98 tahun yang pernah mengajar di beberapa kampus ternama dunia. Beliau baru benar-benar pensiun ketika pandemi melanda di tahun 2020 dan masih mengisi undangan kuliah tamu hingga bulan lalu. Saya sempat berbincang personal dan menanyakan dinamika sosial seperti apa yang terjadi di Amerika, sehingga seorang perempuan berusia 98 tahun sudah berkesempatan menjadi profesor. Profesor saya bingung–ibu kandung beliau memiliki gelar Master’s– karena perempuan berpendidikan tinggi sudah menjadi suatu kewajaran ketika beliau menempuh pendidikan tinggi di 1943. Saya termenung, hanya 20 tahun tahun lebih awal, Ibu menuntut perempuan Indonesia agar dibolehkan belajar membaca sementara perempuan lainnya di dunia sudah menempuh pendidikan lanjutan.

Kabar baiknya, di masa sekarang, perempuan Indonesia yang berkesempatan melanjutkan pendidikan tinggi bukan hanya saya. Kami menempuh pendidikan dalam berbagai tingkat dan bidang studi, lalu berkarya sesuai dengan kapasitas kami. Saya sendiri pulang ke Indonesia dan menjadi pendidik untuk calon guru matematika, mewujudkan apa yang menjadi motivasi saya untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Sementara perempuan lainnya memilih bidang karier atau cara berkontribusi yang berbeda untuk bangsanya dan dunia yang lebih luas. Tidak hanya bergaul dan berbaur di dunia internasional dan menjadi perempuan ‘modern’, perempuan Indonesia di berbagai kesempatan berusaha untuk memperkenalkan kekayaan budaya bangsanya. Contoh yang cukup jelas terlihat adalah perempuan-perempuan yang terlibat dalam perhelatan seni dan parade budaya Indonesia di luar negeri ataupun memperkenalkan Bahasa Indonesia dan makanan khas Indonesia. Tapi di luar itu, perempuan-perempuan Indonesia berupaya berprestasi dan melakukan yang terbaik manapun berada. Sehingga ketika ada yang mencari tahu asal muasalnya, Indonesia bisa turut berbangga.

Perempuan-perempuan Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri datang dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, tidak hanya kaum ‘bangsawan’ karena sudah banyak beasiswa berbasis prestasi yang memampukan kami berada di tempat yang mungkin tidak terjangkau dengan biaya sendiri. Ada pula ragam kondisi fisik dan mental perempuan Indonesia yang ternyata tidak menghalangi dirinya untuk mengenyam pendidikan dan berkontribusi pada dunia. Tidak hanya itu, perempuan-perempuan Indonesia ini juga memiliki status pernikahan yang berbeda: ada yang lajang, ada yang menikah tanpa anak, ada yang menikah dan memiliki anak, ada yang menjadi ibu tunggal, ada yang memilih berpisah, dan lainnya. Terlepas dari statusnya, peluang belajar masih terus terbuka.

Setelah banyak bertemu perempuan dan mendengar kisahnya, saya sampai pada satu simpulan, Bu: tak peduli menjalani hidup yang mana, selalu ada celah bagi mereka yang tidak ingin perempuan maju dan mandiri untuk menghalangi jalannya. Tapi perempuan-perempuan kita tidak patah arang. Kami bertumbuh bersama dan membuat lingkungan yang aman dan ramah untuk perkembangan anak perempuan di masa depan untuk bisa hidup dengan lebih baik. Walau tantangan selalu ada, banyak keluarga, kerabat, pasangan, lingkungan kerja, lingkungan pertemanan, dan lingkungan pendidikan yang berpikiran terbuka memampukan perempuan untuk berkarya.

Penulis membaca di perpustakaan
Perempuan yang cerdas adalah perempuan yang tidak hanya mengenali dirinya tapi juga ingin terus belajar dan memahami perannya. Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Tentu kesempatan belajar ini tidak sama rata porsinya dimiliki oleh semua perempuan kita. Ada banyak batu sandungan, mulai dari kesadaran perempuan pada nilai dirinya, tatanan sosial yang masih banyak mengkerdilkan jati diri perempuan, hingga sistem yang berlaku di negeri kita. Di salah satu kutipan, Ibu pernah menyampaikan – ada banyak hal yang bisa menjatuhkan perempuan, tapi satu-satunya yang bisa menjatuhkan kita adalah perilaku kita sendiri. Pandangan itu masih sangat relevan hari ini. Dengan kehadiran teknologi yang mempercepat dan memperluas akses informasi, perempuan harus sadar betul pada nilai-nilai yang diinternalisasi ke dalam dan diaktualisasinya ke luar. Tak jarang, perilaku perempuan disoroti karena mengundang kontroversi – di beberapa waktu untuk sebab dan akibat yang baik, di lain kesempatan sayangnya berkesempatan menurunkan kepercayaan sosial pada perempuan. Belum lagi bias dan stereotip yang mengakar, membuat perempuan terbelenggu pada nilai yang sering kali tidak merepresentasi dirinya. Lalu yang paling miris, perempuan masih menjadi korban kejahatan dan diskriminasi. Perempuan belum sepenuhnya mendapat perlindungan dan jaminan kebebasan atas hak, harkat, dan martabatnya. Beberapa mencoba bersuara lantang, tak semuanya berhasil mencapat tujuan. Emansipasi kadang diolok-olok, pun dengan label feminisme. Pada titik itulah, saya melihat peluang jalan alternatif. Sambil mendukung perubahan sistemik di tananan sosial dan negara, mari kita persiapkan perempuan dari tingkat unit yang terkecil: individu, perempuan itu sendiri. 

Dari perjalanan hidup tersebut, saya mempelajari beberapa contoh dari perempuan-perempuan yang berpikiran global dan memampukan dirinya bersaing di dunia internasional. Dari sana saya menemukan beberapa karakteristik yang tampaknya bisa saya rekomendasikan bagi perempuan lainnya dan bagi mereka yang membesarkan anak perempuan.

  • Perempuan yang mengenal dirinya

Mengenal nilai-nilai diri membantu perempuan untuk menemukan tujuan hidup, membuat kita berani mengambil keputusan karena tahu apa yang dibutuhkan. Ketika berada di lingkungan baru, kita bisa beradaptasi tanpa melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kita tidak lupa apalagi malu dengan asal-usul. Hal ini akan membuat kita menjaga tingkah laku dengan sebaik-baiknya karena kita menyadari tugas kita sebagai representasi bangsa di panggung dunia. Perempuan perlu tahu ia adalah pribadi yang utuh dan lengkap, pribadi yang tidak malu menjadi diri sendiri. Saingannya adalah dirinya yang kemarin, bukan orang lain. Dalam membesarkan anak perempuan, ajak anak untuk melihat kualitas baik dalam dirinya dan menyadari bagian yang perlu ditingkatkan. Berikan anak kesempatan untuk melakukan eksplorasi minat dan bakat. Lingkungan belajar hendaknya menginspirasi, bukan mendikte anak untuk mencapai cita-cita orang dewasa disekitarnya.

  • Perempuan yang menyadari perannya

Dunia memiliki ragam masalah yang kompleks, kita tidak akan mampu menyelesaikan semuanya. Tapi ketika kita sadar bahwa kita berperan, kita akan mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari masyarakat global dan bersedia mengambil tindakan sesuai kapasitas dirinya. Satu langkah kecil hari ini bisa berarti banyak bagi hari esok. Anak perempuan perlu diajak untuk menyadari betapa besar kontribusinya bagi dunia. Salah satu contohnya adalah dengan melibatkan anak dalam mendiskusikan isu-isu sosial. Kenalkan anak pada contoh-contoh perempuan yang melakukan aksi dalam berbagai skala dan bidang. Perempuan juga perlu tahu bahwa ia tidak berjuang sendiri. Bagi saya, perempuan yang mandiri tidak sama dengan perempuan yang tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Justru ia tahu betul bagaimana caranya berkolaborasi dan menjadi bagian penting dari dinamika sosial di sekitarnya.

  • Perempuan yang bertanggung jawab pada hidupnya

Perempuan harus tahu bahwa hidupnya adalah miliknya dan oleh sebab itu ia harus bertanggung jawab menentukan arahnya. Kebebasan yang bertanggung jawab ini diaktualisasi lewat harmonisasi pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik untuk mewujudkan tujuan-tujuan baik. Dalam membesarkan anak perempuan, biasakan ia membuat keputusan setelah mempertimbangkan konsekuensinya. Perkenalkan betapa banyak pilihan dalam hidup dan betapa kita mampu untuk memilih yang terbaik. Ajak anak untuk memilih jalan yang benar dalam mencapai tujuan yang baik: bahwa proses penting, bukan semata hasil. Lalu ketika keputusan sudah diambil, ajak anak untuk melakukan yang terbaik dan memodifikasi yang dibutuhkan. Hidup selalu penuh kejutan, perempuan perlu tahu bahwa langit tak selamanya mendung. Ketika masalah datang dan tujuan tak tercapai, kita selalu bisa memulai baru ataupun mencoba jalan yang berbeda.

  • Perempuan yang ingin belajar

Belajar sepanjang hayat harus menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, terlepas dari pengetahuan yang dipelajari dan darimana memulainya. Kadang kita takut mencoba, karena mengkhawatirkan proses yang berliku dan hasil yang tidak sepadan. Padahal hanya dengan belajar kita mampu membentuk pola skema baru dalam akal kita yang terus berkembang seiring perjalanan. Dalam membesarkan anak perempuan, hargai pencapaian-pencapaian yang diperoleh dalam berbagai skala dan bidang. Bantu kalahkan bias dan stereotip dengan tidak membatasi perempuan mencerdaskan dirinya karena khawatir tidak diterima di masyarakat. Jauhi pemikiran perempuan “ujung-ujungnya” akan kerja di dapur, sehingga tidak butuh belajar lebih. Apapun yang menjadi pilihan perempuan di kemudian hari, ilmunya akan selalu bermanfaat. Hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan tidak hanya bisa diterapkan pada satu dua bidang yang terafiliasi dengan ilmu tersebut. Contohnya, belajar matematika bukan hanya untuk menjadi matematikawan – ahli ekonomi juga butuh, termasuk apabila kita ingin mengatur perencanaan keuangan individu dan keluarga dengan prinsip optimalisasi dan mempertimbangkan investasi dengan logika kabur. Teori ini juga tidak mutlak diimplementasikan lewat perhitungan matematis, bisa berupa pola pikir yang terbentuk dari hasil belajarnya.

  • Perempuan yang membuka kesempatan bagi dirinya

Ada banyak jalan yang hanya akan terbuka ketika kita memberikan kesempatan bagi diri untuk mencoba. Tentu banyak alasan juga untuk takut, karena itulah lingkungan tumbuh yang optimal bagi perempuan adalah yang memberi kesempatannya mencoba. Gagal adalah bagian dari proses, memperbaiki dan mencoba lagi adalah langkah berikutnya. Biasakan perempuan untuk mencari alternatif ketika satu pintu tertutup, termasuk juga melihat berkah terselubung ketika cobaan datang. Emosi negatif datang dan pergi, perempuan perlu memahami betapa siklus itu wajar. Tetapi untuk dapat bangkit, perempuan perlu belajar cara mengelolanya. Di dunia yang lebih luas, banyak kesempatan datang. Ada yang bisa dilalui dengan tanpa hambatan ada pula yang penuh perjuangan. Keduanya adalah bagian dari hidup. Kita tidak tahu seberapa berliku prosesnya pun seberapa baik hasil akhirnya, kecuali jika kita memampukan diri kita melaluinya.

Pada sekitar tahun 1900, Kartini menggugat masa depan perempuan. Tulisan-tulisannya lantang setelah ia berpulang, membuka satu per satu jalan bagi kaum yang diperjuangkan. Tahun 2022 beberapa perubahan mulai muncul dan berkembang, walaupun untuk berdaulat penuh tentu kita masih sama-sama berjuang. Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia. Terlahir sebagai perempuan adalah berkah, hidup sebagai perempuan yang berdaulat adalah keharusan, memberdayakan perempuan lainnya adalah bagian dari tanggung jawab moral. Selamat memperingati hari Kartini, perempuan Indonesia. Untuk pilihan hidup apapun yang diambil dengan penuh tanggung jawab, mari menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Berkeley, 22 April 2022

***

Editor: Nefertiti Karismaida


SHARE
Previous articleDapatkan Buku Indonesia Mengglobal di Gramedia Seluruh Indonesia!
Next articleMaking the Most of Cambridge’s Experience through GREAT Scholarship: Shawn Reo’s LLM Journey
Ratih Ayu Apsari merupakan dosen Pendidikan Matematika di Universitas Mataram. Ia menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2012 dan S2 Pendidikan Matematika di Utrecht University – Universitas Sriwijaya dalam program beasiswa International Master Program on Mathematics Education (IMPoME) dengan beasiswa STUNED-DIKTI pada tahun 2015. Selain aktif mengajar dalam institusi formal di perguruan tinggi, Ratih juga aktif terlibat dalam upaya memberikan akses pendidikan yang lebih luas dan terbuka. Salah satunya melalui kelas belajar sukarela Taman Cerdas Ganesha yang dinisiasinya pada tahun 2017 ketika menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha (2015-2019). Ratih juga terlibat aktif dalam organisasi pro-bono Indonesia Mengglobal yang bertujuan untuk menginspirasi & memberdayakan generasi muda Indonesia untuk melanjutkan studi & berkarya di kancah global. Kecintaannya pada dunia pendidikan, keinginannya untuk berkontribusi lebih pada lembaga pendidikan guru, dan perhatiannya pada optimalisasi tumbuh kembang anak khususnya dalam bidang matematika memotivasinya untuk melanjutkan program doktoral di Graduate School of Education, University of California at Berkeley dengan beasiswa LPDP. Ratih bisa dihubungi melalui kanal sosial media instagram @aayuratiih atau surel ra.apsari@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here