Kuliah PhD di SOAS London: PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal Membantu Meraih Aspirasiku

0
767
Raisa saat melakukan riset pada arsip-arsip sejarah di Asia Tenggara (Sumber: dokumentasi pribadi)

Raisa Kamila  adalah salah seorang alumni PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal yang saat ini tengah menempuh studi PhD  pada bidang Southeast Asian History di SOAS, London.  Sebelum melanjutkan pendidikan PhD, Raisa bekerja sebagai peneliti lepas sekaligus penulis. Minatnya yang tinggi pada penelitian bidang sejarah mendorongnya untuk kembali ke perguruan tinggi. 

Dalam artikel ini, Raisa akan bercerita mengenai pengalamannya mempersiapkan aplikasi PhD serta bagaimana program PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal membantunya untuk meraih kesuksesan dalam studi PhD yang ia jalani saat ini. 

***

Pengalamanku sebagai peneliti lepas mendorongku untuk lanjut studi 

Halo, nama saya Raisa Kamila. 

Saya lahir dan besar di Banda Aceh, namun kini tercatat sebagai warga Kabupaten Bandung. Sebelum melanjutkan studi doktoral, saya pernah belajar di Ilmu Filsafat UGM dan juga jurusan Sejarah Global dan Kolonial Leiden University, Belanda. 

Sejak bersinggungan dengan kajian sejarah kolonial, saya menemukan minat penelitian saya pada sejarah ruang hidup dan kebudayaan populer di Selat Malaka dalam rentang abad 19 dan 20. Saya penasaran dengan pengalaman orang-orang di kota-kota pelabuhan seperti Medan dan Banda Aceh saat pertama kali bersinggungan dengan jembatan, kereta api, dan jalan raya yang dibangun untuk kepentingan kolonial. 

Bagaimana orang-orang yang sejak dulu tinggal di sana bernegosiasi dengan kehadiran infrastruktur modern semacam itu? Apakah pandangan mereka mengenai ruang, lingkungan sekitar, dan alam juga berubah? Melalui praktik atau medium apa pandangan tersebut bisa ditelusuri? 

Karena masa studi pascasarjana hanya dua tahun dan saya tidak terafiliasi di instansi akademik dan riset di Indonesia, maka setelah lulus dari Leiden, saya berusaha melanjutkan rasa penasaran itu melalui penelitian lepas dan eksperimentasi lainnya. 

Pengalaman sebagai peneliti lepas di Indonesia membuat saya sadar bahwa kesempatan untuk melakukan riset sejarah adalah suatu kemewahan: akses untuk koleksi arsip periode pra-kemerdekaan tidak mudah dan murah, koleksi pustaka instansi dalam negeri mengenai kajian sejarah terkini umumnya hanya bisa diakses jika terafiliasi secara resmi, belum lagi ongkos yang perlu dikeluarkan untuk bisa menuntaskan kerja penelitian dari hulu ke hilir. Salah satu cara yang bisa saya tempuh untuk memenuhi rasa ingin tahu saya adalah dengan kembali belajar di perguruan tinggi.

Membaca arsip di Malaysia Design Archive, Kuala Lumpur  (sumber: dokumentasi pribadi)

Proses pendaftaran PhD: menentukan supervisor yang tepat adalah kunci 

Di SOAS University of London, mahasiswa tahun pertama program PhD wajib mengikuti kuliah selama dua semester mengenai metodologi riset dan kajian terkini dalam bidang yang ingin didalami. Saya sendiri sempat mengambil mata kuliah Metodologi Riset Sejarah, Politik Asia Tenggara Kepulauan, dan Kursus Bahasa Belanda Intermediate. 

Dalam dua semester ini, status mahasiswa masih MPhil, dan hanya akan berganti setelah berhasil mempertahankan proposal penelitian dalam ujian tahun pertama, yang biasa disebut “transfer”, “upgrade”, atau “progression”. Setelah lulus, status mahasiswa akan berubah menjadi PhD Candidate dan boleh melakukan penelitian lapangan dan arsip, yang disebut sebagai “fieldwork”. Saya menyelesaikan “upgrade” di bulan Juni, dan saat ini dalam masa “fieldwork” di Indonesia dan Belanda.

Sesi diskusi bersama kurator dan pustakawan terkait arsip dan manuskrip Asia Tenggara koleksi British Library (Sumber: dokumentasi pribadi)

Saat melamar program PhD, yang pertama kali saya lakukan adalah menentukan siapa saja pakar sejarah  yang memiliki minat riset seperti saya. Setelah itu, saya memastikan instansi akademik tempat mereka bernaung memiliki infrastruktur yang dapat menunjang penelitian saya. Untuk ilmu sejarah, infrastruktur yang dibutuhkan antara lain: perpustakaan dengan koleksi kajian sejarah Indonesia atau Asia Tenggara, akses untuk dana hibah, serta dosen, peneliti, dan jaringan alumni yang terafiliasi dengan jurnal di bidang ilmu yang ingin saya dalami. 

Saya sempat menghubungi sekitar 40 calon supervisor di berbagai kampus luar negeri, setengah di antara mereka merespon secara positif, namun dalam proses administrasi dengan kampus, hanya dua supervisor yang bisa menjamin saya diterima tanpa syarat, dan hanya satu yang bersedia mencari sumber dana tambahan, yaitu supervisor saya saat ini. Syukurnya beberapa bulan sebelum kuliah dimulai, saya memperoleh beasiswa Pelaku Budaya dari Pusat Pelayanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal: mempertemukanku dengan rekan seperjuangan 

Saya mengetahui program PhD Bootcamp dari kakak saya yang saat itu juga sedang melamar program PhD. Saya merasa sangat senang dapat berpartisipasi menjadi peserta karena jujur saja, proses melamar program PhD bisa terasa sangat sepi dan tak berujung.  

Ditambah lagi, saat itu tengah puncak pandemi dan saya sedang menjalani peran baru sebagai ibu. Berada dalam ruang virtual dengan orang-orang yang tidak saja bersedia mendengar keluh kesah saya, tapi juga bersedia membantu, benar-benar terasa seperti oase.

Mengikuti PhD Bootcamp mempertemukan saya dengan orang-orang lain yang juga tengah berproses, harap-harap cemas, frustrasi, tapi masih memiliki keinginan untuk belajar. Dua sesi yang sangat membekas bagi saya adalah: Introduction and Types of PhD, terutama sesi bersama Mbak Irma Hidayana yang menyinggung sekilas mengenai PhD bersama keluarga, dan Writing Research Proposal, dimana saya memperoleh banyak masukan mengenai cara merumuskan pertanyaan riset. 

Gedung utama kampus SOAS, University of London (sumber: dokumentasi pribadi)

(Dipaksa) Menyisihkan waktu khusus untuk menyiapkan aplikasi PhD 

Program PhD Bootcamp membantu saya untuk menyisihkan waktu secara serius untuk melihat berkas aplikasi saya dengan mata yang berbeda. Sebelumnya, saya hanya mengurusi berkas lamaran PhD di waktu senggang, saat urusan domestik dan kerja freelance sudah beres. 

Dengan program PhD Bootcamp, saya mempunyai tenggat untuk merombak berkas lamaran, dan  merevisi proposal riset saya yang awalnya terdengar hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu pribadi, dan tidak terkait dengan persoalan keilmuan atau publik yang lebih luas. Dari sesi sharing dengan mentor, saya belajar untuk mengaitkan minat penelitian saya dengan persoalan keilmuan di bidang saya, juga dengan konteks dan perkembangan pengetahuan sejarah di Indonesia.

Selama PhD Bootcamp juga, saya berlatih untuk bisa menjelaskan minat riset saya dengan ringkas, karena tidak semua peserta berasal dari rumpun keilmuan yang sama dengan saya. Dengan masukan dari para mentor, juga sesi diskusi dengan sesama peserta, saya mendapat banyak tips untuk menyampaikan gagasan secara rapi, dan juga kesempatan untuk mengukur diri serta kesiapan untuk melamar ke kampus-kampus tertentu. 

Piknik bersama mahasiswa jurusan seni dan humaniora di London (sumber: dokumentasi pribadi)

Mengapa Sahabat Indonesia Mengglobal harus mengikuti PhD Bootcamp? 

PhD Bootcamp memberikan ruang, waktu, dan tenaga pendamping untuk mempersiapkan diri menempuh program PhD. Peserta mendapat kesempatan belajar dan bimbingan dari orang-orang yang telah dan sedang menjalani proses belajar di jenjang PhD, dari berbagai jenis program, disiplin ilmu, dan latar belakang. 

Rasa bingung dan penuh harap yang kadang-kadang sulit dijelaskan ke keluarga atau teman-teman yang tidak pernah bersinggungan dengan program PhD bisa dengan mudah dan luwes didiskusikan di PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal. Persoalan yang abstrak, seperti pertanyaan riset, hingga yang teknis, seperti cara membalas email calon supervisor memperoleh tempat yang sama pentingnya selama PhD Bootcamp. 

Kegiatan ini sangat membantu calon mahasiswa PhD tidak saja untuk melanjutkan pendidikan, tapi juga mempertemukan dengan sesama pelamar program PhD, dari berbagai tempat di Indonesia dengan minat penelitian yang beragam.

Jika Sahabat Indonesia Mengglobal berminat untuk mendaftar program PhD Bootcamp, maka dapat mendaftar melalui tautan berikut: http://bit.ly/PhDParticipant22

Adapun kriteria  pelamar untuk PhD Bootcamp, dapat  dilihat pada poster di bawah ini: 

Editor: Rizkiya Ayu Maulida

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here