Studi Doktoral Bidang Psikologi di Benua Eropa: Kisah Sukses Dua Alumni PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal

0
728
University of Sheffield, salah satu kampus yang banyak diminati oleh mahasiswa PhD dari Indonesia. Sumber: https://www.sheffield.ac.uk/about

Jenjang PhD memiliki kompleksitas yang berbeda dibandingkan dengan jenjang Master. Pada jenjang ini, mahasiswa diharapkan untuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai sebuah keilmuan untuk menciptakan novelty pada perkembangan bidang ilmu tersebut. Seseorang yang memilih jenjang PhD tentu memiliki passion yang besar untuk menggeluti suatu bidang ilmu tertentu.

Simak pengalaman dua alumni PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal yang  melanjutkan studi di dua negara Eropa, yaitu Inggris dan Belanda. Kedua alumni PhD Bootcamp tersebut mengambil bidang ilmu yang sama, yaitu Psikologi, akan tetapi dengan spesialisasi yang berbeda. Dian Caesaria Widyasari memfokuskan penelitiannya pada topik mental health di University of Sheffield, Inggris, sedangkan Herman Yosef Paryono berfokus pada Organisational Behavior dan  Human Resource Management and Behavior  di University of Groningen, Belanda.

Bagaimana serba-serbi aplikasi PhD mereka? Selain itu, bagaimana PhD Bootcamp Indonesia Mengglobal membantu mereka meraih posisi sekarang? Simak cerita di bawah ini

***

Alasan melanjutkan PhD: Antara minat menjadi akademisi atau praktisi? 

Ada berbagai alasan seseorang memilih untuk melanjutkan PhD. Salah satunya, karena tuntutan pekerjaan. Dian Caesaria Widyasari—atau biasa disapa Dian—merupakan seorang dosen di Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang. Setelah lulus S1 dari Fakultas Psikologi UI, ia melanjutkan kuliah S2 di Global Mental Health, King’s College London. Selepas menyelesaikan S2, ia sempat bekerja pada Pusat Krisis Universitas Indonesia, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, Malang, dan mengabdi di universitas tempat ia mengajar sekarang. 

“Melanjutkan studi S3 akan meningkatkan kapasitas saya sebagai ilmuwan dan izin untuk meneliti secara independent,“jelas Dian tentang motivasinya kuliah PhD. 

Dian saat mempresentasikan poster hasil penelitiannya. Sumber: dokumentasi pribadi

Hal yang sedikit berbeda diungkapkan oleh Herman Yosef Paryono. 

Selama 12 tahun, Herman bekerja sebagai praktisi HR di Nutrifood. Selama bekerja sebagai HR, ia sudah menekuni berbagai  area HR, seperti mulai dari Recruitment & Selection, Learning & Development, hingga Personnel Management, akan tetapi tidak ada yang membuatnya lebih tertarik pada bidang lain selain People Analytics. 

Herman  menyukai riset dan data. Selama mendalami bidang People Analytics, ia sering diminta untuk berbagi pengetahuannya pada berbagai institusi, seperti bank, telekomunikasi, dan farmasi. Ia menyadari bahwa bidang People Analytics masih langka di Indonesia. Kemudian, saat ia memeriksa posisi-posisi senior di negara-negara di mana area People Analytics sudah berkembang, biasanya posisi-posisi tersebut diisi oleh lulusan PhD. Ia terpanggil untuk belajar lebih jauh mengenai People Analytics di tempat di mana bidangnya sudah lebih berkembang. Untuk itu, ia memilih mendalami bidang PhD, khususnya di bidang Human Resource Management & Organizational Behavior. Namun demikian, ia tidak menutup pintu untuk kesempatan apa pun yang terbuka selepas PhD nanti.

Menjalani PhD di Groningen: Serba-serbi bekerja di universitas 

Saat ini, Herman sudah memulai studi PhD-nya, dengan topik riset yang berada pada lingkup well-being pada pekerjaan modern dengan fleksibilitas dan otonomi tinggi (e.g., work from anywhere, gig working). Menurut Herman, di Belanda, mahasiswa PhD mendapatkan perlakuan layaknya employee atau pegawai universitas. Mahasiswa PhD dianggap peneliti profesional dan dibayar oleh universitas untuk melakukan penelitian. Karena diperlakukan layaknya pekerja, maka ia mendapatkan fasilitas berupa kantor sendiri, lengkap dengan sarana dan prasarana untuk menunjang penelitian. Ia berharap untuk dapat menjalin riset kolaboratif dengan perusahaan, sehingga hasil riset yang diraih nanti tidak hanya teoritis, tetapi juga empiris. 

Suasana ruang kantor mahasiswa PhD, tempat Herman melakukan penelitiannya. Sumber: dokumentasi pribadi

Pengalamannya saat melamar PhD pun mirip dengan saat melamar pekerjaan.  Saat itu ia melihat ada lowongan yang kosong yang diumumkan di website AcademicTransfer dan ia  diarahkan untuk mengunggah aplikasi melalui sistem universitas. Aplikasi yang dibutuhkan waktu itu adalah CV akademik (beserta kontak dua orang referees), motivation letter (dengan outline riset singkat), serta ijazah S2. Seleksinya pun layaknya melamar pekerjaan. 

Ia melalui beberapa tahapan seleksi diantaranya: 1) interview dengan board of committee (kepala-kepala departemen), 2) interview dengan calon supervisors, 3) psikotes (tes kemampuan akademik dan intelegensi), 4) interview kepribadian dengan psikolog. Setelah dinyatakan lolos, ia diminta untuk menandatangani dokumen kontrak dan setelahnya ia resmi dinyatakan menjadi kandidat PhD di University of Groningen.

Penolakan dari supervisor bukanlah akhir dari segalanya

Jika Herman mendapatkan pengalaman seperti mencari kerja, maka hal yang sedikit lain dialami oleh Dian.  Sepanjang tahun 2020 dan 2021, ia menjalani proses pendaftaran PhD. Ia mengontak empat calon supervisor yang memiliki kepakaran pada bidang mental health, terutama pada dewasa dan usia muda, yang terdiri atas satu calon supervisor dari satu universitas di Kanada, dua orang dari universitas di Inggris dan satu universitas di Norwegia. 

Dian mengakui, proses mengidentifikasi dan menginisiasi kontak dengan supervisor potensial ini sangat menguras energi karena harus dilakukan sambil bekerja penuh waktu. Mendapatkan respons dari supervisor potensial yang dihubungi pun ternyata tidak memberi kepastian akan diterima tidaknya kita pada program PhD yang kita lamar. Keempat supervisor  yang Dian hubungi, walaupun semuanya merespon, akan tetapi pada akhirnya menolak dengan alasan yang sama, yaitu terkendala budget yang terbatas dan situasi pandemi yang membuat beban penelitian mereka menjadi mundur satu tahun. 

Usai mendapat penolakan tersebut, ia sempat patah semangat. Akan tetapi, harapan muncul ketika pada akhir tahun 2021 ia lolos seleksi untuk mengikuti program Bridging Course khusus untuk dosen yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Melalui program tersebut, ia mendapatkan  kesempatan untuk mengikuti rangkaian Bridging Course di University of Sheffield, dimana ia dapat menemukan lab penelitian dan supervisor yang sesuai dengan kebutuhannya. Proses pendaftaran dan wawancara berjalan mulus hingga ia menjadi incoming mahasiswa PhD di Department of Psychology, University of Sheffield untuk tahun 2022. 

Dian berfoto dengan tutor di akhir program Bridging Course di University of Sheffiled. Sumber: dokumentasi pribadi

Tidak banyak orang mengenal University of Sheffield yang termasuk ke dalam Top 20 UK’s Best University dan Top 100 World Best University. Namun, ia merasa University of Sheffield menawarkan berbagai fasilitas serta memenuhi berbagai kebutuhannya sebagai mahasiswa internasional untuk melanjutkan studi S3.

Materi PhD Bootcamp: Tidak hanya informasi yang bersifat umum 

Menurut Dian, kombinasi seimbang antara informasi yang dapat ditemukan secara umum dengan detail pengalaman perjuangan yang dialami seseorang saat mendaftar PhD sangat membantunya dalam persiapan aplikasi PhD. 

Ia juga merasa sangat terbantu dengan sesi peer review untuk draft proposal penelitian dimana ia mendapatkan feedback dari perspektif peneliti lain. Selain itu, sesi dimana ia mendapatkan kesempatan untuk mendengar cerita mengenai pengalaman perjuangan mendaftar program PhD dari berbagai mahasiswa PhD juga membantunya untuk mengatur ulang ekspektasi sekaligus kekhawatiran yang berlebih terhadap proses pendaftaran program PhD. 

Mempresentasikan proposal penelitian saat mengikuti program Bridging Course. Sumber: dokumentasi pribadi

Cerita jatuh bangun, susah senang, dan berbagai rintangan yang dialami dalam perjalanan mendaftar program PhD memperkaya informasi umum yang tidak dapat diperoleh melalui penjelajahan di internet. Salah satu aspek lain yang bermanfaat adalah ia mendapatkan tempat bertanya supaya tidak tersesat dan pusing sendiri saat perjalanan mendaftar program PhD. 

Jarak bukan halangan untuk mengikuti PhD Bootcamp 

Herman mendapatkan informasi mengenai PhD Bootcamp dari Edwin Chandra, salah satu temannya yang saat itu aktif menjadi tim manajemen Indonesia Mengglobal. Ia sempat ragu untuk mendaftar karena merasa bahwa kesempatan untuk menempuh PhD semakin menipis terkait faktor usia. Tapi akhirnya ia iseng daftar saja, toh tidak ada salahnya dan hitung-hitung ada pengalaman merasakan membuat aplikasi PhD walaupun mungkin tidak dikirimkan. 

Saat itu, Herman mengikuti PhD Bootcamp di Yogyakarta secara daring. Kalau tidak daring, kemungkinan besar kelas akan diadakan di ibukota dan mungkin ia tidak dapat mengikutinya. Jadi menurut Herman,  format kelas daring ini patut dipertahankan karena membuka kesempatan bagi teman-teman yang tidak berada di ibukota untuk tetap dapat mengikutinya.

Di depan salah satu gedung di kampus University of Groningen. Sumber: dokumentasi pribadi

Mengapa PhD Bootcamp  akan sangat bermanfaat untuk Sahabat Indonesia Mengglobal yang tengah mempersiapkan aplikasi PhD?

Herman: 

“PhD Bootcamp dari Indonesia Mengglobal merupakan one stop workshops, di mana selain mendapatkan materi pengetahuan yang cukup lengkap, kita juga diajak untuk serius membuat aplikasi PhD kita. Selepas dari PhD Bootcamp, sebetulnya kita sudah punya aplikasi yang siap dimodifikasi sesuai kebutuhan untuk disebarkan ke program-program PhD yang kita minati.”

Dian: 

Melalui PhD Bootcamp, saya bertemu teman seperjuangan yang membuat saya merasa tidak sendiri dan menyadari bahwa perjalanan para pejuang studi S3 hampir pasti akan memiliki tantangan dan masalah masing-masing. Meskipun begitu, saya selalu menemukan mereka dengan senang hati berbagi informasi dan membantu dalam bentuk apa pun kapan pun ketika memungkinkan bagi mereka memberi bantuan. Bantuan tersebut tidak terbatas diberikan melalui saluran program PhD Bootcamp saja.

Para narasumber dan teman-teman pengurus Indonesia Mengglobal pun membuka kesempatan untuk peserta PhD Bootcamp menghubungi mereka apabila membutuhkan informasi atau jejaring untuk mengusahakan pendaftaran program PhD, meskipun rangkaian kegiatan PhD Bootcamp telah berakhir. Program PhD Bootcamp sangat membantu saya untuk membumikan perjalanan pendaftaran program PhD, sekaligus menjadi sumber semangat dan inspirasi setiap kali saya merasa hilang arah.”

Jika Sahabat Indonesia Mengglobal tertarik untuk mengikuti PhD Bootcamp, maka dapat mendaftar melalui tautan berikut ini:  http://bit.ly/PhDParticipant22

Open Recruitment PhD Bootcamp 2022. Source: Indonesia Mengglobal

Kriteria peserta dapat dilihat pada poster di bawah ini:

Kriteria peserta PhD Bootcamp 2022. Source: Indonesia Mengglobal.

Tentang kontributor:

*Herman Yosef Paryono merupakan seorang scientist-practitioner, praktisi People Analytics, dan konsultan Human Resource Management. Selama lebih dari 12 tahun berkarier, Herman telah menjalani berbagai fungsi dan peran manajerial di bidang Human Resource, Digital Transformation, dan Organizational Strategy. Saat ini Herman merupakan seorang Doctoral Researcher di HRM and OB Dept., Faculty of Economics and Business, University of Groningen, Belanda. Di sela-sela kesibukannya, Herman hobi untuk berolahraga lari dan traveling. Herman sudah mengoleksi 9 medali Half-Marathon dan mengunjungi lebih dari 100 kota di dunia.

*Dian Caesari Widyasari lahir dan besar di Kota Malang hingga menyelesaikan pendidikan SMA. Lalu, memutuskan untuk melanjutkan studi S1 Psikologi, tepatnya di Universitas Indonesia, karena senang membaca cerita Tintin dan Hercule Poirot yang pandai mengobservasi pola perilaku seseorang. Setelah menyelesaikan studi S1, Dian menghabiskan waktu selama hampir setahun sebagai fasilitator komunitas di Yayasan LAPPAN, Maluku yang bergerak pada isu perempuan dan anak di wilayah pasca konflik Maluku. Pada tahun 2015, Dian menyelesaikan studi S2 di Global Mental Health, King’s College London dan kembali ke Indonesia. Ia sempat bekerja sebagai program officer di Pusat Krisis Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, sebelum akhirnya pada tahun 2018, mulai mengajar sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here