Mimpi yang Tak Terhapus Waktu: Perjalanan Panjang Vivi Gustia untuk Mengecap Pendidikan Tinggi di Luar Negeri

0
752

Ditulis oleh: Nurhamsi Deswilla.

Sekalipun mengalami jatuh bangun perjuangan untuk studi ke luar negeri, mengalami berbagai kegagalan serta menjalani berbagai peran, Vivi Gustia (Graduate Diploma of Early Childhood Education, Victoria University) berhasil kembali ke bangku sekolah dan mengecap pendidikan di luar negeri. Waktu yang lama tak membuat semangat Vivi memudar demi cita citanya. Di artikel ini, Vivi membagikan kisahnya meraih cita-cita dengan berbagai peran yang diembannya.

__

Langkah Pertama menuju Studi di Luar Negeri

Vivi Gustia sudah merenda mimpi untuk melanjutkan studi ke luar negeri sejak awal masa studi S1-nya. Ia sangat ingin menuntut ilmu, merasakan hidup di luar negeri, serta mengangkat derajatnya. Vivi mengambil jurusan Kimia pada studi sarjananya dan sangat ingin melanjutkan bidang yang sama untuk pendidikan masternya.

Vivi saat Mengikuti Australia Day 2017. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sejak di bangku sarjana, Vivi sudah sering mengikuti berbagai seminar yang menyajikan kisi-kisi untuk belajar di luar negeri. Sehingga saat berhasil menjadi sarjana, Vivi sudah memiliki gambaran tentang bagaimana perjuangan serta kehidupan di luar negeri. 

Vivi menyadari bahwa salah satu yang sangat menentukan untuk diterima di perguruan tinggi di luar negeri adalah nilai IELTS. Pada saat itu, Vivi sudah memiliki skor TOEFL, namun belum pernah belajar atau mengenal IELTS. Vivi kemudian memutuskan untuk mulai belajar IELTS dan mempersipikan diri melanjutkan studinya di luar negeri.

Gagal Memperoleh Nilai IELTS Minimum Berkali-kali

Vivi sudah mulai mengikuti kursus persiapan belajar IELTS sejak ia mengetahui bahwa syarat utama belajar diluar negeri adalah kemampuan berbahasa Inggris secara akademis yang mumpuni. Namun, dikarenakan Bahasa Inggrisu bukan jurusan utama sejak Vivi sejak S1, Vivi mengalami kesulitan untuk mempelajari IELTS.

Setelah mengikuti les dan menempuh ujian, Vivi hanya berhasil memperoleh skor IELTS overal 5.5 yang masih jauh dari persyaratan untuk melamar studi master di luar negeri, yang mematok nilai overall score direntang 6.5-7. Vivi kembali bekerja keras belajar IELTS dan mengikuti tes hingga tiga kali. Namun sayang, skor Vivi paling tinggi hanya overall 6. Vivi masih belum memenuhi syarat untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Sementara teman-teman sesama pejuang beasiswa luar negeri sudah berangkat satu persatu, langkah Vivi sempat terhenti karena kesulitannya dalam persiapan bahasa.

Memutuskan Mengikuti Program Working Holiday Visa (WHV)

Setelah berbagai usaha terutama menghabiskan banyak dana untuk persiapan bahasa yang belum jua membuahkan hasil, Vivi mulai mencari opsi lain untuk dapat pergi ke luar negeri. Vivi memperoleh informasi bahwa adanya kesempatan ke Australia melalui program Working Holiday Visa.

Vivi akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes WHV. Bagi Vivi, program ini juga tetap memberinya kesempatan untuk merasakan hidup di luar negeri. Karena persyaratan bahasa yang dibutuhkan untuk WHV memang lebih rendah dari syarat untuk studi, Vivi berhasil lulus. Ia berangkat ke Australia pada September 2016, namun sebagai pekerja bukan mahasiswa.

Vivi saat bekerja di salah satu toko makanan di Australia. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Menjaga Mimpi

Bekerja di luar negeri menjadi hal yang sangat baru bagi Vivi. Ia mendapat kesempatan mengecap cara hidup dan bekerja di negeri orang. Namun Vivi tetap berusaha untuk tetap mencari jalan kembali ke bangku kuliah.

Selama bekerja pun Vivi memiliki lingkungan yang mendukungnya untuk kembali ke bangku sekolah. Ia banyak bergaul dengan teman-teman mahasiswa asal Indonesia. Sebab itu, Vivi tetap merasa dekat dengan atmosfer dunia akademik di luar negeri. Iaa selalu berharap dan berdoa semoga ada jalan baginya untuk bisa menjadi mahasiswa.

Vivi saat mengikuti pengajian di Masjid Indonesia Westall di Melbourne. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Vivi tak pernah benar benar menyerah dari mimpinya untuk sekolah sekalipun iaa sudah tinggal dan bekerja di luar negeri. Baginya, dengan bekerja ia bisa meningkatkan kemampuan bahasanya karena interaksinya dengan native speaker pada saat bekerja. Ia berharap pengalaman tersebut akan membantunya untuk lulus persyaratan bahasa saat kuliah.

Jatuh Bangun Belajar Bahasa 

Setelah menikah Vivi kembali mengusahakan untuk bisa kuliah. Namun hal ini kerap tertunda karena berbagai alasan. Mulai dari persoalan visa, persiapan kuliah, dana, dan lain lain. Hingga akhirnya saat memperpanjang visa, setelah mempertimbangkan berbagai opsi, Vivi memutuskan untuk lanjut studi dalam kondisinya yang sedang berbadan dua.

Berdasarkan diskusi panjang lebar dan pertimbangan masa depan, Vivi mantap memilih program Graduate Diploma pada jurusan Early Childhood Education di Victoria University. Menurutnya, jurusan ini sangat dibutuhkan di Australia saat ini sejalan dengan program pemerintah setempat untuk memberi subsidi pendidikan anak usia dini untuk mendukung ibu yang bekerja. Tambahan lagi, jurusan ini sesuai untuk Vivi yang akan menjadi ibu di luar negeri jauh dari keluarganya.

Namun, sekalipun sudah bertahun tahun di luar negeri, Vivi masih terkendala bahasa. Persyaratan untuk studi Graduate Diploma sangat tinggi, di mana ia harus memiliki skor IELTS overall 7. Menyadari kelemahannya, Vivi kembali menyiapkan IETLS dengan formal di sebuah lembaga bahasa di Indonesia. Vivi belajar bahasa secara daring di tengah kondisinya sebagai ibu muda yang harus tetap mengurus bayi cantiknya. Tentunya hal ini tidaklah mudah, namun bagi Vivi itulah perjuangannya.

Vivi akhirnya mampu mendapat skor IETLS 7. Namun lagi-lagi Vivi terkendala dengan rincian skor yang tidak sesuai dengan persyaratan yang diminta kampus tujuan. Pada akhirnya, ia belum bisa mendaftar kuliah.

Ibarat habis gelap terbitlah terang, ada cara lain untuk mendaftar kampus selain menggunakan skor IELTS yaitu melalui tes PTE. Vivi pun mulai belajar PTE dan mengikuti ujian. Hal ini pun tidak mudah, di mana Vivi harus mengikuti ujian PTE sampai dua kali hingga berhasil memperoleh skor yang sesuai dengan kampus yang ia inginkan.

Akhirnya, dengan perjuangan jatuh bangun yang panjang serta bantuan dan dukungan suaminya, Vivi berhasil diterima di Victoria University pada jurusan Early Childhood Education.

Kembali ke Bangku Kuliah 

Akhirnya Vivi berhasil menaklukkan kelemahan terbesarnya. Vivi dapat kembali ke bangku sekolah dengan dukungan suami yang dengan senang hati menjadi sponsor pendanaan pendidikan Vivi termasuk semua kebutuhan Vivi untuk sekolah.

Vivi dan keluarganya saat liburan ke Castle Balarat. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Perkuliahan Vivi di Victoria University memakai sistem blok, dimana setiap blok terdapat assessment dalam jangka waktu satu bulan. Pelaksanaan kuliah terintegrasi secara daring dan luring. Vivi mengaku sangat kesusahan saat harus kuliah online tiga kali seminggu. Hal tersebut dikarenakan Vivi harus menyiapkan anaknya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus bersama anak, suami, serta mertuanya. Vivi memperoleh dukungan penuh untuk studi agar tetap bisa menyusui dan mengurus anaknya.

Vivi mengaku sempat shock dengan sistem belajar dan juga padatnya jadwal perkuliahannya. Ia kesulitan beradaptasi, terlebih karena Vivi tidak memiliki background pada jurusan Early Childhood Education. Apalagi saat jadwal perkuliahan dan praktek atau placement harus dilaksanakan secara beriringan. Selain itu, Vivi juga harus menyelesaikan deadline tugas setiap pekan.

Di sisi lain, ia juga mengakui sistem ini sangat membantu mahasiswa untuk memahami bagaimana menerapkan teori yang dipelajari  di kelas. Menariknya, Vivi berkesempatan berinteraksi langsung dengan anak-anak dan belajar langsung mengaplikasikan ilmunya.

Vivi juga menambahkan terkadang ia harus membantu suaminya bekerja terlebih dahulu sebelum berangkat kuliah demi tetap membersamai tumbuh kembang buah hatinya.

Perjuangan yang Berujung Indah

Dengan semua kesulitan yang dihadapi, Vivi mengaku sangat bersyukur dan masih tetap bisa mengikuti  kegiatan lain superti belajar Tahsin dan kegiatan sosial lainnya. Kerja keras Vivi dan dukungan penuh keluarganya tentu tak sia-sia. Vivi berhasil meraih HD, nilai tertinggi dalam sistem penilaian di Australia, untuk dua blok yang sudah dilaluinya.

Vivi bersama teman temannya dalam kegiatan Tahsin for Kids. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Kami sebagai columnist yang mencoba mengulas kisah vivi pun merasakan susahnya Vivi membagi waktu. Kerap kali wawancara dengan Vivi tertunda, dan dilakukan lewat voice note. Vivi pun sering  menjawab pertanyaan kami saat sudah larut malam di benua hijau itu. Namun demikian, kami sangat berterimakasih sebab Vivi tetap mengusahakan untuk merespon pertanyaan kami. Sukses selalu buat Vivi sekeluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here