Gap Year: Dari Asa Hingga Beasiswa Tiga Negara Macan Asia

0
1021

Entah bagaimanapun, semesta akan menunjukan jalan bagi kita untuk meraih impian itu, Taufik 2022. Taufik Muhamad Yusup merupakan awardee Global Korea Scholarship (GKS) yang berkuliah di KAIST dengan jurusan Computer Science. Sebelum sampai ke tahap ini, Taufik menjalani gap-year selama tiga tahun dan akhirnya Taufik mendapatkan beasiswa dari 3 negara yaitu Korea, Jepang, dan Tiongkok. Mari kita simak cerita Taufik lebih lanjut.

************

Halo Taufik, apakah boleh memperkenalkan diri dahulu?

Halo kak, nama saya Taufik, saya berasal dari kota kecil di Jawa Barat, yaitu Cianjur. Saat ini saya sedang menempuh semester 4 di salah satu Universitas di Korea yaitu Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) dengan mengambil double degree di jurusan Computer Science dan Business & Technology Management tapi ada rencana ganti jurusan atau mungkin hanya mengambil minor karena sekaran tertarik di bidang Science & Technology Policy. Saya merupakan salah satu penerima beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program), sekarang dikenal dengan sebutan Global Korea Scholarship (GKS), pada tahun 2020. Jadi sebenarnya saya telat 4 tahun masuk kuliah dibandingkan teman-teman seangkatan saya yang lain. Teman-teman saya semua sudah selesai S1 sedangkan saya baru ada di tingkat 2, tapi saya merasa 4 tahun yang saya sudah lewati itu semua ada hikmahnya (3 tahun gap year dan 1 tahun sekolah bahasa Korea). Dalam perjalanan 4 tahun itu,  saya jatuh bangun mencari beasiswa, saya belajar banyak hal dan saya rasa 4 tahun itu membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Foto di KAIST. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Wah, Apa boleh bercerita lebih lanjut tentang 4 tahun itu?
Jadi kak, saya lulus SMA pada tahun 2017 tetapi saya tidak bisa lanjut kuliah karena keluarga sedang mengalami kesulitan finansial. Tetapi waktu itu, saya memiliki mimpi untuk menempuh studi ke luar negeri karena setelah lulus SMA saya ingin mandiri secara finansial tanpa harus membebani orang tua. Oleh sebab itu, saya sudah mencari info beasiswa sejak SMA kelas 3 dan saya memulai perjalanan saya mendaftar beasiswa dari beasiswa Turki dan Mitsui Bussan, Jepang.

Saya sempat mendaftar SNMPTN juga, tetapi yang terjadi adalah saya tidak lolos SNMPTN dan Mitsui Bussan, tetapi lolos seleksi berkas untuk beasiswa Turki. Akan tetapi, karena masih ada step lain, dan chance untuk gagal masih ada, saya mendaftar SBMPTN. Singkat cerita, saya lolos SBMPTN tetapi di pilihan ketiga, di mana waktu itu saya tidak terlalu memikirkan jurusan yang saya pilih secara matang dan itu membuat saya ragu untuk memilih apakah lebih baik kuliah di dalam negeri atau take a risk menunggu hasil interview beasiswa Turki. Pada akhirnya, saya memilih untuk mengambil resiko dan menunggu hasil beasiswa Turki. Setelah itu, bulan September 2017, diumumkan bahwa saya tidak lulus beasiswa Turki. Disitu, saya merasa gagal dan pastinya kecewa. Teman-teman saya yang lain sudah mulai perkuliahan, tetapi saya harus berkutat dengan gap year tanpa akhir yang tidak pasti. Akan tetapi saya harus bertanggung jawab atas pilihan saya, akhirnya saya menyusun rencana apa saja yang ingin dilakukan selama gap year. 

Di tahun berikutnya, saya ingin meningkatkan chance saya dengan mendaftar ke banyak beasiswa, tetapi waktu itu saya tidak punya dokumen pendukung seperti IELTS/TOEFL iBT dan SAT. Saya akhirnya berpikir, bagaimana caranya supaya saya bisa mengumpulkan uang untuk dapat mengambil tes-tes tersebut, karena bagi saya tes-tes tersebut sangatlah tidak murah. Selain itu, saya juga ingin meningkatkan softskill saya dan pas banget di akhir tahun 2017 ada pembukaan pendaftaran untuk program workshop dari YSEALI di Kamboja, otomatis saya coba-coba apply, karena jujur kalau lihat dari kualifikasi, saya tidak punya hal yang bisa dibanggakan jadi saya tidak berekspektasi apa-apa.

Tidak terasa sudah bulan Januari 2018. Sore itu saya sedang bersama teman saya mengobrol sembari menikmati seblak dan tiba-tiba notifikasi masuk di hp saya. Saya terdiam sejenak mencoba memproses isi dari email yang baru saya dapat. Email tersebut menyatakan kalau saya terpilih menjadi salah satu representatif Indonesia untuk menghadiri workshop ini. I couldn’t believe it but it is really happening – I have a chance to go abroad for the first time and all funded by the US Embassy in Phnom Penh. Akan tetapi setelah dinyatakan lolos, jujur saya agak takut, karena waktu itu saya sangat lemah dalam berbahasa Inggris dan juga dalam berkomunikasi. Setelah mempertimbangkan semuanya, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini dan meng-challenge diri saya untuk memperbaiki kelemahan saya. Akhir Februari 2018, saya berangkat ke bandara dan akhirnya bertemu dengan delegasi Indonesia lainnya. Saya cukup kaget karena ternyata yang terpilih untuk program YSEALI workshop kali ini itu ada 7 orang dan di mana yang lainnya merupakan researcher dan guru muda, apalah saya yang hanya seorang lulusan SMA tanpa pengalaman apa-apa. Hari itu bisa dibilang sangat bersejarah bagi saya. Hari dimana saya bepergian menggunakan pesawat untuk pertama kali, dan juga hari pertama di mana kaki saya berpijak di tempat di mana semuanya berbeda dengan tempat yang selama 18 tahun saya tinggali. Saya sangat bersyukur, karena YSEALI ini menjadi stepping stone untuk saya yang membukakan gerbang ke kesempatan lain yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Saat mengikuti program YSEALI. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

Di tahun 2018 juga akhirnya saya mampu untuk mengambil tes TOEFL iBT yang bagi saya itu adalah tiket untuk menebar berbagai aplikasi beasiswa ke berbagai negara. Mulai dari Turki, Jepang, Tiongkok, India, Belanda, Korea saya coba untuk mendaftar. Singkat cerita, saya masih belum beruntung untuk mendapat beasiswa yang saya inginkan hingga saya mendapatkan email di penghujung Juli 2018. Saya dinyatakan lolos beasiswa Chinese Government Scholarship di University of Science and Technology of China (USTC). Saat itu saya sempat lupa pernah mendaftar beasiswa ini dikarenakan prosesnya hanya mencakup seleksi berkas saja. Setelah menerima pengumuman itu, saya jujur ragu untuk berangkat atau tidak dikarenakan saya tidak yakin akan mampu berkuliah menggunakan bahasa mandarin yang dikenal sebagai salah satu bahasa tersulit di dunia. Tetapi setelah berdiskusi dengan keluarga, orang tua meminta saya untuk mencoba dulu hingga akhirnya di bulan Agustus 2018, saya pergi ke negeri tirai bambu. Selama saya belajar di Tiongkok, saya beruntung bisa bertemu teman-teman dan laoshi yang sangat baik. Akan tetapi semesta hanya mengizinkan saya untuk bersinggah di Tiongkok, karena di akhir winter 2018, dengan suatu alasan saya tidak bisa melanjutkan perkuliahan saya di Tiongkok dan itu menjadi titik di mana saya dipertemukan dengan tahun yang paling sulit – 2019.

Saat berada di Tiongkok. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

Tahun 2019 adalah waktu di mana saya harus memulai semuanya kembali dari nol. Tahun itu pun saya diperkenalkan dengan teman baru bernama depresi. Everything was 1000 times harder in 2019, but fortunately, the dream that hasn’t gone kept me surviving. Saya bertekad untuk mendaftar beasiswa yang sangat ingin saya apply semenjak masih di SMA yaitu Japanese Government Scholarship (MEXT) melalui jalur GSEP (Global Scientists and Engineers Program) dari Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech). Alasan saya baru memberanikan diri apply karena di tahun 2017 saya belum memiliki sertifikat tes bahasa Inggris yang menjadi salah satu persyaratan program ini. Di tahun 2018, saya sudah siap dengan semua dokumen, akan tetapi ada peraturan baru dimana kita harus membayar application fee sebesar kurang lebih 2 juta rupiah dan saya tidak memiliki uang tersebut pada saat itu. Hingga akhirnya di 2019, salah satu senior saya ketika di Tiongkok dulu tiba-tiba menanyakan kabar, dan setelah saya bercerita mengenai situasi saya saat itu, beliau menawarkan untuk membantu membayarkan uang aplikasi saya untuk program GSEP ini. Saat itu saya tidak bisa berkata apa-apa melainkan mengiyakan tawaran tersebut. Saya bersyukur karena Tuhan selalu mendekatkan saya dengan orang-orang baik. For Kak Hasfi if you read this thank you soooo much! huhu

Sisa uang tabungan saya yang awalnya akan dipakai untuk mendaftar GSEP akhirnya saya alokasikan untuk mengikuti tes SAT Subject Tests dengan harapan bisa meningkatkan peluang saya mendapatkan beasiswa ini. Agustus 2019, akhirnya saya mendaftar program GSEP. September 2019, saya kembali mencoba mendaftar GKS lagi dengan alasan saya masih memiliki dokumen yang saya submit tahun sebelumnya, dan di tahun 2019, kuota GKS untuk S1 tiba-tiba meningkat jadi 5 orang untuk Indonesia. Karena di percobaan kedua saya tidak se ambisius dibandingkan ketika pertama kali mendaftar, saya isi semua pilihan universitas saya dengan universitas top di Korea yaitu KAIST, SNU dan Korea University (mohon jangan ditiru haha). Oktober 2019 adalah waktu dimana kabar baik bermunculan. Saya dinyatakan lolos seleksi berkas GSEP dan dilanjutkan dengan tes tertulis dan interview yang dimana tes tulisnya itu sangat sulit untuk saya. Tidak disangka, saya juga lolos seleksi berkas GKS untuk kedua kali, padahal saya pesimis karena dulu ada rumor bahwa yang lolos GKS jalur embassy untuk S1 adalah orang yang baru lulus SMA, sedangkan saya lulus sudah 2 tahun yang lalu. Dan di akhir bulan Oktober saya dinyatakan lolos seleksi interview beasiswa GKS jalur embassy yang dimana biasanya sudah hampir 95% akan lolos hingga tahap akhir. Benar-benar banyak hal yang tidak terduga terjadi begitu saja.

Life at KAIST:Kesempatan berjalan-jalan ke Inggris saat mewakili KAIST. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

November 2019 saya dinyatakan lolos second round beasiswa GKS dan saya diharuskan untuk melakukan medical check up. 10 November adalah tanggal dimana program GSEP diumumkan. Akan tetapi karena sistem pengumumannya offline, saya harus menunggu surat keputusannya untuk sampai di rumah saya. Waktu itu saya tidak terlalu berharap karena awardee untuk GSEP itu hanya 8 orang se dunia, sedangkan kandidat yang lolos ke tahap interview dan tes tulis dari Indonesia saja ada sekitar 15 orang yang dimana mereka adalah orang-orang keren yang sudah berkuliah di universitas bergengsi seperti ITB, UI, UGM, bahkan ada juga beberapa yang pernah ikut olimpiade. 

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan medical check up untuk memenuhi persyaratan beasiswa GKS. Sekembalinya saya ke rumah setelah melakukan medical check up, kakak saya memberi tahu kalau ada surat untuk saya, dan ternyata itu adalah surat keputusan dari GSEP. Tanpa berharap apa-apa, saya ingin membuat video reaksi seperti orang Amerika saat mendapatkan college acceptance letter. Saya menekan tombol rekam di hp saya dan mulai mengeluarkan lembaran kertas dari amplop surat yang saya dapat, tangan saya bergetar hingga akhirnya teriakan kebahagiaan keluar begitu saja ketika saya membaca kata Congratulations di kertas yang saya pegang. Saya sangat sangat bersyukur dan bahagia karena akhirnya semua kerja keras, keringat, dan tangis terbayar di hari itu. 

Tiga beasiswa yang diterima Taufik. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

Tetapi disini saya dihadapkan pada dua pilihan besar, memilih GKS atau GSEP. Jujur, Jepang merupakan negara impian saya di Asia untuk belajar. Jurusan saya di program GSEP Tokyo Tech adalah Transdisciplinary Science and Engineering, yang bagi saya itu menarik, tetapi di Korea saya memilih jurusan Computer Science yang sangat ingin saya pelajari dari dulu. Saat itu saya bingung diantara faktor mana yang lebih penting bagi saya, jurusan atau negara tempat studi. 

Sembari menunggu pengumuman universitas untuk program GKS, saya melakukan banyak riset dan me-list pro dan kontra untuk dua pilihan saya itu. Saya juga mencoba untuk bertanya kepada orang-orang yang saya percaya. Lucunya, saya sempat berdoa semoga saya ditolak KAIST, karena ini akan membuat pilihan saya menjadi lebih mudah. Mengapa? Karena KAIST merupakan satu-satunya kampus yang memberikan pelajaran dalam bahasa inggris dibandingkan SNU dan KU, yang menjadikan KAIST ini saingan absolut program GSEP Tokyo Tech karena program GSEP pun akan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama pembelajarannya. Selain itu belum ada track record orang Indonesia yang mendapat beasiswa GKS S1 di KAIST sebelumnya yang di mana chance saya untuk ditolak KAIST sangatlah tinggi.

19 Desember 2019 adalah jadwal bagi universitas yang kita pilih untuk memberikan pengumuman. Saya sangat sangat terkejut karena hasilnya adalah saya diterima di KAIST dan KU, dan ditolak SNU. Perasaan saya sekarang? Campur aduk, senang tetapi bingung lebih mendominasi karena ini membuat pilihan menjadi sulit. Akhirnya setelah berkutat dengan dilema dan menimbangkan segalanya, saya memilih untuk mengambil GKS di KAIST dan melepas GSEP Tokyo Tech. Faktor lain yang membuat saya memutuskan pilihan ini adalah uang settlement ketika saya tiba di negara yang akan saya pilih tersebut. Pertimbangannya, settlement di Korea jauh lebih murah dibandingkan di Jepang dan beruntungnya, kakak teman SMA saya bersedia untuk meminjamkan uang untuk saya bertahan di sebulan pertama ketika saya tiba di negara yang akan saya pilih. Karena saya ingin mengembalikan uang yang saya pinjam secepat mungkin, saya berpikir akan lebih wise ketika saya memilih Korea untuk melanjutkan studi saya. 

Kalau ditanya, apakah berat? Sangat berat. Keputusan yang mudah? Sangat tidak mudah. I feel bad karena saya tidak berniat untuk menyia-nyiakan kesempatan tetapi saat itu saya harus memilih dan untuk sampai ke tahap itu juga bukan hal yang mudah bagi saya.

Akhirnya tahun 2020 saya berangkat ke Korea untuk memulai pembelajaran Bahasa Korea di Dongseo University, Busan. Pada tahun 2021 saya baru memulai perkuliahan saya di KAIST yang terletak di kota Daejeon. 

Life at KAIST: Saat mewaikili KAIST untuk leadership program di Inggris. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Ternyata perjalanannya panjang juga ya selama 4 tahun sampai akhirnya dapat 3 beasiswa sekaligus. Ada pesan yang mau disampaikan ke teman-teman yang sedang berjuang mencari beasiswa?

Mungkin dari yang saya alami saya semakin percaya kalau Tuhan itu punya rencana dibalik segala perjalanan yang kita lalui. Kita tidak tahu apa rencana Tuhan di balik segala kegagalan, jatuh bangun yang kita hadapi. Sesulit apapun jalan untuk menggapai mimpi kita, jangan berhenti selagi kita masih mampu dan terus untuk berusaha yang terbaik. Entah bagaimanapun, semesta akan menunjukan jalan bagi kita untuk meraih impian itu. 

Ketika saya memulai gap year, saya sedih, marah, malu, dan pastinya kecewa. Tetapi pada akhirnya saya sangat sangat bersyukur untuk mengalami semua itu karena saya banyak belajar pelajaran hidup yang saya yakin saya tidak akan mendapatkanya di universitas ataupun tempat lain. Tiga tahun tersebut mengajarkan saya untuk berpikir, memandang masalah, dan membuat keputusan secara lebih bijaksana,  dan tiga tahun itu pun yang membentuk saya menjadi pribadi yang seperti sekarang ini. Bagi saya gap year adalah sekolah kehidupan saya

God’s plan is really mind-blowing and incomprehensible. I’m really grateful that somehow I am a nobody,  who doesn’t come from a privileged family, managed to study abroad and even got three scholarships from Japanese, Chinese and Korean Governments. Saya juga bukan orang yang pintar, tapi saya selalu mencoba yang terbaik dan berusaha untuk tidak menyerah. Saya bisa melewati 3 tahun yang penuh tantangan ini dan menemukan ujung dari gap year saya. Kalau saya bisa, kamu pasti jauh lebih bisa, maka dari itu semangatlah! 🙂

Life at KAIST: Bersama teman grup saat mengikuti lomba. Sumber: Dokumentasi Pribadi.
Life at KAIST: Bersama para Staff ISSS KAIST. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

****************

Editor : Stephanie Triseptya Hunto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here