Pencarian Ph.D. dengan Beasiswa Kampus di Amerika untuk ‘Student Mom’: Apa saja yang perlu disiapkan dan dipertimbangkan?

0
1000
Dini berfoto di depan gerbang VTech bersama anak dan suami. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Dini Hajarrahmah, mahasiswa bisnis S3 jurusan manajemen turisme di Virginia Tech, membagikan beberapa tips dan trik yang ia punya seputar persiapan studi Ph.D di Amerika Serikat, terutama jika ada rencana membawa anak dan pasangan ikut serta ke luar negeri. Simak cerita Dini di bawah ini dan jangan lupa cek kanal Youtube dan media sosial yang ia cantumkan. Selamat membaca!

***

Pandemi di tahun 2020 membuat mimpi saya dan suami untuk melanjutkan Ph.D. muncul kembali. Di tengah sibuknya putar otak untuk mempertahankan bisnis kami sembari mengajar online di kampus serta mengasuh anak kami 24/7, saya bertekad ingin memulai mempersiapkan studi S3. Dari pengalaman mendaftar S2 di Amerika tahun 2014 yang akhirnya mengantarkan saya menempuh program Master di Economic Development and Tourism Management & Innovation and Technology di Boston University selama dua tahun (2015-2017), saya butuh 3 tahun untuk mempersiapkan aplikasi hingga diterima. Untuk itu, kali ini saya punya ekspektasi yang tidak terlalu tinggi untuk bisa langsung diterima di program Ph.D. Namun siapa sangka, Alhamdulillah saya diberikan rejeki di tahun 2022, diterima di Virginia Tech – Ph.D. in Business dengan konsentrasi di Hospitality and Tourism Management. Disini saya akan berbagi sedikit apa saja yang perlu disiapkan dan dipertimbangkan ketika akan memutuskan untuk melanjutkan studi S3 di Amerika dengan beasiswa kampus, terutama untuk para Ibu atau Ayah yang akan membawa keluarga ketika studi. Saya dan suami memutuskan untuk bergantian menempuh Ph.D. atau paling tidak salah satu memulai dulu dan nantinya yang satu menyusul mendaftar jika ada kesempatan di tahun kedua atau ketiga tinggal disini.

              Saya memulai pencarian dengan bertanya pada teman-teman yang sudah dahulu menjalani program Ph.D., membaca artikel dari Indonesia Mengglobal, dan menghadiri beberapa webinar. Saya mencoba untuk mengenal lebih dekat, seperti apa sih studi Ph.D.? Lalu saya mulai menentukan kira-kira bidang studi apa yang saya akan ambil. Saya ingat salah satu advice dari host mom saya di Kanada yang menjadi ibu angkat saya ketika program pertukaran pemuda antar negara (PPAN) adalah “Jika kamu memutuskan akan mengambil Ph.D., ada dua hal yang perlu dipertimbangkan; carilah Profesor yang punya kecocokan baik dari sisi personal maupun professional dan pastikan kamu meneliti hal yang kamu suka karena Ph.D. akan menjadi bagian dari hidupmu dan menyita sebagian besar waktmu hingga kamu menyelesaikannya.” Setelah mengalami 1 semester menjadi mahasiswa Ph.D. di Amerika, saya rasa nasehat itu sangat relevan. Sangat penting untuk memiliki Profesor yang tidak hanya sejalur bidang penelitiannya tapi juga menjadi mentor yang baik karena kita akan terus bekerja bersama dia selama program Ph.D. Lalu penting memiliki topik penelitian yang kita sangat suka sehingga seberat apapun nanti jalannya, paling tidak kita melakukan sesuatu yang kita sukai.

Dini dan keluarga berfoto bersama di depan sebuah cofee roastery di Floyd, Virginia. Floyd adalah kota kecil 40 menit dari Blacksburg dan Christianburg. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Lalu bagaimana tahap yang perlu disiapkan untuk mulai mendaftar program Ph.D. di Amerika?

  1. Riset mendalam tentang kampus, program dan Profesor yang cocok

 Salah satu yang saya tentukan dari awal adalah kampus mana saja yang saya akan coba pertimbangkan. Saya membuat excel file yang isinya nama kampus, lokasi kotanya, program Ph.D.-nya, siapa saja potensi Profesor yang bisa saya email untuk di propose menjadi supervisor, dan yang paling penting: kisaran beasiswa yang diberikan serta benefit lainnya seperti travel grant, research grant, dll. Kabar baiknya, banyak kampus di Amerika yang cukup blak-blakan untuk info seperti ini. Mereka cantumkan jumlah beasiswanya, daftar nama professor lengkap dengan CV, publikasi dan kontaknya juga ada di website. Bahkan profil mahasiswa Ph.D. yang masih menempuh studi juga ada. Saya mengontak beberapa mahasiswa Ph.D. untuk menanyakan bagaimana program yang mereka jalani, pengalaman bekerja bersama Profesor X, berapa dana yang didapat, dll. Menurut saya informasi dari mereka sangat bermanfaat untuk dijadikan pertimbangan. Saya melakukan riset awal ini mungkin sekitar 2-3 bulan. Ohya, sebelum saya memutuskan mendaftar beasiswa kampus, sebenarnya saya coba juga beasiswa Fulbright, LPDP, dan Australia Awards dari 2020 – 2021. Namun ternyata rejekinya tidak disitu. Sehingga saya memutuskan untuk mendaftar langsung Ph.D. dengan skema beasiswa Graduate Assistantship dimana kita menjadi mahasiswa S3 sambil bekerja selama 20 jam/minggu menjadi Research atau Teaching Assistant. Bahkan di tahun ketiga, kita pun sudah harus mengajar sendiri kelas S1 yang di-assign untuk kita.

2. Email Profesor dan Ajak Online Meeting

  Dari list di Excel tadi, saya mulai mensortir Profesor mana saja yang paling cocok dengan research interest saya. Saya membaca sekilas riset mereka yang sudah terbit dan mulai email satu persatu. Mungkin ada hampir sekitar 50 Profesor yang saya email di awal. Biasanya saya menyiapkan template yang hampir sama lalu memodifikasi isi email menyesuaikan dengan riset mereka dan apa yang saya tahu tentang mereka. Saya juga lampirkan CV saya di dalam email. Di akhir email saya mengusulkan jika mereka tertarik untuk mengeksplor saya lebih lanjut dan sedang mencari mahasiswa Ph.D., saya ingin mengajukan Zoom / online video call meeting dengan mereka. Jika ingin lihat seperti apa isi email saya, silakan nanti bisa hubungi saya lebih lanjut 😊  Saya ingat dari sekitar 50 Profesor yang saya email, mungkin hanya sekitar 20 yang membalas. Ada yang menolak mentah-mentah karena sedang tidak mengambil mahasiswa Ph.D. atau merasa profil saya tidak match, banyak yang tidak membalas sama sekali, ada yang tertarik dan bertanya lebih lanjut tentang pengalaman riset saya, ada yang sudah sangat tertarik di awal tapi di-PHP di akhir-akhir tidak ada balasan :D, dan yang membuat saya happy : ada sekitar 9 yang saya akhirnya zoom dengan mereka. Dari 9 tersebut, hanya 2 yang berasal dari kampus UK dan sisanya kampus Amerika. Mungkin nanti akan saya bahas di artikel selanjutnya apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan ketika mendapatkan kesempatan untuk “pre-interview” dengan Profesor yang kita targetkan.

3. Persiapkan GRE/GMAT, IELTS, Essay, dan Surat Rekomendasi

 Nah, diantara semua persiapan Ph.D. di Amerika, rasanya ini yang paling susah untuk saya. Pada dasarnya, saya memang tidak terlalu suka tes semacam GRE/GMAT, IETLS, dan tes-tes serupa lainnya 😀 Saya sudah pernah mengambil GRE dan GMAT untuk S2 saya dulu namun hasil tesnya sudah tidak bisa saya pakai karena sudah lebih dari 5 tahun. Jadi terpaksa saya harus belajar lagi untuk tes GRE/GMAT yang tentunya lebih menantang dengan memiliki Toddler usia 2 tahun saat itu. Saya memilih GRE at home karena dalam masa pandemi saya menghindari berinteraksi di luar. Saya tes dari rumah dengan laptop selama kurang lebih total 4-5 jam karena banyak protokol yang harus dilalui dulu. Alhamdulillah-nya karena pandemi, beberapa kampus tidak mewajibkan GRE namun beberapa masih meminta skor kita. Untuk IELTS, saya tes di IDP Bandung. Untuk essay, mungkin nanti bisa saya bahas di artikel terpisah dan surat rekomendasi saya minta dari Profesor saya di Boston University dan Assistant Professor rekan mengajar dan riset di kampus saya mengajar part time di SBM-ITB.

4. Submit Aplikasi dan Info Kembali ke Profesor

Pastikan submit aplikasi jauh-jauh hari dari Deadline untuk memastikan sistem website kampusnya tidak sibuk. Kebanyakan kampus di Amerika deadline-nya di 15 Januari namun beberapa juga ada yang di pertengahan Desember. Sangat penting juga mengingatkan recommender kita untuk submit recommendation letter sebelum deadline karena sistem kampus akan mengirimkan email yang berisi link dimana recommender bisa menuliskan rekomendasinya untuk kita. Jadi harus mereka yang submit recommendation letter-nya online. Jika sudah submit aplikasinya, tidak ada salahnya kita menginfokan kembali ke Profesor yang sudah berkorespondensi dengan kita melalui email bahwa kita sudah submit aplikasi dan semoga akan ada kabar baik nantinya. Biasanya ada kampus yang akan meminta interview lanjutan jika kita lolos screening di awal. Namun ada juga yang tanpa interview lagi karena kita sudah ‘pre-interview’ dengan calon Supervisor kita. Setelah ngobrol dengan Profesor disini, ternyata memiliki Profesor yang confirm ingin merekrut kita ini menjadi salah satu kriteria penerimaan paling penting disamping skor GRE, IELTS, Essay, dll. Jadi pastikan teman-teman sudah punya pegangan Profesor yang bersedia menjadi Supervisor jika ingin mendaftar program Ph.D. Ini yang menurut saya bedanya mendaftar program Master dan Ph.D.

Dini makan malam bersama dengan anggota Persatuan Mahasiswa Amerika Serikat cabang Blacksburg. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Lalu apa saja yang perlu dipertimbangkan jika sudah diterima?

Pada akhir tahun 2021 dan awal tahun 2022, saya akhirnya berhasil mengirimkan aplikasi ke 8 Kampus di Amerika dan 1 di Kanada. Mungkin nanti akan saya share di artikel yang lain kenapa akhirnya saya memilih Ph.D. di Amerika dan tidak di negara lain. Dari 9 kampus tersebut, saya diinterview di 4 kampus dan diterima dengan beasiswa skema Graduate Assistantship di 2 kampus. Ketika sudah di tahap ini, yang saya jadikan pertimbangan adalah jumlah dana dan benefit yang diberikan, Profesor, dan lokasi mana yang lebih nyaman dan aman untuk keluarga kecil kami. Akhirnya saya memutuskan menerima tawaran dari Virginia Tech karena benefit-nya yang lebih baik, lokasinya di kota kecil Blacksburg yang ramah anak, Ph.D. environment-nya yang kolaboratif dan suportif antar sesama mahasiswa Ph.D. lainnya dan Profesornya yang saya sudah incar dari awal. Dari percakapan singkat melalui Zoom dengan beberapa Profesor, kita jadi punya sense untuk menilai “Kira-kira bisa ga ya kita kerja dan dibimbing dengan Profesor ini selama kurang lebih 4-5 tahun?”

Setelah itu, tahap yang menurut saya cukup penting juga adalah mengirimkan email pemberitahuan ke beberapa Profesor lain yang menerima kita namun tidak kita ambil tawarannya, bahwa sayangnya kita belum bisa bekerja dengan dia namun tertarik untuk nantinya berkolaborasi riset ke depannya.

Nah, begitulah kurang lebih tahapan saya mempersiapkan aplikasi Ph.D. di Amerika dari tahun 2020 – 2022. Ketika artikel ini ditulis, saya telah menyelesaikan satu semester Fall dari Agustus – Desember 2022 dan semoga saya bisa share perjalanan Ph.D. saya ke depannya melalui Indonesia Mengglobal! Semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk mendaftar di program Ph.D. impian, All the best!

Dini dan teman-teman sekelasnya ketika mengikuti graduate seminar class dengan Dr. Juan Luis Nicolau dan Dr. Manisha Singal. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

To learn more about my Ph.D. Program:

https://htm.pamplin.vt.edu/graduate/phd-business.html
https://htm.pamplin.vt.edu/directory/hajarrahmah.html

Ikuti perjalanan keluarga kami di Blacksburg, Virginia:

https://www.youtube.com/@battutafamily,  https://www.instagram.com/battutafamily/

Dini membaca buku di Duck Pond kampus saat musim gugur sedang cantik-cantiknya. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here