The Secret of Everything: Kisah Perjuangan Pasangan Pejuang Ilmu di Tanah Britania Raya

0
1096
Menjalani studi dengan keluarga kecil. (Source: personal documentation)

“Manusia yang sukses adalah manusia yang tidak terlalu risau dengan ketidakpastian masa depan, pun tidak risau dengan kegagalan di masa lalunya. Yang Ia lakukan adalah terus berupaya memperbaiki, mempersiapkan dan melakukan hal-hal terbaik di hari ini.”

Kata-kata di atas merupakan ungkapan hati Mulyono dalam menggambarkan perjalanannya mempersiapkan dan menjalani studinya, yaitu MSc pada bidang TESOL di St. Andrews University, UK . Tidak hanya itu, studinya sempat tertunda karena pandemi Covid-19 sehingga terpaksa ia harus mengajukan perpindahan negara tujuan studi. Pada saat bersamaan, ia juga harus menjalankan peran sebagai suami, ayah sekaligus kepala keluarga.

Bagaimana perjalanan Mulyono? Simak artikel di bawah ini!

***

Saya Mulyono, alumni Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mataram. Setelah lulus, saya dan istri berkarir di sekolah Islam kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan non-formal Edensor Indonesia (@edensor.indonesia)  sebagai sarana dan wadah peningkatan kapasitas dan kesejahteraan guru-guru freelancer di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Rencana Studi Tertunda karena Covid-19

Pada tahun 2019, saya Ketika di akhir sesi wawancara beasiswa, salah satu interviewer LPDP tersenyum sambil berucap, “Mulyono, kamu mau gak jadi Duta Pancasila di Australia? Saya pun tersenyum dan mengatakan, “Iya, Pak saya bersedia.”

 Dua bulan setelah itu, alhamdulillah berkat karunia Allah SWT kami menjadi awardee beasiswa LPDP, sebuah rizki sekaligus amanah yang luar biasa. Pada awalnya, kami intake pada bulan Maret 2020 dengan saya di kampus Monash University dan Adelaide University serta istri di Adelaide University dan University of New South Wales. Berdua, kami mengambil jurusan Master of Education in Digital Learning serta Leadership and Policy, namun seketika harapan itu pun pupus ketika mendengar pengumuman Australia close border karena Covid-19 yang merajalela di seluruh dunia. Maka takdir kami kuliah ke Australia pun pupus. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, berharap pandemi ini segera berakhir dan Australia membuka bordernya namun setelah dua tahun lamanya, hal itu tak kunjung terjadi. Maka pada akhirnya LPDP mengeluarkan pengumuman yang membolehkan awardee untuk melakukan perpindahan kampus bagi calon mahasiswa terdampak Covid-19.

Pada waktu itu, saya dan istri mencoba mengajukan proposal perpindahan kampus tujuan studi. Kami berdiskusi sembari membuat list kampus-kampus yang memungkinkan untuk perpindahan kami. Saya yang sejak kecil ingin kuliah ke Amerika menyambut dengan bahagia kabar perpindahan ini dan menjadikannya peluang untuk menempuh studi ke negeri Paman Sam tersebut. Kapan lagi bisa kuliah ke Amerika, pikirku. Saya pun mengajak istri untuk mendaftar di dua kampus Amerika yakni Purdue University dan Texas A&M University. Demikian pula, istri memiliki impian yang sejak lama untuk berkuliah di negerinya Ratu Elizabeth. Dari sekian kampus terkemuka di Inggris, pilihan kami jatuh untuk mendaftar di St Andrews University.

Dua Surat Beramplop Putih dari Amerika

Hari demi hari kembali berlalu. Namun, belum ada tanda-tanda e-mail pengumuman datang. Di waktu yang bersamaan, alhamdulillah, istri sudah hamil. Sempat terpikir untuk menunda kembali kuliah karena tantangan kehamilan, melahirkan dan kuliah bersamaan yang tentu tidak akan mudah. Berbagai macam imaginasi yang melemahkan muncul dikepala. Namun dengan tekad kuat bersama dengan saling menguatakan satu sama lain, kami sepakat apapun yang terjadi kami harus berangkat bersama-sama. Pikirku, tidak perlu risau dengan rasa jeruk asam yang diminum esok hari, toh jeruknya belum diminum. Dengan bersama-sama  saling mendukung serta melakukan persiapan yang matang, kami yakin bisa menjalaninya. Bagi kami, kedua-duanya justru adalah karunia yang tak terhingga.

Hari demi hari berlalu, tiada terasa usia kehamilan telah memasuki 7 bulan dan belum ada tanda-tanda e-mail notifikasi dari kampus-kampus yang kami lamar. Sempat terpikir kembali untuk menunda keberangkatan dan melahirkan di Indonesia. Namun, Allah berkehendak lain. Dua pucuk surat putih tergeletak di depan pintu rumah bertuliskan Texas A&M University. Alhamdulillah, kami akhirnya lulus bersama dan mendapatkan LOA Unconditional untuk intake pada bulan Januari 2022 di kampus impianku sejak kecil ini. Namun, kejutan tidak berhenti disini, sebuah notifikasi e-mail kelulusan juga datang dari kampusnya pasangan raja dan ratu masa depan Britania raya, Pangeran William dan Kate Middleton, St Andrews University, United Kingdom.

Mengambil foto bersama setelah sesi perkuliahan (Source: personal documentation)

Dilema USA dan UK

Hal ini memunculkan kedilemaan bagi kami,  tidak mudah untuk memutuskan untuk kuliah kuliah di US atau UK. Waktu yang terus berjalan istri sebentar lagi akan melahirkan memaksa kami harus segera memutuskan memilih kampus yang mana sebagai tempat terbaik. Kami pun menjadwalkan zoom meeting dengan masing-masing kampus tempat kami diterima dengan memberikan beberapa pertimbangan mengingat kondisi istri yang sebentar lagi akan melahirkan. Selain mendengar pemaparan dari pihak kampus, kami juga berkonsultasi dengan senior-senior kami dan tentu saja keluarga. Setelah menimbang-nimbang masukan dari semuan pihak, kami pun memutuskan untuk berkuliah di St Andrews University dengan mengambil jurusan M.Sc.TESOL.

Mengunjungi St.Andrews Castle (source: personal documentation)

Dengan dukungan keluarga, teman dan guru serta persiapan yang matang, kami pun berangkat ke United Kingdom dengan umur kehamilan sekitar 7 bulan. Ketika kami sampai, pendatang di wajibkan untuk karantina di rumah selama 14 hari. Alhamdulillah, sistem dan pelayanan kesehatan di UK khususnya untuk wanita hamil sangat baik. Semua biaya selama kehamilan sampai melahirkan gratis (cover asuransi) dan kami didampingi seorang midwife sebagai tempat berkonsultasi yang sekaligus memantau kondisi kehamilan istri hingga melahirkan.

Melahirkan Dua Hari Setelah Exam

Hari H itu pun terlihat datang dengan istri sudah memasuki bulan ke 9 dengan jadwal exam yang juga semakin dekat. Pada penghujung pekan exam, istri sudah mulai kontraksi di waktu yang bersamaan dengan deadline tugas dan ujian. Memang, selama dua pekan tugas dan ujian, kami hampir tiap hari bolak balik rumah sakit karena mengira akan segera melahirkan.  Berbeda dengan Indonesia, rumah sakit di UK tidak mengizinkan ibu hamil untuk menginap di rumah sakit untuk menunggu hari kelahiran. Rumah sakit hanya akan mengizinkan menginap jika kondisi benar-benar akan melahirkan dalam 24 jam. Meski berada dalam kondisi yang rumit ini, saya melihat sebuah kejaiban. Istri mengajak baby untuk berkompromi. Istri pun mensugesti dengan berkata sambil mengusap perutnya, “Nak, semoga tetap sehat ya, izin Ibu selesaikan tugas dulu. Setelah itu, Dedek boleh keluar.” Seketika itu pun istri berhenti kontraksi hingga kami selesai ujian dan tugas akhir. Berkat kuasa Allah SWT, tepat dua hari setelah exam, putri pertama kami lahir dengan selamat di Ninewells Hospital, Dundee, UK.

Mengunjungi Dundee Botanical Garden bersama keluarga (source: personal documentation)

The secret of everything.

Menjadi mahasiswa sekaligus suami tidaklah mudah. Namun, jauh tidak mudah menjadi mahasiswi, istri, dan ibu yang mengurus anak di rantauan tanpa keluarga dekat. kami menjadikan tugas-tugas baik ini–menuntut ilmu dan mengurus anak–sebagai dua hal yang Baik. Dua-duanya adalah anugerah yang baik. Bertemunya dua hal baik dalam waktu yang bersamaan akan memperkuat daya kebaikan itu sendiri. Terkadang, kita sering mempertentangkan dua hal yang keduanya merupakan hal  baik dan jatuh pada pilihan harus memilih. Namun, dalam hidup ada juga pilihan untuk melakukan kedua-keduanya. Kami memilih untuk melakukannya bersamaan. Tentu setiap keputusan memiliki konsekuensinya masing-masing. Diskusi dan memohon petunjuk yang kuasa akan membawa kita pada takdir yang terbaik. Saya selalu teringat dengan quote yang menarik dari Uncle Ben dalam film Spiderman yang berbunyi with great power comes great responsibility bahwa dengan anugerah yang besar akan ada tanggung jawab yang besar. Maka, kerjasama antara suami dan istri adalah salah satu kunci untuk melalaui tantangan-tantangan yang ada. Hidup ini adalah tentang melalui dan melewati satu tantangan ke tantangan yang lainnya. Setelah satu tantangan selesai bersiaplah untuk tantangan selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here