Pengalaman Menempuh Pendidikan di Italia: Bagaimana Sistem Perkuliahan di Negeri Pizza?

0
938
Foto di galleria degli Uffizi, Florence Sumber: Dokumentasi Pribadi

Apa yang terlintas dipikiran kalian saat mendengar negara Italia? Pizza atau spaghetti? Menara Pisa? Club sepak bola? Tentu semua pemikiran ini sudah sangat lazim kita dengar bahkan sudah menjadi stereotype negeri pizza secara keseluruhan. Tapi bagaimana dengan pendidikan di Italia? Apakah kamu pernah mendengar sistem pendidikan di Italia? Mungkin masih banyak orang Indonesia yang belum tau bahwa Italia merupakan salah negara yang menjadi incaran mahasiswa internasional karena kualitasnya yang baik. Seperti apa sebenarnya sistem pendidikan terutama perguruan tinggi di Italia?

Yuk baca kisah selengkapnya di bawah.

***

Halo, nama saya Gavin, sekarang saya sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di Roma yaitu LUMSA University dengan jurusan Psychology of Work & Organisational Well-being. Seringkali saya ditanyakan orang mengapa saya menjadikan negara Italia sebagai tujuan studi Master saya, karena cukup jarang orang Indonesia yang menargetkan negara Italia untuk berkuliah. Kebanyakan orang lebih memilih Jerman, Belanda, UK atau Perancis jika menyandingkannya dengan negara di Eropa. Sebenarnya alasannya cukup simple, karena jurusannya sesuai dengan yang saya inginkan dan programnya berbahasa Inggris. Selain itu juga biaya berkuliah di Italia bisa dibilang cukup murah dan sangat worth it dengan kualitasnya yang sangat baik. Sebaik apakah sistem perkuliahan di Italia? 

Yuk simak pengalaman pribadi saya saat menempuh kuliah di Italia.

Cara Mengajar Dosen: Atraktif dan Santai

Hal pertama yang cukup menarik adalah cara dosen mengajar di kelas. Cukup berbeda dengan para pengajar di Indonesia, para pengajar di Italia cenderung lebih ramah dan interaktif saat mengajarkan murid-muridnya. Meskipun sebagian besar metode belajar diisi dengan penjelasan materi melalui slides powerpoint, dosen di Italia selalu memberikan kesempatan untuk muridnya bertanya dan berdiskusi, bahkan mereka juga tidak terganggu dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba dari mahasiswa lalu dengan senang hati akan menjawab. Saat kelas selesai, para murid seringkali mendatangi dan menyerbu dosen untuk bertanya hal yang masih dibingungkan layaknya mengobrol dengan teman sendiri. Setiap dosen pun juga memiliki waktu-waktu tertentu untuk “melayani” mahasiswa, seperti memberi feedback terkait tugas, namun jika ingin melakukan pertemuan dengan dosen diluar jam belajar, harus melalui persetujuan kedua belah pihak terlebih dahulu. 

Selain itu, dosen Italia seringkali menghadirkan guest lecture ketika sedang membahas beberapa topik tertentu sehingga mahasiswa bisa mendapatkan pemahaman yang lebih relevan dari narasumber. Narasumber yang diundang juga selalu orang hebat dan inspiratif di bidangnya, sehingga kelas menjadi lebih menarik dan tidak menutup kemungkinan mendapat insight baru mengenai prospek karir di bidang tersebut.

Pengalaman Menempuh Pendidikan di Italia: Bagaimana Sistem Perkuliahan di Negeri Pizza?
Foto mahasiswa bertanya atau konsultasi setelah kelas perkuliahan selesai Sumber: Dokumentasi Pribadi

Teknis Perkuliahan: Tidak Ada Absensi

Di negeri Pizza ini, sistem perkuliahannya terbilang cukup unik kalau dibandingkan dengan sistem kuliah Tanah Air tercinta. Jika di Indonesia absensi sangat berpengaruh, bahkan ada batasan tetap terkait persentase kehadiran, sangat berbeda dengan kampus Italia, dimana sebagian besar tidak mewajibkan kehadiran. Kebanyakan peraturan di kampus memperbolehkan mahasiswanya “hanya datang saat ujian” saja, meskipun ada beberapa dosen yang melakukan absensi tapi sangat jarang.

Dosen Italia juga kadang memberikan tugas, biarpun terbilang cukup jarang, biasanya akan ada tugas menjelang berakhirnya perkuliahan. Tugas atau project ini nantinya akan membantu mahasiswa untuk menambah nilai mereka saat ujian, bobotnya pun bermacam-macam tergantung dosen pengajar, namun biasanya nilai tugas atau project berkisar antara 20-50%, jumlah yang lumayan besar kan? Tugas yang diberikan pun bermacam-macam, ada tugas individu seperti membuat essay, merangkum pelajaran kuliah, dan yang paling sering adalah tugas kelompok membuat project yang harus dipresentasikan di kelas.

Cara belajar mahasiswa yang berkuliah di Italia bisa dibilang cukup “ambis”, apalagi menjelang ujian. Setiap hari perpustakaan kampus dan hall kampus selalu dipenuhi mahasiswa-mahasiswa yang membawa laptop dan catatan juga buku tebal. Berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang suka belajar “SKS” (sistem kebut semalam), mahasiswa Italia biasanya belajar dari jauh-jauh hari sebelum ujian dan mengerjakan tugas jauh sebelum deadline untuk memastikan diri mereka 100% siap untuk ujian dan juga mengerjakan tugas. 

Pengalaman Menempuh Pendidikan di Italia: Bagaimana Sistem Perkuliahan di Negeri Pizza?
Suasana perpustakaan yang selalu penuh saat menjelang ujian Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sistem Ujian dan Nilai: Kebanyakan Oral Test

Sistem ujian di universitas Italia cukup berbeda dibandingkan Indonesia dan negara lain. Jika umumnya ujian biasanya adalah ujian tertulis, namun tidak di Italia, ujiannya bukan hanya tertulis saja, namun juga oral test atau ujian verbal. Dan inilah yang menjadi momok mahasiswa. Mereka seringkali merasa nervous saat menghadapi ujian verbal. Sistem ujian seperti ini sangat meminimalisir adanya kecurangan seperti menyontek dan memastikan bahwa mahasiswa harus benar-benar mempelajari materi yang ajarkan. Ujian dilakukan one by one dengan dosen, jika mahasiswa sudah belajar dengan baik, pasti bisa menjawab pertanyaan dan mendapat nilai bagus. Tapi kalau sebaliknya, maka mahasiswa harus mengulang ujian kembali.

Grading/sistem penilaian di kampus Italia juga berbeda dari kebanyakan negara, jika umumnya kisaran nilai adalah 0-100 atau dengan alphabet A-E, di sini penilaiannya mulai dari 0-30 dengan standar minimum kelulusan adalah 18. Berikut adalah klasifikasi setiap nilai: 

29–30 Ottimo — Cum Laude (With honors and commendations)

27–28.99 Molto Buono (Very Good)

24–26.99 Buono (Good)

19–23.99 Soddisfacente (Satisfactory)

18–18.99 Sufficiente (Sufficient) 

0–17.99 Respinto (Fail)

Hal yang paling melegakan dengan sistem ujian kampus di Italia adalah bisa mengulang ujian berkali-kali tanpa harus mengulang kelasnya lagi. Jika di Indonesia kita harus mengulang kelas selama satu semester, bertemu adik tingkat dan membayar uang kuliah lagi, tidak dengan di Italia. Jika mahasiswa gagal (nilai dibawah 18) atau merasa tidak puas dengan nilainya, mahasiswa bisa mengambil kembali ujian tersebut untuk meningkatkan nilainya lebih bagus dan mendongkrak nilai GPA (IPK) di waktu ujian selanjutnya. Kemudian untuk waktu penyelenggaraan ujiannya, universitas di Italia menyediakan jadwal ujian di setiap musim, dan rentang waktunya kurang lebih 2 bulan, misalnya untuk musim panas, rentang waktu ujiannya dimulai dari pertengahan Mei sampai bulan Juli. Setiap mata kuliah biasanya memiliki minimal 3 tanggal yang bebas dipilih mahasiswa untuk mengikuti ujian, mahasiswa bisa membuat jadwal ujiannya sendiri.

Pengalaman Menempuh Pendidikan di Italia: Bagaimana Sistem Perkuliahan di Negeri Pizza?
Foto bersama kelas theology saat study tour Sumber: Dokumentasi Pribadi

Overall, kuliah di Italia khususnya di Roma ini seru banget. Selain sistem kuliahnya yang beda, students juga punya privilege dapat harga murah atau bahkan gratis saat mengunjungi museum atau tempat wisata di Italia seperti Colloseum atau Vatican Museum. Di Italia juga tersedia banyak beasiswa yang bisa kamu coba, misalnya MAECI, IYT, beasiswa regional, beasiswa kampus dan LPDP. Kalau memang kamu berencana studi di luar negeri, Italia bisa banget dijadikan destinasi kuliah buat kamu. Setelah kamu tau sistem kuliahnya, sekarang tinggal menyiapkan hal-hal untuk bisa berkuliah di Italia. Semangat!

Editor: Dwiki Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here