Merayakan keberagaman spiritual bersama Muslim Students’ Association

1
2112

Sebegitu saya tiba untuk pertama kalinya di Amerika, saya langsung mengikuti program English as a Second Language di Universitas Yale di New Haven, Connecticut. Di musim panas tahun 2006 itu, saya mulai mengenal www.islamicfinder.org. Kalau kita hendak mencari informasi seputar masjid atau waktu salat, maka situs inilah tempatnya. Cukup ketikkan kode pos tempat kita berada, maka akan muncullah daftar masjid, pusat kegiatan Islam, hingga tempat makanan halal tak jauh dari lokasi kita. Dari situs itu, saya jadi tahu bahwa di kampus Yale terdapat musala dan sebuah organisasi bernamakan Muslim Students’ Association atau biasa disingkat MSA. Pikir saya, oh ini toh organisasi Rohis (Rohani Islam)-nya kampus-kampus di Amerika. Penasaran, saya pun mencoba berkunjung ke musala Yale, yang terletak di lantai basement sebuah asrama dan bersebelahan dengan sebuah gedung kapel non-denominasi. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi benar-benar nyaman dengan karpet yang terhampar rapi. Di dindingnya terpasang kaligrafi Quran dan terdapat rak-rak penuh dengan Quran berbagai bahasa dan buku-buku keislaman. Pantas saja banyak graduate student Yale yang betah berlama-lama di dalamnya. Bukan hanya untuk sekedar menunaikan salat wajib, tetapi juga untuk mengerjakan tugas dan rehat sejenak dari aktifitas kampus lainnya.

Di musim gugur tahun yang sama, saya memulai kuliah strata satu di Wesleyan, yang bersama beberapa liberal arts college ternama lainnya di wilayah Timur Laut Amerika terkelompok dalam sebutan Little Ivies. Betapa terkejutnya saya ketika hari pertama orientasi mahasiswa baru berlangsung, saya bertemu dengan seorang Muslim Chaplain. Chaplain adalah staf di suatu institusi yang dipercaya untuk memberikan arahan spiritual bagi komunitas suatu agama yang ada dalam institusi tersebut. Institusi-institusi kampus sekuler di Amerika yang memiliki populasi mahasiswa Muslim yang signifikan dan mempunyai dana yang cukup biasanya memiliki seorang Muslim Chaplain. Di beberapa tempat, Multifaith Chaplain hadir untuk berusaha membantu mengakomodasi kebutuhan spiritual beberapa komunitas agama sekaligus. Sohaib Sultan, Muslim Chaplain yang menyapa saya di acara orientasi itu, adalah warga negara Amerika keturunan Pakistan. Kelak saya tahu bahwa ia adalah lulusan suatu seminari yang memang khusus memiliki program studi chaplaincy untuk beberapa komunitas agama. Brother Sohaib, begitu ia biasa saya panggil, juga memberitahukan bahwa di Wesleyan terdapat sebuah musala, MSA yang cukup aktif, dan sebuah residential program house bernama Turath di mana murid-murid tingkat atas yang tertarik mempelajari Islam serta kultur Muslim dan Timur Tengah bisa tinggal bersama.

Di dalam buku panduan orientasi mahasiswa baru, salat Jumat dan makan siang bersama MSA dimasukkan ke dalam agenda orientasi. Banyak mahasiswa muslim dan non-muslim yang hadir dalam acara salat Jumat di minggu pertama kuliah itu. Ketika salat, saya perhatikan ada beberapa perbedaan kecil dalam gerakan salat di antara jamaah. Misalnya, ada yang tangannya bersedekap ketika berdiri, tetapi ada juga yang hanya meletakkan tangannya di samping torso. Pikir saya, orang-orang yang ada di sini merepresentasikan mazhab fikih atau hukum Islam yang berbeda-beda di dalam ajaran Islam Sunni. Ada yang Syafi’i (sebagaimana kebanyakan umat Indonesia), tetapi banyak juga yang Hanafi, Maliki, dan Hambali. Selesai salat, ketika saya berkenalan dengan banyak mahasiswa, saya sadar bahwa tidak semua dari mereka adalah Sunni. Beberapa mahasiswa adalah pengikut Syi’ah. Ada yang Ja’fari, Isma’ili, hingga Ahmadi. Sebagai pengantar makan siang, Brother Sohaib menyampaikan bahwa MSA Wesleyan terbuka bagi siapa saja yang merasa bisa mendapatkan manfaat spiritual dan sosial di dalamnya. Well, Islam itu memang bukan hanya milik satu golongan, jadi organisasi semacam MSA juga sepatutnya inklusif, batin saya.

MSA dan Muslim Chaplaincy di Wesleyan menggelar banyak acara informatif dan edukatif sepanjang tahun. Salah satu yang terbesar adalah Fast-a-Thon, kegiatan berpuasa dan mendonasikan paling tidak satu jatah makan siang dalam meal plan ke sebuah organisasi charity. Di sore hari ketika Fast-a-Thon diadakan, MSA dengan dibantu beberapa organisasi kampus lain menggelar acara iftar atau buka puasa bersama. Dalam kesempatan buka bersama itu, Brother Sohaib menyampaikan apa esensi puasa dan pentingnya bersedekah bagi umat Islam di depan ratusan mahasiswa dan profesor Wesleyan yang berpartisipasi dalam Fast-a-Thon. Seringkali ada pula profesor bidang Islamic Studies baik dari Wesleyan atau dari kampus lain yang kami undang untuk memberikan ceramah umum. Acara yang nyeni pun juga kami adakan, mulai dari diskusi dan pemutaran film Islami hingga workshop kaligrafi yang dipimipin langsung oleh ahli kaligrafi Islam asal Cina daratan. Meskipun saat itu masih di tingkat pertama dan amat disibukkan dengan kegiatan akademis maupun ekstrakurikuler lainnya, saya berusaha turut andil dalam kegiatan-kegiatan MSA. Ternyata, mahasiswa yang aktif di MSA dan banyak membantu terlaksananya kegiatan sosial dan edukasi keislaman pun tidak hanya mahasiswa muslim keturunan Asia Selatan, Asia Tenggara atau Arab. Di tahun itu, ada seorang mahasiswa perempuan tingkat junior berkulit putih yang baru memeluk Islam selama setahun serta dua orang mahasiswa keturunan Yahudi yang senantiasa hadir dalam rapat-rapat MSA.

Satu hal yang amat saya apresiasi dari Brother Sohaib dan teman-teman MSA di Wesleyan adalah komitmen yang tinggi bagi kegiatan antar-agama atau interfaith. Suatu ketika di bulan puasa, teman-teman dari Hillel, sebuah organisasi mahasiswa beragama Yahudi, datang bergabung dalam acara iftar kami dan menyaksikan kami melakukan salat Maghrib berjamaah. Sesudah itu, kami berdiskusi panjang lebar mengenai persamaan yang ada dalam agama-agama Samawi, termasuk Islam dan Judaisme. Tak berapa lama sesudah itu, kami diundang untuk makan malam dan mengikuti acara Shabbat Hillel yang rutin berlangsung setiap Jumat sore di kampus. Kami yang Muslim belajar arti dan makna bacaan liturgi berbahasa Ibrani yang dinyanyikan oleh teman-teman Yahudi. Sungguh suatu kesempatan yang unik! Ketika spring break tiba, saya dan beberapa teman MSA bergabung dalam kegiatan volunteering di New Orleans yang diorganisir oleh Wesleyan Christian Fellowship, sebuah organisasi mahasiswa Kristen. Kami beramai-ramai menempuh perjalanan satu hari satu malam dengan bis dari Connecticut ke New Orleans di Louisiana, yang di tahun 2007 itu belum pulih benar dari dampak terjadinya Badai Katrina. Selama seminggu, kami membantu membangun rumah-rumah baru bagi warga New Orleans. Setiap malamnya, kami berkumpul untuk mengikuti Bible Study dan membicarakan topik-topik terkait keadilan sosial. Anggota MSA juga berpartisipasi dan kami berusaha menawarkan perspektif keislaman dengan mengutip ayat Quran dan Hadis.

Meskipun MSA aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat edukatif dan interfaith, bukan berarti kebutuhan spiritual bagi mahasiswa Muslim dinomorduakan. Selain salat Jumat berjamaah, Brother Sohaib juga rajin menggelar salat fardu berjamaah di musala kampus atau di Turath, yang seringkali dibarengi dengan pengajian Quran atau diskusi keislaman. Topik diskusi kami amat bervariasi, tergantung kepada apa yang sedang kami minati. Satu waktu kami bisa membahas perbedaan antara Sunni dan Syiah, lain waktu kami membahas partying dalam kacamata Islam. Siapapun boleh menyampaikan pendapatnya, dan kami bersyukur Brother Sohaib amat bijak dan konstruktif dalam memimpin diskusi. Ketika ada yang bertanya apa hukum pacaran menurut Islam atau hukum terkait menyanyikan lagu rohani Gregorian dalam kelas Choir, Brother Sohaib berusaha memberi penjalasan dari berbagai sudut pandang hukum Islam. Ia sering menyitir pendapat yang berbeda-beda dari para ulama, mendorong kita untuk mencari tahu lebih lanjut tentang topik tersebut dari berbagai sumber, lantas menyerahkan kepada kita untuk mengambil suatu jawaban atau keputusan dengan memohon petunjuk kebenaran dari Allah. Ketika Ramadan tiba, kami juga sering menunaikan salat tarawih berjamaah. Kadangkala, kami melaksanakan qiyamullail (berdiam dari sambil memperbanyak berzikir di masjid atau musala) yang dilanjutkan dengan sahur a la Amerika di salah satu diner dekat kampus yang buka 24 jam.

Masa-masa kuliah S1 sering disebut sebagai masa-masa pencarian jati diri yang menantang dan membebaskan buat sebagian orang, termasuk saya. Kehadiran support system seperti seorang Muslim Chaplain yang inspiratif dan organisasi faith-based yang inklusif seperti MSA boleh jadi menjadi nilai tambah bagi pengalaman kuliah seseorang, termasuk di Amerika Serikat. Setidaknya bagi saya, semangat keterbukaan dan keinginan komunal anggota MSA untuk menghargai keberislaman yang beraneka ragam wujudnya membantu saya memaknai tumbuh dan berkembangnya kebutuhan rohani dan intelektual diri. Pengalaman saya saat ini dengan MSA di Brown dan interaksi saya dengan kawan-kawan lain di jaringan MSA sekolah-sekolah Ivy League menunjukkan bahwa pengalaman saya bersama MSA di Wesleyan, meskipun bersifat pribadi, bukanlah suatu hal yang asing ditemukan. Saya teringat akan moto yang tertulis pada lambang Universitas Brown: “In Deo Speramus” yang berarti “Kepada Tuhan Kita Berharap”. Sebagai Muslim, saya yakin bahwa di mana saja kita berada, di kampus mana pun kita bersekolah, keteduhan spiritual akan hadir selama kita terus berikhtiar meningkatkan kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan-Nya.

 

Photo: Perayaan Idul Fitri Muslim Students Association di Wesleyan.


SHARE
Previous articleThree Things I Wish I Knew Before Stepping into College
Next articleThe Haas Experience
Satrio A. Wicaksono is currently a PhD student at Brown University studying Climate Science, with a focus on Indonesian past climates. He completed his undergraduate in Geology and Environmental Studies (with a certificate in International Relations) at Wesleyan University in 2010, followed by a Master’s in Geological Sciences at Brown University in 2012. Satrio was a Freeman Scholar at Wesleyan, where he was also active in the Muslims Students’ Association and served as Resident Advisor, Classroom Support Manager and Peer Advisor. When he’s not busy in the lab or doing fieldwork, Satrio can be found volunteering at a local elementary school or playing gamelan and rehearsing Javanese dance with the Brown gamelan ensemble. He can be reached at satrioadi.wicaksono@gmail.com.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here