Memaknai ‘Indonesia Mengglobal’ melalui Refleksi Studi

0
1486

Tulisan saya kali ini bertujuan sebagai refleksi dari satu episode kehidupan yang kebetulan saya jalani di luar negeri. Refleksi ini juga saya tujukan untuk memaknai lebih jauh lagi dari dua kata yang menjadi wadah bagi rekan-rekan semua: Indonesia Mengglobal.

Saat ini telah menyelesaikan pendidikan di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (SAIS) (lebih jauh tentang SAIS disini) melalui Beasiswa Unggulan DIKTI. Pelajaran utama yang saya dapatkan selama menempuh empat semester pendidikan disini bisa disimpulkan dalam lima kata: saya masih harus banyak belajar. Pengalaman kuliah ini memberikan satu dimensi makna dari Indonesia Mengglobal bagi saya pribadi. Ijinkan saya berbagi disini.

Selama beberapa bulan terlibat di Indonesia Mengglobal saya merasakan adanya semangat dan solidaritas bersama untuk mewujudkan kehadiran Indonesia yang lebih di pentas dunia. Hal yang sama juga digalakkan oleh perkumpulan Diaspora Indonesia yang digagas Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat periode 2010-2013, Dino Patti Djalal. Motivasi kedua gagasan ini berasal dari keinginan dan kekhawatiran akan minimnya peranan Indonesia di level global bila dibandingkan dengan negara lain seperti India dan negara-negara lain dengan populasi yang jauh lebih kecil seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura.

Berkaca dari pengalaman empat negara yang baru saja saya sebutkan, ada sebuah benang merah yang bisa kita tarik sebagai pelajaran utama, yaitu ada korelasi positif antara memprioritaskan pendidikan yang berkualitas dari dasar hingga pendidikan tinggi dengan peningkatan eksistensi negara-negara tersebut di dunia. Pandangan ini bisa diuji dengan sebuah pertanyaan sederhana: Sudah adakah orang Indonesia yang meraih Noble Awards? Jawabannya, belum! Padahal jumlah penduduk Indonesia saat ini (masih) berada di urutan keempat dunia. Dalam hal ini kualitas lebih penting daripada kuantitas.

Pendidikan terbukti menjadi jembatan utama bagi tidak saja peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga kualitas hidup masyarakat sebuah negara. Menurut saya, kuncinya terletak dari bagaimana diskusi di ruang kelas, makalah, dan karya ilmiah yang dihasilkan dapat membantu memecahkan permasalahan yang riil di masyarakat. Contoh sederhananya, simpang siur kurikulum pendidikan bisa dirunut kembali pada bagaimana proses perkuliahan di program-program studi kependidikan dapat membaca tantangan zaman dan mempersiapkan generasi penerus bangsa untuk siap bersaing secara internasional dengan warga negara lain. Bisa juga melihat bagaimana program studi ilmu hukum yang ada bisa menelurkan peraturan perundang-undangan yang dapat memangkas suburnya korupsi di tanah air. Muhammad Yunus, salah satu penerima hadiah nobel di bidang perdamaian, mendapatkan penghargaan tersebut karena mampu mengembangkan sektor kredit mikro di Bangladesh yang menjawab kebutuhan sosial ekonomi masyarakatnya lewat Grameen Bank.

Kembali ke Indonesia Mengglobal, tulisan-tulisan yang dimuat di laman ini sudah mengarah pada peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai perguruan tinggi terbaik di penjuru dunia. Tetapi, menurut saya, melanjutkan studi hanyalah permulaan dan satu episode singkat yang akan menentukan bagaimana misi Indonesia yang mengglobal ini bisa diraih. Pendidikan menjadi salah satu jalan utamanya, walaupun bukan jalan satu-satunya!

Ada cara pandang lain yang menurut saya pantas disebarluaskan di forum ini: pendidikan sebagai proses. Perspektif ini melihat jenjang pendidikan bukan sebagai solusi dari permasalahan sosial, ekonomi, maupun politik, melainkan sebagai tahapan awal penyelesaian masalah di masyarakat. Salah seorang dosen saya pernah berkata bahwa “satu mata kuliah tidak berakhir ketika ujian selesai, sebaliknya ia baru dimulai ketika proses perkuliahan berakhir”. Hal ini sejalan dengan filosofi bahwa ilmu yang baik itu hanyalah ilmu yang bermanfaat.

Cara pandang ini mengantarkan kita pada jalan lain untuk mencapai mimpi Indonesia yang mengglobal, yaitu melalui kiprah professional di berbagai bidang karier.  Nama-nama seperti: BJ Habibie, Sri Mulyani Indrawati, Jusuf Wanandi, Nelson Tansu, Anies Baswedan, dan berbagai tokoh terkemuka lainnya adalah contoh nyata yang bisa dijadikan sebagai panutan dalam merangkai cita-cita untuk berkiprah di dunia internasional baik di lembaga internasional maupun melalui pengabdian di tanah air. Seperti beberapa negara yang disebutkan di awal tadi, tokoh-tokoh yang baru saja disebutkan dapat berkiprah di level internasional karena keberhasilan mereka dalam melanjutkan pendidikan. Tidak hanya itu, yang lebih penting lagi adalah bagaimana bekal pendidikan tersebut mampu membuat perubahan yang berarti bagi masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang positif, kebijakan pemerintah yang mendukung keberlanjutan studi putra-putri bangsa di luar negeri, serta prediksi demographic dividend bagi Indonesia beberapa tahun yang akan datang menjadi variable positif yang mempermudah pencapaian mimpi Indonesia yang mengglobal. Untuk itu, berkaca dari pengalaman studi yang membuat saya bisa keluar dari tempurung kecil, saya memberanikan diri mengajak rekan-rekan pembaca setia laman Indonesia Mengglobal untuk semakin gencar mempersiapkan diri melanjutkan studi guna mencari solusi masalah di tengah-tengah masyarakat dan pada akhirnya semakin mempertegas eksistensi Indonesia secara global.

 

Foto oleh penulis

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here