Serba-serbi Kuliah di Sejong University, Korea Selatan

0
432
Penulis dalam Acara Temu Ilmuwan Peneliti Indonesia di Korea Selatan dengan Presiden RI.

Korea Selatan sudah tidak diragukan lagi menjadi tuan rumah teknologi semikonduktor dunia. Bagaimana rasanya berkuliah S3 di Korea Selatan? Dalam artikel kali ini, Romel Hidayat, mahasiswa PhD Department of Nanotechnology and Advanced Materials Engineering dari Sejong University membagikan kisahnya.


Perkenalan dan Alasan Tertarik Studi Doktoral di Korea Selatan

Halo teman-teman penikmat bacaan Indonesia mengglobal (IM). Kali ini IM memberikan kesempatan kepada saya untuk membagikan bagaimana pengalaman dari latar belakang pemilihan S3 di Sejong University hingga bagaimana penelitian yang dilakukan di sini.

Pertama-tama, perkenalkan saya, Romel Hidayat dahulu pernah mengenyam program S1 dan S2 di ITB. Juga, saya pernah melakukan penelitian sekaligus thesis di University of Groningen belanda selama tujuh bulan. Dan pada akhirnya, saya melanjutkan studi S3 di Sejong University, Seoul, South Korea.

Alasan saya mengambil studi S3 di Department of Nanotechnology and Advanced Materials Engineering of Sejong University ini adalah ketertarikan saya pada bidang material semikonduktor. Seperti diketahui bahwa Korea Selatan adalah negara tuan rumah bagi perusahaan besar teknologi berbasis semikonduktor. Oleh karena itu, riset dengan fokus ini akan lebih baik dipelajari di negara di mana ilmu pengetahuannya berkembang sangat cepat.

Penulis di Sejong University.
Penulis di Sejong University.

Perjalanan saya hingga akhirnya bisa lanjut S3 di Sejong University itu tergolong ajaib. Hal ini dikarenakan pada waktu itu, saya telah diproyeksikan melanjutkan S3 di University of Groningen dengan pembimbing yang sama saat penelitian S2. Karena lain hal, profesor tersebut terpilih menjadi rektor di University of Twente. Dan akhirnya, saya berpetualang mengirimkan banyak email untuk daftar S3 ke beberapa profesor di AS, Arab Saudi, dan Eropa. Walau mendapatkan respon yang positif dan diterima oleh beberapa lab, saya di waktu itu tetap saja tidak memiliki insting yang baik. Akhirnya, saya tidak melanjutkan proses admission kampus-kampus tersebut.

“Poinnya adalah untuk melanjutkan S3, pertama-tama kita harus aktif mengirimkan email ke lab yang dituju dengan maksud mendaftar di lab tersebut.”

Akhirnya, keajaiban berikutnya tiba saat seorang senior di ITB yang tiba-tiba memberikan informasi bahwa lab beliau saat itu sedang mencari asisten riset dan sekaligus mahasiswa S3 di Sejong University. Lebih ajaibnya lagi, informasi ini saya peroleh sehari setelah wawancara menjadi dosen tetap di ITB. Mungkin saja ini adalah pesan dari para dosen yang mewancarai bahwa saya perlu S3 terlebih dahulu.

Saat menerima informasi dan tawaran ini, saya merespon dengan meminta waktu selama dua minggu untuk berpikir. Karena harus berpikir. Hal ini karena S3 adalah maraton dan long war battles, prosesnya monoton, membosankan, dan akan lama waktunya. Dan pada akhirnya, saya memutuskan siap mencoba dan mengirimkan email kepada profesor dan memberitahukan maksud keinginan untuk berada di lab beliau.

Proses Pendaftaran ke Sejong University (Korea Selatan)

Alhasil, saya diterima setelah pertimbangan CV dan track record saya dalam melakukan riset.

“Pertimbangkanlah dengan matang apakah Anda perlu lanjut S3 atau tidak. Jangan ikut tren banyak orang S3 terlihat bahagia karena studi S3 itu berat. Jika tidak passion dalam riset lebih baik jangan S3.”

Untuk admission di Sejong University atau kampus-kampus lainnya di Korea, boleh dikatakan lumayan mudah tapi ribetRibet-nya adalah pengurusan dokumen-dokumennya dan terkadang perlu banyak yang diterjemahkan secara resmi dan tersumpah, lalu dilegalisasi di Kedutaan Besar Korea selatan di jakarta. Mudahnya adalah skor untuk kompetensi bahasa inggris tidak dituntut tinggi seperti halnya untuk studi ke Amerika Serikat. Sebut saja nilai IELTS sudah memenuhi persyaratan. Juga, jika profesor yang dituju mengatakan Anda diterima di lab beliau, maka itu artinya kita akan dipandu dan diperjuangkan untuk lulus admission atau pendaftaran seleksi untuk masuk universitasnya.

Penulis mendapatkan K-CHIPS (Korea Collaborative & High-tech Initiative for Prospective Semiconductor research) award.
Penulis mendapatkan K-CHIPS (Korea Collaborative & High-tech Initiative for Prospective Semiconductor research) award.

Saya, di sini, kebetulan melalui skema beasiswa (living expense) dari research project funds. Kebetulan laboratorium kami merupakan salah satu Korea Collaborative & High-tech Initiative for Prospective Semiconductor (K-CHIPS) Research Center. Skema pendanaan riset pun berbeda dengan pada umumnya. Di lab kami, kebanyakan proyek penelitian didanai melalui skema pendanaan 50%:50%, yakni setengah dari pemerintah Korea melalui asosiasi atau konsorsium peneliti semikonduktor di Korea (KSIA atau COSAR) dan setengahnya berasal dari perusahaan-perusahaan Korea. Lab kami kebanyakan didanai oleh Samsung Electronics dan beberapa perusahaan kimia di Korea.

Sekilas Tentang Sejong University

Dikarenakan studi S3 ini sangat beriorientasi pada kegiatan penelitian, maka belajar di kelas pun tidak dominan. Kelas di sini ada yang dalam bahasa Korea dan juga bahasa Inggris. Fasilitas yang diberikan pada umumnya juga sama seperti kampus-kampus lain di Korea (atau di negara lainnya), di mana mahasiswa S3 biasanya akan terdaftar sebagai asisten riset sehingga dapat memperoleh insentif (atau banyak yang bilang gaji) per bulannya.

Kampus juga menyediakan asrama (dormitory) yang terjangkau di saku mahasiswa. Lalu, tempat ibadah juga disediakan. Kebetulan saya adalah Muslim dan saya sangat bersyukur fasilitas musala berkapasitas lebih kurang 50-an dengan orang yang aktif salat berjemaah. Namun, dikarenakan pandemi saat ini, fasilitas ini menjadi tidak lagi diperbolehkan.

Pengalaman Riset dan Studi di Kampus

Pengalaman yang paling berharga saat S3 adalah melakukan penelitian sendiri. Sejak terlibat dalam pembuatan proposal, melakukan simulasi/eksperimen, hingga menulis dan submit paper, membalas pertanyaan-pertanyaan reviewer dan hingga diterima sampai dipublikasikan pada jurnal terkait. Itu adalah proses yang sangat panjang dan berat, tapi akan terasa terbayarkan saat semua proses terlewati. Jika anda senang dalam proses ini, maka saya rekomendasikan untuk melanjutkan studi ke tingkat S3. Jika tidak, jangan sekali-kali lanjut S3.

Tidak terasa, penelitian yang saya lakukan telah memberikan berbagai output, diantaranya dua paten dan delapan paper (atau artikel ilmiah). Selain itu, saya juga telah membuat banyak poster dan mempresentasikan hasil penelitian saya dalam berbagai konferensi internasional. Sehingga, kultur dan suasana riset terbangun dengan baik setelah mengomunikasikan hasil penelitian pada pertemuan ilmiah dan berdiskusi dengan para peneliti paling top di bidang yang sama. Hal ini akan memberikan kepercayaan diri, membuka networking, hingga dapat memperlihatkan eksistensi kita sebagai calon penerus dan peneliti yang mandiri di masa depan. Lingkungan dan kondisi ideal ini yang mungkin saja perlu ditiru oleh Indonesia, yang mungkin saja sudah ada tapi masih perlu dioptimalkan implementasinya.

Pengalaman studi saya di Sejong University saya rasa sama dengan kebanyakan mahasiswa S3 lainnya. Di Korea (khususnya yang studi S3) itu boleh dikatakan semuanya tergantung dengan siapa Anda bekerja (seperti bagaimana pembimbingnya) dan lingkungan kerja (seperti teman lab dan kultur labnya). Dua hal itu sebenarnya sama saja dengan hampir semua kasus, termasuk jika Anda bekerja di perusahaan sekalipun. Yang beruntung adalah melakukan studi S3 dengan pembimbing yang peduli dengan mental health dan research-life balance. Saya mensyukuri untuk dua hal ini.

Pengalaman Membawa Keluarga ke Korea Selatan

Membawa keluarga sembari sekolah S3 adalah salah satu kebahagiaan dan sekaligus perjuangan yang membuat kehidupan menjadi lebih berwarna. Alhamdulillah, sekarang kami di sini sudah dikarunai dua anak.

Penulis bersama keluarga di Korea Selatan.
Penulis bersama keluarga di Korea Selatan.

Kilas balik di awal saya membawa istri adalah pada saat semester dua saat S3, saya pulang ke Indonesia untuk menikah dan langsung membawa istri saat itu (Januari 2018). Hikmah membawa keluarga ke Korea adalah akan memberikan kesempatan pada istri dan anak-anak akan indahnya “negeri ginseng” ini.

Selanjutnya, pengalaman yang berkesan bagi kami adalah proses hamil hingga melahirkan di Korea. Hal ini dikarenakan sistem kesehatannya sangat modern, sistematis, dan canggih. Selain itu, selama proses kehamilan, pemerintah Korea memiliki peraturan untuk memberikan insentif kepada ibu hamil.

Namun, hal yang paling menjadi penghambat jika menjalani hidup di Korea adalah komunikasi, di mana kebanyakan warga lokal tidak familiar memakai bahasa Inggris. Saran saya, akan lebih baik untuk belajar bahasa Korea terlebih dahulu agar hidup di Korea lebih baik.

Pesan untuk Pembaca

Pesan saya untuk pembaca yang ingin melanjutkan S3 di Korea adalah berikut.

  • Pertanyakan lah diri anda apakah memiliki passion untuk melakukan riset atau gengsi atau mengikuti tren saja. Jika passion, lanjutkan!
  • Untuk mendaftar S3 baik ke Korea atau ke mana pun tujuan anda, siapkan English proficiency certificate/skor sesuai kualifikasi.
  • Jika anda memang sangat memiliki niat S3 ke Korea, maka persiapkanlah mental anda. Hal itu dikarenakan kultur di sini yang sangat disiplin dan terdapat konsekuensi keras jika tidak bisa seirama dengan kultur di sini.
  • Membawa keluarga akan membuat kehidupan lebih berwarna dan banyak tempat-tempat hiburan, wisata dan taman yang bisa dinikmati bersama keluarga sehingga merasakan banyak kebahagiaan di sini, layaknya drama Korea. Namun di sisi lain, juga akan banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang akan ditemui sebagai konsekuensinya.

*Semua foto disediakan oleh penulis.
** Editor: Haryanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here