Belajar Bahasa Mandarin di Tanah Kelahiran Boba

0
481
Bersama Guru dan Teman Sekelas Belajar bahasa Mandarin. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bersama Guru dan Teman Sekelas Belajar bahasa Mandarin. Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Bahasa apa yang paling sulit untuk dipelajari di dunia? Banyak yang bilang Bahasa Mandarin, dengan banyaknya jumlah karakter dan pengucapan yang memiliki nada, merupakan bahasa yang tingkat kesukaran untuk menguasainya paling tinggi. Namun, kampus-kampus di Taiwan memiliki metode yang membuat bahasa dengan penutur paling banyak di muka bumi ini mudah dipelajari dan menyenangkan. Yuk, simak cerita Alfin Merancia, seorang penerima Huayu Enrichment Scholarship untuk belajar Bahasa Mandarin di pulau Formosa, mengenai bagaimana sistem pembelajaran bahasanya serta apa saja lesson learned yang dapat kita implementasikan.”

***

Motivasi Belajar Bahasa Mandarin di Taiwan

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kalian ketika mendengar Taiwan? Bagi milenial ataupun Generasi Z mungkin mengasosiasikan Taiwan sebagai tempat asal minuman bubble milk tea (boba) dan snack ayam Shihlin. Kalian juga mungkin mengenal Taiwan sebagai salah satu produsen microchips dan produk elektronik (telepon selular, laptop) terbesar di dunia. Untuk generasi saya, pastinya tidak asing dengan TV series lawas Meteor Garden yang turut melambungkan boyband ikonik F4 asal tanah formosa ini.

Dengan segala keterbatasan di masa pandemi, saya cukup beruntung masih dapat menginjakkan kaki di Taiwan untuk belajar Bahasa mandarin selama enam bulan melalui program Huayu Enrichment Scholarship (HES) yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan (Ministry of Education) Taiwan. Program beasiswa ini bertujuan untuk mengenalkan bahasa Mandarin sekaligus budaya Taiwan kepada dunia internasional. Sebagai Aparatur Sipil Negara yang bekerja di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tentunya saya memiliki ketertarikan khusus terhadap budaya dan bahasa yang menjadi salah satu elemen penting dalam dunia pariwisata.

Menyadari fakta bahwa Mandarin juga menjadi salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia membuat motivasi saya untuk mempelajarinya semakin meningkat. Terlebih lagi, untuk kepentingan kedatangan wisatawan serta kemudahan dalam kerjasama antar pemerintah (G to G) ataupun pemerintah dengan dunia usaha (G to B), penguasaan bahasa mandarin cukup diperlukan. Inilah yang membuat saya tergerak untuk mendaftar beasiswa HES dimaksud. Saya sendiri memilih untuk belajar Bahasa di Taiwan di kota Taipei karena istri yang juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan master-nya di salah satu universitas di Taipei. 

Tantangan di Masa Pandemi

Sebelum mendaftar beasiswa Huayu Enrichment Scholarship (HES) kita diwajibkan untuk mendaftar terlebih dahulu pada Universitas yang diakui oleh Ministry of Education Taiwan. Tercatat ada sekitar 60-an universitas yang diakui oleh Ministry of Education Taiwan untuk belajar bahasa mandarin. Pada awalnya saya berminat untuk mendaftar di National Taiwan University (NTU), namun biaya kuliah di sana cukup mahal, sekitar NTD 40.000 per term (3 bulan) atau setara dengan 20 juta rupiah. Sementara beasiswa yang diberikan adalah NTD 25.000 (sekitar 12 juta-an rupiah) all-in. Pada akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya memutuskan untuk mendaftar di National Taipei University of Education (NTUE), Universitas ini merupakan universitas tertua di Taiwan yang didirikan pada Tahun 1895 dengan fokus pendidikan. 

Saya dinyatakan lulus beasiswa HES untuk periode tahun 2020. Mempertimbangkan kondisi pandemi pada saat itu, otoritas Taiwan masih belum mengizinkan pelajar bahasa untuk masuk ke Taiwan yang mengakibatkan keberangkatan saya tertunda hingga 1 tahun lamanya. Setelah kondisi Covid-19 membaik, akhirnya Taiwan membuka aplikasi visa untuk para pelajar bahasa. Serangkaian proses administrasi yang cukup panjang pun saya lalui (mendaftar ulang beasiswa dan kampus, pengurusan visa, dsb) hingga akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Taiwan pada 7 November 2021, 3 minggu sebelum kelas Bahasa di National Taipei University of Education (NTUE) dimulai. 

Sesampainya di Taiwan, kami diharuskan untuk menjalani Karantina 14 + 7 yang terdiri dari 14 hari di tempat karantina terpusat (hotel ataupun tempat karantina yang telah ditunjuk oleh otoritas setempat) dilanjutkan 7 hari self health management (semacam karantina mandiri). Saya sendiri melakukan karantina di hotel di daerah Ximending dan selama 14 hari itu tidak diperkenankan keluar kamar dan wajib melaporkan suhu tubuh kepada pihak hotel, pihak kampus, dan Central Epidemic Command Center (CECC) atau Satgas Covid Taiwan, makanan diantarkan di depan pintu kamar masing-masing sesuai waktu makan yang ditentukan. Setelah selesai 14 hari karantina, sudah boleh pindah ke tempat flat/kos masing-masing dan keluar ke ruang publik, hanya saja belum diperbolehkan ke kampus dan menggunakan transportasi publik.

Di luar segala kesulitan untuk masuk Taiwan, saya cukup mengapresiasi penanganan Covid-19 di taiwan. Taiwan sangat strict dalam membuka pintu perbatasan, namun dengan hal ini di dalam negeri Taiwan menjadi salah satu tempat yang cukup aman di dunia di masa pandemi ini. Di dalam negeri Taiwan rata-rata kegiatan sehari hari berjalan normal seperti biasanya. Dan Taiwan sendiri merupakan salah satu tempat terbaik yang menangani Covid-19 di dunia.

Sistem Belajar Bahasa Mandarin di Taiwan

Sebelum kelas dimulai, pihak kampus memberikan placement test kepada seluruh siswa agar dapat menempatkan para siswa di kelas (level) yang sesuai dengan kemampuan mereka.  Mengingat saya belum pernah belajar Bahasa Mandarin, saya ditempatkan di kelas yang paling dasar. Seluruh siswa diwajibkan untuk menghadiri 155 jam untuk setiap term-nya, sehingga kami setiap hari selalu ada jadwal kelas selama 3 jam dari hari senin sampai hari Jumat. Terlihat cukup padat dan intensif, namun ketika dijalani cukup menyenangkan. 

Kami memakai buku Modern Mandarin (時代華語). Setiap siswa wajib memiliki satu buku paket, buku latihan menulis karakter, dan buku latihan pekerjaan rumah. Buku ini didesain cukup menarik dengan metode memberikan contoh percakapan asli di setiap topiknya. Contoh percakapan tersebut seperti perkenalan diri, memesan makanan/minuman di restoran, aktivitas/olahraga di kala akhir pekan, percakapan ketika sakit ke dokter, dan penjelasan arah jalan, dll. Semua percakapan ini sangat praktikal, karena semua mencakup hal-hal yang langsung kita alami sehari-hari, sehingga dengan belajar metode ini secara tidak langsung membantu kita dalam berkomunikasi di Taiwan. 

Hal yang menarik dalam buku ini adalah pembentukan tokoh/karakter yang berkelanjutan. Ada beberapa karakter dari berbagai negara, seperti Jepang, Vietnam, Meksiko, Inggris, Amerika, Thailand, dan bahkan Indonesia. Karakter-karakter ini adalah negara yang banyak belajar Bahasa Mandarin di Taiwan. Karakter Li Zhong Ming dari Indonesia merupakan salah satu karakter yang sering muncul dalam percakapan di dalam buku, mulai dari percakapan pergi ke sekolah hingga kehilangan dompet!

Kelas kami terdiri dari 6 orang dari 5 kebangsaan, yaitu Indonesia, Thailand, India, Meksiko, dan Italia. Sedangkan guru kami sendiri lahir dan besar di Taipei, Taiwan. Setiap percakapan pada buku kami diharuskan melakukan roleplay secara bergantian, sehingga mau tidak mau semua harus terlibat aktif dalam percakapan. Metode roleplay dibuat semirip mungkin dengan kejadian aslinya untuk membuat kita terbiasa dengan situasi di luar kelas. Selain itu terdapat kira kira 50 karakter mandarin di setiap babnya, dimana kita harus menghafal seluruh karakter itu, agar dapat menguasai percakapan dengan baik. 

Selain metode tradisional tatap muka, kami juga diajarkan metode belajar interaktif dengan menggunakan Laptop ataupun telepon selular. Ketika pelajaran mengenai ruangan di rumah beserta perabotannya, kami berlatih dengan cara menggambar rumah masing-masing melalui laptop ataupun telepon selular dengan website pupula.net. Setelah kami menyelesaikan gambar ruangan kami, gambar tersebut ditampilkan di kelas, dan setiap siswa wajib mendeskripsikan jenis perabotan, posisi, letak, dan juga kegiatan yang berlangsung. Semua antusias mendeskripsikan gambarnya masing-masing.

Selain itu, sebelum ujian biasanya kami me-review dengan cara menjawab pertanyaan yang telah dibuat oleh guru kami melalui aplikasi online seperti Kahoot/Quizlet app. Satu kelas dibagi menjadi 2-3 kelompok dan kami bertanding untuk menjawab pertanyaan dengan cepat dan benar. Pertanyaan sebelumnya sudah dibuat terlebih dahulu oleh guru kami, selanjutnya seluruh siswa memindai QR code untuk memulai permainan. Setelah semua memindai, maka aplikasi tersebut langsung membagikan kelompok untuk bersama sama menjawab pertanyaan yang telah diberikan. Pemenangnya adalah tim dengan skor yang paling tinggi yang dapat menjawab pertanyaan secara tepat dan benar. Pemenangnya akan diberikan hadiah kecil seperti makanan/minuman ringan, sehingga teman-teman pun bersemangat dalam mengikuti review pelajaran.

Untuk ujian sendiri di NTUE membagi menjadi 3 jenis ujian :

  1. Kuis, dilaksanakan setiap minggu, setelah pelajaran per lesson-nya selesai. Pada kuis ini mencakup listening, reading, dan writing.
  2. Tes Lisan, dilaksanakan dua kali dalam tiga bulan, pada pertengahan semester dan akhir semester. Tes lisan berkisar 20 menit dengan pola membaca dan berbicara, menjawab pertanyaan berdasarkan gambar/tabel, dan menjawab pertanyaan dengan diskusi/wawancara.
  3. Final Test, dilaksanakan pada setelah akhir periode kegiatan belajar mengajar dengan bobot dua puluh persen, mencakup listening, reading, dan writing.

Bobot untuk ujian kuis dan tes lisan mencakup 10 persen penilaian, sedangkan Final Test mencakup 20 persen penilaian, 70 persen lainnya dinilai dari absensi dan keaktifan saat di kelas.

Hal menarik lainnya adalah pelajaran yang diajarkan tidak hanya Bahasa Mandarin, namun juga disisipkan pengetahuan-pengetahuan budaya dan tradisi Taiwan, seperti tradisi minum teh, makanan yang sering dimakan ketika ulang tahun, hal-hal yang dianggap tabu, dll. Satu minggu sebelum tahun baru Cina, seluruh siswa diberikan perkenalan terhadap tradisi tahun baru Cina di Taiwan. Orang Taiwan biasanya sebelum tahun baru pulang ke kampung halamannya masing-masing untuk berkumpul bersama keluarga. Momen ini juga biasanya menjadi pergerakan manusia terbesar di dunia. Kebiasaannya meliputi membeli baju baru, membersihkan rumah sehari sebelum tahun baru, makan makan dan liburan bersama keluarga.

Di kampus NTUE kami berkesempatan untuk bersama merasakan tahun baru Cina satu minggu sebelumnya bersama teman-teman di kelas, guru, dan juga staf administrasi di kampus. Kami makan bersama, membuat prakarya tangan di Tahun Harimau, dan menulis kaligrafi karakter 春 yang merupakan karakter dari musim semi. Kami juga mendapatkan 紅包 (hong bao) atau biasa kita kenal angpao di Indonesia yang berisi uang koin NTD 1 dan voucher hadiah yang bervariasi antara power bank, kaos, flashdisk, pouch, masker, dll. Saya sendiri mendapat pouch sewaktu itu. Semua siswa sangat senang dapat berpartisipasi pada acara tahun baru di sekolah kami.

Hal ini menurut saya pribadi merupakan strategi yang sangat menarik dalam memperkenalkan budaya setempat kepada orang luar. Selain dapat mengajarkan ilmu Bahasa, namun juga sebagai perantara untuk diplomasi budaya. Saya rasa kita dapat mencontoh metode ini untuk memperkenalkan budaya Indonesia pada orang asing di Indonesia.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Kampus. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Untuk membantu kita meningkatkan penguasaan Bahasa Mandarin, kami diberikan kesempatan untuk mendapatkan Student Language Exchange dengan mahasiswa lokal di kampus. Saya sendiri mendaftar dengan offers penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, namun rata-rata mahasiswa lokal menginginkan pertukaran dengan Bahasa Inggris.

Saya mendapatkan partner seorang mahasiswi Master Degree pada jurusan Desain Produk di NTUE. Kami biasanya bertemu seminggu sekali dan mempersiapkan topik-topik yang ingin dibicarakan setiap minggnya. Saya ingin belajar tentang intonasi dan percakapan informal Bahasa mandarin, sedangkan dia sendiri ingin melatih percakapan bahasa Inggris dengan saya. Kami biasanya bertemu untuk diskusi, belajar, sekaligus makan siang bersama. Dia sangat membantu saya dalam mengajarkan cara memesan makanan, nama-nama makanan dan minuman, dll. Sering kali dia meminta agar saya yang memesan makanan, agar dapat latihan berbicara dengan warga lokal secara langsung, dan memaksa saya menghafal nama-nama makanan yang akan dipesan pada buku menu. Hal ini merupakan pelajaran yang paling tak ternilai harganya untuk saya.

Bersama Wan, Student Language Exchange Partner.  Sumber: Dokumentasi Pribadi

Upaya lain yang dilakukan untuk memotivasi para siswa agar semangat dan serius dalam belajar, setiap akhir semester pihak kampus NTUE akan memberikan sertifikat dan bonus kepada siswa yang memiliki peringkat tertinggi di masing-masing kelasnya. Saya sendiri Pada Semester Musim Dingin 2021-2022 kemarin cukup beruntung untuk mendapatkan sertifikat dan bonus tersebut sebesar NTD 1.500, jika dirupiahkan sebesar Rp772.500. Sangat cukup untuk menambah uang jajan di Taiwan.

Penyerahan Sertifikat. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Belajar Bahasa Mandarin: Menantang namun Menyenangkan

Bagi saya yang belum pernah belajar Bahasa mandarin sebelumnya, tentu saja awalnya saya agak nervous untuk belajar bahasa yang terkenal paling sulit di dunia, dan memang benar adanya. Bahasa mandarin merupakan bahasa yang paling sulit yang pernah saya pelajari. Perbedaan mendasar yang paling mencolok, tentu saja adalah perbedaan tulisan, karena Bahasa mandarin menggunakan aksara tersendiri, dimana setiap kata memiliki karakternya masing-masing. Perbedaan yang kedua adalah adanya intonasi nada, Bahasa mandarin memiliki empat intonasi (tones) berbeda yang harus dihafalkan. Intonasi harus diperhatikan dengan baik, karena jika salah intonasi maka artinya bisa menjadi berbeda walaupun pelafalannya sama. Sebagai contoh (tones 1) memiliki arti mama, (tones 2) memiliki arti mati rasa, (tones 3) memiliki arti kuda, (tones 4) memiliki arti untuk memarahi, dan ma (tones netral) adalah partikel akhir untuk bertanya.

Hal-hal seperti ini cukup membuat frustasi, dan menjadi bahasa yang paling sulit yang pernah saya pelajari. Dalam beberapa Bahasa yang pernah pelajari sebelumnya, seperti Bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol, semua menggunakan alfabet, dan mereka masih bisa mengerti jika kita memiliki logat atau intonasi yang tidak sesuai dengan penutur aslinya, namun berbeda halnya dengan Bahasa Mandarin.

Selain belajar di kelas, saya setidaknya belajar di rumah selama dua jam setiap harinya, agar dapat mengikuti dan mengimbangi pelajaran di kelas. Saya pun menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang setiap hari diberikan kepada seluruh siswa.

Setelah 3,5 bulan belajar, seiring dengan berjalannya waktu, sedikit-demi sedikit saya mulai terbiasa dengan Bahasa Mandarin. Tinggal di Taiwan sendiri merupakan  bentuk pengalaman lain di luar kelas untuk belajar, karena mau tidak mau kita harus menghadapi langsung percakapan sehari hari dengan masyarakat sekitar. Saat ini saya sudah bisa berinteraksi dengan warga lokal untuk membeli makan, pergi ke toserba, berbelanja di pasar, ke rumah sakit, dan beberapa percakapan dasar sehari-hari lainnya. Hal ini tidak mungkin saya dapatkan jika tidak dimulai dengan belajar Bahasa Mandarin di kelas. Bahasa Inggris jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari, walaupun di Kota Taipei beberapa lokasi dan tempat perbelanjaan sudah banyak yang dapat berbicara Bahasa Inggris. Saya sendiri sudah dapat bertanya tentang arah, salah satunya saya sempat menanyakan kepada warga lokal untuk menuju salah satu restoran cepat saji di Taipei, walaupun biasanya saya butuh waktu berkali kali untuk mencerna jawaban yang diberikan, karena berbicaranya terlalu cepat, ataupun banyak kosakata yang belum pernah saya pelajari. Guru saya pernah berkata bahwa selama periode enam bulan beasiswa ini, memang minimal dimaksudkan untuk dapat bertahan beraktivitas sehari sehari selama di Taiwan.

Kegiatan di Luar Kelas

Aktivitas yang saya lakukan di luar padatnya belajar Bahasa Mandarin sehari-hari adalah berolahraga dan berpetualang mengelilingi Taiwan. Setiap hari saya lari pagi di sekitar tempat tinggal saya. Taiwan sendiri memiliki banyak taman yang diperuntukkan untuk berolahraga, tempat bermain anak, tempat membawa hewan peliharaan, dan aktivitas lainnya bagi warga sekitar, sehingga sangat nyaman untuk berolahraga. Beberapa kali juga saya mendaki bukit di sekitar kota Taipei seperti Xiangshan, Jinmianshan, dan Jiantanshan. Kota Taipei yang dikelilingi bukit membuat banyak sekali tempat untuk mendaki bukit sebagai tempat olahraga yang dekat dari pusat kota. Selain itu, saya dan teman teman seusai kelas sering memanfaatkan fasilitas kampus untuk bermain tenis meja. Terkadang jadwalnya mendadak sehingga sering juga saya salah kostum saat bermain tenis meja (memakai batik).

Bermain Tenis Meja di Kampus. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Beberapa kali libur panjang di Taiwan, saya bersama istri ataupun teman-teman Indonesia yang ada di Taipei liburan ke luar kota. Saya sudah sempat ke kota terbesar kedua di Taiwan yaitu Kaohsiung, Ibukota Taiwan sebelum Taipei yaitu Tainan, Kota Pelabuhan Keelung, ujung selatan Taiwan di Kenting, dan juga lembah Taroko di Bagian Timur Taiwan. Ada cerita menarik pada perjalanan kami ke Taroko, kami berangkat setelah Shalat Subuh di pagi hari agar dapat kembali di hari yang sama, berhubung padatnya destinasi yang kami kunjungi selama di Hualien dan Taroko, kami agak terlambat mengejar kereta pulang ke Taipei, sehingga kami harus mengambil kereta selanjutnya. Namun ternyata kereta selanjutnya maupun kereta yang lebih malam lagi semua kursi telah habis terjual. Karena kami harus pulang malam itu juga (tidak ada persiapan menginap), maka kami sebanyak delapan orang tetap mengambil kereta dimaksud, dan duduk di lantai kereta selama setengah perjalanan. Namun di balik kesusahan yang kami alami, ternyata hal tersebut menjadi bahan tawa saat berkumpul dan diceritakan kembali.

Bukit Jinmianshan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pantai di Kenting. Sumber: Dokumentasi Pribadi

LRT di Kaohsiung. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Duduk di Lantai Kereta. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Lesson Learned Belajar Bahasa Mandarin di Taiwan

Bahasa Mandarin sangat sulit, namun juga sangat logis karena selalu menempatkan kata dalam suatu kalimat sesuai dengan kronologis kejadian yang lebih awal. Selain itu sesuatu yang lebih besar selalu ditempatkan di awal, seperti contoh penulisan tanggal, selalu dimulai dari tahun terlebih dahulu, lalu diikuti bulan dan tanggal. Penulisan nama jalan pun dimulai dari yang besar terlebih dahulu, dimulai dengan nama kota, distrik, jalan, nomor, dan lantai gedung.

Dengan ilmu yang didapat saat ini, saya harapkan agar dapat membantu pekerjaan saya di kantor. Dengan banyaknya turis berbahasa Mandarin, tentu saja berimbas pada meningkatnya peluang kerjasama di antara kedua negara. Diharapkan ilmu Bahasa Mandarin ini dapat membantu membuat pertemuan kerjasama menjadi cair, dan memberikan manfaat pada pekerjaan saya saat ini. 

Sekian cerita singkat saya dalam mempelajari Bahasa Mandarin di Taiwan, Semoga semakin banyak teman-teman yang termotivasi untuk dapat meningkatkan kemampuan Bahasa Mandarin sebagai bahasa dengan penutur terbanyak kedua di dunia, terutamanya di Taiwan.

Ada baiknya sebelum mendaftar beasiswa HES, teman-teman dapat menggali informasi terlebih dahulu daftar universitas yang telah dikirimkan oleh pihak Taiwan untuk belajar Bahasa Mandarin. Pilihan bisa berdasarkan kota, ranking universitas, kemudahan komunikasi dengan admin, ataupun kemampuan guru untuk mengajar. Selamat mencoba!

****

Editor: Aditya Parama Setiaboedi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here