Dari Jawa Tengah ke Amerika Latin: Mengglobal dengan Bahasa Asing

0
786
Sigit Untoro, scholarship recipient
Sigit berfoto dengan teman-teman sesama penerima beasiswa studi Bahasa Spanyol di Bogota. Sumber: dokumentasi pribadi.

Banyak jalan menuju Roma atau, dalam kasus Sigit Untoro, banyak jalan menuju Bogota. Bermodalkan kepercayaan bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha, Sigit yang berasal dari keluarga sederhana membanting tulang mengejar cita-citanya belajar di luar negeri. Kecintaannya pada bahasa asing menjadi tiket untuk Sigit mewujudkan impiannya. Tentu saja, di balik setiap kesuksesan ada keringat yang mengalir dan jerih payah yang tidak kecil. Apa saja yang sudah Sigit lalui demi menggapai impiannya? Simak kisahnya dalam artikel berikut.

*****

Masa kecil Sigit di desa terpencil

Ini adalah secuil perjalanan seorang anak desa pelosok yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di belahan bumi lain hanya dengan satu hal: bahasa. Aku adalah seorang polyglot yang menguasai beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris, Mandarin, dan Turki. Namaku adalah Sigit Untoro. Saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan multinasional Tiongkok di bagian inventory control. Aku berasal dari Desa Ketro, Grobogan, Jawa Tengah, yang kalau dicari di Google Maps hanya akan muncul warna hijau hutan dan satu garis lurus kecil yang menunjukan jalan utama desa kami. Aku adalah anak keenam dari sembilan bersaudara. Di masa kecilku, keluargaku termasuk yang kurang beruntung dalam hal ekonomi. Jangankan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, untuk sekadar bertahan hidup saja kami kerap kali berhutang. Singkatnya, kami benar-benar hidup dalam kemiskinan.

Ayahku adalah sosok yang cerdas juga pekerja keras. Beliau mengajariku untuk selalu bersyukur dan tidak mengeluh mengenai kondisi apapun. Terbukti, enam tahun di bangku sekolah dasar, aku adalah salah satu murid yang berprestasi dan selalu mendapatkan peringkat atas. Bahkan aku semakin yakin bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan terlambat karena di saat aku sudah lulus, teman-teman kampungku masih tertinggal beberapa tahun setelahku. 

Hari kelulusan sekolah dasar tiba. Aku yang setiap hari selalu diingatkan mengenai kondisi ekonomi keluargaku, harus menjadi dewasa sebelum waktunya dan menerima kenyataan bahwa aku tidak cukup beruntung untuk dapat melanjutkan pendidikan setelahnya. Ketika itu guruku bertanya, “Nak, kamu mau ke SMP mana setelah ini?”. Aku hanya bisa menangis tanpa bisa memberi jawaban kepada guruku karena dari lubuk hati paling dalam aku ingin sekali bersekolah seperti teman-teman lainnya. 

Setelah putus sekolah, selama setahun aku hanya membantu orang tuaku di ladang dan membantu pekerjaan rumah yang bisa aku kerjakan. Keajaiban pun datang pagi itu ketika ada guru yang mengajakku untuk mendaftarkan diri ke sekolah yang baru saja dibuka. Mereka menawarkan sekolah gratis sampai lulus. Aku sangat antusias dan tanpa berpikir lagi langsung memutuskan untuk bersekolah di situ. Sangat bangga karena selama tiga tahun duduk di bangku sekolah menengah pertama, berturut-turut aku selalu mendapatkan peringkat satu. Minatku terhadap bahasa asing mulai berkembang secara tidak sengaja di bangku SMP ini. 

Harapan untuk lanjut ke sekolah menengah atas pupus karena setelah kelulusanku, ayahku harus berpulang dan meninggalkan keluargaku untuk selama-lamanya. Dengan banyak pertimbangan kala itu, akhirnya aku memutuskan untuk merantau dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran pemancingan di Semarang, kota yang cukup dekat dari kampung halamanku. Aku bekerja selama beberapa bulan di restoran ini. Meskipun aku memiliki banyak saudara, kami semua hampir tidak beruntung dalam dunia pendidikan. Semua kakakku hanyalah lulusan SD, sehingga mereka menjadi pekerja kasar di proyek bangunan. Sementara itu, kakak perempuanku menjadi asisten rumah tangga di perantauan. Di desa, ibuku berjuang mencukupi kebutuhan kami dengan berjualan sayur karena adik-adikku masih sangat kecil. Akhirnya, aku memutuskan untuk merantau mencari pekerjaan.

Alasan Sigit berjuang belajar aneka bahasa asing

Tiga tahun aku berpindah-pindah untuk bekerja dan berusaha mendapatkan pengalaman yang lebih baik, sampai suatu hari tanpa sengaja aku berkenalan dengan orang Iran lewat media sosial. Aku menjadi sangat bersemangat untuk belajar lagi. Tanpa sadar, momen itu mengantarkanku pada apa yang aku capai sekarang. Di saat jam istirahat kerja atau pulang kerja aku menyempatkan pergi ke warnet untuk berkomunikasi dengan temanku ini dengan bahasa inggrisku yang sangat berantakan. 

Seiring waktu, motivasiku dalam mengenali potensi diri dan mengembangkan kemampuan bahasa asingku semakin besar. Tanpa sengaja, di Facebook aku menemukan laman sebuah komunitas yang menjadi wadah bagi orang-orang yang mempunyai kegemaran akan bahasa asing. Lewat komunitas ini, aku berkenalan dengan grup besar polyglot dunia dan dari situ berkenalan dengan teman yang menjadi guruku. Dia adalah orang Peru yang berprofesi sebagai seorang dosen di Sydney. Di kunjungannya ke Indonesia aku berkesempatan untuk praktek bahasa asingku, khususnya bahasa Spanyol. Kebetulan dia adalah seorang hyperpolyglot yang bisa berkomunikasi lebih dari delapan bahasa asing. 

Polyglot Indonesia menjadi rumah dan harapanku kala itu. Dalam setahun bergabung di komunitas ini, aku sudah bisa berkomunikasi dengan beberapa bahasa asing, tentunya dengan level yang beragam pula. Bahasa yang ada di daftar ku waktu itu adalah bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Spanyol, dan sedikit bahasa Prancis. Aku pun berkenalan dengan teman-teman yang sangat suportif dan mendukungku untuk lanjut mengejar pendidikan yang lebih tinggi. 

Tahun 2014 aku pindah ke Jakarta dan mendapatkan kesempatan menyiapkan ujian kesetaraan Paket C supaya aku bisa berkuliah. Menyelesaikan ujian ini cukup mudah bagiku namun perjuanganku tidak selesai di situ. Meskipun sudah mendapatkan sertifikat kelulusan program Paket C, ternyata aku masih belum cukup mampu untuk lanjut di perguruan tinggi yang membutuhkan biaya cukup tinggi. 

Teman adalah rejeki, itu adalah sesuatu yang saya percaya. Kebetulan di komunitas polyglot aku sangat akrab dengan seorang yang pernah berkuliah di negara dua benua, Turki. Dia sangat suka dengan kemampuanku berbahasa Turki, sehingga suatu hari aku meminta bantuannya untuk mencarikan pekerjaan yang bisa dibagi waktu untuk berkuliah. Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah temannya. Di sini, di pekerjaan baruku, atasanku sangat baik dan sangat mendukungku untuk pengembangan pendidikanku. 

Tahun 2016 aku mulai berkuliah jenjang sarjana. Meskipun aku memutuskan untuk mengambil konsentrasi dalam linguistik bahasa Inggris, aku tetap mengasah dan mempertahankan kemampuanku berbahasa asing lainnya. Di sela-sela perkuliahan aku juga tergabung bekerja di industri tour & travel, sebagai tour guide professional multibahasa.Pekerjaanku saat itu membukakan pintu untukku berkomunikasi dengan para penutur asli bahasa asing seperti Inggris, Spanyol, Jerman, dan sebagainya. 

Peluang emas menapakkan kaki di Bogota, Kolombia

Mimpiku untuk meraih kesuksesan dalam dunia pendidikan membuatku lebih bersemangat lagi untuk mendapatkan beasiswa internasional. Di samping itu, aku juga termotivasi untuk belajar bahasa asing di negara bahasa yang dimaksud dituturkan. Aku memberanikan diri mencoba mendaftar beberapa beasiswa internasional seperti beasiswa di Taiwan dan di Kolombia. Namun memang benar bahwa mendapat beasiswa bukan perkara yang mudah dan membutuhkan perjuangan. Kecewa dan kegagalan memang guru terbaik. Pertama kali mencoba beasiswa Taiwan hasilnya cukup mengecewakan, begitu pun dengan beasiswa di Kolombia, walaupun sudah mencoba untuk yang kedua kalinya namun tetap saja gagal.

Tidak berkecil hati dan belajar dari kegagalan, aku terus optimis untuk memperbaiki berkas lamaranku dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik. Aku pun menanyakan kepada para alumni kiat-kiat untuk mendapatkan beasiswa. Aku sempat mendapatkan pertanyaan tidak enak dari dosen, “Apakah kamu yakin masih mau mendaftar beasiswa ini? Bukannya sudah dua kali gagal, ya?”. Dengan percaya diri, aku pun menjawab, “Karena ini adalah mimpiku. Aku ingin mengubah nasibku, maka aku akan kejar dan berusaha mendapatkannya sampai kapanpun, sir”. Kali ini hasil tidak mengkhianati usaha. Setelah melewati seleksi berkas, aku berhasil melanjutkan tahapan berikutnya, yaitu wawancara. Tahapan ini adalah serangkaian wawancara dengan pihak penyelenggara program, yaitu dengan pemerintah kota Bogota, Kolombia, dan wawancara dengan universitas yang terlibat. Setelah menunggu kurang lebih hampir satu bulan, akhirnya aku dinyatakan lolos untuk mengikuti program beasiswa Embajadores Bogotá 2019. Haru dan rasa syukur terus ada dibenakku.

A promotional advertisement to study Spanish
Sigit sangat menyukai bahasa asing dan kesukaannya tersebut membawanya ke Bogota, Kolombia, di mana Bahasa Spanyol lazim dituturkan. Terjemahan foto: para penerima beasiswa diharapkan memahami Bahasa Spanyol dan melihat sendiri budaya kota ini. Penerima beasiswa berasal dari Indonesia, Korea, China dan, India, negara-negara dengan budaya yang beragam. Sumber: dokumentasi pribadi.

Beasiswa Embajadores Bogota adalah beasiswa dari pemerintah Kolombia untuk para pemandu wisata dan mahasiswa tingkat akhir yang ingin mendalami budaya Amerika Latin dan ilmu berbahasa Spanyol. Dalam program ini, biasanya para peserta terpilih akan tinggal selama satu semester di Kolombia untuk mendalami semua ilmu yang berkenaan dengan bahasa Spanyol dan budaya setempat. Daftar negara yang bisa mengikuti program sudah ditentukan dari penyelenggara beasiswa, sehingga tidak semua warga dunia berkesempatan untuk mendaftarkan diri mereka pada beasiswa ini. Di tahun 2019, hanya 7 negara yang dipilih untuk mengikuti program ini: Prancis, Jerman, Turki, Indonesia, India, Korea Selatan, dan China. Dari 32 peserta yang lolos seleksi, dan dari total sembilan peserta dari Indonesia, aku adalah satu-satunya yang ditempatkan di salah satu universitas terbaik di Kolombia, Pontificia Universidad Javeriana.

A campus in Latin America
Sigit dan para penerima beasiswa Embajadores Bogota berfoto di depan hotel tempat mereka menginap di Bogota. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada upacara pembukaan program yang dihadiri oleh para tamu undangan kenegaraan, duta besar, dan juga para wartawan, aku dipilih menjadi perwakilan untuk memberikan pidato. Ini adalah momentum dan hal yang membuatku sangat terharu karena akhirnya seseorang yang berasal dari desa pelosok sekarang justru berdiri di hadapan orang-orang penting dunia. Usai pidato itu berakhir kami pun banyak mendapatkan wawancara dari para wartawan serta berbicara langsung dengan para tamu negara. Aku mendapat kesempatan berbicara dengan duta besar dari Turki dan Tiongkok. Duta besar Turki kala itu sangat kagum bagaimana aku bisa berbicara bahasa Turki padahal  belum pernah menginjakkan kaki di Turki. Aku juga menghampiri teman-teman dari Tiongkok yang asyik berdiskusi dengan duta besarnya dan mempraktikkan bahasa Mandarinku. Beliau pun juga terheran dan mengucapkan satu kalimat yang membuatku sangat termotivasi: “Kamu itu keren banget! Saya yang menjadi duta besar saja, hanya bisa berkomunikasi dalam 3 bahasa. Sementara kamu masih muda dan sudah bisa banyak bahasa. Harusnya kamu menjadi seorang diplomat! Dunia diplomasi sangat butuh orang yang memiliki kemampuan berbahasa asing seperti kamu!”, ujarnya. 

Semoga banyak yang terinspirasi dengan kisahku, kalau kalian berada di kondisi yang sama atau lebih buruk dariku, maka positif saja kita pasti mampu mengubah itu asalkan kita mau berusaha! Bagi yang lebih beruntung dari segi ekonomi, maka tidak alasan bagi teman-teman semua untuk tidak bisa lebih sukses dariku.

Table tennis
Sigit bermain bola ping pong bersama kawan-kawannya di sela studi. Sumber: dokumentasi pribadi.

***

Editor: Nefertiti Karismaida

Reporter: Djodi Hardi Prajuri


SHARE
Previous articleTips & Trik Menghemat Biaya Hidup Selama Berkuliah di Australia: Sebuah Pengalaman
Next articleBelajar Bahasa Mandarin di Tanah Kelahiran Boba
Sigit merupakan representasi dari Indonesia yang mengglobal. Berasal dari sebuah desa kecil di Grobogan, Jawa Tengah, ia memiliki impian untuk dapat berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara di dunia. Kesabaran dan ketekunannya berhasil menjadikannya orang pertama di keluarganya yang menempuh studi tingkat SMA dan perguruan tinggi. Lulus dari dari program S1 Sastra Inggris dengan predikat cum laude, Sigit adalah seorang multilingual yang sempat aktif di beberapa organisasi seperti AIESEC dan Polyglot Indonesia. Selain itu, ia pernah bekerja sebagai penerjemah lisan bahasa Spanyol di beberapa kesempatan dan pemandu wisata multibahasa. Ia juga sempat memberanikan diri untuk menemani tamu tuli dari Jerman dengan keterbatasan bahasa isyarat Jermannya yang dipelajari dalam beberapa minggu. Kecintaannya pada bahasa dan budaya mengantarkannya pada sebuah pencapaian yang cukup membanggakan, yaitu beasiswa Embajadores Bogota 2019 dari pemerintah Kolombia. Saat ini, Sigit sedang bekerja di perusahaan multinasional asal Tiongkok di bagian inventory control, bekerja bilingual dalam bahasa Indonesia maupun Mandarin. Pada tahun 2021, dia mendapat predikat “Employee of the Year” di perusahaannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here