Rayakan Hari Perempuan Sedunia, British Council Indonesia Promosikan Beasiswa Women in STEM

0
625
Virtual Talk Show Women in STEM Go For It. Sumber: British Council dan Mentari Program
Virtual Talk Show Women in STEM Go For It. Sumber: British Council dan Mentari Program

“Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, Mentari – sebuah program kerjasama antara Kedutaan Besar Inggris Jakarta dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, bersama dengan British Council Indonesia, menyelenggarakan acara bertajuk “Women in STEM: Go For It!”

“Acara webinar ini menjadi bukti komitmen dan dukungan penuh Program Mentari dan British Council Indonesia terhadap peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kesetaraan gender serta pembangunan sosial dan ekonomi melalui penyetaraan akses ke pendidikan tinggi yang berkualitas. British Council Indonesia mendorong perempuan Indonesia untuk meniti karir di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika, dengan melipatgandakan kuota beasiswa Women in STEM tahun ini.”

***

Dipandu oleh Sakdiyah Ma’ruf, S.S., M.A., kegiatan virtual talk show yang diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2022 ini dibagi menjadi tiga sesi utama, yaitu pidato pembukaan, talk show Women in STEM: Go For It!, serta informasi beasiswa Women in STEM dari British Council Indonesia.

Dalam sambutannya, Amanda McLoughlin (Development Director, British Embassy Jakarta) mengingatkan kepada para pendengar bahwa ketidaksetaraan gender masih menjadi masalah besar yang dihadapi dunia. Selain itu, ia pun mengharapkan adanya upaya kolektif dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah tersebut.

Amanda McLoughlin, Development Director, British Embassy Jakarta. Sumber: British Council dan Mentari

“Kita tahu bahwa bidang STEM merupakan bidang yang didominasi oleh laki-laki. Menurut data dari UNESCO, kurang dari 30% peneliti di penjuru dunia adalah perempuan dan hanya ada 30% mahasiswa perempuan yang memilih bidang STEM di pendidikan tinggi,” tutur Amanda McLoughlin dalam sambutannya.

Amanda pun menekankan bahwa upaya mengatasi ketimpangan ini akan berpengaruh kepada kesetaraan perolehan pendapatan yang akan diterima oleh kaum perempuan karena para pekerja di bidang STEM pada umumnya memiliki pendapatan 2/3 lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja di luar bidang STEM.

Selain itu, ia pun menjelaskan peranan Program Mentari dalam mendorong kesetaraan dan inklusivitas gender di Indonesia.

“Program Mentari juga memiliki fokus khusus dalam meningkatkan inklusivitas gender dan memperluas kesempatan bagi perempuan. Sebagai contoh, kami merancang sistem kelistrikan yang baru untuk dua desa di mana kaum perempuan memiliki peranan penting untuk pengelolaan dan pengoperasian sistem. Kami pun menyediakan pelatihan untuk mengajarkan kemampuan teknis yang diperlukan oleh mereka” ujar Amanda.

Sesi Talk Show bersama perempuan perempuan inspiratif di Indonesia. Sumber: British Council dan Mentari

Sambutan tersebut disusul dengan rangkaian acara yang kedua, yaitu talk show yang menghadirkan perempuan-perempuan pemimpin di bidang STEM di Indonesia, yaitu Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani (Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Kelistrikan), Harkunti Pertiwi Rahayu, PhD (Pakar kebencanaan, mitigasi bencana, dan tsunami di Institut Teknologi Bandung), dan Dewi Norytyas (MSc Candidate in Sustainable Water Development, University of Glasgow).

Dewi Norytyas menceritakan bagaimana awalnya ia berkecimpung dalam bidang STEM. Penerima beasiswa Women in STEM ini menerangkan tentang semangatnya dalam memberikan manfaat bukan hanya untuk tempat kerjanya saja tetapi juga untuk kampung halamannya.

“Rumah saya persis di pinggir sungai dan saya selalu merasakan banjir setiap musim hujan. Sewaktu saya kecil, bapak saya seringkali mengajarkan tentang alam seperti sawah dan sungai yang membuat saya cinta akan alam” ujar Nory.

“Saat saya mendengar beasiswa Women in STEM, saya melihat ada jurusan yang sangat menarik bagi saya, yaitu Sustainable Water Development. Karena saya dari desa, saya ingin mengambil jurusan yang dapat memberikan manfaat untuk desa dan tempat kerja saya juga” ungkap mahasiswa University of Glasgow tersebut.

Sementara itu, Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani menceritakan kesuksesan yang dialaminya selama menjadi pemimpin di bidang STEM. Mantan Pelaksana tugas Direktur Utama PT. PLN Persero ini menjelaskan bahwa kesuksesan tersebut dilalui setelah berbagai proses dan tantangan yang dihadapinya.

“Berhubung sekarang saya membantu di birokrasi sebagai tenaga ahli, yang saya rasakan tentang kesuksesan itu adalah yang menyentuh human, sesuatu yang bisa menyentuh kepada manusia yang lain, menggerakan orang, kemudian mereka terdorong dan terinspirasi untuk menjadi lebih baik lagi. Dan itulah yang kita rasakan manakala sudah selesai dan mereka merasa bersyukur. Di saat yang sama, kita mungkin tidak menyadari bahwa hal yang kita lakukan bisa menginspirasi mereka” ucap Tenaga Ahli Menteri ESDM tersebut.

Selanjutnya, Harkunti Pertiwi Rahayu, PhD, memberikan pesan penting kepada para perempuan yang akan atau sedang berkecimpung di bidang STEM. Anggota Komite Riset untuk Program Tsunami Dekade Laut PBB ini menekankan kepada para perempuan untuk tidak ragu berkecimpung di bidang STEM.

“Saya punya pesan untuk para perempuan bahwa bidang STEM ini punya opportunity yang luas. Tapi tolonglah jangan ragu ambil bidang yang hari ini tampak ‘kurang penting’ atau minoritas bidang ilmunya. Kita perlu lihat proyeksinya ke depan, pasti akan banyak manfaatnya. Intinya adalah Anda perlu suka, komitmen, dan konsisten akan bidang tersebut” jelas lulusan doktor di Kochi University of Technology tersebut.

Sesi Informasi Beasiswa Women in STEM dengan perwakilan 4 Universitas dari Inggris. Sumber: British Council dan Mentari

Sesi terakhir dalam webinar ini adalah informasi beasiswa Women in STEM yang dibuka oleh sambutan Bapak Muhaimin Syamsuddin (Senior Programme Manager, British Council). Dalam hal ini, beliau menjelaskan tentang tujuan beasiswa Women in STEM, target pendaftar, dan rincian pendanaan.

“Beasiswa Women in STEM ini adalah beasiswa penuh senilai kurang lebih 35.000 Poundsterling yang akan mendanai biaya kuliah (tuition fee), biaya perjalanan, visa, asuransi premium (NHS Premium), termasuk jika Anda membawa anak saat studi, maka akan ada pendanaan untuk anak yang ikut serta ke Inggris” ujar Bapak Muhaimin Syamsuddin

Senior Programme Manager British Council tersebut pun mengatakan bahwa beasiswa Women in STEM tahun ini tidak hanya dibuka untuk jenjang Magister saja tetapi juga jenjang Early Academic Fellowship. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengakses tautan berikut ini.

Selain itu, hadir pula perwakilan dari empat universitas di Inggris, yaitu Haroon Riaz (Deputy Head of International Student Recruitment, South East Asia, Brunel University London), Luke Cumiskey (International Recruitment Assistant and Scholarship Officer, Teeside University), Alfin Firdaus (International Officer, Indonesia, University of Glasgow) dan Vaughan McKee (Global Partnership Officer, University of York).

Perwakilan Brunel University of London sedang menjelaskan tentang beasiswa Women in STEM di kampusnya. Sumber: British Council dan Mentari

Dalam hal ini, masing-masing perwakilan kampus memberikan penjelasan tentang program-program yang dapat para pelamar daftar di masing-masing universitas yang termasuk ke dalam lingkup beasiswa Women in STEM. Sebagai contoh, terdapat empat departemen/pusat di University of York yang dapat dipilih oleh para pelamar beasiswa Women in STEM, yaitu Chemistry, Electronic Engineering, Environment and Geography, dan Center for Energy Efficient Materials (CEEM).

Kegiatan talk show ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dari para peserta yang dipandu oleh moderator acara.

Apabila Anda merupakan perempuan yang berkecimpung di bidang STEM dan ingin mendapatkan kesempatan emas dalam mengenyam pendidikan tinggi berkualitas di luar negeri, maka beasiswa Women in STEM adalah jawabannya. Klik tautan berikut ini untuk informasi lebih lanjut.

Rekaman acara talk show Women in STEM: Go For It! dapat dilihat ulang di video berikut ini:

***

Penulis: Yogi Saputra Mahmud


SHARE
Previous articlePerempuan di Panggung Global
Next articleTackling Jakarta’s Floods Problem: Alya’s Motivation to Apply for the Women in STEM Scholarship
Perjalanan Indonesia Mengglobal diawali pada tahun 2012, ketika beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Stanford University menyadari terbatasnya informasi mengenai belajar dan bekerja di luar negeri. Pada tanggal 9 Maret 2012, artikel pertama Indonesia Mengglobal mengenai tips-tips aplikasi universitas dan beasiswa di luar negeri sukses dipublikasikan. Melalui semangat untuk berbagi tersebut, Indonesia Mengglobal telah mempublikasikan lebih dari 900 artikel mengenai pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri yang ditulis oleh lebih dari 500 kontributor, dengan hampir 30,000 subscribers. Setiap tahunnya, Indonesia Mengglobal juga dijalankan oleh puluhan relawan terpilih yang bersemangat untuk menyebar manfaat lebih jauh lagi melalui program mentorship dan annual seminar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here