Eid Mubarak from Australia!

0
477
Mahasiswa Indonesia sedang merayakan Idul Fitri bersama. Sumber: @sriwidayanisyam

Studi di luar negeri identik dengan kesiapan untuk jauh dari keluarga di momen-momen penting seperti hari raya. Namun, bukan berarti studi di luar negeri menjadi penghalang untuk merayakan hari raya secara menyenangkan. Di artikel kali ini, Tim Australia, New Zealand, dan Pacific Island akan mengulas pengalaman merayakan hari raya Idulfitri di Australia sebagai pelajar internasional.

***

  1. Masak Bersama

Makanan merupakan bagian penting dalam merayakan Hari Kemenangan. Dari pengalaman kami, memasak berbagai macam makanan lebaran adalah salah satu dari cara untuk mengobati rasa rindu akan makanan di kampung halaman. Memasak biasanya dilakukan bersama-sama, dimulai dari merencanakan masakan apa saja yang akan dimasak, berbelanja bersama (termasuk patungan untuk pembelian bahan), serta memasak bersama.

Berbelanja bahan-bahan untuk hidangan hari raya secara kolektif. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Ada pun makanan-makanan yang dipilih lengkap dimulai dari makanan pembuka, makanan berat khas Lebaran (opor, ketupat, sambal ati, perkedel, dll.), termasuk snack, buah-buahan, serta berbagai minuman sebagai pelengkap hidangan di hari raya. Biasanya juga, setiap rumah yang biasanya diisi oleh beberapa mahasiswa (shared house) mengadakan open house, yaitu mengundang rekan-rekan lainnya untuk mencicipi masakan yang dimasak bersama. 

Hidangan yang dimasak bersama ketika hari raya. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Memasak bersama tentunya memberikan banyak keuntungan. Selain menghemat biaya, terdapat keseruan sendiri untuk hunting bahan-bahan masakan. Jangan khawatir mengenai bumbu dan rempah-rempah, karena biasanya terdapat Asian Store yang menjual berbagai macam bumbu dan rempah-rempah khas Asia untuk menambah cita rasa hidangan di hari raya. 

2. Beribadah Bersama

Beberapa hari sebelum hari raya, biasanya tersebar pengumuman untuk umat Muslim mengenai tempat-tempat yang bisa digunakan untuk ibadah bersama. Area aula kampus menjadi area yang sering difungsikan untuk ibadah bersama, selain Masjid. Aula kampus menjadi pilihan yang cukup populer, dengan pertimbangan jarak tempuh yang cukup dekat.  Menariknya, di aula kampus ini, tidak hanya orang Indonesia saja yang beribadah bersama, namun juga mahasiswa atau pendatang dari berbagai negara. 

Suasana ibadah di Aula Kampus Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Ada pengalaman menarik yang sama-sama kami rasakan ketika beribadah di aula kampus. Kami berkesempatan untuk mendengarkan ceramah dari imam yang berasal dari negara lain. Pengalaman tersebut sangatlah berkesan dikarenakan kami merasa walaupun latar belakang kami berbeda-beda, namun kami dapat disatukan dengan penuh keberkahan di hari yang spesial tersebut. 

Mahasiswa Indonesia setelah melaksanakan ibadah bersama. Sumber: @asep_nuryadin08

3. Free food everywhere!

Menikmati santapan khas hari raya ternyata tidak hanya dapat dilakukan dengan memasak bersama, namun juga dengan mengunjungi stalls yang tersedia di sekitar area ibadah. Biasanya, terdapat banyak makanan yang ‘disumbangkan’ oleh ibu-ibu yang kebanyakan telah menetap lama di Australia, untuk dapat dinikmati secara gratis oleh rekan-rekan mahasiswa. Makanan-makanan ini dihidangkan sebagai bentuk kepedulian para ibu-ibu tersebut untuk mengobati rasa rindu para mahasiswa rantau di Australia. 

Suasana berbagi makanan setelah selesai ibadah. Sumber: @sriwidayanisyam

Hidangan tersebut memberikan kesan yang sangat mendalam bagi kami, karena walaupun di hari raya kami jauh dari keluarga, namun kami merasa sedang di rumah dikarenakan dengan menikmati hidangan yang nikmat tersebut. 

4. Menghabiskan Waktu Bersama

Ketika studi di luar negeri, teman-teman seperantauan menjadi keluarga terdekat untuk saling berbagi rasa suka dan duka. Columnist Australia, New Zealand, dan Pacific Islands, Nurhamsi Deswila (alumni Monash University, Australia) menceritakan pengalamannya merayakan hari raya dengan teman-temannya.

“Kami benar-benar menghabiskan satu hari bersama dan membuat suasana Lebaran selayaknya di Indonesia. Kalau kita pulang langsung ke rumah setelah lebaran, akan ada kesedihan yg dalam karena kita di Australia itu sebagai minoritas. Jadi biasanya ada satu atau dua rumah senior yang open house. Kita nongkrong di rumah tersebut dan biasanya pulangnya sorean… Biar ngga kerasa sendiriannya.. “

Menghabiskan waktu Lebaran bersama teman-teman di perantauan . Sumber: Nurhamsi Deswilla

Sekian sedikit pengalaman kami yang kini telah pulang ke Indonesia ketika merayakan hari raya di Australia. Walaupun terasa berat untuk merayakan hari raya jauh dari keluarga, namun kami setuju bahwa jauh dari keluarga ternyata tidak semenyeramkan itu. Hari raya di luar negeri tetaplah berkesan dan membuat kami merasakan at home, dengan kebaikan-kebaikan yang kami rasakan dari komunitas yang selalu saling berbagi. Selamat Hari Raya Idulfitri!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here