Yang Bangkit dari Kematian: Sisi Lain Perjalanan PhD

0
558
Erlinda Syam bersama mahasiswa PhD asal Indonesia di Deakin University. Sumber:Dokumentasi Pribadi

Seringkali, peran dalam keluarga seperti istri atau ibu dianggap menjadi halangan bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tak dapat dipungkiri, salah satu fase yang dapat dipilih oleh seorang wanita adalah menikah dan memiliki anak. Namun demikian, apakah hal itu membatasi kita untuk mengembangkan diri dan melangkah lebih tinggi? 

Simak kisah Erlinda Syam, PhD in Linguistics di Deakin University, Australia, yang justru memperoleh keajaiban dalam menjalani peran sebagai istri dan ibu saat menempuh jenjang pendidikan tertinggi di negeri kangguru, Australia.

***

Dinyatakan Hamil: Kehamilan yang Ajaib

Nama saya Erlinda Syam. Allah memberi saya seorang putra yang kami beri nama, Muhammad Althafurrahman Nur, atau kami memanggilnya Umam. Putra saya lahir Jum’at 30 Maret 2018 pagi. Peristiwa kelahiran Umam tentunya akan saya kenang sebagai peristiwa paling ekstrim yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Dari awal kehadirannya di perut saya, Umam sudah spesial. Dokter menyatakan kehamilan saya adalah sebuah keajaiban setelah melihat dua bongkahan kista endometriosis berukuran cukup besar di ovarium kiri dan kanan saya dari hasil foto ultrasound pada minggu keenam kehamilan.

Normalnya, penderita keadaan serupa baru akan hamil jika menjalani bedah laparoskopi atau terapi hormon yang intensif. Sedangkan saya bahkan tidak pernah tahu bahwa ada dua benda tersebut bersarang dalam tubuh saya.

Menjalani kehamilan jauh dari keluarga, sambil sekolah S3 pula, membuat hari-hari saya penuh drama. Saya pernah collapse di kampus, sakit perut dan mual yang menyiksa, sakit kepala berkepanjangan, tulang belulang yang semakin hari semakin ngilu dan lain-lain.

Keadaan yang tergolong standar bagi ibu hamil. Bedanya orang lain sabar menjalaninya sedangkan saya banyak mengeluh, rewel dan merengek seolah-olah menjadi orang paling menderita di dunia, membuat repot dan kalang kabut suami yang memang luar biasa penyabar.

Perjuangan Melawan Diabetes

Pada trimester kedua, dari hasil uji gula darah, saya dinyatakan mengalami diabetes gestasional, yaitu jenis diabetes yang hanya dialami pada masa kehamilan. Dokter Arunaz, dokter obgyn yang merawat saya sejak bulan ketiga kehamilan segera mengirim saya ke spesialis diabetes. Saya diperintahkan untuk melakukan diet glukosa ketat sampai persalinan nanti, yang kira-kira masih empat bulan lagi.

Selain itu kadar gula darah saya akan terus dipantau dan harus dilaporkan pada dokter tiap kali visit untuk check up. Caranya, saya harus menusuk ujung jari untuk mengambil setetes darah dengan jarum dan mesin khusus yang akan menampilkan angka kadar gula darah bangun tidur dan tiap sesudah makan. Sebagai orang yang bermusuhan dengan jarum (kecuali jarum pentul dan jarum jahit), saya merasa tersiksa dengan prosedur tusuk menusuk ini. I wanted to give up, but there is no way back.

Lebih parahnya lagi, saya diperintahkan melakukan diet ketat. Saya harus menghindari gula sama sekali, mengganti beras putih jasmine biasa dengan beras basmati yang hambar rasanya, menghindari konsumsi apapun dua jam sesudah makan pagi siang malam, hanya bisa ngemil buah dan menghindari fast food. Coba, point mana dari semua ini yang enak bagi ibu hamil?

Sementara di trimester kedua makan baru mulai terasa enak kembali. Di sisi lain, setiap akan melakukan tes lab untuk keperluan macam-macam serta USG yang sering, pada surat pengantar, saya bisa membaca catatan “poor weight gain” di antara tulisan tangan cakar ayam dr. Arunaz. Nah lho…gimana ceritanya ini? Harus diet tapi juga harus menambah berat badan.

Erlinda Syam bersama kedua pembimbing tesisnya saat merayakan keberhasilan Erlinda submit thesis di Wattle Park Burwood. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Prosedur Penanganan Kehamilan di Australia

Hamil di Australia memberi saya banyak pengalaman berharga. Sistem kesehatan yang sangat rapi membuat ibu-ibu hamil mendapat jaminan perawatan yang sangat memadai. Ada berbagai macam tes lab yang akan memastikan janin tumbuh sehat dan ibu terawat. Namun, terdapat beberapa tes yang saya tolak dengan alasan tertentu. Uji pap smear saya tolak (lebih tepatnya ditunda sampai nanti setelah bersalin) dengan alasan saya dan suami memiliki gaya hidup clean dan jauh dari free sex.

Erlinda Syam ditemani suaminya saat mengikuti Summer School, salah satu program Deakin University di Geelong. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Dari penjelasan saya, dokter setuju dan menganggap saya low-risk. Saya juga menolak tes kelainan kromosom sebab  jika memang ditemukan potensi kelainan kromosom dan down syndrome pada janin, nothing can be done. Tidak ada cara untuk menyembuhkannya atau mencegahnya.

Yang bisa dilakukan hanya menghentikan kehamilan atau melakukan berbagai persiapan untuk mengasuh anak berkebutuhan khusus ini. Untuk hal ini, saya jelaskan bahwa dalam kepercayaan saya, anak adalah titipan Tuhan dan bahwa saya dan suami akan menerima dan menyayangi anak kami bagaimanapun keadaannya. 

USG dilakukan pada awal dinyatakan hamil, lalu pekan 12, 20, 28, 32 dan 36. Awal hamil check up masih bisa di General Practitioners (dokter umum), tapi menginjak bulan ke tiga, saya langsung di transfer ke dokter obgyn. Dokter Arunaz, obgyn saya, segera menjadwalkan rumah sakit pada kunjungan pertama saya.

Saya didaftarkan di Rumah Sakit Jessie McPherson. Selanjutnya dokter meminta saya datang sekali sebulan sampai dengan bulan ke tujuh. Kunjungan dilakukan dua kali sebulan pada bulan ke tujuh dan bulan ke delapan. Pada bulan ke sembilan kunjungan menjadi satu minggu sekali.

Uniknya di sini selama hamil, setiap ke dokter, kita tak akan pernah diresepkan obat-obat apapun. Susu hamil pun tak pernah disarankan. Supermarket tidak menjual susu jenis ini.

Meski hari perkiraan lahir saya adalah 8 April 2018, dr. Arunaz memprediksi saya akan bersalin seminggu lebih cepat. Jikapun belum ada tanda-tanda persalinan alami, ia sepertinya tak hendak menunggu selama itu.

Jika janin sudah full term, yaitu menginjak usia 37 minggu, berbagai usaha untuk menstimulasi kelahiran sudah dapat dilakukan. Ditambah lagi riwayat saya yang menderita diabetes gestasional, yang bisa berakibat janin menjadi terlalu besar untuk dapat ditanggung badan saya yang kecil ini.

Erlinda Syam berkumpul bersama teman sesama mahasiswa PhD asal Indonesia. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Menjalani Berbagai Metode Persalinan

Oleh karenanya, pada kunjungan minggu ke-38, dr. Arunaz menawarkan kepada saya untuk mencoba metode  membrane sweep. Sebuah metode untuk memisahkan kantung janin dengan dunia luar. 

Setelah dua kali melakukan metode membran sweep yang luar biasa menyakitkan, akhirnya saya mengalami kesakitan kontraksi. Setelah diizinkan oleh perawat, kami bergegas datang ke rumah sakit. Di sini, semua harus sesuai prosedur, kita tidak akan dilayani jika datang ke rumah sakit sebelum disetujui. Saya dibawa suami dengan kursi roda menuju lantai lima Rumah Sakit Monash Medical Center yang merupakan induk Rumah Sakit Jessie Mcpherson. 

Saya merasakan proses melahirkan seolah deraan rasa sakit yang sungguh mematikan. Saya meminta suami menghubungi ibu saya di kampung. Saya memohon ampunan atas segala dosa saya sebagai anak. Ibu saya terdengar menangis di ujung sana. Setelah derita yang menyakitkan sepanjang malam, akhirnya pada pagi harinya, dr. Arunaz memutuskan untuk melakukan metode forceps. Jika metode ini gagal, maka berikutnya adalah emergency cesarean.

Tak kurang dari setengah lusin perawat dan bidan segera bergerak membawa membwa saya turun ke lantai tiga, operating theater. Tiba disana sejumlah besar dokter, perawat dan midwife sudah menunggu. Suami saya diizinkan menemani.

Tak lama, akhirnya Umam lahir dengan bantuan forceps. Umam diletakkan di dada saya. Sebentar saja Umam segera diambil kembali untuk dibersihkan. Suami mencium kening saya haru. Saat itulah saya tiba-tiba merasa kelelahan tak terkira. Sesaat sebelum kehilangan kesadaran, saya masih sempat membuat keputusan, bahwa Umam adalah bayi laki-laki tertampan yang pernah saya lihat.

Perawat memperlihatkan bayi Umam kepada suami Erlinda. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bangkit dari Kematian

Saya terbangun 18 jam kemudian pada pukul 12.30 tengah malam d ruang yang sangat asing. Seorang perawat segera mendekat. Saya merasa dia tak pernah melepaskan pandangan dari saya walau sebentar. Saat terjaga saya melihat belasan kabel menempel di tubuh saya, bahkan ke dalam mulut dan hidung. Setengah jam setelah tersadar barulah kabel dan selang dilepas. Barulah saya bisa bicara. “Where am I? Where is my husband and my baby?” tanya saya.

Maria menjelaskan bahwa saya berada di ruang ICU dan bayi saya ada di ruang nursery. Suami saya mungkin sudah pulang. Tak lama, mendadak kamar saya dipenuhi perawat yang sepertinya merupakan sebagian besar perawat dan dokter jaga malam itu. Maria segera menelepon nursery room meminta Umam diantar. Keheranan saya bertambah besar saat sejumlah besar lagi perawat ikut mengantar Umam kepada saya.

Pagi harinya dr. Arunaz datang. Masih berkostum pakaian jogging, sepertinya ia datang terburu-buru begitu diberitahu bahwa saya sudah sadar. Saya menyapanya lebih dulu “Hi doctor…” Jawaban dr. Arunaz sungguh mengherankan “Hi..Erlinda, welcome back to life. I am coming now to explain to you what happened yesterday in operating theater.” Ia menjelaskan bahwa setelah Umam lahir, saya mengalami bleeding parah.

Yang paling horor dari penjelasan dr. Arunaz “Then your heart stopped working for about few minutes.”  Mencoba mencerna penjelasan ini, saya bertanya “Maksud Anda, saya mati selama beberapa menit? “Benar” jawabnya.

“Saya sudah menolong kelahiran ribuan bayi tapi belum pernah saya mengalami ketakutan sebesar kemarin” katanya. Jantung saya berdetak kembali setelah usaha Cardiopulmonary Resuscitation atau CPR berhasil.

Tak tertahankan air mata saya meleleh. “Sungguh beruntung kamu berada di rumah sakit ini. Jika kamu melahirkan di rumah sakit lain mana pun di Melbourne ini, kamu mungkin takkan bertahan. Untungnya rumah sakit ini memiliki peralatan terlengkap dan tim dokter hebat” kata dr. Arunaz menjelaskan. Saya ngeri membayangkan jika saya bersalin di Indonesia.

Suami saya yang menemani saat itu tak mampu berkata-kata. Sesudah dr. Arunaz pamit, suami menjelaskan bahwa ia diusir keluar begitu kondisi saya menurun. Dokter memberitahu suami saya bahwa saya dibius total sambil ditransfusi tiga liter darah pengganti.

Kemungkinan saya baru akan tersadar sore harinya. Saat sore harinya ia kembali ke ruang ICU, dokter meralat janjinya dengan mengatakan ”Maaf…kami tak bisa menjanjikan kapan dia akan terbangun.” Saat itulah, kata suami saya ia dicekam ketakutan yang sangat. Ia pulang dan berdoa sambil menangis, memohon pada Allah agar saya diselamatkan.
Erlinda Syam beserta suami dan anaknya enam jam setelah bangkit dari kematian. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Selama berada di ruang ICU, kondisi saya dipantau sangat ketat. Sepertinya semua perawat ICU dan dokter-dokter ikut lega saya akhirnya sadar. Saya mendapat kesan bahwa semua perawat dan dokter ICU tahu apa yang terjadi pada saya dan menunggu-nunggu apakah saya benar-benar akan bisa terbangun.

Entah apa yang Allah rencanakan dengan kembalinya saya ke kehidupan ini. Yang pasti, ada Umam yang harus saya dan suami besarkan sekarang. Dulu sekali saya beberapa kali mengalami situasi kritis. Saya pernah lumpuh total akibat virus polio mematikan dan juga survive saat kecelakaan motor fatal. Akan tetapi mengalami mati sebenarnya tak pernah saya bayangkan akan saya alami.

Berbulan-bulan setelah persalinan rasa sakit di jantung akibat resusitasi masih saya rasakan. Saya juga masih merasa sangat lelah. Menurut midwife Sue yang merawat saya itu wajar mengingat “you were just hit by truck.” Umur memanglah rahasia Allah, dan hidup mati tak bisa diprediksi. 

Erlinda syam bersama anaknya di depan kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia Melbourne. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Finally, PhD journey is not only about academic experience. Berbagai pengalaman bertahan hidup telah saya alami selama menjalani pendidikan.

Saya merasa tidak hanya berkembang secara akademik, tapi juga mendapat berbagai pelajaran berharga dalam hidup, kesempatan mengamati berbagai budaya yang berbeda, kesempatan berinteraksi dengan orang dari berbagai ras dan warna, dan berbagai pengalaman yang membantu saya menjadi orang yang lebih baik.

Menempuh pendidikan S3 di Australia, dengan berbagai jatuh bangun di dalamnya, telah mengatur ulang saya sebagai manusia baru. Terutama pengalaman melahirkan Umam, yang merupakan peristiwa yang membuat saya lebih bersyukur atas karunia Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan untuk menjadi Ibu bagi Umam.

PROFIL

Erlinda Syam adalah staf pengajar Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ibu satu putra ini adalah penerima beasiswa S3 dari LPDP. Saat ini Erlinda sedang berada pada tahap akhir penyelesaian thesis S3 di Deakin University, Melbourne Australia.


SHARE
Previous articleEid Mubarak from Australia!
Next articleMerayakan Hari Raya di Tanah Rantau: Refleksi Lebaran Tanpa Nastar
My name is Nurhamsi Deswila, my mother calls me Wila. I am the first child in my family from Muaralabuh, Solok Selatan, West Sumatera. I got married and I have one beautiful daughter. After getting a Master of TESOL degree at Monash University in 2019, I work as a lecturer in West Sumatera. Together with my friends, I also initiated a community project, namely, Solok Selatan Mendunia to share and support education in our regency. I am currently residing in Bukittinggi, West Sumatera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here