Kultur bekerja di Korea apakah sama dengan drama?

0
389

Rahmadio Catur Putra, atau kerap disapa Putra telah melewati lika-liku kehidupan dari kuliah sampai bekerja selama di Korea. Dalam artikel ini, Putra membagikan cerita menarik terkait pengalamannya mendaftar hingga bekerja di salah satu perusahaan Korea dari bidang energi dan manufaktur. Apakah ceritanya seperti drama? Mari ikuti perjalanan hidupnya melewati drama kehidupan di Korea Selatan.

***

Melanjutkan studi ke luar negeri sudah menjadi impianku semenjak masih kuliah. Setelah lulus kuliah di Bandung, aku melanjutkan studi S-2 ke Korea Selatan, negara yang kini lebih dikenal akan K-Popnya dibanding ginsengnya. Singkat cerita, aku lulus setelah menjalani lika-liku kehidupan sebagai graduate student dan berhasil mengganti visa student (D-2) ke visa researcher (E-3) setelah diterima bekerja sebagai ju-im (주인) di salah satu perusahaan start-up (punyanya Nam Do San) di bidang energi hidrogen dan fuel cell. Kini sudah memasuki tahun ke-4 aku hidup di Korea Selatan. Aku yang sebelumnya belum pernah memiliki pengalaman kerja profesional sekalipun di Indonesia, harus menghadapi hustle culture-nya Korea di pekerjaan pertamaku. Ceritaku kali ini akan lebih fokus mengenai kehidupan kantorku di Korea. 

Proses mendapatkan kerja

Satu semester sebelum lulus, aku sudah mulai mencari-cari informasi dan membuat list perusahaan-perusahaan yang menjadi incaranku. Terlebih, para senior dan teman korea di lab juga memberi informasi dan dukungan agar aku bisa bekerja di Korea. Sebagai informasi, umumnya kuliah S2 dan S3 bidang sains dan teknik di Korea mensyaratkan kuliah sambil “bekerja” di lab dengan bimbingan profesor dari pukul 9-6 sore. Para senior dan teman korea yang berada di lab yang sama denganku inilah yang banyak memberi informasi mulai dari jobfair di kampus, website perusahaan, dan berbagai hal lainnya. Lebih dari 50 nama perusahaan berada di listku, namun kenyataannya kurang dari separuh yang aku daftar. Kenapa? Karena proses membuat aplikasi lamaran pekerjaan yang cukup riweuh mulai dari resume yang harus di-submit manual di website, menjawab esai, input transkrip nilai secara manual, sampai mempersiapkan slide ppt. Waktu untuk mempersiapkan dokumen yang hanya 1-2 minggu ditambah kesibukan mempersiapkan thesis defense, plus kemageran yang sedikit berkontribusi, membuatku hanya mampu melamar beberapa perusahaan.

Proses rekrutmen yang umum di Korea mirip dengan di Indonesia, terdiri dari screening dokumen, tes tulis, wawancara, wawancara lagi, dan untuk beberapa perusahaan ditambah wawancara ketiga, medical check-up, dan pendidikan. Aku sendiri pernah menjalani tes tulis, wawancara 1, hingga tahap wawancara 2. Namun, memang mencari pekerjaan tidaklah mudah, terlebih status sebagai alien* yang tidak mahir berbahasa lokal membuat aku menerima banyak penolakan. Sampai suatu hari, aku wawancara di perusahaan tempat bekerjaku saat ini. Pertanyaan tentang CV-ku dilontarkan dengan bahasa inggris oleh 3 pewawancara dan 2 pewawancara memberikan pertanyaan seputar latar belakangku dengan bahasa korea. Beruntung, walau aku menjawab dengan bahasa korea yang tidak fasih, atmosfir wawancaranya sangat nyaman sehingga tidak membuatku gugup. Hari itu juga aku dinyatakan lulus dan akan di-email terkait dokumen yang diperlukan dan hal terkait kontrak kerja.

*Di korea, para orang asing diberi kartu identitas yang disebut sebagai ARC: Alien Registration Card. Namun, peraturan baru mengubah istilah ARC menjadi Residence Card.

Volunteer bersama teman internasional. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Sistem kantor di Korea secara umum

Sebelumnya aku sudah mengatakan kalo aku diterima sebagai ju-im di perusahaan tempatku bekerja.  Jabatan di kantor Korea dapat diklasifikasikan dalam dua jalur: umum dan R&D. Untuk jalur umum biasanya terdiri dari: sa-won (staff), ju-im (assistant manager), dae-ri (associate manager), kwa-jang (manager), cha-jang(deputy general manager), bu-jang (general manager), sementara jalur R&D terdiri dari: sa-won (staff), seon-im (junior researcher), chaek-im (senior researcher), su-seok (principal researcher). Biasanya new hire akan ditempatkan sebagai sa-won, namun perusahaan menempatkanku sebagai ju-im  dengan mempertimbangkan 2 tahun kuliah sebagai pengalaman. 

Sebagai karyawan baru dan juga mak-nae, sudah menjadi budaya Korea untuk menyuruh-nyuruh mak-nae dengan tugas-tugas ringan, seperti memastikan persediaan cup gelas dan kopi sachet serta mengganti galon air jika habis. Sepertinya, karena sesama asia memiliki kultur yang serupa membuatku lebih mudah beradaptasi dengan hal tersebut dibanding rekan kerja lain yang berasal dari barat. Bekerja dari pukul 9 hingga 6 sore dan tentunya lembur yang tak jarang dilakukan hingga pukul 7 atau 8 malam. Untungnya perusahaan mem-provide makan malam untuk mereka yang lembur. Dengan kemampuan bahasa koreaku, aku hanya bisa menggunakan ungkapan sehari-hari dan kosakata gampang terkait pekerjaan.

Meja kerjaku di kantor. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Kehidupan sehari-hari

Senin hingga jumat kugunakan untuk bekerja dan malamnya biasanya untuk beristirahat, bermain game, refreshing, sementara sabtu dan minggu biasanya untuk pengembangan diri dan bersosialisasi dengan teman Indonesia maupun Korea, terkadang juga video call dengan keluarga dan teman di Indonesia.

Berangkat dari rumah ke kantor hanya memakan waktu sekitar 10 menit menggunakan mobil, sehingga biasanya aku berangkat dari rumah pukul 8.30. Jam kerja di Korea lebih siang dari Indonesia yaitu jam 9, tetapi jam kerjanya kurang lebih sama yaitu 8 jam dengan 1 jam istirahat. Pada jam istirahat, kantor kami menyediakan lunch gratis untuk karyawannya. Uniknya, terdapat dua waktu break time selama 15 menit yang dapat digunakan untuk beristirahat sejenak, minum kopi maxim sachet (kopi sejuta umat korea), atau sekadar berinteraksi dengan anggota tim dari departemen yang berbeda. Bersenda gurau menggunakan bahasa korea acap kulakukan dengan kolega. Kolegaku tidak hanya berasal dari Korea, tetapi juga dari berbagai negara. Ada yang dari Kanada, Mesir, Kazakhstan, Amerika Serikat, Ghana, Denmark, Polandia dan hanya aku satu-satunya orang Indonesia. Selain itu, ada satu kultur yang terkenal di Korea yang umum dilakukan untuk mendekatkan hubungan antar karyawan (menghabiskan duit perusahaan) yaitu hwe-sik. Umumnya, hwe-sik ini rekat dengan kultur yang kerap kali muncul di drama korea: drinkdrink. Walaupun preferensi makananku berbeda, mereka tetap mengajakku ikut bergabung dan sengaja memesan makanan yang dapat kunikmati. Hal inilah yang turut membuatku merasa nyaman bekerja di perusahaan ini. 

Kegiatan yang kulakukan saat break time. Sumber: Dokumentasi pribadi

Menempuh studi S2 dan menjalani karir profesional di Korea, dengan berbagai hal pendewasaan, lika-liku dan tantangan, sedikit banyaknya membentuk pribadiku ke arah yang lebih positif. Kehidupan ekspatriat ini merupakan pondasi awal yang baik untuk saya kedepannya mendalami industri energi terbarukan dan karir profesional di bidang terkait. Bagi pembaca yang tertarik untuk kuliah dan/atau bekerja di Korea, berani bermimpi, berani jugalah untuk bertanggung jawab mencari cara untuk mewujudkan mimpi tersebut. Himne!

Bermain ski di Korea saat musim dingin. Sumber: Dokumentasi pribadi.

***

Editor: Stephanie Triseptya Hunto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here