Kupas Tuntas Peluang Studi Lanjut dan Beasiswa di Benua Eropa

0
1053
Vice President Indonesia Mengglobal (kiri atas), Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia (kiri bawah), dan Deputy Director IISMA (kanan bawah) dalam sesi pameran pendidikan virtual. Sumber: Dokumentasi webinar
Vice President Indonesia Mengglobal (kiri atas), Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia (kiri bawah), dan Deputy Director IISMA (kanan bawah) dalam sesi pameran pendidikan virtual. Sumber: Dokumentasi webinar

“Sebagai upaya mengenalkan peluang studi lanjut dan beasiswa di benua Eropa untuk calon mahasiswa Indonesia, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan negara-negara anggota Uni Eropa menyelenggarakan pameran pendidikan virtual yang berjudul ‘Study in Europe and Scholarship Opportunities’ pada tanggal 21 Mei 2022.”

“Didukung penuh oleh Universitas 123 dan Indonesia Mengglobal, para pengunjung dapat merasakan kesempatan dan pengalaman unik secara virtual tentang informasi studi dan peluang beasiswa di 14 negara anggota Uni Eropa serta beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA) dan Uni Eropa melalui Erasmus+. Simak tips kunci dan peluang studi lanjut serta beasiswa di Benua Eropa berikut ini.”

***

Study in Europe and Opportunities: Eropa sebagai Destinasi Studi

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Mr. Ambassador Vincent Piket, mengundang masyarakat Indonesia untuk mengambil kesempatan melaksanakan studi di Eropa. Dalam sambutannya, Duta Besar Piket menegaskan tentang ragam pilihan studi inovatif yang dapat dipilih oleh calon mahasiswa dengan lebih dari 5.000 lembaga pendidikan tinggi yang tersebar di berbagai negara di Benua Biru tersebut.

“Eropa menjadi salah satu tujuan utama bagi pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi dengan berbagai pilihan studi, baik di tingkat sarjana, master maupun doktoral,” ujar Duta Besar Piket.

“Eropa terkenal dengan kualitas pendidikan tingginya, pilihan program studi yang inovatif, dan riset yang terdepan. Biaya studi yang terjangkau serta banyaknya peluang beasiswa, baik untuk pelajar Eropa maupun internasional, juga menjadi daya tarik,“ tambah Duta Besar Piket.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia (kanan atas), Deputy Director IISMA (kiri bawah), dan Vice President Indonesia Mengglobal (kanan bawah). Sumber: Dokumentasi webinar

Dalam kesempatan yang sama, Bapak Andi Rahadiyan Wijaya, Deputy Director IISMA, mengutarakan pentingnya menikmati pengalaman di luar zona nyaman guna memenangkan persaingan di era global.

“Memiliki pengalaman nyata di kancah dunia di luar zona kita dan pengalaman dengan budaya yang sangat berbeda menjadi persyaratan bagi siswa kita untuk memenangkan persaingan di dunia tanpa batas ini,” ucap Bapak Andi Rahadiyan Wijaya.

Arnachani Riaseta, Vice President Indonesia Mengglobal, menjelaskan akan pentingnya acara ini dalam membuka peluang-peluang baru untuk calon mahasiswa Indonesia dalam mengenyam pendidikan tinggi agar dapat bersaing di kancah global.

“Semangat untuk menempuh pendidikan tinggi di kancah global sangat sesuai dengan semangat Indonesia Mengglobal. Melalui acara ‘Study in Europe’, kami berharap teman-teman sekalian juga bisa memulai langkah awal untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan mempersiapkan diri untuk menjadi angkatan kerja yang siap bersaing di tingkat internasional,” ujar Arnachani Riaseta.

Tips Kunci untuk Meraih Beasiswa di Benua Eropa

Pameran pendidikan virtual ini juga memberikan informasi penting akan tips dan strategi guna meraih beasiswa-beasiswa untuk melanjutkan studi di Eropa. Dalam hal ini, Viddy Ranawijaya (penerima beasiswa Erasmus+) mengupas strategi meraih beasiswa mulai dari tahapan penulisan motivation letter hingga wawancara.

Viddy mengemukakan tentang dua jenis motivation letter, yakni yang melibatkan pertanyaan panduan dan open questions yang biasanya ditujukan untuk universitas di Eropa.

Penerima beasiswa Erasmus+ tersebut juga menjelaskan tentang struktur inti dari open motivation letter yang meliputi introduction (deskripsi pribadi, ketertarikan personal, latar belakang pendidikan & pekerjaan), body (pandangan diri di masa depan, dampak yang diberikan, serta pandangan tentang karier & tujuan yang ingin dicapai), dan conclusion (hubungan tentang pandangan diri saat ini, tujuan di masa depan, serta alasan beasiswa & program studi dapat menunjang tujuan).

Viddy Ranawijaya membahas tips dan strategi penulisan motivation letter dan wawancara. Sumber: Dokumentasi webinar

Lebih lanjut, Viddy mengingatkan para pencari beasiswa untuk mempersiapkan motivation letter sebaik mungkin dengan melibatkan pembahasan yang dikuasai, menggunakan data, serta membujuk para pembaca.

“Buatlah esai yang spesifik dalam setiap kesempatan dan bujuk pembaca agar dapat memperoleh poin penting yang ingin kamu sampaikan,” tutur Viddy Ranawijaya.

Sementara itu, wawancara menjadi momen untuk mengkonfirmasi ulang apa yang telah tertulis di motivation letter. Viddy pun menilai bahwa wawancara menjadi ajang uji pengetahuan seseorang secara teknis dan praktis serta pembuktian apakah seseorang merupakan kandidat yang tepat atau tidak dengan mempertimbangkan latar belakang, aktivitas, pengalaman profesional, dan kesesuaian dengan kebutuhan pemberi beasiswa.

Karakteristik Kunci Kandidat Peraih Beasiswa

Di sesi berikutnya, Indy Hardono (Scholarship Team Coordinator, Nuffic Neso Indonesia) menjabarkan tentang persiapan-persiapan yang dapat membuat seseorang menjadi kandidat yang terbaik dalam meraih beasiswa.

“Beasiswa bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan semua orang, namun sebuah kompetisi bagi para penerima beasiswa,” ujar Indy.  

Indy pun memaparkan bahwa mengerjakan persyaratan di akhir tenggat waktu, dokumen yang tidak lengkap, kesalahan mengikuti instruksi beasiswa, serta kesalahan persepsi tentang kriteria dan persyaratan beasiswa, menjadi empat komponen utama yang menyebabkan seseorang gagal dalam meraih suatu beasiswa.

Oleh karena itu, Indy menekankan pentingnya para pencari beasiswa untuk memiliki empat karakteristik kunci guna meraih beasiswa dengan sukses, yaitu motivated (memiliki motivasi yang jelas & kuat), prepared (senantiasa mempersiapkan diri dengan matang), persistent (gigih & tidak pantang menyerah), dan meticulous (cermat dalam tujuan meraih beasiswa).

“Apa yang membuat diri kita menjadi kandidat yang baik? Yaitu memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat ke segala arah,” sebut Indy.

“Kita harus visioner ke depan dalam melamar beasiswa. Lalu ke samping, yaitu apa dampak yang dapat diberikan di lingkungan sekitar. (serta) Ke dalam, apa passion kita, ketertarikan kita apa, potensinya (apakah) sesuai atau tidak dengan tujuan,” jelas Indy Hardono.

Kriteria yang dapat menjadikan seseorang sebagai kandidat penerima beasiswa yang baik. Sumber: Indy Hardono (Scholarship Team Coordinator, Nuffic Neso Indonesia)

Alasan Mengapa Eropa Menjadi Destinasi Terbaik untuk Studi Lanjut

Pameran pendidikan virtual ini juga melibatkan dua alumni dari kampus Eropa yang membagikan pengalaman akademik dan profesionalnya selama di Benua Biru tersebut.

Yudistira Pratama, alumni program magister di University of Twente, the Netherlands, menjelaskan tentang alasannya memilih Eropa sebagai destinasi studi, seperti perguruan tinggi yang berkualitas, kualitas hidup yang lebih baik, serta kesempatan yang luas pasca studi.

Alasan Yudistira Pratama melanjutkan studi di Eropa. Sumber: Dokumentasi webinar

Selama studi di Belanda, ia pun mengisahkan bagaimana pengalaman berinteraksi dengan masyarakat lokal di sana.

“Orang di sana punctual dan tidak basa-basi. Mereka pun selalu terbuka dan menerima perubahan… (di sana pun) mengutamakan konsensus atau pendapat dari setiap kolega untuk mendapatkan solusi,” ucap Yudistira.

Yudistira, yang saat ini bekerja di StaffAny Singapore, juga mengutarakan bahwa peluang pekerjaan di Eropa sangatlah terbuka apabila kita percaya diri dan open-minded. Selain itu, kemampuan berbicara, problem solving, dan unique skills juga dapat menunjang kita untuk memperoleh pekerjaan di sana.

Sementara itu, Wisya Aulia Prayudi, alumni program M.Sc. of Urban Environmental Management di Wageningen University, the Netherlands, memaparkan pengalaman berkesannya akan fasilitas yang ditawarkan oleh kampus Eropa tersebut, seperti lingkungan yang nyaman, kemudahan akses komputer, kafe yang sehat dan bersih.

Widya Aulia Prayudi memaparkan motivasi berkuliah di Negara Kincir Angin. Sumber: Dokumentasi webinar

Program Manager of Education di Greeneration Foundation ini juga memberikan tips penting agar sukses di bidang pekerjaan yang ingin dicapai.

“Kita harus serius dalam pembuatan aplikasi pekerjaan, tunjukkan pengalaman dan passion kita. Terbukalah terhadap kesempatan atau peluang. Lalu, tingkatkan skill dan perkaya pengetahuan kita,” jelas Widya.

Pameran pendidikan ini juga mengundang Wisnu Adryan (Head of Marketplace, Glints) yang menggambarkan tren-tren karier di masa depan. Ia menegaskan bahwa kemampuan digital dapat menjadi kunci dalam memajukan Indonesia di panggung global.

“Kita harus responsible terhadap tenaga kerja yang ada di Indonesia. Digital tidak berhenti, mempercepat kemajuan bahkan tersebar. Menjadi kritis, terstruktur, analitis itu penting, namun jangan lupakan intuisi dalam diri kita,” ucap Wisnu.

Pentingnya peningkatan kemampuan digital untuk memajukan Indonesia di panggung global. Sumber: Wisnu Adryan (Glints)

Sesi Studi dan Beasiswa dengan Negara Anggota Uni Eropa

Para pengunjung pun dapat menikmati pengalaman baru dalam memperoleh informasi akan peluang studi lanjut dan beasiswa dari 14 negara anggta Uni Eropa yang turut meramaikan pameran pendidikan virtual ini.

Swedia, misalnya, memiliki peluang studi lanjut dan beasiswa bagi para calon mahasiswa Indonesia melalui berbagai skema beasiswa. Salah satunya adalah melalui Swedish Institute Scholarships for Global Professionals (SISGP). Beasiswa ini ditujukan untuk mahasiswa yang akan mengambil jenjang magister dengan bantuan biaya hidup bulanan dan biaya kuliah secara penuh.

Amreta Sidik, perwakilan Study in Sweden, membahas peluang beasiswa studi lanjut di Swedia untuk mahasiswa Indonesia. Sumber: Dokumentasi webinar

“Kandidat yang ideal yang dicari oleh beasiswa SISGP adalah mereka yang memiliki ambisi, active talents, professional background, pengalaman kepemimpinan, dan juga memiliki passion untuk berkontribusi di pembangunan internasional,” jelas Amreta Sidik, perwakilan dari Study in Sweden.

Ia pun menjelaskan bahwa bahasa pengantar yang digunakan selama studi di Swedia adalah bahasa Inggris. Oleh karena itu, para calon mahasiswa Indonesia tidak perlu khawatir apabila belum menguasai bahasa Swedia saat mendaftarkan diri untuk studi lanjut di sana. Ditambah lagi, berbagai bantuan program bahasa Swedia seringkali ditawarkan oleh kampus untuk para mahasiswa internasional.

Dalam ruang virtual yang berbeda, Olivia Jeane Sopacua (Program Officer at DAAD), memaparkan tentang peluang studi dan beasiswa di negara Jerman. Ia menjelaskan bahwa terdapat 2.000 program internasional terkemuka yang terdiri dari jenjang sarjana, magister, hingga doktoral di seluruh wilayah negara Jerman. Hal ini menjadikan Jerman sebagai salah satu destinasi studi yang paling diminati oleh mahasiswa internasional.

“Kenapa banyak mahasiswa internasional yang memilih Jerman? Alasannya memang Jerman menawarkan pendidikan yang terbaik dengan harga yang relatif terjangkau, serta berbagai alasan lainnya,” kata Olivia.

Olivia Jeane Sopacua membahas tentang DAAD Scholarship untuk mahasiswa Indonesia. Sumber: Dokumentasi webinar

Olivia pun menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua skema yang sedang dibuka untuk calon mahasiswa Indonesia yang ingin mengenyam studi jenjang magister, yaitu Helmut Schmidt Programme (Master’s Scholarships for Public Policy and Good Governance) untuk bidang hukum, politik, ekonomi, ilmu sosial dan administrasi, dan Scholarship for Development-Related Postgraduate Courses (EPOS) yang ditujukan untuk lulusan S1 yang telah bekerja minimal 2 tahun.

Pameran virtual Study in Europe ini terbuka untuk umum hingga tanggal 28 Mei 2022 dan gratis. Peserta dapat mengunjungi pameran ini dengan cara mendaftar melalui tautan https://bit.ly/StudyinEU-ID.

***

Penulis: Yogi Saputra Mahmud & Dessy Nur Amelia


SHARE
Previous articleKarier Pasca Studi: Sebuah Alasan Penting dalam Menentukan Rencana Studi Kamu
Next articleTackling Educational Issues: Edward’s Story with GREAT Scholarships
Perjalanan Indonesia Mengglobal diawali pada tahun 2012, ketika beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Stanford University menyadari terbatasnya informasi mengenai belajar dan bekerja di luar negeri. Pada tanggal 9 Maret 2012, artikel pertama Indonesia Mengglobal mengenai tips-tips aplikasi universitas dan beasiswa di luar negeri sukses dipublikasikan. Melalui semangat untuk berbagi tersebut, Indonesia Mengglobal telah mempublikasikan lebih dari 900 artikel mengenai pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri yang ditulis oleh lebih dari 500 kontributor, dengan hampir 30,000 subscribers. Setiap tahunnya, Indonesia Mengglobal juga dijalankan oleh puluhan relawan terpilih yang bersemangat untuk menyebar manfaat lebih jauh lagi melalui program mentorship dan annual seminar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here