Personal Branding dalam Aplikasi Beasiswa, Apakah Penting?

0
1343
Membangun personal branding untuk aplikasi beasiswa tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sumber: dokumentasi pribadi

Lolos seleksi beasiswa pada percobaan pertama bisa jadi merupakan fakor keberuntungan atau buah dari kerja keras yang dilakukan dalam waktu panjang–dengan kata lain, kesiapan bertemu dengan kesempatan.

Umumnya, lembaga pemberi beasiswa sudah memiliki karakteristik atau kriteria tertentu untuk penerima beasiswa. Membangun karakter atau profil tidak bisa dilakukan dalam waktu instan, akan tetapi merupakan hasil dari sebuah proses yang dilakukan dalam jangka panjang. Pada artikel di bawah ini, Content Director untuk UK dan Eropa dari Indonesia Mengglobal, Rizkiya Ayu Maulida, berbagi tips dan trik membangun personal branding untuk para calon pejuang beasiswa.

***

Beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan beasiswa LPDP pada percobaan pertama saya. Banyak yang bertanya, bagaimana caranya lolos beasiswa dalam satu kali percobaan? 

Sebelumnya, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Pertama, saya mengikuti seleksi beasiswa LPDP pada awal kemunculan LPDP sehingga tidak dapat dibandingkan kondisi saya saat itu dengan kondisi yang ada saat ini. Kedua, saya meyakini ada faktor luck yang ikut bermain, akan tetapi effort dalam mempersiapkan aplikasi beasiswa sudah dilakukan dalam waktu yang cukup panjang—bahkan sebelum saya tahu saya ingin kuliah di luar negeri. 

Proses aplikasi beasiswa dapat dikatakan sebagai proses supply and demand antara pemberi beasiswa dengan pendaftar. Lembaga pemberi beasiswa memiliki karakteristik atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh penerima beasiswa. Karakteristik ini tentunya mencakup berbagai aspek yang tidak hanya bersifat administratif. Akan tetapi, mencakup siapa pelamar beasiswa dari berbagai aspek. Oleh karena itu, pelamar beasiswa wajib membangun personal branding yang sesuai dengan visi-misi dan tujuan dari lembaga pemberi beasiswa. Membangun  personal branding tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, harus dipastikan juga bahwa personal branding dibuat secara autentik, yaitu berdasarkan hal-hal yang benar ada di dalam diri kita, bukan dibuat-buat. 

Personal branding harus dibuat secara autentik, bukan dibuat-buat. Sumber: dokumentasi pribadi

Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi mengenai bagaimana mempersiapkan beasiswa sejak dini. Sebelumnya, perlu dipahami dulu bahwa perjalanan beasiswa sebenarnya bukan sekedar bagaimana kita mewujudkan mimpi kita untuk kuliah luar negeri—perjalanan ini juga merupakan perjalanan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan potensi kita, semaksimal mungkin. 

Sebagai disclaimer, tulisan ini ditujukan untuk Sahabat Indonesia Mengglobal yang masih berkuliah, sehingga masih mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan aplikasi beasiswa, secara jangka panjang. Tulisan ini akan kurang relevan untuk Sahabat Indonesia Mengglobal yang sedang berada pada level mid-career yang ingin melanjutkan kuliah S2 untuk mengembangkan karirnya. 

  1. Riset, Riset dan Riset 

Salah satu langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan riset atau mencari informasi mengenai persyaratan dan tahap-tahap seleksi beasiswa luar negeri. Umumnya, lembaga pemberi beasiswa memiliki websitenya, yang berisi informasi mengenai penerimaan program beasiswa mereka. Ada syarat-syarat yang tidak banyak perbedaan antara beasiswa satu dengan beasiswa lainnya, seperti IPK minimal, skor TOEFL minimal, surat rekomendasi, dan sebagainya. Dari informasi-informasi tersebut, pelamar beasiswa dapat mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari. 

Selain itu, hal lain yang tidak boleh ketinggalan adalah melakukan riset mengenai profil atau karakteristik dari penerima beasiswa., Lembaga penyedia beasiswa umumnya memiliki karakteristik tertentu yang diinginkan bagi penerima beasiswa.  Karakteristik tersebut umumnya berupa leadership, kemauan untuk berkontribusi bagi negara dan sebagainya. Hal tersebut dapat kita identifikasi melalui dua hal, yaitu melalui persyaratan yang tertera secara eksplisit atau dengan mengamati karakteristik dari penerima beasiswa tersebut. Kita dapat mengambil benang merah dari karakter atau profil dari penerima beasiswa tersebut untuk mengetahui sosok seperti apa   yang dicari oleh pihak pemberi beasiswa. 

Setiap beasiswa memiliki karakteristik atau kriteria masing-masing untuk calon penerimanya. Make sure you’ve done your homework before applying to the scholarship. Sumber: dokumentasi pribadi

  1. Kenali Potensi Diri dan Apa yang Ingin Kita Capai

Langkah selanjutnya setelah mengetahui kriteria dan karakteristik yang diinginkan oleh pemberi beasiswa adalah mencocokkan atau mencari irisan dari apa yang mereka inginkan dengan yang kita punya. 

Dalam  hal ini, kita bukannya berubah diri kita menjadi seperti yang diinginkan oleh pemberi beasiswa, akan tetapi mencari irisan antara siapa diri kita dengan apa tujuan atau visi misi dari lembaga penerima beasiswa tersebut. 

Oleh karena itu, agar tidak merubah jati diri maka wajib untuk mengenali diri sendiri. 

Pertanyaan mengenai “siapa kita” dalam konteks aplikasi beasiswa membutuhkan jawaban yang lebih mendalam daripada sekedar “nama,” “asal,”, almamater,” “pekerjaan kita” ,” “jurusan yang diambil waktu kuliah,” dan sebagainya. Akan tetapi, mencakup hal-hal yang lebih abstrak lagi, seperti passion kita (the things that we like), keterampilan atau kemampuan kita  (the things that we are good at) dan apa yang bisa kita kontribusikan ke masyarakat (what we can contribute to others).  Selain itu, ada juga hal-hal seperti nilai-nilai atau prinsip yang kita anut, sikap kita terhadap berbagai isu yang ada di masyarakat serta cita-cita personal dari kita. 

Konsep ‘Ikigai” dari Jepang yang dapat digunakan untuk memetakan potensi diri. Sumber: kompas.com

Hal ini juga menjawab pertanyaan mengapa sebagian besar beasiswa mensyaratkan pelamarnya untuk menulis esai. Atau, mengapa lembaga pemberi beasiswa umumnya menempatkan tahapan wawancara dalam seleksi beasiswa.    Hal itu disebabkan ada hal-hal yang tidak bisa dinilai hanya berdasarkan transkrip nilai, sertifikat bahasa, nama besar almamater ataupun poin-poin prestasi yang ada di CV. 

Lembaga pemberi beasiswa ingin memastikan bahwa mereka memberikan beasiswa kepada orang yang tepat. Oleh karena itu,  penilaiannya pun bersifat holistic atau menyeluruh. So, make sure that you are a good person with good integrity who has pure intention.  

  1. Kembangkan diri di luar kegiatan akademik 

Menunjukkan keaktifan di luar bidang akademik itu penting sebagai salah satu cara untuk mendemonstrasikan diri kita secara utuh. Transkrip nilai tidak dapat menunjukkan kemampuan kita bekerja sama, misalnya, atau cara kita menyelesaikan masalah. Akan tetapi, dengan terlibat di dalam kegiatan non-akademik, kita dapat memberikan bukti mengenai aspek-aspek lain dari diri kita, yang tidak dapat dilihat dari performa kita di ruang kelas. 

 Oleh karena itu, jika kalian masih duduk di bangku kuliah, alokasikan waktu untuk mengikuti kegiatan kemahasiswaan. Tidak harus kegiatan yang serius, atau berhubungan dengan jurusan yang kalian ambil. Bisa jadi kegiatan tersebut yang berhubungan dengan hobi kalian, di luar jurusan yang kalian ambil. Tidak harus juga menduduki jabatan ketua pada program tersebut. Yang paling penting, dari kegiatan tersebut kalian belajar hal-hal yang bersifat soft skill, seperti kemampuan negosiasi, bekerja sama, mengungkapkan pendapat, time management dan sebagainya. 

  1. Mengikuti kegiatan internasional sebagai exercise untuk mendaftar beasiswa

Banyak kegiatan internasional yang  memiliki persyaratan yang sama dengan pendaftaran beasiswa, seperti mengumpulkan esai, sertifikat Bahasa dan sebagainya. Selain itu, tahapan seleksi yang dimiliki pun mirip, seperti wawancara dan seleksi dokumentasi. 

Dengan mengikuti seleksi kegiatan internasional, maka kalian akan memiliki kesempatan untuk berlatih mengikuti seleksi beasiswa. Saat mengikuti kegiatan internasional dengan status mahasiswa, tentu tekanan tidak akan seberat saat mengikuti seleksi beasiswa untuk S2. 

Saat ini, sudah lebih banyak kesempatan untuk program kegiatan internasional, dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Program IISMA, misalnya, yang digagas oleh Kemendikbud Ristek. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia untuk belajar selama 3-6 bulan di universitas di negara lain yang menjalin Kerjasama dengan kementerian terkait. Selain mengikuti pertukaran pelajar, kalian juga bisa mengikuti program-program lain seperti konferensi internasional, kompetisi internasional, youth summit, dan sebagainya. Pengalaman terekspos dunia internasional ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri saat mengejar beasiswa luar negeri. 

Mengikuti kegiatan internasional dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk mendaftar beasiswa kuliah ke luar negeri. Sumber: dokumentasi pribadi
  1. Use it as a vehicle, not your end goal 

Ini bagian terakhir—tetapi yang paling penting: just because you get the scholarship, doesn’t mean your life will be easier. Remember, there is a life after scholarship—what will you do after gaining your Master’s degree abroad? 

Untuk itu, akan lebih baik jika kita tidak menempatkan beasiswa sebagai tujuan akhir, melainkan kendaraan untuk mencapai aspirasi kita.  Apa yang kita inginkan menjadi diri kita di masa depan, lalu bagaimana ilmu yang kita pelajari—dengan program beasiswa luar negeri tersebut—dapat membantu kita untuk meraih sasaran tersebut. 

Selain itu, enjoy the process, as it is the journey of developing yourself 

Don’t worry so much about whether you are going to get the scholarship or not, the most important thing is to keep improving yourself in many aspects. 

As long as you keep striving to be the best version of yourself, you’ll get there. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here