Menimba ilmu di Thailand dengan ASEAN Scholarship

0
816

Thailand, merupakan negara yang terkenal dengan keindahan alam dan budaya yang sangat kental. Yuni Syafitri, merupakan salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di negara Gajah putih tersebut dengan beasiswa dari ASEAN scholarship. Mari kita simak, bagaimana perjalanan Yuni dalam mendaftar beasiswa tersebut sampai akhirnya merasakan studi di Thailand.

***

สวัสดีค่ะ!
Sawadee kha, Indonesia mengglobal.

Nama saya Yuni Syafitri. Sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi master di Thailand, saya mendapatkan gelar sarjana sains dari jurusan Kimia, Universitas Indonesia, dan mendapat pekerjaan pertama saya di ruangkerja by Ruangguru sebagai content analyst dan instructional designer, dengan total lama kerja selama dua tahun.  

Saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswi di jurusan Petrochemical Technology, The Petroleum and Petrochemical College, Chulalongkorn University. Pada fakultas kami, terdapat dua jurusan lain yaitu Petroleum and Energy Technology dan Polymer Science. Di tahun ajaran saya, sembilan dari 16 mahasiswa dan mahasiswi jurusan Petrochemical dan Petroleum adalah orang Indonesia. Namun tentunya masih ada banyak pelajar Indonesia yang bergabung di fakultas dan jurusan lain. Jika Sahabat Indonesia Mengglobal sudah resmi terdaftar menjadi mahasiswa/i di Thailand, akan ada grup sosial media yang memudahkan kita untuk saling berkomunikasi sebagai jalan pintas untuk beradaptasi. Selain mempertimbangkan peringkat dan akreditas universitas dan jurusan, tentunya hal penting lain yang harus dipertimbangkan adalah beasiswa yang akan mendukung perkuliahan.

Mengikuti fire training. Sumber : Dokumentasi pribadi.

Perkuliahan saya secara penuh di-support oleh ASEAN and Non-ASEAN scholarship. Tidak hanya biaya perkuliahan, tapi saya juga mendapat stipend atau uang bulanan sebagai support untuk biaya kehidupan sehari-hari. Mungkin jumlahnya tidak sebesar stipend mahasiswa yang berkuliah di Jepang, Korea, atau negara maju lainnya. Namun, jumlahnya cukup untuk dapat disisihkan untuk menabung, tinggal di apartment yang layak, menjelajahi café-café atau restaurant baru setiap weekend untuk melepas penat, dan relaksasi diri dengan Thai massage.

Proses pendaftaran yang saya lalui cukup sederhana. Setelah mengumpulkan berkas pertama yaitu formulir pendaftaran, scan ijazah dan transkrip nilai, CV, sertifikat toefl, scan passport, pass photo, rencana belajar (plan of study), dan surat rekomendasi dari Universitas sebelumnya, saya menunggu kurang lebih dua minggu untuk mendapat konfirmasi lolos ke tahap wawancara. Wawancara dilakukan secara daring dan dalam Bahasa inggris yang dihadiri oleh beberapa professor dari jurusan yang saya tuju. Setiap peserta memiliki waktu presentasi sepuluh menit untuk tiga slide sebelum memasuki agenda tanya jawab dengan professor.

Pada kesempatan tersebut saya menceritakan tentang penelitian dan publikasi ilmiah yang saya selesaikan pada saat studi sarjana, pengalaman magang dan bekerja, juga rencana karir dan Pendidikan saya setelah menyelesaikan studi master.

Setelah terkonfirmasi lolos interview, pihak kampus mengirimkan surat konfirmasi yang harus ditandatangani. Selain itu, sebagai berkas tambahan, kami diwajibkan untuk melakukan test kesehatan secara pribadi dan mengirimkan scan hasil yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris melalui e-mail.

Pada saat itu, saya cukup lama menunggu Letter of Acceptance dari Universitas dikarenakan covid-19 pandemic. Oleh sebab itu keberangkatan saya ke Thailand tertunda sehingga saya menghadiri orientasi mahasiswa dan juga kelas pertama saya masih di Indonesia. Namun selebihnya, pihak universitas dan fakultas sangat membantu pada proses persiapan keberangkatan terutama dalam menjembatani komunikasi dengan senior yang juga dari Indonesia sehingga informasi yang didapatkan lebih akurat, mencari hotel karantina, hingga memesan tempat tinggal setelah karantina. Chula memiliki International Apartment yang dapat dijadikan opsi tempat tinggal bagi mahasiswa/i Internasional. Jika dibantu oleh pihak fakultas untuk surat menyurat, mahasiswa/i dapat dibebaskan dari biaya deposit tempat tinggal.

Setelah menyelesaikan karantina selama 14 hari, saya dibantu untuk membuat rekening bank Thailand oleh staff international affairs fakultas agar biaya pesawat berangkat yang saya keluarkan dapat langsung diganti oleh pemberi beasiswa.

Meskipun perkuliahan masih dilakukan secara daring, namun kedatangan saya di Thailand sangat menenangkan mental saya, karena jika saya melakukan perkuliahan daring dari Indonesia, saya merasa sendirian dan tidak ada teman berdiskusi. Di Thailand, setidaknya ada teman dan senior yang bisa diajak belajar bersama.

Bersama teman-teman saat cooking class. Sumber : Dokumentasi Pribadi

Semua kelas yang saya ikuti disampaikan dalam Bahasa Inggris karena jurusan kami juga berkolaborasi dengan beberapa Universitas di luar Thailand diantaranya The University of Michigan dan The University of Oklahoma. Namun, fakultas kami tetap memberikan satu kelas khusus selama satu bulan untuk belajar dasar Bahasa Thailand. Tentunya ini sangat membantu kami dalam berkomunikasi dengan warga lokal, terutama pada saat berbelanja ke pasar atau menggunakan transportasi umum.

Pada kelas Bahasa Thailand, kami tidak diajarkan membaca tulisan Thai dan juga menulis. Materinya langsung mengarah ke percakapan sehari-hari sehingga lebih aplikatif. Kami diajarkan memperkenalkan diri, menyapa orang yang lebih tua atau dituakan, memesan makanan, meminta sesuatu yang spesifik pada saat memesan makanan seperti; telur setengah matang, minta tambahan sayur, minta yang lebih pedas, dan sebagainya. Kami juga diajarkan untuk mengetahui angka nol sampai ratusan dan ribuan, mengenal warna, menunjukkan arah; kanan, kiri, dan lurus.

Seiring berjalannya waktu, keadaan pandemi membaik, dan beberapa kegiatan kampus mulai dilakukan secara tatap muka. Diantaranya kegiatan seminar di luar perkuliahan, pelatihan pemadam kebakaran, karyawisata ke luar Bangkok, dan masih banyak kegiatan lain yang bukan diselenggarakan oleh universitas maupun fakultas namun diselenggarakan oleh KBRI Bangkok.

Saat ini saya sudah memasuki tahun kedua perkuliahan dan sedang menjalankan penelitian untuk tesis. Topik penelitian yang saya pilih adalah Analysis of crude oil biomarker for fingerprinting application. Selain topik tersebut, ada beberapa topik lain yang juga dapat teman-teman pilih jika tertarik untuk bergabung dengan fakultas kami, diantaranya surfaktan, katalisis, natural gas, dan ada juga beberapa topik simulasi yang dilakukan dengan machine learning sehingga teman-teman tidak perlu melakukan pekerjaan laboratorium basah atau wet lab.

Saya sangat menikmati kehidupan saya di Thailand karena menjalani semuanya dengan seimbang antara belajar, olahraga, tidur, dan hangout. Chulalongkorn University yang berada di pusat kota membuat akses saya untuk mendatangi tempat-tempat hits Bangkok lebih mudah. Namun juga tidak membatasi diri untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di pinggir kota. Saya berharap kemudian hari dapat bertemu Sahabat Indonesia mengglobal untuk sama-sama menjelajahi Thailand di sela waktu belajar.

Study tour ke Ayutthaya. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

***

Editor : Stephanie Triseptya Hunto


        

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here