Dua Tahun untuk Selamanya: Pengalaman Sebagai Mahasiswa Internasional dan Dampaknya terhadap Perkembangan Diri

0
599
Dessy di Melbourne, Australia. Sumber Dokumentasi pribadi.
Dessy di Melbourne, Australia. Sumber Dokumentasi pribadi.

“Pengalaman menjadi mahasiswa internasional telah memberikan banyak manfaat tidak hanya untuk kemampuan akademis, namun juga untuk pengembangan diri. Di artikel ini, Dessy Nur Amelia (Content Director of Australia, New Zealand, and Pacific Islands) membagikan opininya bagaimana pengalamannya menjadi mahasiswa internasional memberinya perspektif yang berguna bagi karier dan perkembangan pribadinya.”

***

Bulan ini hampir genap dua tahun saya menyelesaikan pendidikan master saya di Australia. Saat ini, saya kembali meniti karier saya di Indonesia dan bekerja untuk salah satu perusahaan milik negera. Di waktu-waktu tertentu, saya kerap ‘merenungkan’ apa dampak dari pendidikan saya selama di Australia, saya yang sekarang. Sisi apa yang berkembang, bagaimana saya berpikir, dan lain-lain. 

Apalagi di pekerjaan saya sekarang, saya ditempatkan di posisi yang tidak relevan dengan latar belakang pendidikan saya. Sempat saya merasakan keraguan apakah saya berada di jalur yang tepat atau tidak. Namun setelah setahun lebih bekerja, saya kini merasakan bagaimana pendidikan saya membantu saya baik di karier saya, maupun di pribadi saya.

Ancora Imparo: I am still learning

Tagline kampus saya yang terkenal dan sering juga dijadikan status/short bio di media sosial rekan-rekan saya adalah Ancora Imparo, yang artinya I am still learning. Saya sangat menyukai tagline tersebut, karena rasanya seperti mantra ajaib yang terus memotivasi kita untuk selalu belajar, walaupun kita telah menyelesaikan pendidikan kita.

Selama di Monash, kami dituntut untuk memiliki kemampuan belajar secara mandiri. Dulu kami hanya menghadiri satu atau dua kelas perminggu, dan sisanya kami harus belajar secara mandiri. Untuk tugas esai pun kami hanya diberikan guideline penilaian, dan kami harus proaktif memetakan sendiri bagaimana caranya membuat esai yang comprehensive.

Di pekerjaan saya, saya ternyata diharuskan juga secara tidak langsung untuk memiliki kemampuan belajar secara mandiri. Sebagai contoh, sesekali saya diberi tanggung jawab untuk membuat materi presentasi Executive General Manager, di mana saya belum mengerti tentang istilah dan proses bisnis di divisi saya.

Hal tersebut tentunya merupakan tantangan bagi saya, dan terkadang saya merasakan pressure mengingat materi presentasi atasan saya akan dilihat oleh berbagai pihak. Namun mengingat pengalaman saya di Australia dulu selama dua tahun, saya merasa tantangan di dunia kerja kini akan bisa saya lalui. Di Australia tentunya lebih sulit, karena saya tidak memiliki banyak orang untuk bertanya dan jika saya fail, saya memiliki kemungkinan untuk mengulang kelas dan membayar kuliah sendiri.

Saya memiliki kepercayaan diri yang lebih untuk menyelesaikan tugas. Rasanya memiliki kepuasan tersendiri apabila berhasil menyelesaikan tugas sekaligus menambah ilmu baru.

Saat Perpisahan dengan Ibu SM. Sumber Dokumentasi pribadi
Saat Perpisahan dengan Ibu SM. Sumber Dokumentasi pribadi

Cherish Every Moment

Pengalaman di luar negeri juga menyadarkan saya betapa waktu bergulir dengan cepat, dan people come and go. Apalagi di Australia saya berkesempatan untuk menjalin persahabatan dengan teman-teman yang berasal dari benua lain. Ada Temwa Banda, Ibu guru kocak dari Malawi, dan Presca Udas, seorang pekerja sosial dari Nepal. Kami hanya bersama untuk dua tahun, namun kenangan yang kami lalui sangatlah indah dan everlasting

Selanjutnya, di tahun kedua kuliah saya, saya merasakan kuliah di bawah restriction dikarenakan pandemi COVID-19. Hal tersebut membuat saya sadar bahwa pentingnya untuk seize every moment, sebab di tahun pertama kuliah saya, saya tidak banyak jalan-jalan dan hanya sibuk belajar.

Dessy dengan teman-teman baik ketika kuliah di Monash University. Sumber Dokumentasi pribadi
Dessy dengan teman-teman baik ketika kuliah di Monash University. Sumber Dokumentasi pribadi

Kini setelah saya bekerja kembali ke Indonesia, saya selalu berusaha untuk cherish every moment dengan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar saya, juga memanfaatkan waktu luang untuk jalan-jalan atau menghabiskan waktu dengan orang-orang yang penting di hidup saya. Saya semakin menghargai waktu dan sadar, kesempatan tidak akan terulang dua kali. 

Di tahun pertama saya bekerja, saya dan tim kecil saya sering menghabiskan waktu bersama baik di kantor maupun di luar kantor, sebelum manager saya pensiun pada tanggal 1 September 2022. Hal tersebut sangat berarti bagi saya, dan saya rela sebagai ‘panita abadi’ di tim saya karena saya sadar waktu kami dan bapak manager singkat saja. 

Begitu juga ketika ibu Senior Manager saya pensiun di bulan berikutnya. Kami membuat kejutan sedemikian rupa untuk membuat hari tersebut berkesan, karena hari pensiun Ibu SM hanya satu kali seumur hidupnya.

Berfoto dengan Ibu SM. Sumber Dokumentasi pribadi.

Apa yang membuat saya rela untuk melakukan pekerjaan yang lebih dari tupoksi saya?

Pengalaman berpisah dengan sahabat-sahabat saya dari benua lain. Saya tidak tahu kapan saya akan bertemu lagi dengan mereka. Seperti pesan Ibu SM saya, pekerjaan silih berganti, namun hubungan dengan sesama manusia haruslah terpupuk dengan baik. 

Editor: Nurhamsi Deswila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here