7 Perbedaan Ramadan di Indonesia dan Inggris Raya

0
884
Berbuka puasa bersama teman-teman di Inggris Raya

Ramadan selalu menjadi bulan yang paling dinanti oleh umat muslim di seluruh dunia, terutama di negara Indonesia yang 86.7% penduduknya muslim. Bulan ini menjadi momen berharga untuk berlomba-lomba dalam beramal dan beribadah karena segala bentuk kebaikan akan dilipatgandakan. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, dalam menjalani bulan suci ini, menahan diri dari berbagai hal negatif dan juga kesabaran seorang muslim akan diuji. Tak heran, banyak sekali persiapan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan seperti berbelanja makanan pokok, vitamin, hingga mukena dan sarung untuk tarawih. Pasar, supermarket, dan pertokoan ramai diserbu pengunjung karenanya. Begitulah gambaran besar yang terjadi di Indonesia dalam rangka menyambut datangnya bulan penuh ampunan, bulan Ramadan. Seru, ya!

Keseruan-keseruan tersebutlah yang seringkali membuat Annisa Dinulislam (Annisa) dan Reliza O (Reliza), mahasiswi lulusan University of Stirling yang sekarang bekerja dan menetap di Inggris Raya, merindukan suasana Ramadan di Indonesia yang ternyata jauh berbeda dengan suasana Ramadan di Inggris Raya. Terinspirasi dari video reels dari akun instagram @relizao, inilah 7 perbedaan Ramadan di Indonesia dan Inggris Raya. Selamat membaca!

****

  1. Durasi Puasa

Seperti yang kita tahu, waktu pelaksanaan puasa Ramadan dimulai dari terbitnya matahari hingga matahari terbenam. Di Indonesia, durasi puasa biasanya dilakukan sekitar 12 hingga 13 jam dalam sehari. Selain itu, terbit dan terbenamnya matahari terbilang konstan atau tidak berubah-ubah secara signifikan. Sehingga, masyarakat Indonesia sudah terbiasa untuk berpuasa dalam durasi yang sama setiap tahunnya. Uniknya, di Inggris Raya sendiri, durasi puasanya sangat tergantung pada musim. Tahun ini, bulan Ramadan jatuh pada musim semi. Sehingga, durasi puasa di negara bermusim empat ini berkisar antara 16 hingga 18 jam dalam sehari. Lumayan panjang ya, jika dibandingkan dengan durasi puasa di Indonesia. Meskipun begitu, durasi puasa juga bisa lebih singkat di musim dingin. Ternyata, hal inilah yang menjadi tantangan besar bagi Annisa dan Reliza selama berpuasa di Inggris Raya.

2. Jadwal Tarawih

Tarawih di Inggris juga berbeda jauh dengan yang terjadi di Indonesia. Bicara tentang suasana, tarawih di masjid-masjid Indonesia dan Inggris Raya tidak jauh berbeda. Jamaah berbondong-bondong hadir untuk melaksanakan solat tarawih berjamaah di masjid. Bedanya, di Inggris Raya, umat muslimnya sangat beragam. Kebanyakan mereka berasal dari Pakistan dan negara-negara Timur Tengah seperti Turki, Mesir, dan lainnya. Lagi-lagi, karena waktu solat di Inggris Raya yang terus berubah-ubah, jadwal tarawihnya pun juga ikut terkena imbasnya. Di tahun ini, solat tarawih dilakukan sekitar jam sepuluh malam. Terlebih lagi, tidak seluruh daerah di Inggris Raya memiliki masjid.

3. Cuaca Ekstrim

Indonesia dengan iklim tropis hanya memiliki dua musim dan cuacanya cenderung stabil. Di Inggris, cuaca bisa berubah-ubah setiap saat. Dalam sehari, Reliza bercerita bahwa dia kepanasan, kehujanan air hingga hujan salju. Payung dan jaket merupakan hal penting yang harus disiapkan kalau ingin berpergian atau tinggal di Inggris Raya. Hal ini sangat berpengaruh pada kesehatan tubuh. Konsumsi vitamin dan makanan bergizi dapat dilakukan agar tetap sehat dan lancar berpuasa.

4. Azan/Sirine

Di bulan-bulan biasa, azan memang tidak dikumandangkan di luar masjid. Hal ini juga terjadi di bulan Ramadan. Sebagian besar wilayah di Inggris Raya tidak mengumandangkan adzan menggunakan pengeras suara seperti di Indonesia. Sirine sahur yang sering mendapat sorotan lucu di Indonesia juga tidak ditemukan di Inggris Raya. Ini hal yang paling dirindukan oleh Reliza dan pastinya beberapa diaspora muslim yang tinggal di Inggris Raya.

5. No Pasar Takjil

Tidak ada pasar khusus Ramadan yang buka menjelang puasa. Orang muslim di sini biasanya jajan ke toko-toko kue tradisional. Reliza yang sekarang tinggal di London mengerti betul bahwa mayoritas muslim di bagian timur London biasanya akan pergi ke toko kue tradisional khas negara mereka. Karena daerah tersebut merupakan daerah di London yang didominasi oleh muslim, antrian panjang bisa dilihat menjelang waktu berbuka. Meskipun begitu, hal ini hanya terjadi di kota-kota besar yang di daerah tertentu saja.

7 Perbedaan Ramadan di Indonesia dan Inggris Raya
Tidak ada kue-kue pasar, donut merupakan jajanan paling merakyat di Inggris Raya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

6. Jadwal Waktu Imsak dan Berbuka Puasa

Jadwal imsak dan berbuka puasa di Indonesia biasanya hanya bergeser beberapa menit saja. Tidak signifikan. Kalau di Inggris, bisa bergeser hingga satu jam, loh! Annisa dan Reliza mengaku bahwa mereka harus mengecek jadwal berbuka dan sahur secara berkala dikarenakan waktu yang terus berubah-ubah. Hm, menarik ya!

7. Tidak Ada Tirai di Tempat-tempat Makan

Tempat-tempat makan tetap buka seperti hari-hari biasanya. Tirai-tirai yang biasa digunakan di warung-warung makan di Indonesia tidak berlaku di Inggris Raya. Orang-orang tetap bisa makan dan minum dengan leluasa, tanpa sungkan-sungkan.

7 Perbedaan Ramadan di Indonesia dan Inggris Raya
Suasana tempat-tempat makan yang ramai pengunjung dan tetap berjalan seperti biasa pada bulan Ramadan di Edinburgh, Skotlandia, Inggris Raya (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

****

Itulah 7 perbedaan Ramadan di Indonesia dan Inggris Raya yang dirasakan oleh Annisa dan Reliza selama tinggal di Inggris Raya. Masih banyak hal unik yang membedakan Ramadan di Indonesia dan Inggris Raya. Pastinya selalu menarik dikulik lebih lanjut.

****

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


BAGIKAN
Berita sebelumyaNegeri Para Nabi dan Magnet yang Ada Padanya
Berita berikutnyaFrom the Editor-in-Chief: How We Stay Relevant after 11 Years?
Annisa works remotely as a news contributor for an aquaculture magazine in Indonesia and also works in the Community Development Service in Scotland, UK. She's just graduated with a master's degree in Sustainable Aquaculture from the University of Stirling with a British Council Scholarship for Women in STEM. During her time studying in the UK, she actively encouraged women to pursue careers in STEM. Annisa dedicates her free time as a columnist for @indonesiamengglobal. She also loves to be involved in nature/outdoor and social activities.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here