Dari Passion Bidang Enterpreneurship ke Energi Terbarukan: Kisah Irvan Hermala Mengembangkan Start-Up Berbagi Listrik

0
1477
Komitmen Berbagi Listrik untuk menyediakan akses listrik bagi daerah 3T di Indonesia, dengan sumber energi terbarukan (source: personal documentation)

Di saat wacana penggunaan mobil listrik mulai bermunculan, ternyata ada banyak daerah di Indonesia yang belum tersentuh listrik. Jangankan untuk kendaraan, untuk menghidupkan lampu pun tidak bisa. Di daerah tersebut juga tidak memungkinkan untuk dibuat pembangkit listrik berbasis tenaga batu bara.

Simak pengalaman Irvan Hermala, yang menempuh pendidikan  M.Sc Business Strategy and Entrepreneurship di Cardiff Business School   dalam membangun Berbagi Listrik, sebuah start-up yang bergerak dalam dalam bidang pemerataan listrik berbasis energi terbarukan  di berbagai daerah di Indonesia.

Dari passion di bidang entrepreneurship ke renewable energy

Irvan Hermala menempuh pendidikan di bidang M.Sc Business Strategy and Entrepreneurship di Cardiff Business School pada tahun 2015 . Selepas  menyelesaikan kuliah di UK pada tahun 2016, Irvan memutuskan untuk mengejar passion-nya di bidang bisnis. Menurut Irvan, output tersebut yang memang diharapkan dari pendidikan S2-nya di Cardiff.

 Irvan bertemu dengan temannya, yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Korea Selatan pada bidang solar cell. Irvan kemudian bekerja sama dengan temannya untuk membuat riset bersama di bidang solar cell dan pengembangan teknologi. Dari situ, muncul ide untuk membangun start-up bernama Berbagi Listrik.

Berbagi Listrik Berawal dari sebuah gerakan untuk memberikan akses energi listrik melalui solar cell kepada masyarakat di daerah terpencil. Inisiasi tersebut  kemudian tumbuh menjadi sebuah sociopreneurship dimana mereka juga mengembangkan potensi bisnisnya untuk masyarakat, disamping juga mengembangkan bidang renewable energy.

“Kita menginginkan seluruh wilayah Indonesia, khususnya 3T, yang belum dapat akses listrik seluruhnya bisa menikmati akses listrik.  Akan tetapi, kita menyadari bahwa tidak mudah untuk menjangkau wilayah-wilayah tersebut, “ungkap Irvan

Oleh karena itu, Berbagi Listrik menggunakan  energi terbarukan (renewable energy), yaitu solar cell  sebagai sumber energi mereka.  Daerah-daerah yang menjadi mitra Berbagi Listrik belum dijangkau oleh transmisi energi yang sudah ada.

 Selain itu,  Berbagi Listrik juga mengkampanyekan energi bersih kepada masyarakat.

“Setiap kita pasang solar cell, kita beri edukasi (ke Masyarakat-red). (Kita edukasi ke masyarakat)ini salah satu inverstasi yang ramah lingkungan,sehingga masyarakat terbiasa dengan sumber energi yang terbarukan,” ucap Irvan.

Dari Passion Bidang Enterpreneurship ke Energi Terbarukan: Kisah Irvan Hermala Mengembangkan Start-Up Berbagi Listrik
Irvan bersama rekan-rekan satu timnya di Berbagi Listrik (source: personal documentation)

Mempelajari culture start-up saat sekolah di UK

Irvan menuntut studi di UK pada tahun 2015. Pada saat itu, ekosistem start-up belum berkembang pesat seperti sekarang.

“Kalau sekarang kita familiar dengan istilah pithcing.. Saat itu  kegiatan pitching di Indonesia sangat terbatas. Hanya diadakan di venture capital tertentu.”

Saat berada di UK, saat itu merupakan pertama kalinya Irvan melaksanakan pitching. Pengalaman pitching tersebut mengajarkan banyak hal kepada dia. Dia belajar untuk menuangkan gagasan dalam waktu singkat, di depan para investor.

Pada 2019, Berbagi Listrik meraih juara favorit pada ajang  Shell LiveWIRE Indonesia. Kemudian, pada tahaun 2020, start-up nya menjadi juara tingkat provinsi pada kompetisi Satu Indonesia Award yang diadakan oleh Astra.

“Hasil pendidikan saya di UK tersebut memberikan pengalaman baik yang dapat membawa dampak baik kepada start-up saya.”

Dari Passion Bidang Enterpreneurship ke Energi Terbarukan: Kisah Irvan Hermala Mengembangkan Start-Up Berbagi Listrik

Mengunjungi Old Trafford saat berada di UK (soure: personal documentation)

Potensi Renewable Energy di Indonesia

Menurut Irvan, tidak bisa dipungkiri, ketergantungan Indonesia akan fossil fuel cukup tinggi.

“Ini perlu kita terima sebagai sebuah fakta”, “ tukas Irvan.

Meskipun begitu, yang perlu diingat, cepat atau lambat, fossil fuel pasti akan habis. Oleh karena itu, perlu dibuat rencana strategi untuk memitigasi kondisi tersebut, dimana penggunaan bahan bakar fossil fuel dapat dikonversi menjadi renewable energy.

“Kemarin kan kita lihat ada PLTU batu bara yang usia-nya sudah 25 tahun. Bagaimana dalam jangka waktu 25 tahun ke depan kita dapat mempersiapkan infrastruktur renewable energy, seperti menyiapkan PLTU bio-diessel atau bio-mass, dengan bahan baku dari cangkang sawit, misalnya.

“Jadi selain menerima kondisi yang ada, kita juga harus mempersiapkan (yang akan terjadi-red), sehingga sumber daya yang cukup melimpah di negara kita, dapat dipergunakan.”

Selain itu, Irvan juga menjelaskan mengenai potensi sumber daya air yang dapat diberdayakan untuk menjadi salah satu sumber renewable energy. Menurut Irvan, dengan kontur Indonesia yang memiliki banyak pegunungan, dan berbentuk kepulauan, Indonesia kaya akan sumber daya air.

“Sumber daya air memiliki biaya produksi yang paling rendah dibanding sumbet daya renewable energy lainnya. Selain itu, memiliki aspek TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang tinggi. Potensi hidro ini dapat dioptimalkan sebagai bagian dari kontribusi sumber energi.”

Irvan mengatakan, untuk menggantikan peran bahan bakar fossil harus dilakukan perlahan.  Ia mencontohkan megenai PLTU batu bra yang sudah berusia 25 tahun.

“25 tahun umur PLTU, ada 5 presiden yang melanjutkan pembangunan infrastruktur itu. Begitu juga dengan renewable energy.”

Dari Passion Bidang Enterpreneurship ke Energi Terbarukan: Kisah Irvan Hermala Mengembangkan Start-Up Berbagi Listrik
Irvan bersama masyarakat di salah satu desa di Kabupaten Manggarai Barat, NTT, dalam salah satu project Berbagi Listrik (source: personal documentation)

Battlefield masih Luas

Industri renewable energy masih memiliki area yang cukup luas untuk dieskplor.

Selain start-up yang bersifat sociopreneur, seperti Berbagi Listrik, masih ada juga start-up yang bersifat komersial.

Masing-masing start-up tersebut memiliki segmen yang berbeda, akan tetapi memiliki misi yang sama: menggalakkan energi terbarukan.

“Tentu kalau buat anak-anak muda yang punya passion, semangat, tekad untuk membangun renewable energy, kita sangat encourage, ungkap Irvan.

Selain itu, sebagian besar start-up yang sudah ada masih bergerak di bidang solar panel atau wind turban. Menurut Irvan, masih banyak potensi lain dari bidang renewable energy yang dapat dieksplor, seperti bio mass atau energi panas laut bumi.

Dari Passion Bidang Enterpreneurship ke Energi Terbarukan: Kisah Irvan Hermala Mengembangkan Start-Up Berbagi Listrik
Di depan instalasi solar panel yang sedang dipasang (source: personal documentation)

Butuh Idealisme yang Kuat

Salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah masih terbatasnya talenta yang tertarik untuk terjun di bidang renewable energy.

“Bukannya enggak ada, tapi kalau ada, banyak yang  menyerah menghadapi tantangan yang ada, “ujuar Irvan.

Ada dua hal yang perlu dikombinasikan, yaitu keinginan kuat dan expertise kuat untuk mengembangkan bidang renewable energy.  Kombinasi dua hal tersebut penting, sehingga dapat diwujudkan menjadi suatu hal yang konkrit.

“Memang, akan ada banyak kesulitan-kesulitan di awal yang ditemui. Dengan berjalannnya waktu, kita bisa menemukan efficencet scale-nya, sehingga kita akan bisa mengembangkan bisnis kita secara autopilot.”

Selain itu, idealisme kuat juga dibutuhkan, khususnya untuk memperbaiki bumi, dalam rangka membuat bumi sebagai tempat tinggal yang layak.

Jika Sahabat Indonesia Mengglobal tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang Berbagi Listrik, atau energi terbarukan secara umum, maka dapat mengunjungi halaman Instagram Berbagi Listrik @berbagilistrik.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here