“Indah” Pada Waktunya Part 2: Mentor-Mentee Bertemu Pertama Kalinya di New York

0
244
Djodi dan Indah akhirnya bisa berfoto bersama setelah dua tahun terhubung lewat Indonesia Mengglobal.

Ini adalah kisah dua putra-putri daerah yang mengambil keputusan besar untuk keluar dari kampung halamannya masing-masing dan berhasil menaklukkan dirinya dan impiannya. Lintasan benang-benang takdir berhasil terpaut dan mempertemukan mereka di satu simpul kehidupan melalui Indonesia Mengglobal sebagai Mentor dan Mentee. Dua tahun kemudian, mereka bertemu secara langsung di Kota New York, Amerika Serikat.

Masa-masa Kerja Keras dan Perjuangan di Jepang

Foto dokumentasi asli, 14 Februari 2017 pk. 18.53 waktu setempat. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Februari 2017 – Seorang anak muda duduk sendirian di dining hall sebuah kampus di Pulau Kyushu. Ia merenung di meja panjang yang menempel di sepanjang dinding kaca menghadap ke arah lapangan dengan pemandangan gunung di belakangnya. Ia cukup terpukau dengan lokasi indah Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) yang berada di atas bukit, namun juga merasa terharu mengingat perjalanan dari kampung halamannya hingga bisa sampai ke sebuah kota nun jauh di selatan Jepang bernama Beppu. Pemuda tersebut bernama Djodi. Ia tidak sadar bahwa saat itu di kota tersebut, tinggallah seorang mahasiswi Indonesia yang beberapa tahun kemudian akan membantunya meraih impiannya yang lebih besar.

Djodi berdiri di depan kampus Ritsumeikan APU, Beppu, 2017. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Djodi, yang berusia 22 tahun, merupakan seorang karyawan sebuah perusahaan swasta di Fukuoka, Jepang. Ia sedang melakukan perjalanan pertamanya ke kota lain di hari liburnya, dan kebetulan kota tersebut adalah Beppu, yang dikenal sebagai kota pusat pemandian air panas di Jepang—dan pada sore itu, ia sedang mengunjungi kampus terkenal di sana yang dengar-dengar banyak mahasiswa Indonesianya. Lima tahun sebelumnya, Djodi hanyalah seorang siswa SMA di Malang yang hampir tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena masalah biaya. Dengan modal nekat dan keyakinan pada rencana yang disiapkan Tuhan, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Universitas Indonesia, keluar dari kotanya yang nyaman dan merantau ke ibukota tempat ia tidak mengenal siapapun, hingga akhirnya bisa diterima di sebuah perusahaan Jepang selepas lulus. Suka duka dilaluinya di Jepang, dari mulai kenangan manis bersama teman-teman seperjuangannya, jalan-jalan ke tempat bagus, dan dimarahi atasan orang Jepang. Berabagai pekerjaan, seperti pekerjaan lapangan di gerai makanan cepat saji seperti memasak, mencuci piring, menjadi kasir dan pelayan, membersihkan kamar mandi, hingga petugas gudang shift malam ia lakoni di Jepang.

Di saat yang sama, Indah, mahasiswi Ritsumeikan APU asal Lampung yang sudah dua tahun lebih dahulu berada di Jepang, juga telah melalui berbagai hal dalam hidupnya. Sebagai seorang anak perempuan dari Sumatera, ia memberanikan diri menjadi anak pertama di keluarganya yang keluar dari kota tempat tinggalnya dan bersekolah di Pulau Jawa. Tidak mudah bagi seorang anak daerah untuk mencoba peruntungan di tanah rantau demi peluang hidup yang lebih baik, terutama bagi anak perempuan yang sering kali terbelenggu norma, pola pikir, hingga izin keluarga, untuk melakukan suatu hal yang besar. Beruntungnya, Indah memiliki impian yang besar dan kemauan keras, serta orang tua yang sangat suportif hingga ia akhirnya bisa menempuh pendidikan SMA di Pulau Jawa dan lanjut hingga S1 di Jepang.

Selama berkuliah di Jepang, Indah juga telah melalui berbagai hal untuk dapat bertahan hidup. Dari mulai bekerja sambilan di kampusnya sebagai petugas kebersihan, di restoran, hotel, menjadi buruh shift malam, hingga mengajar di sekolah di Jepang. Etos kerja dan kedisiplinannya dalam mengatur waktu antara kuliah dan bekerja telah menempanya menjadi lebih kuat dan tahan banting. Kerja keras Indah akhirnya mengantarkannya ke berbagai kesempatan dan pencapaian yang diraihnya dari mulai pertukaran pelajar ke Meksiko selama satu semester, magang di kantor pusat PBB di New York, menjadi lulusan terbaik dari Ritsumeikan APU, hingga diterima di program magister International Education Policy di Harvard University dengan beasiswa penuh dari LPDP.

Indonesia Mengglobal Mentorship Program

Agustus 2020 – Indah dan Djodi pertama kalinya berbicara satu sama lain dalam jaringan. Saat itu Indah berada di Lampung dan Djodi berada di Depok. Pertemuan suara ini cukup menjadi momentum tidak terlupakan bagi Djodi karena dapat berkenalan dan berbagi langsung dengan alumna Indonesia dari salah satu sekolah pendidikan terbaik di dunia, Harvard Graduate School of Education. 

Beberapa persamaan latar belakang seperti pengalaman di Jepang dan cita-cita di dunia pendidikan bukan hanya membuat keduanya cepat akrab dalam topik pembicaraan yang nyambung, namun juga menjadi magnet satu sama lain yang membuat mereka akhirnya dipasangkan menjadi Mentor dan Mentee di Indonesia Mengglobal Mentorship Program 2020. Terkadang, beberapa persilangan antara dua hidup manusia atau lebih mungkin memang dituntun oleh takdir, yang jika dipecah kecil-kecil, merupakan keputusan-keputusan kecil dari manusia-manusia yang bersangkutan itu. Dan beberapa hal dalam kehidupan memiliki lebih banyak peluang persilangan benang-benang kehidupan itu sendiri karena sifatnya yang menarik manusia dengan cita-cita dan hasrat yang sama. Di sini, hal tersebut adalah platform Indonesia Mengglobal dan cita-cita untuk melihat dunia luar dan hasrat untuk saling menolong sesama menjadi pemersatu para mentor dan mentee di dalamnya.


Kisah lengkap mengenai pengalaman mentoring dengan Indah dapat dilihat DI SINI.

Pertemuan Mentor-Mentee Mengglobal di New York

Mei 2022 – Indah memberitahuku rencananya singgah di Kota New York selama beberapa hari sebelum pergi menuju Boston untuk menghadiri upacara kelulusannya di Harvard yang sempat tertunda karena pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Aku cukup bersemangat mendengar kabar tersebut, walaupun tidak terlampau menggebu-gebu karena aku selalu berpikir di era konektivitas ini, tidak sulit untuk menghubungi dan bertemu dengan orang lain. Akhirnya, kita sepakat untuk bertemu pada hari Kamis, 26 Mei 2022.

Kamis siang, pertama kalinya aku ketinggalan busku ke New York. Sedih sekali, busnya benar-benar baru bergerak dan mulai berjalan tepat di depan mataku yang sedang berlari ngos-ngosan. Agak kecewa dan sedih bukan karena biaya tiket yang melayang sia-sia, namun karena aku jadi tidak sempat ikut bertemu dengan Indah bersama beberapa teman dari Columbia University di suatu kafe. Pada saat itu, aku sempat berpikir mau pulang karena sudah terlanjur lelah dan merasa bersalah karena terlambat. Namun, setelah Indah mendorong untuk bertemu, akhirnya aku membeli tiket untuk keberangkatan terdekat berikutnya.

Indah dan Djodi pertama kalinya berfoto bersama setelah dua tahun terhubung sebagai Mentor-Mentee Indonesia Mengglobal. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Pukul 7 sore, aku berjalan cepat dari Stasiun York di Brooklyn menuju lokasi destinasi DUMBO (Down Under the Manhattan Bridge Overpass). Di ujung jalan lokasi DUMBO, aku melihat seseorang memakai jilbab dan pakaian putih. Ketika berjalan mendekat, aku merasa sudah sangat familiar dengan wajahnya, bahkan orang di dekatnya karena sering aku lihat di Instagram. Benar saja, Indah Shafira ada di hadapanku. Aku ingat muncul dari keramaian jalan dan tiba-tiba menyapa: “Halooo…”. Sontak mereka semua menoleh dan Indah langsung mengenaliku. Tidak lama bagiku untuk menjadi akrab dengan Indah, Mas Dipta (suaminya), dan kakak serta kakak iparnya. Padahal baru pertama kali bertemu, tapi aneh saja; rasanya seperti sudah mengenal lebih lama. Indah dan pembawaannya benar-benar sama persis seperti yang ada di benakku, sama seperti Indah yang berbicara denganku saat mentoring, kutonton di video hits-nya “Dari Lampung ke Harvard”, dan berbagai Instagram story-nya selama ini. Beberapa hal yang mungkin baru pertama kuamati dari Indah yaitu misalnya bagaimana ia berinteraksi dengan suaminya, dengan saudara-saudaranya, kemudian bagaimana ia menjadi salah satu decision-maker dominan dalam perjalanan kita berlima sore itu.

Aku sendiri sungguh kagum ketika bertemu mentorku secara langsung. Aku tidak melihat sosok mahasiswi universitas Jepang yang pekerja keras maupun alumni Harvard yang unggul, tapi aku melihat a woman of success; wanita dewasa yang independen, mapan, dan berhasil dalam hidupnya. Aura seperti ini mungkin dimiliki bukan hanya dari pencapaian apa yang telah dilakukan, namun juga apa saja yang telah dilalui dan seberapa jauh ia telah melangkah dari titik awal dalam hidupnya.

Pertemuan bersejarah ini akan selalu menjadi kenangan tersendiri dan diharapkan menjadi awal dari kolaborasi dan inspirasi yang lebih besar lagi. Dua insan muda Indonesia yang dipertemukan oleh keinginan berbagi dan dipersatukan oleh cita-cita luhur bagi dunia pendidikan. Kerja keras dan waktu sulit di masa lalu, pada akhirnya akan berbuah manis bagi yang berhasil melewatinya, dan semua akan menjadi indah pada waktunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here