Dara Nasution: Politik, Perempuan, dan MPP University of Oxford

0
420
Dara berfoto di depan Radcliffe Camera, salah satu ikon University of Oxford.

Tantangan yang dihadapi politisi perempuan di Indonesia telah menginspirasi Dara Nasution untuk menempuh Master of Public Policy di University of Oxford. Apa saja keunggulan dari program yang ditawarkan Blavatnik School of Government ini? Lalu apa yang ingin Dara bawa ke tanah air? Ia menceritakan pengalaman dan harapannya kepada Kolumnis Indonesia Mengglobal, Rio Tuasikal.

IM: Halo Dara! Lagi sibuk apa sekarang dan boleh ceritakan sedikit latar belakangmu sebelum ke Oxford?

DN: Aku sekarang kerja di salah satu tech company sebagai government outreach. Sebelumnya aku kuliah Master of Public Policy University of Oxford tahun 2020-2021 dengan dukungan Jardine Scholarship. 

Sebelum ke Oxford, aku sempat jadi juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan pernah maju di pemilihan legislatif 2019 sebagai caleg DPR RI untuk dapil Sumatera Utara III. Sebelumnya aku alumni Universitas Indonesia lulus tahun 2017. 

Dara berkecimpung di dunia politik selama 2 tahun sebelum menempuh pendidikan pascasarjana.

IM: Apa sih yang mendorong kamu belajar kebijakan publik?

DN: Karena kita melihat di Indonesia, dan mungkin fenomena global juga, politisi perempuan masih dianggap warga kelas dua. 

Lihat saja di 2019 ada berapa banyak sih perempuan yang dikasih ruang mewakili partainya ke debat nasional jadi jubir partai? Pasti nggak banyak kan. Kalau lihat di televisi, politisi dan pejabat itu asosiasinya laki-laki middle age

IM: Apa saja tantangan sebagai politisi perempuan di Indonesia?

DN: Politisi perempuan pasti lebih rentan mendapatkan harrassment di media sosial. Dulu waktu aku jadi jubir partai sering banget, ketika aku kasih pernyataan, orang-orang ngasih judul ‘politisi cantik’. Semua komentarnya itu fokus ke identitas keagamaan dan keperempuanan aku.

Partai politik juga nggak serius kaderisasinya. Demi memenuhi kuota perempuan 30 persen, mereka akan cari perempuan dari mana saja. Yang paling umum di Indonesia biasanya nama-nama yang terhubung sama petinggi-petinggi partainya. Seringkali politisi perempuan kepilih tapi jadi proxy doang. 

Inilah yang menginspirasi aku untuk kuliah di luar negeri. 

Dara mengatakan parpolnya memberikan kesempatan luas bagi politisi perempuan untuk maju. Bahkan mayoritas ketua DPP PSI saat itu adalah perempuan.

IM: Wah ternyata masih banyak yang perlu diperbaiki ya. Lalu kenapa kamu pilih public policy di University of Oxford?

DN: Jadi aku kan keterima di University of Oxford, University of Cambridge, sama LSE. Cuma pas aku lihat-lihat situs dan segala kurikulumnya, memang aku ngerasa untuk tipe-tipe orang sepertiku, lebih cocok MPP Oxford.

Berbeda dengan program MPhil dan MSc yang lebih berat ke riset dan teori, MPP ini titik beratnya lebih gimana secara praktis punya tools untuk menyelesaikan masalah di masyarakat. 

Blavatnik School of Government yang membawahi program Dara berdiri pada 2010 dan langsung menarik mahasiswa dari seluruh dunia.

IM: Apa saja keunikan dari program yang kamu tempuh?

DN: Pertama, jurusannya sangat interdisipliner, jadi belajar hukum, ekonomi, politics of policy making, evidence and statistics, political philosophy

Kedua, dia itu sangat praktik jadi metode belajarnya case studies. Di matkul apapun, ujian pun, selalu studi kasus. 

Ketiga, biasanya orang-orang yang masuk MPP Oxford itu memang bukan fresh graduate. Biasanya orang yang sudah berkarir di sektor publik sekitar 5-10 tahun.

Keempat, nggak ada tesis. Tugas akhirnya itu adalah summer project. Jadi magang di lembaga manapun dan memproduksi satu rekomendasi kebijakan. 

Tantangannya adalah cari lembaganya. Pada akhirnya aku kerja sama sama CSIS dan Atmajaya dan bikin rekomendasi kebijakan terkait fintech

Dara menghadiri upacara wisuda pada November 2021

IM: Apa sih yang berbeda dengan sistem pendidikan di Inggris?

DN: Ada perbedaan tradisi belajar, terutama critical thinking. Di Indonesia tuh kan Kalau ujian bisa pilihan ganda, atau esai pun jawaban pendek-pendek. Jadi ngerasa kalau hapal pelajaran, itu good enough.

Pas aku masuk MPP Oxford itu beda banget. They wanted us to critically think about everything. Untuk dapat 70 (Setara 90 di Indonesia) itu harus benar-benar punya pemikiran sendiri. Sementara kita nggak pede untuk mengritik nama-nama besar yang bukunya kita baca. 

IM: Gimana soal tantangan? Apa yang paling berat?

DN: Tugas paling susah itu ujian. Kalau nggak Covid, kita ujian di kelas, boleh buka buku, dan bikin esai dikasih waktu tiga jam. Ujiannya di gedung khusus dan pakai seragam khas University of Oxford. 

Karena Covid, ujian diganti jadi bikin dua esai total 8000 kata dalam waktu 72 jam. Dosen sih bilang setiap ujian ini bisa diselesaikan dalam waktu 3 jam. Tapi pas kita lihat pertanyaannya, ini sih nggak bakal selesai dalam waktu 3 jam hahaha… 

Itu menantang banget. Itu susah banget karena aku nggak pernah ngalamin sebelumnya. Di saat yang sama ya berusaha menyelesaikan itu. 

Dara mengatakan, teman-teman sekelasnya sangat kompak dan saling membantu satu sama lain.

IM: Sekarang kan kamu kerja di tech company. Apa yang ingin kamu bawa setelah kuliah public policy?

DN: Jadi di Oxford ada mata kuliah public policy in tech economy. Jadi belajar gimana membuat inovasi, kebijakannya seperti apa? Terus kebijakan kompetisi yang sehat. Jadi nyambung kan jadi udah belajar itu, summer project-nya soal fintech. Pada akhirnya sekarang fokus ke digital regulation

Apalagi S1 aku kajian media, berurusan sama medsos dan lain-lain. Kenapa sekarang ke tech company karena ingin belajar and memperjuangkan fairer digital policy

Ke depannya, aku mau balik ke politik. Tapi aku mau fokus di sini, sambil fighting for gender-sensitive regulation.

Menurut Dara, banyak perempuan diajarkan untuk tidak berani mengambil risiko.

IM: Apa pesan kamu buat perempuan yang ingin kuliah MPP di University of  Oxford?

DN: Yang kurang dari perempuan itu adalah berani mengambil risiko, karena kita dibesarkan demikian. Banyak banget orang di sekellingku bilang ‘Lo kan perempuan, emang lo bisa jaga diri di sana? Nanti lo terjerumus ke dunia hitam’. Seolah-olah serem banget

Menurutku, keberanian mengambil risiko itu harus dilatih. Nggak mungkin tiba-tiba kamu bangun di satu hari dan nekat daftar universitas padahal selama ini nggak pernah.

Nah saranku, itu harus dimulai pelan-pelan. Mulai deh ngelakuin hal-hal yang bisa dilakukan tapi selama ini masih ngerasa takut. Misalnya mulai dari ningkatin skor TOEFL dan IELTS. 

Try to push your boundaries. Suatu hari, kamu akan punya keberanian untuk mengambil risiko yang lebih besar.

Informasi lengkap mengenai program Dara Nasution, MPP University of Oxford.

Foto-foto disediakan oleh narasumber.

Dara Nasution saat ini bekerja sebagai politics and government outreach associate manager di Meta. Sebelumnya dia menjadi juru bicara dan calon legislatif Partai Solidaritas Indonesia. Dara menempuh pendidikan S2 Kebijakan Publik di Universitas Oxford dan S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here