Penolakan Beasiswa LPDP Membuatku Kuliah di Columbia School of Social Work

0
1826

Diana yang kini tengah menjalani studi di Columbia University menceritakan pengalamannya gagal lolos seleksi beasiswa LPDP, yang ternyata membawanya kuliah di salah satu kampus bergengsi di Amerika Serikat.

***

Halo semuanya! Perkenalkan, namaku Goei Diana Sulistyaningrum. Aku mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menjalani studi di program Master Social Work di Columbia University, New York. Keinginanku untuk kuliah S2 di luar negeri sudah ada sejak lama, bahkan sebelum aku lulus S1 dari Universitas Indonesia. Namun, aku baru secara serius mempersiapkan semuanya, mulai dari aplikasi beasiswa hingga kampus, di akhir 2017. Pertama, aku fokus pada pendaftaran dan seleksi beasiswa, dan seleksi beasiswa LPDP reguler di tahun 2018 adalah seleksi beasiswa pertama yang aku ikuti.

Penolakan beasiswa LPDP tahun 2018
Di tahun 2018, beasiswa LPDP regular hanya mengijinkan pendaftar untuk memilih satu universitas tujuan. Saat itu, aku memilih program Development Studies di UCL London. Prosesku dalam mengikuti beasiswa LPDP berlanjut dari tahap administrasi, tes TPA, hingga ke FGD dan wawancara. Di tes wawancara ini, aku sedikit kaget saat menerima pertanyaan pertama dari 3 orang interviewer yang terdiri dari 1 orang professional, 1 orang psikolog, dan 1 orang penguji wawasan kebangsaan.

“Kamu kan lulusan dari program akuntansi terbaik di Indonesia, kenapa pilih untuk studi di jurusan yang tidak ada hubungannya?” Honestly, jawabanku ketika itu normative. Aku memberikan jawaban yang aku pikir manis didengar dan bukan jawaban yang benar-benar jujur. Kenapa? Karena aku pikir jawaban yang diinginkan interviewer adalah jawaban yang ideal, bukan jawaban seperti “soalnya saya ga suka akuntansi dan ga pernah kerja di bidang itu sesudah saya lulus.”

At the end, aku gak kaget ketika pengumuman hasil tes LPDP menyatakan bahwa aku tidak lolos seleksi substansi. Perasaanku saat itu antara sedih dan gak sedih, karena aku memang merasa belum memberikan 100% terutama di tahap interview kemarin. Setelah itu, aku pun memutuskan untuk keep open dan mencoba beasiswa Fulbright dan LPDP di tahun selanjutnya.

Interview merupakan tahapan yang terpenting sepanjang proses seleksi beasiswa LPDP yang perlu aku persiapkan di percobaan selanjutnya.

Persiapan beasiswa LPDP tahun 2019
Setelah gagal di tahun sebelumnya, kali ini aku berusaha untuk lebih prepared dalam mempersiapkan pendaftaran beasiswa LPDP di tahun 2019. Beasiswa LPDP di tahun tersebut sedikit berbeda dibandingkan dengan tahun 2018. Tahapan seleksi di tahun 2019 terdiri dari seleksi administrasi, tes potensi akademik (TPA), dan dua tahap wawancara. Wawancara pertama serupa dengan wawancara LPDP pada umumnya yang menyangkut motivasi kuliah, leadership, dan goals setelah lulus. Sementara itu, wawancara mengenai wawasan kebangsaan dipisah dan dijadikan satu tahap tersendiri dan diuji langsung oleh seorang pegawai BIN.

Secara umum, ada beberapa perbedaan persiapan yang aku lakukan khusus untuk tahap wawancara di mana aku gagal tahun lalu:

Persiapan yang lebih matang
Beberapa hal yang aku lakukan di antaranya adalah bergabung dengan grup telegram untuk update dengan diskusi persiapan wawancara, mengetik jawaban untuk memastikan cara berpikir yang rapi dan menjawab inti pertanyaan yang ditanyakan, bahkan konsultasi dengan teman untuk pertanyaan-pertanyaan yang dirasa sulit, termasuk pertanyaan yang di seleksi sebelumnya tidak bisa aku jawab dengan baik, seperti “kenapa pindah dari akuntansi ke jurusan sekarang,” “apa rencana setelah S2,” dan pertanyaan sulit lainnya yang menyangkut wawasan kebangsaan.

Memiliki support system
Tidak bisa dipungkiri, aplikasi beasiswa dan kampus, khususnya ke luar negeri, membutuhkan waktu dan proses yang lama dan melelahkan. Dengan bergabung ke dalam grup telegram, aku bisa berdiskusi bersama teman-teman yang juga sedang menjalani proses yang sama, yang pada akhirnya menjadi sebuah support system yang sangat helpful.

Prove that we are worth the investment
Menurutku, ini satu poin yang penting dan sangat membantu di tahap interview LPDP di tahun 2019 yang aku ikuti. I did one movement yang berkaitan dengan jurusan yang aku pilih, dan kebetulan diskusi sepanjang interview banyak membahas tentang movement ini. Menurutku, selain membantu interviewer untuk mengenal passion dan tujuan kita dalam waktu yang singkat, hal ini juga bisa memberikan bukti bahwa kita memiliki interest dan pengalaman di hal yang menjadi fokus studi kita nanti. Pada akhirnya, ini akan menjadi jalan untuk menunjukkan ke interviewer bahwa kita worth the investment untuk mendapatkan beasiswa ini.

Be humble, do the best, and let God do the rest
Tentunya, semua effort yang kita lakukan harus disertai dengan kerendahan hati untuk memberikan yang terbaik dari diri kita, keinginan untuk belajar dan mendengarkan nasihat orang lain, bersedia dikoreksi, dan, yang terpenting, menyerahkan usaha kita kepada Tuhan.

Setelah dua kali mencoba beasiswa LPDP reguler, akhirnya aku lolos di beasiswa LPDP tahun 2019 dan secure pembiayaan untuk graduate school.

Kenapa akhirnya menetapkan hati di Columbia School of Social Work
Sebelum aku apply beasiswa LPDP di tahun 2019, ada beberapa kesempatan yang membuat aku semakin fokus ke bidang social entrepreneurship. Mempertimbangkan pengetahuan, pengalaman, dan apa yang aku mau fokuskan sebagai karir ke depannya, aku pada akhirnya memilih jurusan yang menawarkan konsentrasi di bidang social enterpreneurship/enterprise.

Setelah menyortir pilihan kampus yang ada di daftar kampus LPDP (bisa berganti setiap tahunnya) dan menyadari bahwa aku memiliki interest untuk melanjutkan studi di US, aku menemukan bahwa Columbia University School of Social Work (CSSW) merupakan kampus yang tepat buatku. Selain karena menawarkan konsentrasi Social Enterprise Administration, CSSW menawarkan field education berupa program magang selama 4 semester berturut-turut. Menurutku, hal ini memberikan nilai plus untuk tidak hanya belajar teori di kelas, namun juga memberikan pengalaman praktik di lapangan.

Aku tidak menyangka bahwa penolakan LPDP di tahun 2018 made me ending up di jurusan dan sekolah yang menurutku lebih cocok dengan apa yang menjadi fokusku di masa depan. It’s not easy to face rejection, but the most important thing is to learn from the rejection. Sejauh ini, with many ups and down, aku menikmati belajar di CSSW dan excited untuk mengetahui hal apa yang akan aku kerjakan ke depan.

Fotoku bersama Prof. John Robertson di kelas Advocacy of Social Work. This class has been one of my favorites!

***

Sumber foto: dokumentasi pribadi, Unsplash

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here