Cerita dari Negeri Hong Kong

0
510
The University of Hong Kong - Ida Ayu Kadek Trisnanty
The University of Hong Kong - Ida Ayu Kadek Trisnanty

Di Asia Timur, negara tujuan untuk studi biasanya Jepang, Korea dan Taiwan. Masih jarang mahasiswa Indonesia yang memilih Hong Kong sebagai destinasi untuk melanjutkan pendidikan. Kota yang menjadi pusat finansial hub di Asia ini, selain untuk studi bisnis dan ekonomi, juga untuk unggul di bidang pendidikan. Pada artikel ini, Kadek menceritakan pengalamannya mengambil kuliah master di bidang Information Technology in Education di Hong Kong University. Yuk simak pengalaman Kadek beradaptasi dengan lingkungan dan budaya Hong Kong dari segi bahasa, kebiasaan masyarakat, interaksi dengan orang lokal, cuaca, hingga kegiatan-kegiatan kebudayaan.

***

Belum banyak orang Indonesia yang memilih Negara Hong Kong sebagai tujuan untuk melanjutkan studi Master atau Doktoralnya. Seperti yang kita ketahui, Hong Kong dikenal sebagai negara dengan tingkat kepadatan yang cukup tinggi, memiliki biaya tempat tinggal yang mahal, dan juga merupakan negara asal dari aktor film terkenal seperti Jackie Chan dan Bruce Lee. Berkaitan dengan pendidikan, pendidikan di Hong Kong tidaklah kalah dengan pendidikan di negara-negara Eropa maupun Amerika. Selain itu, masih banyak orang yang menganggap bahwa Hong Kong sama dengan Negara Tiongkok atau Taiwan. Yang pasti, Hong Kong, Tiongkok, dan Taiwan itu adalah tiga negara yang berbeda.

Awalnya tidak pernah terpikir bagi saya untuk lanjut studi di Hong Kong. Akan tetapi, di tahun 2018 saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP dan ketertarikan saya tentang teknologi pendidikan membawa saya untuk berkuliah di Hong Kong. Akhirnya pada tahun 2019, saya berkesempatan untuk melanjutkan studi Master selama satu tahun di Universitas Hong Kong Fakultas Pendidikan jurusan Information Technology in Education. Pada saat itu memang sedang ramai-ramainya terjadi aksi demo atau protes terhadap pemerintahan Hong Kong.

Hong Kong City View. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pengalaman Berkuliah di Universitas Hong Kong

Kegiatan perkuliahan dimulai di awal bulan September 2019. Sebelum masuk ke jadwal perkuliahan yang sebenarnya, saya harus mengikuti matrikulasi dari kampus tentang penulisan ilmiah dan plagiarisme selama 1 minggu. Memang penulisan ilmiah yang benar dan tindakan plagiarisme yang dilarang menjadi fokus utama pembahasan yang diberikan kepada mahasiswa baru agar selalu menerapkannya pada tugas-tugas yang dikerjakan.

Satu tahun kuliah master di Universitas Hong Kong, terbagi ke dalam 3 semester, yaitu semester satu, semester dua, dan semester pada musim panas (summer semester). Kurang lebih setiap semesternya berdurasi 3-4 bulan. Saya harus merencanakan di awal tahun untuk keseluruhan mata kuliah yang akan saya ambil selama satu tahun kuliah. Banyak hal baru yang saya temui ketika berkuliah di sana. Mulai dari kurikulum yang diajarkan, metode pembelajaran yang dilakukan, para dosen yang andal, staf kampus yang ramah, hingga fasilitas di kampus yang sangat memadai.

Learning Commons, Salah Satu Fasilitas di Kampus. Sumber: Website Universitas Hong Kong

Pembelajaran berpusat pada murid, ini yang mungkin bisa menggambarkan bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan di kampus. Diskusi antar mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen, selalu terjadi di pembelajaran mata kuliah yang saya ambil. Dosen juga selalu memberikan umpan balik dan terbuka atas masukan dari mahasiswa serta menggunakan metode pembelajaran yang tidak monoton di setiap sesinya. Selain itu, yang paling saya sukai adalah nilai akhir tidak diambil dari kuis-kuis yang bersifat mengingat atau menghafal materi, tetapi diambil dari proyek atau tugas yang dikerjakan sebagai portfolio, baik itu tugas individu maupun tugas kelompok. 

Selama perkuliahan di Universitas Hong Kong, saya mengalami dua metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran tatap muka di kelas dan metode pembelajaran daring (online). Di Hong Kong telah terbiasa menerapkan pembelajaran daring melalui Zoom meeting bahkan sebelum pandemi COVID-19 muncul sehingga pembelajaran daring pun tidak membosankan. 

Hal lain yang membuat saya kagum adalah learning center atau learning commons dan perpustakaan yang ada di sana. Tempat ini adalah tempat favorit saya untuk belajar ataupun berdiskusi dengan teman satu kelompok. Perpustakaannya juga sangat lengkap, terdapat banyak koleksi baik itu buku maupun online journal yang dapat menunjang proses belajar saya selama kuliah di sana. 

Learning Commons Universitas Hongkong. Sumber: Website Universitas Hong Kong

Beradaptasi dengan Budaya dan Lingkungan di Hong Kong

Ketika merantau di negara lain, beradaptasi dengan budaya dan lingkungan di sana adalah suatu keharusan. Pertama, yaitu penggunaan bahasa. Bahasa yang digunakan di Hong Kong adalah Bahasa Kanton (berbeda dengan Bahasa Mandarin). Saya sama sekali tidak mengerti Bahasa Kanton sehingga selama di sana saya selalu menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Untungnya, Bahasa Inggris memang bahasa yang juga umum digunakan di Hong Kong. Strategi lain yang biasa saya lakukan adalah selalu pergi dengan teman saya yang bisa berbahasa Kanton ataupun Mandarin sehingga saya bisa langsung belajar dari mereka. 

Selama di Hong Kong, saya mendapatkan teman baru yang hingga saat ini masih sering bertukar kabar, bukan hanya teman di jurusan yang sama, tetapi juga teman dari jurusan lain. Saya kenal mereka karena ikut kegiatan di kampus dan juga perkumpulan mahasiswa pascasarjana. Kebanyakan memang berasal dari Mainland (sebutan untuk orang asli Tiongkok) dan orang asli Hong Kong. Mereka sangat terbuka dan asyik untuk diajak bercerita. Di kelas pun, suasana yang terbangun adalah suasana interaksi positif antar mahasiswa. Banyak dari mereka yang merupakan mahasiswa yang ambisius dan kompetitif (jadi kita tidak boleh kalah, hehe!) namun sangat terbuka dengan diskusi dan umpan balik. Selain itu, ada juga perkumpulan mahasiswa Indonesia di Hong Kong. Perkumpulan ini membantu saya untuk mendapatkan teman sesama orang Indonesia yang berkuliah di Hong Kong. Melalui perkumpulan ini, saya jadi tahu tentang kampus lain dan sangat membantu proses adaptasi saya ketika awal baru sampai di Hong Kong. 

Yang kedua, yaitu budaya tepat dan teratur yang sangat terlihat dari keseharian masyarakat Hong Kong. Semua pelayanan di kampus maupun pelayanan publik lainnya selalu tepat dan teratur. Ketika antri naik transportasi umum, antri di bank atau tempat publik lainnya, naik eskalator atau lift, semuanya selalu rapi dan teratur. Selain itu, bagi orang-orang yang masih awam dengan transportasi di Hong Kong, termasuk saya pada saat itu, tidak akan tersesat karena papan petunjuk dan instruksi yang sangat jelas terpampang di setiap transportasi umum yang ada. Banyak sekali transportasi umum yang dapat kita gunakan ketika di Hong Kong, seperti Bus, MTR, Tram, Kapal, dan Taksi. Inilah yang membuat saya merasa aman dan sangat nyaman ketika tinggal di sana.

Victoria Harbour. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ketiga, karena biaya tempat tinggal yang mahal, maka saya harus menyesuaikan tempat tinggal saya dengan biaya yang terjangkau. Di bulan pertama, saya tinggal di public dorm dengan luas kamar yang sangat kecil hanya sekitar 2-3 meter persegi dengan tipe kamar loft bedroom, yaitu tempat tidur di bagian atas sedangkan di bagian bawahnya untuk meja belajar dan tempat pakaian. Terdapat kamar mandi dan dapur yang dipakai bersamaan dengan penghuni lainnya. Beruntungnya, saya berhasil mendapatkan kamar yang lebih luas, sekitar 4x lebih luas dari kamar sebelumnya dan dengan harga yang masih terjangkau.

Keempat, harus bisa beradaptasi dengan cuaca di sana. Di Hong Kong, adanya angin taifun sudah menjadi hal yang lumrah. Angin ini bisa membawa hujan badai kapanpun sehingga kita harus selalu siap membawa jas hujan ataupun payung. Saya harus selalu mengecek website resmi pemerintah Hong Kong tentang angin taifun karena berdasarkan informasi cuaca ini bahkan perkuliahan pun bisa dibatalkan. Yang paling terasa adalah ketika musim dingin, yaitu sekitar bulan Desember dan Januari. Suhu udara bisa mencapai hingga 5 derajat celcius. Sebagai orang yang berasal dari negara tropis dan terbiasa dengan cuaca yang panas, musim dingin menjadi tantangan yang sangat besar. Walaupun tidak ada salju, tapi suhunya terasa sangat dingin. 

Selain itu, banyak juga perayaan atau festival kebudayaan yang bisa kita lihat, seperti mid-autumn festival, spring festival, dan festival lainnya yang menggambarkan kebudayaan di Hong Kong. Seru dan menyenangkan bisa mempunyai pengalaman hidup dan beradaptasi di sana, apalagi waktu itu memang sedang ramai-ramainya terjadi aksi demo di Hong Kong. Melihat langsung apa yang terjadi dan mendengar pendapat dari teman-teman di sana, saya langsung merasa ikut menjadi saksi sejarah perkembangan negara Hong Kong.

Mid-Autumn Festival. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bagi saya, mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di Universitas Hong Kong dan tinggal di Hong Kong merupakan suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Buat kalian yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, khususnya di Hong Kong, yakinlah kalau kalian pasti bisa dan terus semangat untuk menggapai mimpi kalian. Rasa takut atau khawatir itu wajar, tapi percayalah ketika kalian berhasil mencapai mimpi itu, semua lelah akan terbayar. Semoga bermanfaat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here