Keterbatasan, Peluang, atau Keterbatasan yang Menciptakan Peluang: Refleksi Satu Tahun Menjalani Studi Ph.D. di Amerika Serikat

0
545
A woman poses in front of a building in CA, USA
Ratih saat menjalani musim panas di California. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Apa yang terlintas di kepala kalian saat mendengar kata “keterbatasan”? Bagi Ratih, keterbatasan tidak selamanya harus dipahami sebagai sebuah hambatan. Dengan memakai sudut pandang yang tepat, keterbatasan dapat kita ubah menjadi peluang. Ratih yang berasal dari keluarga sederhana di Bali sudah sempat merasakan hidup dalam keterbatasan, namun pemikirannya soal menjadikan keterbatasan sebagai peluang mengantarkannya ke California. Mengapa Ratih sampai bisa punya filosofi seperti itu dan bagaimana caranya agar bisa seperti Ratih? Mari kita baca ceritanya bersama-sama.

***

Sore itu cerah: langit yang biru, angin sepoi-sepoi bertiup, udara segar. Saya baru saja pulang dari mengunjungi kota San Fransisco, satu jam perjalanan bus dari Berkeley, kota tempat tinggal saya. Rasa haru menyeruak ketika kaki saya mengeluh lelah karena seharian ini berjalan-jalan. Terima kasih kaki. Langkah kita kecil tapi perjalanan kita jauh. Menilik ke belakang, ketika mengingat kembali momen-momen masa kecil dan remaja, sungguh ketidaktentuan masa depan karena aspek finansial pernah menjadi salah satu bagian hidup saya. Beberapa penggalan pernah saya tuliskan untuk buku Indonesia Mengglobal sehingga tidak saya tulis kembali.

Sebagai konteks, pandemi COVID-19 yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini sudah pasti memukul banyak pihak. Dampaknya beragam bagi setiap orang, tapi saya sadar betul ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan segala bentuk kemungkinan yang kini menjelma sebagai keterbatasan. Impian dan harapan yang dulunya dekat bisa jadi tinggal angan. Sebagai bagian dari keluarga yang terdampak krisis pasca teror bom yang mengguncang Bali di awal tahun 2000-an, saya tahu rasanya mengubur mimpi. Ditanya cita-cita pun lidah terasa kelu: apa yang harus saya jawab agar tidak membebani orang tua? Menjadi apa saya seharusnya sehingga keluarga kami bisa hidup lebih baik? Apakah ada bidang yang akan menjadi titik temu antara hal yang saya sukai dan hal yang saya akan butuhkan sebagai sumber finansial di masa depan – dan dapat keluarga kami jangkau di masa sulit ini? Melihat kembali hari di mana saya yang tidak tahu arah dan tidak ada peta digital untuk menunjukkan jalan tapi tetap berpanas-panasan keliling kota dengan mengendarai sepeda motor untuk mengurus rangkaian administrasi surat keterangan berasal dari keluarga tidak mampu sehingga saya bisa mendapat keringanan untuk mengurus biaya kuliah– sungguh, saya tidak pernah satu kalipun bayangkan hari ini saya ada di pusat kota dunia. 

Dengan perasaan syukur itu saya kemudian memutuskan untuk menuliskan refleksi tahun pertama menjalani studi Ph.D. untuk merayakan ulang tahun Indonesia Mengglobal yang kesepuluh. Merayakan bagaimana keterbatasan tidak membatasi, dan bahkan menciptakan peluang yang tanpa keterbatasan itu mungkin tidak pernah menjadi peluang. Tulisan ini ditujukan kepada siapa harapan itu ingin tetap menyala, walau tembok keterbatasan yang tinggi menjulang seolah membentengi diri dari berbagai penjuru. Mari kita lihat lebih dekat: apakah betul tembok itu harus kita lompati? Atau jangan-jangan ada celah, yang meskipun sempit tapi cukup untuk kita lewati sambil melangkah atau merangkak satu per satu?

Lahir dan besar di Bali, saya berkesempatan melanjutkan studi Ph.D. di University of California, Berkeley, Amerika Serikat setelah sebelumnya mencicipi Eropa ketika menyelesaikan studi magister. Terkendala izin berangkat di awal pandemi, saya sempat menunda kuliah dan akhirnya memulai studi di tahun 2021. Bidang ilmu yang saya tekuni ada pada rumpun pendidikan, sebuah kajian yang saat ini sedang hangat disebut sebagai masa depannya pendidikan: learning sciences and human development. Learning scientist – ilmuan pendidikan seperti kami, mengkaji tentang bagaimana manusia belajar dan bagaimana mengoptimalkannya dengan menggunakan berbagai pendekatan yang berasal dari seni mendidik (pedagogi), ilmu kognitif, teknologi, dan psikologi perkembangan. Setiap hari berkutat dengan pertanyaan bilamana belajar itu terjadi dan mengapa proses dan hasilnya beragam pada setiap individu membuat saya banyak berkontemplasi: siapa saya dan mengapa saya ada di sini hari ini? Salah satu jawaban yang untuk saat ini saya kira masuk akal untuk menjawab sebagian tanya adalah karena adanya constraint– keterbatasan. Dalam dunia bisnis maupun kehidupan sehari-hari, istilah ini identik disematkan bagi faktor penyebab ketidakmampuan yang menjauhkan seseorang dari tujuannya. Dalam dunia pendidikan, batas-batas ini justru bisa dimanfaatkan untuk memampukan seseorang belajar menuju tanpa batas.

Saya tersadar akan peran penting keterbatasan yang membangun ini ketika melakukan pengamatan kelas di sebuah kelas pre-school serangkaian menyelesaikan tugas musim semi. Walaupun guru tidak menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini kepada saya, diamati dari pelaksanaan kegiatan, salah satu tujuannya adalah mengajarkan siswa untuk mampu bersosialisasi dan berinteraksi sebagai pasangan (pair) dalam menjalankan tugas. Siswa di kelas diorganisasi secara berpasangan lalu diberikan waktu bebas untuk bermain di lapangan terbuka di halaman belakang kelas. Ada beberapa lokasi dan sarana bermain yang bisa dipilih, mulai dari bak pasir, kebun mini, sepak bola, sepeda dengan boncengan gerobak mini, telepon gelas plastik bekas, rumah boneka, dan lain-lain.

Pasangan yang saya pilih untuk amati adalah seorang anak laki-laki dan anak peremuan. Keduanya tidak nampak senang ketika dipasangkan dan sempat mengajukan negosiasi untuk pindah pasangan. Guru tidak menyetujui permintaan tersebut dan akhirnya mereka tetap mencoba wahana bermain bersama- namun terpisah. Permainan seperti bak pasir dan kebun mini misalnya, memungkinkan anak untuk berada di lokasi yang sama tanpa berinteraksi satu sama lain. Pasangan berbeda juga bisa berada di tempat yang sama dan akhirnya terjadi interaksi silang. Sepeda boncengan nampak menjanjikan, tapi anak tetap bisa melakukannya sendiri tanpa ‘penumpang’. Pasangan yang saya amati telah mencoba semua wahana tanpa sukses menjalin ikatan kolaborasi kerja. Keduanya sibuk saling meninggalkan dan mengabaikan walau saling mengikuti kemana pasangannya pergi karena selalu ditegur guru.

Salah satu guru kemudian mendekati mereka setelah terlihat akan berpisah untuk kesekian kalinya. Kali ini, guru tersebut membawa sebuah telepon gelas plastik bekas dan menyodorkan pada keduanya. Tim yang awalnya tidak membutuhkan satu sama lain ini akhirnya menemukan alasan untuk bekerja sama: permainan telepon tidak bisa dilakukan sendiri. Secara alami, untuk mewujudkan permainan ini, seseorang harus bertindak sebagai pemberi pesan dan seorang lagi harus mendengarkannya. Tak hanya itu, untuk mendapatkan pengalaman yang utuh, keduanya harus bertukar peran. Dalam hitungan detik, pasangan yang saya amati memampukan dirinya untuk negosiasi peran. Didahului dengan tanpa kata, keduanya bahkan bisa mencapai mufakat dari melihat gerak tubuh satu sama lain: ketika yang satu mendekatkan gelas ke mulut, anak lain meletakkan gelas bagiannya di telinga. Saya terkesima. Ini dia, keterbatasan yang memampukan.

Kepingan kenangan itu datang kembali ketika saya memandang langit hari ini. Keadaan-keadaan “terpaksa” karena “keterbatasan keadaan” yang memampukan saya sampai pada tahap ini, berdiri di sini, dan menjadi diri sendiri. Di Bali, saya tumbuh dan berkembang bersama filsafah aget– ‘e’ nya dibaca seperti kata ‘beli’ bukan ‘termos’. Artinya kurang lebih beruntung, dalam situasi apapun berusaha mengambil sisi positifnya. Bukannya berkiblat pada toxic positivity, pola pikir ini serupa peribahasa when life gives you lemons, make lemonade – memanfaatkan kekurangan yang kita miliki sebagai kelebihan; atau walau tak sama persis tapi bisa juga sebagai bentuk pengejawantahan dari blessing in disguise – berkah yang tersamar. Hal ini membantu saya untuk mempersiapkan langkah terbaik dalam kondisi yang terbatas alih-alih menyalahkan keadaan dan kemudian mensyukuri apa yang saat ini bisa saya lakukan karena ini sudah lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali “keterbatasan” dan “keterpaksaan” tidak mutlak membuat kita memilih satu-satunya jalan yang terarah seperti halnya kasus permainan telepon yang saya ceritakan. Seringkali, skenarionya ada banyak – ruang terbatasnya tidak terlalu tinggi ataupun tidak terlalu rapat. Hal ini menyebabkan manusia sebagai pemeran utama dihadapkan pada pilihan-pilihan multi dimensi, satu keputusan menghadirkan konsekuensi pilihan lainnya. Untuk itulah tidak ada kunci jawaban yang sama untuk setiap masalah yang dihadapi semua orang – walaupun sekilas persoalannya nampak serupa.

Tahun 2020 sempat menjadi waktu yang saya nantikan, LoA di tangan pun dengan beasiswa. Saya bahkan sudah bisa membuat akun email dengan domain kampus yang baru. Saatnya kembali ke bangku sekolah pasca menimpa diri di dunia profesional dengan menjadi guru bagi calon guru. Persiapan studi dilakukan dengan mencari celah peluang di antara waktu dan tenaga yang tersisa dari kesibukan karier, kegiatan sukarelawan, dan dinamika sebagai makhluk individu dan sosial (apabila tertarik bisa dibaca di sini). Dua puluh empat jam sungguh bukan yang waktu panjang, tapi tidak ada pilihan selain mencukup-cukupi. Di tengah suka cita, pandemi menyerang tanpa diduga. Optimis akan berakhir dalam dua minggu, nyatanya memakan waktu yang jauh lebih lama. Bulan Agustus di depan mata, tidak ada tanda-tanda bisa berangkat ke luar negeri. Situasi terdesak, terbatas, terjepit.

Di tengah keputusasaan, saya menghubungi profesor dan menyampaikan izin berangkat yang tidak juga turun karena situasi pandemi. Pemerintah selaku pemberi beasiswa memang menginginkan warga negaranya dalam kondisi aman. Awal pandemi, semuanya begitu abu-abu, keputusan sulit dibuat. Seluruh awardee yang seharusnya berangkat pada periode tersebut diberikan mandat untuk bernegosiasi dengan kampus: defer (penundaan kuliah) atau mengikuti kuliah secara daring – jika keduanya sangat tidak bisa dilakukan dengan berat hati izin berangkat akan dikeluarkan. Profesor saya memahami kondisi yang terjadi. Kami mendiskusikan peluang yang mungkin: tunda atau daring. Saya tidak keberatan daring, tapi saya harus bangun pagi buta- sekitar pukul satu atau dua dini hari untuk bisa mengikuti perkuliahan. Kondisi tidak ideal di masa pandemi ditambah lokasi yang ribuan mil jauhnya. Profesor saya menawarkan opsi tunda kuliah tapi beliau akan meluangkan waktu di hari Kamis sore PST (Jumat pagi WITA) setiap dua minggu sekali untuk kami membahas arah riset. Saya juga diundang mengikuti kuliah-kuliah jarak jauh jika memungkinkan untuk saya bangun di waktu yang tidak ideal tadi. Lalu untuk mengantisipasi peluang pandemi mereda sebelum Fall 2020, penundaan kuliah tidak diajukan hingga Juli 2020. Sejak sekitar Maret 2020 saya resmi menjadi “mahasiswa” di lab profesor.

Penundaan kuliah akhirnya menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal setelah tidak ada titik terang di akhir Juni 2020. Pertemuan rutin dua minggu sekali dan kelas-kelas virtual dari Amerika Serikat tetap saya jalani, sementara tugas pokok sebagai dosen terus berlanjut. Pikiran saya bercabang banyak: mahasiswa membutuhkan materi regular standar perguruan tinggi, profesor membekali saya dengan makalah pada topik area yang tidak banyak saya pelajari, dan kementerian pendidikan memanggil saya untuk terlibat dalam penyusunan modul numerasi sekolah dasar yang dibutuhkan selama pandemi. Aneka ragam dan rupa dalam satu waktu, ternyata kombinasi seluruhnya menggiring saya pada sebuah minat riset yang menarik tentang pendidikan untuk masa depan – sebagaimana slogan lab tempat saya bergabung: learning is moving in a new way.

Meskipun tertatih-tatih di tengah keterbatasan sana-sini, menciptakan peluang di tengah keterbatasan dengan mengambil pilihan terbaik yang bisa dilakukan pada situasi tersebut ternyata membantu saya untuk bersiap menghadapi semester. Agustus 2021 adalah waktu yang dinanti. Bulat tekad, pintu terbuka – dengan penuh harap saya menjejakkan kaki di bandara internasional San Fransisco. Kelas-kelas dimulai, begitu pula dengan tantangan untuk beradaptasi. Rendah diri adalah bagian dari makanan sehari-hari yang berusaha keras saya atasi. Pertemuan-pertemuan virtual dengan profesor selama satu tahun belakangan mulai menunjukkan hasilnya. Walaupun serba asing, saya tahu banyak kata kunci dan saya ingat dimana saya bisa mencari tahu kembali. Teman-teman sesama mahasiswa tahun pertama tidak mendapat kesempatan berharga seperti yang saya peroleh karena keterbatasan yang saya alami tahun sebelumnya. Aget, kuliah saya diundur hingga musim gugur 2021.

Ketika tulisan ini ditulis untuk merayakan satu dekade tanpa batas Indonesia Mengglobal, saya sedang menuju akhir liburan musim panas. Sebagai mahasiswa internasional yang dibiayai beasiswa, saya tidak bisa sering-sering pulang ke kampung halaman sebagaimana teman-teman saya yang mayoritas berasal dari negara-negara bagian di Amerika Serikat; karena harus mengatur perencanaan biaya sebaik-baiknya. Tapi lagi-lagi keterbatasan itu membawa hikmah. Sudah dua kali, sepanjang Mei dan Juni tahun ini saya mendapat kesempatan mengikuti rombongan kecil profesor saya untuk mengikuti perjalanan akademik untuk kolaborasi riset di negara tetangga maupun negara bagian lain di Amerika Serikat. Tidak hanya perjalanan ini dibiayai penuh, kesempatan emas ini telah mempertemukan saya dengan tokoh dan ahli yang selama ini hanya saya baca namanya dalam artikel yang saya baca dan menginspirasi arah riset saya selanjutnya.

Summer trip
Ratih bersama teman-teman satu lab saat summer trip. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Aget, betapa beruntungnya. Semoga kita dimampukan untuk melihat dan menciptakan peluang bahkan di tengah keterbatasan.

Berkeley, Musim Panas 2022

Party
Ratih dan teman-teman merayakan berakhirnya tahun ajaran 2021/2022. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

SHARE
Previous articleCerita dari Negeri Hong Kong
Next articleMeniti Karier di Sektor Pembangunan a la Tissa
Ratih Ayu Apsari merupakan dosen Pendidikan Matematika di Universitas Mataram. Ia menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2012 dan S2 Pendidikan Matematika di Utrecht University – Universitas Sriwijaya dalam program beasiswa International Master Program on Mathematics Education (IMPoME) dengan beasiswa STUNED-DIKTI pada tahun 2015. Selain aktif mengajar dalam institusi formal di perguruan tinggi, Ratih juga aktif terlibat dalam upaya memberikan akses pendidikan yang lebih luas dan terbuka. Salah satunya melalui kelas belajar sukarela Taman Cerdas Ganesha yang dinisiasinya pada tahun 2017 ketika menjadi dosen di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha (2015-2019). Ratih juga terlibat aktif dalam organisasi pro-bono Indonesia Mengglobal yang bertujuan untuk menginspirasi & memberdayakan generasi muda Indonesia untuk melanjutkan studi & berkarya di kancah global. Kecintaannya pada dunia pendidikan, keinginannya untuk berkontribusi lebih pada lembaga pendidikan guru, dan perhatiannya pada optimalisasi tumbuh kembang anak khususnya dalam bidang matematika memotivasinya untuk melanjutkan program doktoral di Graduate School of Education, University of California at Berkeley dengan beasiswa LPDP. Ratih bisa dihubungi melalui kanal sosial media instagram @aayuratiih atau surel ra.apsari@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here