Meniti Karier di Sektor Pembangunan a la Tissa

0
352
Tissa ketika kunjungan lapangan ke Bengkulu, berada di atas Fort Marlborough. Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Sejak menempuh pendidikan S1, Tissa Riani (Master of Development Studies, University of Melbourne) telah tertarik dengan isu pembangunan. Tissa kemudian berkarir dan melanjutkan pendidikannya untuk mendalami isu pembangunan. Simak kisah Tissa membagikan pengalamannya meniti karir di sektor pembangunan

Saat saya masih menyandang status sebagai mahasiswa S1, saya mulai tertarik dengan isu yang berkaitan dengan bidang “pembangunan”. Bidang “pembangunan” ini saya kenali di salah satu mata kuliah tentang “Ekonomi Politik Pembangunan”, tapi juga seringkali disebutkan di dalam materi perkuliahan tentang “Perencanaan Strategi Organisasi Internasional”. 

Bidang pembangunan ini seringkali mengundang pertanyaan ketika saya mencoba jelaskan kepada teman di luar sektor tersebut. Sebagai contoh, apa itu “pembangunan”? Dalam bentuk apa “pembangunan” yang dimaksud? Pada saat itu yang terpintas di pikiran saya, bidang “pembangunan” ini adalah bidang yang ingin saya minati, seperti membuat suatu kegiatan atau aktivitas yang bisa memberikan manfaat kepada masyarakat – atau setidaknya yang memerlukan agar hidupnya menjadi lebih baik.

Awal mula saya meniti karir di sektor pembangunan diawali dengan keterlibatan saya menjadi intern di sebuah organisasi internasional di tahun 2014. Informasi terkait program magang di organisasi internasional juga tips dan triknya tidak sebanyak seperti sekarang sehingga ketika saya mendaftar pun saya tidak terlalu berharap banyak. 

Sekitar 4-5 bulan kemudian, saya menerima panggilan untuk interview dan ditanyakan kesediaan waktu untuk memulai program magang selama delapan minggu di organisasi tersebut. Pada kala itu, peraturan magang berbayar belum diberlakukan, sehingga program magang yang saya ikut bersifat tidak berbayar namun saya tetap terima tawaran tersebut. Kalau diingat kembali, saya sungguh beruntung dengan situasi saat itu, di mana keluarga saya saat itu memang tinggal di Jakarta, sehingga memudahkan saya untuk bisa menerima tawaran tersebut dengan meyakinkan keluarga bahwa ini untuk “pengalaman dan membangun jaringan”. 

Pengalaman tersebut memberikan exposure kepada saya bagaimana cara bekerja suatu organisasi internasional dalam membuat perencanaan program, berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta mampu untuk membaca situasi dan analisis terkait isu-isu sosial dan ekonomi, bahkan aspek politik. Namun, untuk bisa bekerja secara permanen di bidang tersebut, diperlukan keahlian yang sangat spesifik dan perlu pengalaman yang cukup lama, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2.

Menempuh studi S2 mempelajari Studi Pembangunan di University of Melbourne

Setelah melakukan riset kecil-kecilan serta bertanya ke beberapa kenalan, saya memilih untuk melanjutkan S2 di University of Melbourne di bawah program Development Studies. Program Development Studies ini berada di bawah School of Social and Political Science. Apabila dilihat berdasarkan peringkat QS World University, University of Melbourne masuk dalam urutan 37. Untuk program Development Studies saat ini menduduki peringkat 13. 

Bersama teman-teman dari Master of Development Studies Melbourne. Sumber: Dokumentasi pribadi

Namun, alasan yang memotivasi saya untuk melanjutkan studi disini dilihat dari berbagai aspek, yaitu: mata kuliah (subjects) yang akan dipelajari, dosen yang mengajar, serta lokasi negara dan universitas seperti kualitasnya dan aspek geopolitik yang ada di negara tersebut. Hal yang menjadi ketertarikan saya di program tersebut, antara lain karena program development studies mengajarkan hal yang praktis seperti perencanaan program pembangunan baik untuk di skala kecil maupun di skala besar (nasional), serta adanya mata kuliah mengenai analisis dampak, dan sebagainya. 

Selain itu, pada program tersebut saya belajar isu tentang kemiskinan dan pembangunan, gender dan pembangunan, lingkungan, di mana semakin kesini, isu tersebut semakin saling berhubungan dan mempengaruhi, sehingga memberikan keleluasaan kepada saya untuk bisa memilih topik yang ingin dipelajari. Program coursework Development Studies di University of Melbourne mensyaratkan empat mata kuliah wajib yang harus dipilih, untuk lainnya bersifat pilihan selama masih bisa memenuhi credit kuliah selama satu semester. Dengan adanya berbagai pilihan yang ditawarkan, saya memilih untuk mendalami tentang project management dan design serta monitoring dan evaluasi di program pembangunan. 

Semasa studi, saya terlibat di Graduate Organisation of Development Studies (GOODS) yaitu sebuah kumpulan mahasiswa pascasarjana di University of Melbourne yang biasa melakukan sharing knowledge, diskusi, dan juga saling berkenalan dengan mahasiswa program lain, dosen, serta alumni. Selama aktif di GOODS, banyak kegiatan yang dilakukan dengan mahasiswa lainnya, seperti acara movie night membahas film dokumenter atau film yang menyentuh topik sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Selain itu, ada pula seminar dan talkshow membahas isu sosial terkini dengan mengundang para ahli yang berasal dari pembuat kebijakan, dosen, dan praktisi di Australia. Menurut pengalaman saya, dengan melibatkan diri dengan komunitas di luar kuliah bisa membantu meningkatkan kemampuan sosial, selain itu kita dapat berinteraksi dengan teman-teman mahasiswa lainnya, juga mengurangi stres yang dijalani semasa studi.

Bertemu dengan Jeffrey Sachs, salah satu ekonom terkemuka di pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 Sumber: Dokumentasi pribadi

Keterlibatan saya di organisasi mahasiswa ini juga membantu saya untuk mendapatkan internship di sebuah social enterprise berbasis kemanusiaan bernama Humanitarian Advisory Group (HAG). Di sini saya mendalami lebih jauh tentang sektor kemanusiaan di Indonesia dan latar belakangnya. Selain itu saya melakukan identifikasi potensi kerjasama HAG dengan stakeholders yang terlibat di bidang kemanusiaan di Indonesia. Saat bersama HAG juga saya banyak menyelenggarakan acara kolaborasi seminar dengan GOODS dan juga program studi Master of Development Studies. 

Bersama teman-teman dari Humanitarian Advisory Group. Sumber: Dokumentasi pribadi

Memulai bekerja di bidang pembangunan dan program kerja sama antar pemerintah

Sambil menunggu hari di wisuda, saya mulai mencari pekerjaan di Indonesia yang sesuai dengan minat dan kualifikasi pendidikan. Setelah lulus, saya mendapatkan tawaran bekerja di organisasi The Development Cafe, sebuah organisasi non profit yang bergerak di bidang riset dan teknologi dan berperan sebagai research associate. Di sinilah awal mula saya melakukan penelitian di bidang pekerjaan – terutama terkait isu sosial ekonomi. 

Penelitian yang dilakukan fokus terhadap IT skill assessment di kalangan pengungsi/refugee kawasan Jakarta. Tujuan dari proyek ini untuk mengukur sejauh mana kemampuan IT para pengungsi dan apa mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka melalui online learning. Karena masih berupa kajian awal, sehingga proyek penelitian ini hanya berlangsung selama enam bulan hingga laporan analisis selesai dilakukan.

Setelah proyek penelitian selesai, saya melanjutkan bekerja di sebuah kementerian di bawah proyek Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai tenaga ahli monitoring dan evaluasi pencapaian indikator SDGs. Sebagai tenaga ahli, saya menemukan perbedaan bekerja di bawah lembaga pemerintahan yang lebih fokus pada kebijakan publik dengan sebuah organisasi non profit/CSOs. 

Ikut dalam acara SDGs Annual Conference di tahun 2019 saat di Bappenas. Sumber: Dokumentasi pribadi

Ketika berada di bawah lembaga pemerintahan dan berinteraksi dengan kebijakan publik, kita akan lebih memahami bagaimana menyusun kebijakan publik atau bahkan menentukan suatu indikator capaian pembangunan memang perlu mempertimbangkan banyak hal, dan juga disepakati bersama karena hal tersebut akan berdampak tidak hanya pada kita, tapi juga masyarakat umum. Di sini kita juga akan berinteraksi dan berpartisipasi di berbagai pertemuan dengan banyak pemangku kepentingan yang menentukan kebijakan di berbagai isu di Indonesia.

Setelah memperoleh pengalaman di lembaga pemerintahan, saya sekarang bekerja di program kerja sama pemerintah Australia dengan Indonesia di bidang perekonomian, sebagai peneliti untuk monitoring dan evaluasi. Secara sukarela juga saya terlibat di komunitas para praktisi monitoring dan evaluasi di bidang pembangunan bernama InDEC (Indonesia Development Evaluation Community) untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman dari teman-teman yang sudah berkecimpung lebih lama di sektor pembangunan. Melihat monitoring dan evaluasi yang masih terbatas praktisinya di kalangan anak muda, saya kemudian diajak oleh teman-teman InDEC untuk ikut terlibat di Eval Youth Indonesia yang baru dirintis September 2021 lalu.

Tips untuk bekerja di bidang pembangunan dan program kerja sama antar pemerintah

Berikut beberapa tips dari saya bagi teman-teman yang ingin mengawali karir di bidang pembangunan berdasarkan pengalaman saya:

  • Memiliki pengalaman/keahlian yang spesifik terkait isu tertentu. Pengalaman tersebut bisa dibangun ketika kuliah (membangun portofolio sejak kuliah), misal dengan ikutan magang di organisasi internasional, aktif di organisasi non profit melalui kegiatan sukarelawan, bisa juga dengan berpartisipasi di kegiatan yang relevan (sebagai contoh ikut Model United Nations atau menulis jurnal penelitian dengan teman atau dosen di kampus). Tujuan dari mengikuti hal tersebut adalah untuk memperoleh pengalaman sehingga kedepannya akan memudahkan untuk menentukan proyek yang akan dipilih dan juga peluang untuk bisa terjun dan menjadi expert.
  • Memilih jurusan kuliah S2 yang sesuai dengan aspirasi karir kita ke depannya. Bisa diawali dengan membuat perencanaan karir sehingga membantu menentukan jurusan kuliah yang diminati. Berdasarkan pengalaman saya, sayang penting untuk mencari tahu lebih lanjut tentang ekspektasi karir dalam lima tahun ke depan dan mencari jurusan yang sesuai minat juga bakat di dalam diri.
  • Selanjutnya, untuk meraih pengalaman kerja profesional di bidang pembangunan bisa diawali dengan mencoba berbagai organisasi yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan sudut pandang yang beragam karena di sektor pembangunan banyak sekali pemangku kepentingan yang terlibat seperti pemerintah, organisasi internasional, lembaga penelitian, universitas, media, CSOs/organisasi non profit. Seperti contoh pengalaman saya yang terjun di lembaga pemerintahan CSO juga social enterprise yang memiliki elemen bisnis berkelanjutan yang bertanggungjawab sehingga membuat saya menjadi lebih ‘flexible’ dan memahami berbagai sudut pandang dan kepentingan.
  • Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah menjalin hubungan dengan kolega ketika magang, kuliah, hingga di masa kerja. Meskipun jarak atau waktu bisa menjadi tantangan untuk menjalin hubungan baik, namun hal ini bisa diatasi dengan penggunaan sosial media atau email. Kolega dan teman di saat magang, kerja dan kuliah nantinya dapat saling membantu dalam melakukan kolaborasi riset, atau menginfokan tentang peluang pekerjaan atau kesempatan kerja sama lainnya yang ada. Selain itu, dengan terlibat di sebuah jaringan profesional yang sesuai bidang juga bisa memudahkan peluang meniti karir di sektor pembangunan.

Good luck! 

PROFIL

Tissa is currently a researcher with experience in monitoring, evaluation, and learning in the public policy sector. She graduated from Master of Development Studies at the University of Melbourne in 2017. Further information: https://www.linkedin.com/in/tissariani/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here