Lima Tips Meraih Nilai yang Memuaskan Saat Kuliah di Luar Negeri a la Ani

0
678
Sriwidayani Syam, mahasiswi Master in General Education Studies, Monash University, Australia.

Kuliah di luar negeri sering menjadi hal yang menakutkan untuk dijalani, dikarenakan perbedaan budaya dan juga kurikulum. Di artikel kali ini, Sriwidayani Syam, (Ani), Master of Education student in General Education Studies, membagikan pengalamannya berkuliah di Monash University. Selama tiga semester berturut-turut, Ani berhasil meraih nilai yang memuaskan sekaligus tetap bisa menyeimbangkan antara kuliah dan kehidupan pribadinya.

Halo Ani! Bisa ceritakan sedikit latar belakang kamu?

Halo semua! Perkenalkan nama saya Sriwidayani Syam atau biasa dipanggil Ani. Saya kini sedang menempuh S2 saya di Monash University, di jurusan Master of Education in General Education Studies. Sebelumnya saya menempuh S1 Pendidikan Biologi di Makassar.

Saya mengambil jurusan ini karena mata kuliah yang dipelajari banyak menyangkut pendidikan secara umum. Saya belajar tentang research dan juga isu-isu pendidikan secara global, tidak hanya pendidikan di Australia namun juga di negara-negara lain.

Saya memilih Monash University dikarenakan jurusan pendidikan di Monash University termasuk yang terbaik di Australia. Dari segi pengajar, dosen-dosen di Monash University banyak berasal dari berbagai negara, sehingga dapat memberikan banyak perspective bagi kami para mahasiswa.

Selain kuliah, saya juga beberapa kali terlibat sebagai volunteer di salah satu organisasi kampus bernama MSA. Sebagai contoh, saya beberapa kali menjadi volunteer dalam program MSA breakfast. Selain itu, saya juga sering membantu tim Kelurahan LPDP monash dalam mengimplementasikan program-program mereka, sebagai panitia seksi dokumentasi.

Ani saat menjadi volunteer MSA. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Untuk pembagian waktu, saya biasanya fokus pada tugas kuliah dari hari Senin sampai dengan Jumat. Untuk Sabtu dan Minggu, biasanya saya tidak memegang laptop sama sekali dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Selama kuliah ini, saya berusaha untuk menerapkan prinsip study life balance.

Ani ketika refreshing di waktu senggang. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Selama kuliah di Australia, pernahkah Ani mengalami shock culture?

Culture shock pertama yang saya alami adalah jarang ada Masjid untuk beribadah. Di kampus pun hanya ada satu tempat kecil untuk beribadah dan berada di Religious Centre. Sejujurnya tempat sesempit itu kurang proporsional untuk menampung mahasiswa, mahasiswa muslim khususnya, untuk beribadah.  Begitu juga ketika bulan Ramadhan, Masjid yang tersedia berada di daerah Westall, dan itu letaknya jauh dari tempat tinggal saya.

Ani saat berkegiatan keagamaan. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Selanjutnya saya merasakan kesulitan untuk mendapatkan makanan halal di sini. Jadi di awal-awal kedatangan saya, saya harus survive mencari makanan halal sendiri. Opsi yang saya pilih waktu itu adalah membeli bahan makanan sendiri dan memasak sendiri. Oleh karena itu, saya harus pintar-pintar membagi waktu antara masak dan belajar.

Apa yang Ani sukai dari belajar di luar negeri?

Ada beberapa hal yang saya sukai dari belajar di luar negeri. Salah satunya adalah fasilitas lengkap, dengan perpustakaan yang nyaman untuk belajar. Selain itu, tersedia juga graduate hub sebagai tempat belajar.

Ani saat belajar di kelas. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Monash juga menyediakan fasilitas kampus berupa mobil security yang dapat mengantarkan kita ke depan rumah. Jadi kalau ingin belajar sampai malam pun masih tetap aman karena akan diantarkan sampai depan rumah.

Bisakah Ani membagikan tips-tips untuk mendapatkan nilai yang bagus selama kuliah di luar negeri?

Saya memiliki beberapa tips untuk mendapatkan nilai yang bagus selama berkuliah di luar negeri:

  1. Memiliki time management yang baik. Pastikan agar waktu antara belajar dan refreshing diatur sedemikian rupa. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saya menjadwalkan agar Senin-Jumat digunakan untuk belajar. Sabtu dan Minggu, saya gunakan untuk refreshing dengan cara tidak memegang laptop sama sekali. Sebagai cerita di semester tiga, saya sempat pulang ke Indonesia untuk menyiapkan pernikahan saya. Padahal di semester tersebut saya sangat sibuk dengan tugas-tugas dari tiga mata kuliah yang saya ambil. Namun dengan time management yang baik, akhirnya saya mampun meraih nilai high distinction dari ketiga mata kuliah tersebut.
  2. Harus tekun dalam membaca jurnal dan mengerjakan tugas. Apalagi ketika belajar di Monash, saya merasa bahwa dosen-dosen mendidik kita agara menjadi pembelajar yang mandiri. Sebagai contoh dalam pengerjaan tugas, kita tidak diberikan guidance secara ‘dituntun’. Kita diharuskan untuk secara mandiri mencari solusi dari topik yang kita tentukan. Oleh karena itu, penting untuk tekun serta memiliki target dalam belajar.
  3. Dari segi psikologi, pastikan kita merasa secure sebelum belajar. Biasanya sebelum ke kampus saya yoga terlebih dahulu, olahraga kecil-kecil untuk mengatur nafas agar lebih mindful ketika belajar nanti.
  4. Dalam mengerjakan tugas ketika menentukan topik, kita harus memilih topik yang kita kuasai. Sangat penting untuk mencari akar dari topik yang kita pilih, sehingga kita sudah ada bayangan apa yang akan kit acari. Sebagai contoh, saya sangat menyukai isu digital learning, sehingga setiap assignment pasti saya arahkan ke isu tersebut.
  5. Memperhatikan rubrik penilaian, terutama aspek-aspek apa saja yang dinilai. Pastikan dalam mengerjakan tugas kita memenuhi semua kriteria dan dari segi penulisan, pastikan apakah tulisannya mudah dibaca oleh readers atau tidak. Untungnya di Monash University ada fasilitas untuk konsultasi mengenai tulisan kita.

PROFIL

Sriwidayani Syam (Ani) menempuh pendidikan S1 di Makassar, Sulawesi Tenggara. Saat ini, Ani sedang menempuh pendidikan master di Monash University, dengan jurusan Master in General Education studies. Ani memiliki minat yang besar dibidang travelling, kuliner, serta fotografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here